NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengintai di Balik Kabut Malam

Rintik hujan tipis kembali membasahi dedaunan di taman paviliun, meninggalkan aroma tanah basah yang pekat di udara malam. Setelah kecupan lembut di kening yang meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan hati Aisha, Adrian pamit untuk kembali ke gedung utama demi membiarkan wanita itu beristirahat.

Aisha menyentuh keningnya dengan jemari yang masih bergetar halus. Semburat merah belum juga hilang dari pipinya. Ia menatap kedua bayi yang mendengkur halus di dalam boks, lalu berjalan menuju jendela kaca untuk mengunci slotnya.

Namun, tepat saat ia menarik tirai tipis berwarna krem itu, sebuah kilatan cahaya kecil yang ganjil dari arah semak-semak di luar pagar pembatas luar mansion menangkap perhatiannya.

'Cekrek.'

Itu seperti pantulan lensa kamera di bawah sorot lampu jalan yang temaram. Aisha menyipitkan mata, mencoba menembus kegelapan malam yang berkabut. Kosong. Tidak ada apa pun di sana selain lambaian ranting pohon yang ditiup angin.

Aisha menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir rasa paranoid nya.

"Kamu hanya terlalu lelah, Aisha. Tim keamanan Adrian sangat ketat, tidak mungkin ada orang asing bisa mendekat," bisiknya menenangkan diri sendiri sebelum akhirnya mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram.

Sementara itu, di balik rimbunnya pohon palem di luar pagar perimeter luar kompleks Menteng, seorang pria bermata cekung dengan jaket hoodie hitam buru-buru menurunkan kamera DSLR dengan lensa telefoto panjangnya. Ia tersenyum seringai, memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi.

Di layar digital kameranya, terpampang jelas foto-foto siluet Adrian yang sedang mengecup kening Aisha, serta foto Aisha yang sedang menggendong Kael dan Fatih secara bergantian.

Pria itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah ponsel murah bermerek lawas, lalu mengetikkan sebuah pesan singkat ke sebuah nomor yang baru saja diaktifkan:

>"Foto sudah didapat. Jelas sekali bos besar Arkan Group itu punya hubungan khusus dengan mantan istrimu. Sesuai perjanjian, kirim sisa uangnya ke rekening biasa lewat orangmu di luar."

Tak butuh waktu lama, sebuah balasan masuk dari nomor tersebut:

>"Bagus. Simpan foto-foto itu. Jangan sampai bocor ke media dulu. Kita tunggu momen yang tepat saat pengadilan membacakan vonis hukuman untukku minggu depan. Aku akan membuat Adrian Arkan membayar mahal untuk setiap tahun penjara yang harus kujalani."

Taufik, meski tubuhnya terkurung di balik jeruji besi dengan pengawasan ketat, ternyata masih memiliki sisa-sisa koneksi hitam dari dunia judi bawah tanahnya.

Ia tahu ia tidak bisa melawan Adrian dengan hukum atau kekayaan fisik, maka ia memilih menyerang titik terlemah yang baru saja ia temukan: reputasi moral Adrian dan keselamatan Aisha.

Keesokan paginya, suasana di ruang makan utama mansion tampak berbeda dari biasanya. Adrian meminta Bi Asih untuk menyajikan sarapan pagi mereka di ruang makan privat lantai satu, dan ia secara khusus meminta Aisha untuk ikut duduk di sana bersama Kael dan Fatih.

Aisha melangkah masuk dengan ragu, mengenakan pakaian kasual yang rapi namun sederhana. Ini adalah kali pertama ia duduk di meja makan utama keluarga Arkan sebagai seorang pendamping, bukan pelayan yang berdiri di sudut ruangan.

Adrian yang sudah rapi dengan kemeja formal biru mudanya mendongak, lalu berdiri dari kursinya untuk menaikkan kursi di sampingnya untuk Aisha. Perlakuan manis yang begitu natural itu membuat Bi Asih yang sedang menata piring tersenyum haru dari kejauhan.

"Duduklah, Aisha. Mulai hari ini, aku tidak mau melihatmu makan sendirian di paviliun lagi," ucap Adrian, suaranya bariton namun hangat.

"Tapi, Adrian... jika ada pelayan lain atau Hendra yang melihat"

"Hendra adalah orang kepercayaanku, dan para pelayan di sini hanya tunduk pada perintahku," potong Adrian sembari menuangkan teh hangat ke cangkir Aisha.

"Kamu adalah bagian dari rumah ini. Sudah saatnya kamu membiasakan diri."

Aisha menatap roti panggang di piringnya, lalu memberanikan diri untuk berbicara tentang kegelisahannya semalam.

"Adrian... sebenarnya, semalam saat saya hendak menutup jendela paviliun, saya seperti melihat ada kilatan cahaya di luar pagar pembatas. Seperti... seseorang sedang mengambil foto."

Gerakan tangan Adrian yang hendak memotong rotinya seketika terhenti. Sepasang mata elangnya langsung menajam, memancarkan kilat kewaspadaan yang sangat tinggi. Ia meletakkan pisau rotinya perlahan.

"Jam berapa itu terjadi?" tanya Adrian, suaranya mendadak kembali dingin dan serius.

"Sekitar jam sebelas malam, tepat setelah Anda kembali ke gedung utama," jawab Aisha cemas.

Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap Hendra yang kebetulan baru saja masuk ke ruang makan untuk mengantarkan berkas kantor harian.

Tanpa perlu Adrian bersuara, Hendra yang mendengar percakapan itu langsung mengangguk paham dengan wajah yang berubah tegang.

"Saya akan segera memeriksa seluruh rekaman CCTV perimeter luar dan memeriksa sensor gerak di area pagar pembatas belakang, Tuan Adrian," ucap Hendra tegas sebelum berbalik cepat untuk melaksanakan perintah tersirat bosnya.

Adrian kembali menatap Aisha, lalu menggenggam tangan wanita itu di atas meja, meremasnya dengan lembut untuk menyalurkan rasa aman. "Jangan takut.

Jika ada tikus yang mencoba menyusup, aku sendiri yang akan mematahkan lehernya. Fokus saja pada kesehatanmu dan anak-anak."

Meskipun Adrian mencoba menenangkan Aisha, di dalam benak sang CEO, sebuah alarm bahaya telah berbunyi. Ia tahu, musuh-musuhnya tidak akan berhenti hanya karena satu kali gertakan di panggung gala dinner.

Badai baru sedang mengintai dari kegelapan, bersiap menguji seberapa kuat perisai yang Adrian siapkan untuk melindungi wanita yang kini telah bertahta di hatinya.

Bersambung~

1
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!