Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Keduanya tampak kebingungan bagaimana mencari tahu keberadaan Halimah dan anak-anak itu sekarang karena jika tidak menemukannya mereka akan kehilangan harta Halimah .
Rossa mengembangkan senyumnya dan langsung bertanya kepada suaminya itu
"Mas, apa mbak Halimah memiliki BPJS kesehatan?, apa selama dia sakit dia menggunakannya?". Tanyanya pelan
Kening Hermawan mengkerut, apa istrinya ini sudah gila malah menanyakan hal seperti itu padahal mereka sedang bingung tentang keberadaan Halimah, apa coba hubungan BPJS kesehatan dengan keberadaan Halimah
"Kenapa menanyakan itu, mau ngapain dengan BPJS itu?".
Perusahaan tempatnya bekerja memang memberikan tunjangan kesehatan dengan iuran BPJS mandiri yang ditanggung perusahaan dan dia gunakan dengan seluruh keluarganya.
"Mas, apa mungkin kak Halimah menggunakan BPJS itu untuk berobat?".
Satu-satunya cara untuk menemukan Halimah yang dia yakini adalah menggunakan BPJS kesehatan itu, jika Halimah menggunakannya mereka akan tahu dimana dia akan berobat dan mereka bisa tahu jadwal kontrolnya, jika itu terjadi mereka akan datang pada saat itu, tentu saja dia akan bertemu dengan Halimah disana.
Mata Hermawan mengerjap beberapa kali seolah memahami apa maksud istrinya itu
Mata Hermawan berbinar cerah, istri keduanya ini memang sangat pintar dalam hal seperti ini, dia langsung memeluknya dengan sangat senang.
"Kenapa aku tidak kepikiran soal itu?, dia pasti akan menggunakan itu untuk berobat, kita akan tahu dimana dia berobat dan kita bisa tanya ke puskesmas tentang rujukannya itu, astaga akhirnya". Jawabnya dengan girang.
"Benar mas, kita harus mencarinya sekarang, kita harus ke puskesmas lebih dulu untuk tahu dimana dia berobat dan juga jadwalnya, kita bisa datang kesana sat itu".
Mereka langsung melangkah keluar rumah untuk segera menuju puskesmas yang merupakan tempat BPJS itu tertera
Tapi langkah mereka langsung terhenti ketika menyadari jika hari ini sudah hampir malam, keduanya menepuk jidatnya karena terlalu bersemangat.
"Besok pagi saja kita kesana untuk mencari tahu semuanya, mereka tidak akan bisa menutupi dari kita karena kamu suaminya".
"Iya sayang, kamu memang pintar". Jawab Hermawan mencolek dagu istrinya dengan genit.
Keduanya tertawa pelan seakan sudah berhasil mendapatkan hadiah besar padahal semua itu hanya zonk
Mereka tidak tahu saja, jika Aminah sudah memanipulasi hal itu, dia sengaja membuat jadwal untuk rujukan kerumah sakit lain tapi dia tidak akan kesana melainkan untuk kerumah sakit dekat daerahnya dan rumah sakit itu jauh lebih besar .
Dia mengambil surat rujukan untuk 2 rumah sakit setelah berdiskusi dengan dokter rumah sakit yang merupakan orang yang dia tolong waktu itu, jadi dokter itu membantunya setelah dia menjelaskan alasannya.
Aminah sudah memikirkan matang-matang saat berada dirumahnya dan mengurus keperluan ibunya, dia bukan orang bodoh yang tidak tahu bagaimana ayahnya sendiri.
Ayahnya dan istrinya sangat licik tentu saja dia harus membalas mereka dengan kelicikan juga beruntung sekali karena dokter yang menjadi kepala puskesmas itu mau membantunya apalagi ini memang demi kepentingan pasien.
"Bisa nggak belanjanya udahan aja, aku capek ini". Fadil kini menenteng beberapa paperbag ditangannya berjalan dengan lemas.
Dihadapannya perempuan cantik dan modis serta anggun Itu kini menoleh kearahnya dengan alis yang diangkat.
