Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 - Part time Cafe
“Al, tolong anterin kopi ini ke meja nomer 7 ya. Gue mau lanjutin masak pasta dulu.” kata Dyanri sambil meletakkan secangkir kopi latte di depan Alvaro.
Alvaro lantas menghentikan aktivitasnya. “Iya Ri.” jawabnya. Dengan segera ia langsung membawa kopi tersebut ke meja nomer 7 sesuai dengan arahan Dyanri.
Di meja tersebut terdapat dua orang wanita muda yang usianya berkisar awal 20-an. Salah satu dari wanita adalah si pemesan kopi latte. Dengan sopan dan hati-hati Alvaro meletakkan secangkir kopi itu di atas meja nomer 7. “Ini pesanannya ya kak. Salahkan dinikmati.” ujar Alvaro sambil tersenyum sopan.
Setelah mengantarkan kopi pesanan, Alvaro berniat pergi untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Alvaro hendak berbalik namun wanita itu memanggilnya seolah menahan Alvaro untuk pergi.
“Eh anu Mas.” panggil salah satu dari wanita itu.
“Iya Kak? Ada yang bisa dibantu?” tanya Alvaro memastikan.
Kedua wanita itu terdiam untuk beberapa saat. Mereka saling berpandangan dan tersenyum malu-malu. Terlihat keduanya saling menyenggol lengan masing-masih seolah sedang menyuruh salah satu di antara mereka untuk berbicara.
Alvaro terlihat bingung, “Kenapa Kak?” Alvaro mengulang pertanyaannya.
Salah satu dari wanita itu akhirnya angkat bicara. Dengan ekspresi malu-malu dan wajah yang memerah, ia berkata “Kalau Masnya gak keberatan boleh gak kita mutualan Instagram? Maaf tiba-tiba begini tapi saya merasa tertarik sama Masnya.” ujarnya sembari sesekali menunduk menahan malu.
“Tapi kalo gak boleh gapapa kok Mas!” sahut yang lainnya.
Tidak butuh lama bagi Alvaro untuk menjawab pertanyaan ini. Alvaro menunjukkan senyuman manisnya, “Duh maaf Kak. Saya sudah punya istri dan anak.” tolaknya secara halus.
“Eh?!” Kedua wanita tersebut terlihat terkejut dan saling memandang satu sama lain.
”Kalau gitu maaf ya Mas!” Seru keduanya dengan cepat.
“Iya Kak, permisi saya kembali dulu ya.” pamit Alvaro meninggalkan kedua wanita itu. Dengan jarak beberapa langkah, Alvaro masih bisa mendengar kedua wanita itu saling berbisik.
“Aduh malu gue! Siapa sangka dia udah berkeluarga. Yahhh kecewa.” gumam wanita itu.
Mendengar perkataan tersebut dari kejauhan, membuat Alvaro tertawa kecil. Ia tidak ingin mengambil pusing masalah ini dan segera kembali ke meja kasir untuk melanjutkan pekerjaannya.
Dyanri yang sedari tadi memperhatikan Alvaro dengan kedua wanita tersebut dari kejauhan pun akhirnya berkomentar, “Kenapa lagi Al? Ada yang godain lagi? Atau ada yang mau ngajak kenalan lagi?” tanyanya penasaran dengan senyum menggoda.
“Ah, biasalah.” jawab Alvaro singkat.
Dyanri menghela nafas, “Memang resiko cowok ganteng ya gini. Duh enaknya. Gue selama kerja di sini gak pernah sekalipun ada cewe yang godain gue.” keluh Dyanri.
Alvaro tertawa mendengar ucapan Dyanri, “Kasihan. Besok gue suruh cewek-cewek pada godain lo ya.”
“Iya dong. Gue juga mau digodain.” ujar Dyanri terkekeh. Lalu Dyanri melanjutkan kata-katanya, “Eh tapi gue penasaran deh Al. Selama ini banyak kan cewek yang mau kenalan sama lo? Dan gue lihat-lihat juga banyak yang cantik. Apa lo gak mau gitu buka hati buat salah satu di antara mereka? Lagipula, istri lo juga udah lama kan meninggalnya? Udah lebih dari 2 tahun.”
Alvaro memutar bola matanya malas ketika mendengar topik pembicaraan yang sedang dibahas Dyanri. Dyanri sering sekali membicarakan hal ini tanpa lelah. Padahal Alvaro selalu memberikan jawaban yang sama. “Udah gue bilang. Gue gak mau nikah atau jalin hubungan lagi. Silva bakal jadi satu-satunya cewek dalam hidup gue. Satu-satunya cewek yang gue cintai. Gue sekarang cuman mau fokus ke Lyra.”
