Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Armor Retak Dibawah Segel Of Eternity
Sepuluh gelombang Flesh Corps Army datang seperti tembok kebencian yang tidak mengenal ampun.
Namun Arjuna tidak lagi berlutut, walaupun pasukan mayat hidup itu auranya menekan Arjuna.
Cahaya keemasan meledak dari inventaris sistemnya. Artefak Amuk Marugul, dan Kuda Sembrani melayang keluar serentak, lalu menyatu di sekeliling tubuhnya dalam hitungan sepersekian detik.
"Imperial Magna Cyborg Armor!" serunya dengan suara yang menggelegar memecah malam.
Lempengan logam emas kehitaman membungkus tubuhnya dari ujung kaki hingga mahkota kepala. Sayap baja terbentang di punggungnya, dan mata helm berpendar merah membara seperti dua bara api yang tidak pernah padam.
"Kuda Sembrani, amplifikasi sepuluh kali lipat!"
Pertahanan, kecepatan, dan kekuatan serangannya melonjak dalam satu hentakan yang membuat tanah di bawah kakinya retak melingkar sejauh sepuluh meter.
Kalawidya menyaksikan transformasi itu tanpa berkedip.
"Artefak ksatria," gumamnya dari balik topeng tulang, "Bukan sekedar artefak biasa rupanya."
Flesh Corps Army menghantam.
Amuk Marugul berdenyut di dadanya, dan separuh kerusakan yang seharusnya meremukkan tulang-tulangnya justru berbalik arah, dan menghantam balik gelombang daging busuk yang menyerangnya.
Tubuh Arjuna hanya bergeser setengah langkah ke belakang. Kakinya tetap kokoh mencengkram tanah yang retak.
"Lima puluh persen kerusakan terpantulkan," batinnya dengan mata yang kini bisa melihat jauh lebih tajam berkat armor barunya, "Sisanya masih harus aku tahan sendiri."
Kalawidya melangkah maju satu kali.
"Menarik," ucapnya pelan, "Tapi armor hanyalah baju. Yang menentukan kemenangan adalah ranah di baliknya."
Tangannya terangkat kembali.
Gelombang demi gelombang menyusul tanpa jeda. Setiap benturan membuat Amuk Marugul berdenyut semakin keras, memantulkan kerusakan yang semakin besar. Namun juga menguras Ether di dalam armor itu sendiri dengan kecepatan yang tidak bisa diabaikan.
Arjuna merasakannya. “Energi di dalam Imperial Magna Cyborg Armor mulai menipis.”
Di tengah pertahanannya yang mulai goyah, Batara Niskala tiba-tiba melayang keluar dari inventaris sistem dengan sendirinya. Cahaya keunguannya berputar mengelilingi tubuh Arjuna, dan berusaha menyatu dengan Imperial Magna Cyborg Armor seperti hendak menambah satu lapisan pertahanan terakhir.
"Batara Niskala, kau—"
Namun penyatuan itu tidak terjadi.
Cahaya keunguan itu justru memantul balik, menghantam dada Arjuna dari dalam armornya sendiri. Rasa sakit yang jauh lebih dalam dari semua serangan Kalawidya menjalar ke seluruh tubuhnya.
Suara dingin tanpa wujud berdesir di telinganya, dan peringatan bahwa ranah penggunanya tidak mencukupi untuk menyatukan artefak itu dengan armor.
Darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi bagian dalam helmnya sendiri.
"Minimal di atas Qi Resonance Realm," batinnya dengan nafas yang terputus-putus, "Aku belum sampai ke sana."
Seal Of Eternity yang sejak awal melilit tubuhnya kini mengencang serentak, dan merespons kelemahan yang baru saja terbongkar. Rantai cahaya itu menjalar masuk ke celah-celah armor, dan mengunci sendi demi sendi hingga kakinya tidak lagi bisa menapak dengan kokoh.
Kalawidya tertawa pelan dari balik topengnya.
"Kau mencoba memaksakan sesuatu yang belum pantas kau miliki," ucapnya, "Itulah kesalahan terbesar semua ksatria yang pernah aku hadapi."
Flesh Corps Army gelombang berikutnya menghantam tubuh yang sudah melemah itu.
Imperial Magna Cyborg Armor retak di bagian dada.
Arjuna terhempas, dan punggungnya membentur reruntuhan tembok perbatasan untuk kedua kalinya malam itu.
Darahnya kini membasahi tanah dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari sebelumnya. Pandangannya mulai mengabur di pinggir-pinggirnya. Helm yang retak memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi, dengan mata yang masih berusaha terbuka meskipun setiap kedipan terasa seperti perjuangan tersendiri.
Kalawidya melangkah mendekat dengan tenang.
"Sampai di sini perjalananmu," ucapnya tanpa nada kemenangan berlebihan, hanya kepastian dingin yang mengalir dari setiap kata.
Tangannya terangkat untuk pukulan terakhir.
Arjuna tidak bisa bergerak.
Seal Of Eternity sudah mengunci seluruh tubuhnya, dan Ether di dalam Imperial Magna Cyborg Armor sudah habis sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah matanya yang masih menyala merah membara, dan menatap kematian yang mendekat tanpa bisa melakukan apapun untuk menghindarinya.
"Brama," batinnya lirih, "Dyah Ayu, apakah kalian akan datang?"
Tepat ketika tangan Kalawidya hampir menyentuh wajahnya, sebuah ledakan tanah terjadi dari arah utara.
"Lapar atau tidak, aku akan giling kau! Body Expansion: Roller Wraith Ball!”
Brama Kumbara berteriak menggelegar bersamaan dengan tubuhnya yang menggelinding bagai bola raksasa. Kemudian menghantam barisan Flesh Corps Army yang masih tersisa di sekitar Kalawidya hingga berserakan ke segala arah.
Di sisi lain, Arc Ball melesat dari kegelapan, berubah bentuk menjadi tombak merah darah dalam sekejap, dan menusuk tanah tepat di samping Kalawidya hingga memaksanya melompat mundur.
"Jangan macam-macam dengan ku!" teriak Dyah Ayu dengan rambut berkibar liar.
Kalawidya berhenti.
Topeng tulang itu menoleh ke arah cakrawala utara. Tiga belas siluet besar muncul dengan aura Dragonoid yang menggetarkan seluruh medan perbatasan.
Di paling depan, Harjasa berdiri dengan mata yang menyala penuh amarah, dan menatap tubuh Arjuna yang ambruk berlumuran darah di tanah.
"Harjasa," gumam Arjuna dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Namun bibirnya melengkung tipis di antara genangan darahnya sendiri.
Sebelum siapapun sempat bergerak lebih jauh, Kalawidya mengangkat satu tangannya ke udara dengan tenang.
"Enam belas melawan satu," ucapnya pelan, "Rasio yang sangat tidak adil bagiku."
Sesuatu di balik topeng tulang itu bergerak, seolah sedang tersenyum tanpa perlu memperlihatkan wujud sebenarnya.
"Mari kita lihat berapa lama kalian semua bisa bertahan,” lanjutnya mengumpulkan energi Ether menjadi Liquid Ether.
Angin malam berhenti berhembus.
Tiga belas jenderal Dragonoid mengangkat senjata mereka serentak. Namun mata Kalawidya yang tersembunyi di balik topeng itu sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, hanya perhitungan dingin tentang siapa yang akan ia jatuhkan lebih dulu.