"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. "Teman Apa Teman?"
SUV hitam Rezvan melaju perlahan memasuki area perumahan elite yang tenang. Suasana kabin yang tadinya hangat dan diwarnai obrolan manis perlahan tergantikan oleh ketegangan halus saat lampu sen belakang sebuah mobil mewah di depan mereka menyala, menandakan kendaraan itu hendak berbelok ke gerbang yang sama.
"Eh, itu... mobil Papi," gumam Zahira, sedikit menegakkan posisi duduknya.
Rezvan melirik mobil sedan hitam mengilap yang kini terparkir mulus di pelataran rumah megah tersebut. Begitu mesin mobil depan dimatikan, seorang pria paruh baya dengan postur tegap dan wibawa yang kuat melangkah keluar.
Damian Sumargo. Pria itu berdiri sejenak di samping mobilnya, memperbaiki letak jam tangannya, lalu mengarahkan pandangan tajam namun teduh ke arah SUV Rezvan yang baru saja berhenti tepat di belakangnya.
"Zira, kamu tunggu di dalam sebentar ya," ujar Rezvan tenang. Ia menatap Zahira yang tampak agak gugup, lalu memberikan senyuman menenangkan yang sanggup meluluhkan keraguan gadis itu.
Rezvan keluar lebih dulu dari mobil. Dengan langkah tegap dan gestur yang sangat sopan, ia menghampiri Damian.
"Selamat malam, Om Damian," sapa Rezvan ramah sambil menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan.
Damian menatap pemuda di hadapannya dari atas ke bawah, menilai penampilan serta tata krama Rezvan dalam hitungan detik sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu dengan cengkeraman hangat. "Selamat malam. Kamu... teman sekolah Zahira?"
"Saya Rezvan, Om. Teman Zahira," jawab Rezvan lugas tanpa cela.
Setelah menyapa sang tuan rumah, Rezvan berbalik melangkah menuju pintu penumpang depan, membukakannya secara khusus untuk Zahira dengan penuh kehati-hatian menjaga agar kepala gadis itu tak terantuk ambang pintu.
Zahira turun dengan senyum tipis yang merona. "Makasih, Kak Rezvan."
Melihat cara Rezvan memperlakukan putrinya dengan begitu terhormat dan penuh kelembutan, sudut bibir Damian terangkat tipis. Rasa simpatinya tumbuh seketika.
"Rezvan, kan?" panggil Damian saat Rezvan hendak pamit. "Jalanan malam ini lumayan padat. Mampir sebentar ke dalam yuk, kita minum teh dulu."
Rezvan sempat ragu sejenak, tak ingin mengganggu waktu istirahat keluarga tersebut. Namun, tatapan penuh keramahan dari Damian membuat rasa tidak enaknya memuncak jika harus menolak.
"Baik, Om. Terima kasih atas tawarannya, jadi merepotkan."
"Sama sekali tidak," balas Damian sembari mengode mereka untuk masuk.
Saat melangkah melewati pintu utama yang megah, suasana dalam rumah terasa begitu lengang dan sunyi. Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer yang dingin. Tak lama kemudian, Vidi muncul dari arah ruang keluarga sambil memegang sebuah tablet di tangannya.
"Papi udah pulang? Eh... Kak Zira?" panggil Vidi kaget sekaligus gembira.
"Vidi," panggil Damian lembut. "Mami sama Kakakmu mana? Kok rumah sepi banget?"
"Mami sama kak Bianka belum pulang, Pi. Katanya masih ada acara arisan dan kumpul-kumpul sama teman-temannya. Kalau Kak Bianka tadi bilangnya mau nyusul temennya," terang Vidi polos tanpa beban.
Langkah Rezvan mendadak terhenti di tengah ruang tengah. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik. 'kak Bianka?' batin Rezvan bergejolak.
Pandangan Rezvan secara refleks terlempar ke arah dinding utama ruang keluarga, tempat sebuah foto keluarga besar berbingkai emas terpajang dengan sangat anggun. Di sana, berdiri seorang wanita yang ia kenal saat di malam itu. Senyum penuh pesona yang amat tidak asing baginya. Tatapan Rezvan terpaku, matanya menyipit menahan guncangan yang tiba-tiba menghantam dadanya. Wanita itu... Bianka. Yang baru tahu kalau Bianka dan Zahira adalah kakak beradik.
Zahira yang menyadari perubahan raut wajah Rezvan menyenggol pelan lengan kemeja pria itu. "Kak Rezvan? Nggak apa-apa?"
Rezvan dengan cepat menguasai ekspresinya, menyunggingkan senyum tipis walau pikirannya mulai berkecamuk.
"Ah, iya. Nggak apa-apa, Zira. Cuma terpukau aja sama rumahnya. Bianka itu adik kamu?"
"Iya, kak Rezvan kenal sama Bianka?" Tanya Zahira saat melihat Rezvan menatap foto Bianka saat menjadi model produk kecantikan disebuah merek ternama.
"Waktu itu tak sengaja."
"Oh, gitu."
Mereka kemudian duduk di ruang tamu utama. Bi Murni, asisten rumah tangga, bergegas menyajikan cangkir teh hangat. Damian dan Rezvan terlibat dalam obrolan hangat seputar dunia bisnis, perkembangan teknologi, hingga pengalaman Rezvan yang baru menyelesaikan studinya di luar negeri. Damian sangat terkesan dengan pemikiran Rezvan yang matang, cerdas, dan tetap rendah hati.
