Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Pertaruhan Terakhir
Arsen masih memandangi layar ponselnya yang telah gelap. Panggilan dari Victor benar-benar singkat, tetapi cukup membuat suasana di ruang keluarga berubah tegang.
"Ada apa, Pak?" tanya Rangga.
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Victor menelepon."
Semua orang langsung menoleh.
"Apa katanya?" tanya Aluna dengan wajah cemas.
"Dia menyuruhku datang sendirian kalau ingin Clara tetap hidup."
Aluna langsung menggeleng.
"Jangan datang. Itu pasti jebakan."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Arsen tersenyum tipis.
"Justru karena itu aku harus datang."
"Arsen!"
Aluna berdiri dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak mau ada orang yang terluka lagi karena keluargaku."
Arsen menatap Aluna dengan lembut.
"Dengarkan aku."
"Aku sudah berjanji akan menemukan ibumu."
"Dan aku tidak pernah mengingkari janjiku."
Mendengar ucapan itu, Aluna hanya mampu menundukkan kepala.
Sementara itu, di rumah tua dekat Danau Harapan, Clara duduk di dekat jendela kecil yang dipasangi terali besi.
Ia memandang langit malam sambil memegang liontin kecil yang selama ini disembunyikannya.
"Ya Allah..."
"Lindungilah putriku."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Victor masuk sambil membawa sebuah kursi.
Ia duduk tepat di depan Clara.
"Sebentar lagi kau akan bertemu putrimu."
Clara menatapnya tajam.
"Kau berbohong."
Victor tersenyum tipis.
"Bukan."
"Arsen pasti datang."
"Dan kalau dia datang..."
Victor berhenti sejenak.
"...aku akan mendapatkan semua yang kuinginkan."
Clara mengepalkan tangannya.
"Kau tidak akan pernah menang."
Victor tertawa pelan sebelum keluar dari ruangan.
Di rumah Mahardika, Arsen mulai menyusun rencana.
"Aku memang akan datang sendirian."
Rangga langsung menggeleng.
"Itu terlalu berbahaya."
"Aku hanya akan terlihat sendirian."
Rangga mulai memahami maksud Arsen.
"Orang-orang kita akan mengepung dari kejauhan."
"Benar."
Ratih mengangguk lega.
"Itu lebih baik."
Namun Aluna tetap merasa gelisah.
Ia memiliki firasat buruk.
Saat semua sibuk mempersiapkan rencana, Aluna diam-diam masuk ke kamarnya.
Ia membuka kembali buku harian Clara.
Di halaman terakhir terdapat tulisan yang sebelumnya belum sempat dibaca.
"Jika Victor meminta seseorang datang sendirian, jangan pernah percaya. Di rumah itu ada jalan bawah tanah yang hanya diketahui sedikit orang."
Mata Aluna langsung membelalak.
Ia segera membawa buku itu kepada Arsen.
"Arsen, lihat ini!"
Arsen membaca tulisan tersebut dengan saksama.
"Jalan bawah tanah..."
Rangga segera membuka peta rumah tua yang telah dibuat tim penyelidik.
"Pak, di denah lama memang ada lorong bawah tanah yang mengarah ke belakang rumah."
Arsen tersenyum tipis.
"Bagus."
"Kalau begitu kita bisa menyelamatkan Clara tanpa diketahui Victor."
Semua orang mulai memiliki harapan.
Di sisi lain, Victor berdiri di balkon rumah tua sambil memandang halaman depan.
Salah seorang anak buahnya menghampiri.
"Tuan, semua sudah siap."
"Bagaimana dengan bahan peledak?"
"Sudah dipasang di seluruh bangunan."
Victor mengangguk puas.
"Kalau Arsen berhasil masuk..."
"...dia tidak akan pernah keluar hidup-hidup."
Ia tertawa pelan.
Namun, Victor tidak mengetahui bahwa rencananya telah diketahui lebih dulu.
Arsen bukan hanya datang untuk menyelamatkan Clara.
Ia juga datang untuk mengakhiri semua kejahatan Victor yang telah berlangsung selama delapan belas tahun.
Di kejauhan, beberapa mobil hitam mulai bergerak meninggalkan kediaman Mahardika.
Malam itu akan menjadi malam penentuan.
Entah siapa yang akan menang, tetapi satu hal sudah pasti.
Setelah matahari terbit esok pagi, rahasia besar yang selama ini tersembunyi akhirnya akan terbuka untuk selamanya.