NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Gala Tahunan (II): Siapa yang Bodoh?

"Saya terima."

Kalimat itu membuat ballroom Kempinski langsung hidup.

Orang-orang menoleh, ponsel naik, senyum sosial berubah menjadi lapar gosip. Di panggung, pembawa acara tampak berusaha menyembunyikan kegembiraan profesional.

Brandon naik lebih dulu. Ia berjalan dengan dada terangkat, seolah tantangan logika matematika adalah jalan menuju takhta.

Aku naik setelahnya.

Gaun merahku bergerak pelan di bawah lampu, dan dari sudut mata, aku melihat Veronica menegang.

Bagus.

Malam ini aku memang ingin semua orang melihat.

"Aturannya sederhana," kata pembawa acara. "Tiga soal logika. Jawaban tercepat dan benar menang. Setiap kesalahan menambah donasi pribadi."

Brandon tersenyum. "Jangan takut, Keira. Ini hanya permainan kecil."

Aku tersenyum balik. "Kalau kecil, jangan menangis nanti."

Beberapa orang tertawa tertahan.

Wajah Brandon mengeras.

Soal pertama muncul di layar: pola angka dan probabilitas sederhana.

Aku bahkan belum sempat membaca ulang ketika Naomi di kepalaku sudah menghela napas.

Ini soal latihan masuk kampus, bukan senjata perang.

[Jawaban tersedia.]

Tidak perlu, Kepo.

Aku menekan tombol.

"Empat puluh dua persen."

Pembawa acara melihat kartu jawaban. Matanya melebar. "Benar."

Brandon baru membuka mulut.

Terlambat.

Tepuk tangan terdengar.

Soal kedua tentang tiga kotak dan pernyataan benar-salah. Brandon menekan tombol lebih cepat.

"Kotak kedua."

Pembawa acara tersenyum kaku. "Salah."

Aku menekan tombol. "Kotak ketiga. Karena pernyataan pertama dan kedua saling meniadakan."

"Benar."

Tepuk tangan lebih keras.

Di meja utama, Reynard duduk sangat tenang. Tapi aku melihat sudut bibirnya naik sedikit.

Steven, entah dari mana, sudah merekam.

Natasha di belakangnya hampir melompat.

"Ci Kei, hajar!"

Pembawa acara pura-pura tidak mendengar.

Soal ketiga adalah deret logika dengan jebakan bahasa. Brandon membaca cepat, terlalu percaya diri.

"Jawabannya dua belas."

"Salah," kata pembawa acara.

Aku menunggu satu detik.

Lalu berkata, "Tidak ada jawaban numerik. Pertanyaannya meminta kondisi, bukan hasil. Jawabannya: mustahil dengan informasi yang diberikan."

Pembawa acara terdiam, lalu melihat kartu.

"Benar."

Ballroom meledak.

Brandon berdiri kaku seperti patung yang baru sadar dibuat dari bahan murah.

Di layar, total donasi pribadinya naik tiga kali lipat.

Pembawa acara, yang tadi mungkin mengira ini hanya segmen lucu, sekarang tampak seperti orang yang menemukan tambang emas rating.

"Luar biasa, Nyonya Keira. Apakah Nyonya punya latar belakang matematika?"

Aku tersenyum. "Saya hanya suka membaca soal dengan hati-hati."

Itu bukan bohong.

Itu juga bukan seluruh kebenaran.

Beberapa direktur senior Wijaya yang dulu memandangku seperti pajangan mulai berbisik. Aku mendengar kata "tajam", "tidak seperti rumor", dan "Reynard beruntung".

Reynard mendengar juga.

Matanya menatapku dengan tenang, tapi di bawah meja, ia menyentuh cincin di jariku sekali.

Hadiah kecil, diam-diam.

[Status Brandon: ego retak.]

Brandon mencoba tertawa, tapi suara yang keluar terdengar salah.

"Permainan kecil," katanya. "Aku hanya memberi kesempatan."

"Tentu," jawabku. "Terima kasih atas donasinya."

Tepuk tangan muncul lagi, kali ini bercampur tawa terang-terangan.

Di wajah Brandon, malu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Aku melihatnya.

Reynard juga.

Ia memberi isyarat kecil pada Anto.