Di tengah perbincangan yang makin mengalir, ponsel Rezvan di dalam saku jasnya bergetar dan berdering. Rezvan melihat layar ponselnya yang memunculkan nama sang Bunda.
"Maaf, Om, Zira... ini ada panggilan dari Bunda saya," ucap Rezvan meminta izin dengan sopan.
"Silahkan, Van, diangkat saja," sahut Damian ramah.
Rezvan menggeser layar dan menempelkan ponsel di telinganya.
"Halo, Assalamu'alaikum, Bunda?" Suara lembut sang Bunda di ujung telepon menanyakan keberadaannya karena hari sudah makin larut. Setelah memberikan penjelasan singkat dengan nada yang sangat berbakti, Rezvan mengakhiri panggilan.
Ia kembali memasukkan ponselnya dan menatap Damian. "Om Damian, mohon maaf sekali, sepertinya saya harus pamit pulang sekarang. Bunda sudah menunggu di rumah."
"Oh, begitu? Ya sudah, jangan sampai Bunda khawatir. Terima kasih ya sudah mengantar Zahira sampai rumah dengan selamat," tutur Damian sembari berdiri dan menjabat tangan Rezvan erat.
"Sama-sama, Om. Mari..."
Zahira berjalan beriringan di samping Rezvan menelusuri selasar menuju area garasi tempat SUV hitam itu terparkir. Angin malam berembus dingin, membawa keheningan yang sedikit berbeda di antara mereka.
"Makasih banyak ya, Kak Rezvan... buat es krimnya tadi, buat obrolannya, dan udah mau mampir sebentar," ucap Zahira saat berdiri di samping pintu mobil Rezvan.
Rezvan menatap wajah Zahira dalam-dalam. Ia tersenyum tulus, merengkuh ketenangan dari tatapan mata gadis di hadapannya.
"Sama-sama, Zira. Istirahat yang cukup ya. Soal adikmu Vidi, kamu nggak usah terlalu cemas. Dia anak yang hebat," tutur Rezvan lembut. "Saya pulang dulu."
"Hati-hati di jalan, Kak. Kabari kalau sudah sampai," balas Zahira manis.
Rezvan mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya dan perlahan melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan kediaman keluarga Sumargo.
Zahira masih berdiri memandangi sorot lampu belakang mobil Rezvan yang perlahan menghilang di balik gerbang, sebelum akhirnya ia berbalik dan mendapati Papinya sedang berdiri di ambang pintu masuk garasi, menyandarkan bahu dengan senyum menggodanya.
"Papi... kok belum masuk?" tanya Zahira sedikit canggung.
Damian tertawa kecil, melangkah mendekati putri sulungnya itu lalu merangkul bahu Zahira hangat mengajak berjalan masuk.
"Papi cuma mau menikmati udara malam sebentar," sahut Damian. "Ganteng ya... anak muda tadi."
Pipi Zahira seketika merona merah. "Papi apaan sih..."
"Papi serius, Zira. Caranya bicara, tata kramanya, bahkan caranya mandang kamu... Papi bisa liat kalau Rezvan itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Lagipula, pas Papi merhatiin garis wajahnya, Papi baru sadar sesuatu. Rezvan itu anak dari Lazuardi, kan? Sahabat Papi waktu zaman kuliah dulu."
Zahira menoleh kaget. "Oh ya? kan waktu papi j jemput Zira di rumah bunda Heni, ada kak Rezvan juga, pi." Jawab Zahira mengingatkan.
"Dunia sempit ya," gumam Damian lembut. "Jadi... gimana cerita sebenarnya antara kamu sama Rezvan? Papi mau denger dari versi anak Papi sendiri."
Zahira tersenyum tipis, matanya berbinar menatap sang Papi.
"Nggak ada yang ditutup-tutupi kok, Pi. Kak Rezvan itu kakak nya Gisel sahabat Zira yang sangat baik. Lagian Zira sama kak Rezvan cum temenan kok."
Damian mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang. "Beneran nih cuma temen... Papi ini laki-laki loh, jadi tahu bagaimana cara laki-laki mendekati wanita yang dia suka." Ledek Pak Damian yang membuat Zahira tersipu malu.
"Papi, apaan sih... Zira mau bersih-bersih dulu ya."
Tiba-tiba—
Suara derak sepatu hak tinggi yang beradu nyaring dengan lantai keramik memecah kehangatan suasana. Gelak tawa yang nyaring dan renyah terdengar dari arah pintu depan.
Kalina: "Duh, jeng! Kamu harusnya liat muka Jeng Siska tadi pas kalah arisan, lucu banget!" seru suara melengking yang tak asing lagi.
Sura Karlina yang masih menerima panggilan dari temannya yang tadi tidak datang keacara kumpul arisan sosialita mereka.
Teman Kalian: "Iya, Mi! Mana gaya bicaranya tinggi banget dari tadi!" timpal suara di sebrang sana..
Bianka dan Karlina berjalan masuk ke dalam rumah dengan menjinjing beberapa kantong belanjaan bermerek mewah. Tawa mereka yang semula memenuhi ruangan mendadak terhenti saat mata mereka menangkap sosok Damian dan Zahira yang sedang berdiri di dekat ruang tengah.