Dyanri menghela nafas frustrasi. Ia menatap sepupunya dengan tatapan sedih sekaligus simpati. Ia tahu bahwa sebenarnya sepupunya itu pasti merasa kesepian. Bayangkan saja di rumah sebesar itu, Alvaro hanya tinggal berdua dengan Lyra. Bahkan kedua orang tuanya pun sudah meninggal. Ia bisa membayangkan betapa kesulitan dan kesepiannya Alvaro. Namun selama ini Alvaro selalu memendamnya sendiri. Ia selalu berusaha terlihat kuat karena tidak ingin menunjukkan kesedihannya kepada orang lain.
“Tapi lo masih muda Al. Sayang aja kalo harus menduda sampe tua. Suatu saat nanti Lyra juga bakal butuh sosok Ibu.” kata Dyanri berkomentar.
Alvaro menatap Dyanri dengan sedikit kesal. “Kata siapa? Gue bisa kok jadi Papa sekaligus Ibu buat Ira. Dia gak bakal kekurangan kasih sayang.” bantah Alvaro. Ia menyangkal statement Dyanri. Baginya, dirinya sendiri pun sudah cukup untuk Lyra. Ia tidak butuh orang lain lagi.
Dyanri menepuk pundak Alvaro, “Iya deh iya.” katanya pasrah. Dyanri menyerah untuk berdebat dengan Alvaro karena ia tau semuanya hanya percuma. Alvaro sungguh keras kepala.
Dyanri kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia menyiapkan jus pesanan pelanggan. Sedangkan Alvaro sedang sibuk mencatat pesanan. Suasana hening untuk beberapa menit karena semua pekerja fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
Bekerja part time di cafe merupakan salah satu rutinitas Alvaro setiap harinya. Ia akan datang ke cafe ini ketika perkuliahannya telah selesai. Sebenarnya Alvaro baru beberapa bulan bekerja di sini tepat ketika Lyra ia masukkan ke daycare. Saat Lyra di daycare, Alvaro bisa fokus mengikuti kelas perkuliahan dan juga berkerja. Nanti setelah pulang dari cafe, ia akan menjemput Lyra di daycare.
Cafe ini adalah cafe milik Paman Alvaro yakin Om Radit. Sedangkan Dyanri adalah anak dari Paman Alvaro. Sehingga Dyanri dan Alvaro adalah sepupu. Mereka berdua sudah dekat sedari kecil bahkan hingga saat ini. Alvaro sangat berterima kasih kepada keluarga pamannya yang sudah berbaik hati padanya. Mereka semua selalu membantu Alvaro saat Alvaro kesulitan. Alvaro merasa memiliki hutang budi ke keluarga mereka.
Ponsel Alvaro yang ia letakkan di atas meja berdering. Tanda sebuah pesan masuk dari aplikasi WhatsAppnya. Alvaro melirik sekilas notifikasi yang tertera di ponselnya. Ia membaca nama Sheyra di sana.
Alvaro lantas menghentikan aktivitas menulisnya. Ia langsung mengambil ponselnya. Entah mengapa Alvaro merasa penasaran dengan pesan yang dikirimkan oleh Sheyra sehingga ia langsung membuka pesan tersebut.
Sheyra mengirimkan sebuah foto bekal nasi goreng lengkap dengan tulisan, ‘Makasih Al buat makanannya. Rasanya enak! Aku suka banget ^^’
Senyum terukir di bibir Alvaro saat membaca pesan tersebut. Syukurlah Sheyra menyukai nasi goreng buatannya. Alvaro sengaja membuatkan Sheyra bekal karena mengingat betapa baiknya Sheyra kepada dirinya dan Lyra. Oleh karena itu Alvaro ingin balas budi. Ia sangat senang ketika mendapatkan pesan dari Sheyra yang sedang memuji masakannya.
Dyanri menyenggol lengan Alvaro pelan. Cowok itu tersenyum meledek Alvaro, “Ciee senyum-senyum sendiri lihat HP. Jangan-jangan lo diem-diem udah punya cewek yaa? Kiw kiw cieeee. Katanya gak mau cari cewek, tapi tau tau udah punya ya?” Dyanri sangat senang menggoda Alvaro hingga membuat cowok itu merasa kesal.
Alvaro terlihat salah tingkah. Ia langsung menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku pakaiannya. Ia bahkan belum sempat membalas pesan Sheyra karena ulah Dyanri. Ia tidak ingin Dyanri lebih meledeknya lagi. Menyebalkan.
“Gak ada apa-apa. Jangan ngarang deh lo.” ujar Alvaro kesal.
Dyanri cekikikan melihat ekspresi yang ditunjukkan Alvaro. “Hahahah puas banget gue.” ujar Dyanri yang sontak saja membuat Alvaro cemberut.
“Heiii anak-anak makan dulu yuk.”
Dyanri dan Alvaro tiba-tiba terdiam ketika menyadari kedatangan Om Radit ke cafe. Om Radit terlihat sedang menenteng dua rantang makanan sambil tersenyum sumringah.
“Papa!” seru Dyanri.
“Halo Om.” sapa Alvaro.
“Yuk makan dulu Dyanri, Alvaro. Ajak juga anak-anak yang lain ya.” pinta Om Radit ramah.
^^^Bersambung….^^^