Anto tidak naik panggung, hanya bergeser ke posisi yang lebih dekat. Gerakannya hampir tidak terlihat, tapi aku menangkapnya. Begitulah cara Reynard mencintaiku di ruangan penuh orang: bukan dengan kata besar, melainkan memastikan ada jalan keluar sebelum bahaya mendekat.

Aku turun dari panggung dengan tepuk tangan. Reynard berdiri untuk menyambutku, menarik kursiku, dan berkata pelan, "Bagus."

Hanya satu kata.

Tapi cukup membuat seluruh tubuhku hangat.

Sayangnya, malam belum selesai.

Segmen berikutnya adalah demonstrasi kuliner amal. Beberapa keluarga konglomerat membawa chef pribadi untuk menyajikan menu kecil yang akan dilelang sebagai pengalaman makan eksklusif.

Celine tersenyum padaku dari seberang ruangan.

"Ci Keira, dengar-dengar kau sekarang suka memasak?"

Nada suaranya lembut.

Racun di dalamnya tidak.

"Sedikit."

"Kalau begitu, ikut dong. Biar semua orang lihat kemampuan Nyonya Muda Wijaya yang serba bisa."

Brandon, yang masih malu, langsung menambahkan, "Atau takut?"

Aku menatap mereka berdua.

Aku sebenarnya tidak berencana memasak malam ini.

Tapi Si Kepo tiba-tiba membuka panel hadiah lama.

[Ruang Penyimpanan: bahan bumbu tersedia.]

[Memori Naomi: resep fusion aktif.]

[Saran: hancurkan mereka dengan rasa.]

Kepo, kau terdengar seperti acara kompetisi masak.

[Terima kasih.]

Aku berdiri. "Baik."

Dapur hotel berubah menjadi medan perang kedua. Chef profesional tampak bingung ketika aku meminta beberapa bahan sederhana: ayam, udang, tahu sutra, daun jeruk, kecap manis, sambal matah, jahe, bawang putih, dan beberapa bumbu Tionghoa.

Delapan belas hidangan kecil.

Bukan porsi besar. Hanya tasting plate.

Perpaduan masakan rumah Tionghoa-Indonesia, street food, dan teknik yang pernah kupelajari dari video masak sebelum mati sebagai Naomi.

Aku tidak memasak untuk terlihat sempurna.

Aku memasak seperti seseorang yang pernah pulang terlalu lelah dan tetap ingin makanan hangat. Seperti Keira yang dulu tidak pernah ditanya mau makan apa. Seperti Naomi yang tahu harga cabai bisa membuat rencana hidup berubah.

Setiap piring kecil membawa sedikit cerita.

Udang telur asin dengan daun jeruk.

Ayam jahe kecap.

Tahu sutra saus cabai manis.

Sup bening dengan aroma goji dan seledri lokal.

Nasi kecil dibungkus daun pisang dengan abon jamur.

Ketika hidangan keluar, ballroom yang tadi ribut mulai berubah hening.

Orang kaya juga bisa diam kalau makanan enak.

Satu per satu juri memberi nilai.

Seorang chef tamu dari Bali mencicipi udang telur asin, lalu mengangkat alis.

"Ini rasa rumah, tapi presentasinya restoran."

Juri lain mencoba sup bening dan bertanya siapa yang mengajarkanku.

Aku tersenyum. "Banyak perempuan yang tidak pernah dicatat namanya."

Jawaban itu membuat beberapa ibu di meja depan bertepuk tangan duluan.

Aku tidak menyebut Naomi. Tidak menyebut Keira lama. Tapi di dalam dada, dua hidupku berdiri berdampingan.

Sempurna.

Sempurna.

Sempurna.

Celine tersenyum makin kaku.

Brandon minum terlalu cepat.

Di sisi lain, chef yang dibawa Brandon menyajikan hidangan mereka. Aku mencium aroma sausnya dan melihat satu botol kecil di tray.

Si Kepo berkedip.

[Kesempatan penggunaan Truth Serum.]

Aku menatap botol saus, lalu Celine yang berdiri terlalu dekat dengan piring Brandon.

Tidak.

Aku tidak akan menaruh obat ke makanan orang sembarangan.