"Kenapa?, kamu sudah lelah?". Tanyanya dengan suara pelan
"Iya aku sudah lelah, kita istirahat saja dulu, kita juga belum makan malam kan?". Ucapnya kelelahan
Bagaimana dia tidak lelah, dia baru saja pulang dari kantor yang tengah menguras tenaga dan emosinya dan langsung menemani gadis ini berkeliling untuk berbelanja dan dia bahkan belum makan siang sampai sekarang.
Sejujurnya dia sangat ingin pulang untuk mandi karena sudah gerah dan lelah tapi dia harus bersabar demi tujuannya mendapatkan hadiah yang paling dia nantikan
Yasmin menghela nafas, walau dia kesal dia tetap menuruti apa yang dikatakan oleh lelaki dihadapannya itu, dia baru sadar jika sejak tadi dia terus membawa Fadil berkeliling untuk berbelanja.
"Ya sudah ayo!!". Ucapnya menggandeng tangan Fadil dengan senyum lebar.
Dia sebenarnya hanya menguji kesabaran Fadil selama setahun ini dan beruntung lelaki ini sabar dan dia yakin Fadil ternyata bukan lelaki yang suka memanfaatkannya dan sekarang dia sudah yakin soal itu.
Fadil bernafas lega, akhirnya dia bisa duduk dan beristirahat sejenak walau dia harus kembali mengeluarkan uang.
"Kamu akan makan apa, aku pesankan yah". Ucap Yasmin dengan perasaan bersalah.
Dia sudah yakin jika Fadil bukan orang yang suka memanfaatkan orang lain apalagi karena kekayaannya seperti itu jadi dia akan membuka hatinya secara perlahan.
"Iya kamu saja yang pesan yah sayang, maaf aku lelah sekali tadi banyak pekerjaan dikantor dan sekarang harus berjalan terus bahkan aku belum sempat makan makanya seperti ini". Jawabnya memelas.
Yasmin mengangguk kemudian menatap Ardi Dnegan tatapan rasa bersalah yang besar
"Maaf yah, aku tidak tahu soal pekerjaan kamu dikantor yang sedang banyak-banyaknya, yah sudah makan yang banyak, aku yang traktir kali ini yah".
Mata Fadil berbinar cerah tapi dia berusaha menyembunyikan nya, dia tidak mau Yasmin curiga jika ini yang dia tunggu sejak setahun ini.
"Biar aku aja yang bayar, aku masih punya uang cukup kok". Ucapnya berusaha menampilkan wibawanya sebagai pria sukses.
"Tidak apa-apa sayang, toh selama ini kamu yang sering mengeluarkan uang, sekarang gantian yah, kan kamu harus nabung untuk pernikahan kita". Yasmin mengelus tangan Fadil dengan senyum lembut.
"Gotcha". Girangnya dalam hati.
"Kena kamu". Cicitnya dalam hati dengan senyum mengambang sempurna
"Tidak apa kok sayang, kan itu tugas aku sebagai calon imam kamu kedepannya, jika kita sudah menikah aku akan berusaha lebih keras lagi, kamu cukup dirumah saja jangan terlalu capek bekerja, toh itu perusahaan keluarga kamu, banyak karyawan yang bisa membantu".
"Iya kamu benar, nanti kita bicarakan lagi sama mama dan papa yah, mereka mengundang kamu makan malam dirumah nanti".
"Akhirnya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, bagus juga akhirnya kesabaran ku dan dompetku yang menipis itu akhirnya menemukan hasilnya". Girangnya dalam hati.
"Iya sayang kamu atur saja, kita bisa bicarakan hal seperti itu nanti, aku akan lebih bertanggungjawab lagi untuk kesejahteraan kita kedepannya ".
Dia harus bersikap semakin manis kepada perempuan ini, dia harus bisa menjadi menantu pemilik perusahaan besar itu bagaimana pun caranya.
"Makan yang banyak sayang". Fadil menyuapkan makanan itu untuk memberi perhatian.
"Makasih". Jawabnya dengan malu.
"Dasar bodoh, akhirnya aku bisa jadi orang kaya".
Mereka makan dengan tenang sedangkan Fadil sejak tadi bersorak dengan girang dalam hati dia betul-betul merasa puas karena rencananya akhirnya berakhir dengan hasil yang tidak terduga