Tapi jika mereka sendiri membawa saus khusus untuk mempermalukanku, dan Si Kepo bisa mengganti isi sendok kecil yang akan dipakai Celine mencicipi...

[Ruang Penyimpanan siap.]

Aku bergerak saat semua orang menoleh ke panggung kecil. Satu tetes. Sangat kecil. Cukup untuk membuka mulut, bukan menyakiti tubuh.

Celine mengambil satu suapan dari piring chef Brandon.

Awalnya ia tersenyum.

Lalu senyumnya berubah.

Matanya melebar.

"Rasanya pahit," katanya.

Brandon mengerutkan dahi. "Apa?"

Celine menutup mulut, tapi terlambat.

"Pahit seperti hidupku tiga tahun sama kamu. Kamu itu sama sekali tidak bisa jadi laki-laki, tapi masih suka mukul orang."

Ballroom membeku.

Aku ikut membeku.

Efeknya lebih cepat dari perkiraan.

Celine menekan bibirnya dengan tangan, air mata langsung naik. Tapi kata-kata berikutnya tetap keluar.

"Kamu selalu bilang aku harus diam. Kalau aku cerita soal kamu, kamu hancurkan keluargaku. Kamu pikir aku masih takut? Brandon, kamu itu rusak. Kamu cuma berani sama perempuan."

Satu kalimat itu mengubah arah tawa menjadi sunyi.

Aku melihat beberapa perempuan di meja tamu saling pandang. Ada rasa jijik, ada rasa iba, dan ada sesuatu yang lebih dalam: pengenalan. Mereka mungkin tidak pernah mengalami hal yang sama, tapi mereka tahu dunia seperti apa yang membuat perempuan harus diam di sebelah pria berkuasa.

Celine berdiri gemetar.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak terlihat seperti musuhku.

Ia terlihat seperti korban yang akhirnya bicara dengan cara paling berantakan.

Brandon berdiri begitu cepat kursinya jatuh.

"Celine!"

Tapi Celine belum selesai.

"Dan Ronny sama Jessica, semua orang pura-pura tidak tahu. Mereka menjijikkan. Aku lihat mereka di villa Hartono. Aku lihat!"

Nama Ronny dan Jessica meledak seperti bom kedua.

Ponsel-ponsel naik lebih tinggi.

Veronica berdiri, wajahnya pucat.

Denny yang duduk di meja belakang langsung menoleh tajam.

Hendra pelan-pelan meletakkan gelas.

Brandon melangkah ke arah Celine. "Tutup mulutmu!"

Celine menangis, tapi tertawa juga. "Kenapa? Takut semua orang tahu kamu tidak bisa?"

Brandon kehilangan kendali.

Ia mendorong Celine.

Tubuh Celine jatuh ke lantai, gelas pecah di dekatnya.

Seluruh ballroom berteriak.

Lampu kamera menyala.

Celine mencoba bangun, tapi tangannya gemetar. Tidak ada yang langsung bergerak karena semua orang terlalu sibuk kaget atau merekam. Itulah yang membuatku paling marah.

Mereka punya berlian di leher, jam mahal di tangan, tapi keberanian untuk membantu perempuan jatuh saja harus menunggu izin sosial.

Aku bergerak maju tanpa berpikir.

Reynard menahan pergelangan tanganku, bukan untuk menghentikan selamanya, hanya untuk memastikan Brandon tidak bisa menyentuhku.

Anto sudah muncul di sisi panggung.

Steven memberi isyarat pada staf keamanan hotel.

Dalam hitungan detik, panggung amal berubah menjadi garis depan keluarga Wijaya.

Celine menatapku dari lantai. Ada kebencian lama di matanya, tapi di bawahnya ada sesuatu yang retak. Mungkin malu. Mungkin permintaan tolong yang tidak tahu bentuknya.

Aku tidak tahu apakah suatu hari kami bisa berdamai.

Tapi malam itu, aku tahu satu hal: Brandon tidak boleh menyentuhnya lagi.

Hendra berdiri dengan wajah besi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Brandon terlihat sadar bahwa semua orang sedang merekam.

Kesadarannya tidak membuatnya menyesal.

Hanya membuatnya takut terlihat buruk.

Itu perbedaan yang sangat penting.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!