Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
BAB 13
Menyembuhkan infeksi usus yang sudah parah bukanlah keajaiban semalam. Tidak ada sihir dalam pertolongan pertama. Diperlukan waktu, kesabaran, dan kewaspadaan tanpa henti.
Tiga hari pertama adalah masa-masa paling kritis di mana aku harus terus memaksanya meminum cairan rehidrasi. Sang pria raksasa yang kini membuang jauh-jauh tatapan membunuhnya telah berubah menjadi asistenku yang paling penurut.
Setiap kali mangkuk kayu itu kosong, ia akan langsung bergegas mengambil air hangat segar tanpa perlu kuperintah.
Di sela-sela waktu perawatan itu, saat sang ayah sedang menjaga putrinya yang tertidur, aku akhirnya memiliki kesempatan untuk melangkah keluar dari rumah kayu itu dan melihat di mana sebenarnya kami berada.
Begitu aku berdiri di ambang pintu luar, embusan angin yang membawa titik-titik air dingin langsung menerpa wajahku. Mataku sedikit melebar melihat pemandangan di sekelilingku.
Rumah kayu ini tidak dibangun di atas tanah hutan biasa. Kami berada di atas sebuah pijakan tebing batu raksasa yang menjorok keluar. Tempat ini memiliki lapisan tanah gembur yang cukup luas untuk disebut sebagai sebuah halaman rumah berukuran sedang, namun terjepit dengan sangat kokoh di antara dua tebing vertikal yang menjulang menantang langit.
Dan yang paling membuatku menahan napas... tepat di bawah tempat kami berpijak ini, mengalir deras sebuah air terjun yang menderu membelah jurang.
Ini adalah benteng alam yang mustahil ditembus. Manusia normal dari zaman ini tidak akan pernah bisa memanjat tebing vertikal yang licin dan menyeberangi jurang air terjun ini. Satu-satunya hal yang terus berputar di otakku adalah, bagaimana bisa pria ini membangun rumah di tempat seperti ini?
Seminggu kemudian, barulah rona wajah anak perempuan itu kembali. Dan puncaknya terjadi pada suatu pagi.
Sebuah suara parau memecah kesunyian ruangan.
"O....otets..." (A..ayah...)
Dari arah dipan, anak perempuan itu sedang berusaha duduk. Matanya yang dulu cekung kini mulai memancarkan cahaya kehidupan.
Mendengar suara itu, sang pria raksasa seketika menjatuhkan piringnya. Ia berlari menghampiri dipan putrinya dan langsung menjatuhkan diri dengan kedua lututnya.
"Moya malyshka..." (Gadis kecilku...)
bisik raksasa itu. Air mata membanjiri wajah garangnya. Ia memeluk putrinya dengan kelembutan yang sangat rapuh.
Gadis kecil itu balas memeluk ayahnya. Ia benar-benar telah kembali dari ambang kematian.
Aku hanya duduk diam di tempatku, tersenyum kecil. Namun, anak perempuan itu perlahan melepaskan pelukan ayahnya. Matanya beralih menatapku. Ia menyingkap selimutnya, dan dengan langkah yang masih sedikit gemetar, ia turun dari dipan berjalan mendekatiku. Sang ayah mengikutinya dari belakang dengan siaga.
Gadis itu berhenti tepat di depanku. Ia mengangkat tangan kurusnya, lalu menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Mila," ucapnya dengan suara parau. Ia menunjuk dadanya lagi. "Mila."
Ia lalu menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada, menundukkan kepalanya, dan mengucapkan satu kata.
"Spasibo." (Terima kasih)
Aku membalas tatapannya dengan senyum tulus. Aku mengangkat tangan mungilku, lalu menunjuk ke arah dadaku sendiri.
"Qatilah." Aku menunjuk dadaku lagi. "Qatilah."
Tiba-tiba, pria raksasa itu berlutut di sebelah putrinya. Ia menatap lurus ke dalam mataku. Tangan raksasanya yang sekeras batu menunjuk ke arah dadanya yang bidang.
"Goran," ucapnya dengan suara bariton yang berat. "Goran."
Lalu, persis seperti putrinya, Goran menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapanku.
"Spasibo... Qatilah."
Beberapa bulan kemudian.
Mila kini sudah bisa berlari lincah di sekitar halaman tebing. Selama waktu itu pula, aku perlahan mulai menangkap kosakata bahasa mereka, meski lidahku masih kaku dan patah-patah saat merangkai kalimat. Namun, ada satu hal yang menolak berubah dan terus-menerus mengganggu standar kewarasanku.
Yaitu cara hidup Goran yang sangat primitif.
Pagi itu, Goran baru saja kembali dari bawah tebing. Ia membawa bangkai seekor rusa, dan dengan santainya melempar buruan berdarah itu ke lantai ruangan utama, tepat di dekat tumpukan tulang sisa makanan berhari-hari yang lalu.
Dan itu adalah batas kesabaranku.
Aku berjalan menghampirinya, berkacak pinggang. Tubuh balitaku jelas hanya setinggi lututnya, namun aku menatap lurus ke arah matanya tanpa gentar.
"Goran," panggilku dengan suaraku yang melengking.
Goran menoleh, menatapku dengan alis terangkat.
Aku menunjuk genangan darah segar dan tumpukan tulang itu, lalu menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
"Rumah... kotor," ucapku patah-patah dengan aksen yang masih sangat asing. "Kotor... sama dengan... sakit. Mila... sakit lagi nanti. Dan..." aku menunjuk paha rusa itu, "Hanya makan daging...? Mila juga akan sakit."
Mendengar kata sakit, raut wajah Goran seketika berubah. Namun, kali ini ia mengerutkan kening, tampak tidak setuju dengan logikaku. Ia menatap rusa itu, lalu menatap tubuh besarnya sendiri.
"Aku makan daging setiap hari. Aku tidak sakit," protes Goran dengan suara beratnya. "Kenapa Mila sakit?"
Astaghfirulla... Aku terdiam sebentar. Aku langsung memikirkan serat, vitamin, dan segala hal yang dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan. Tapi bagaimana cara menjelaskan hal serumit itu dengan kosakataku yang sangat terbatas kepada seorang pria yang berpikir menggunakan otot?
"Karena..." aku mencari alasan paling singkat dan mutlak, "Mila perempuan!...ya karena Mila perempuan."
Goran memiringkan kepalanya. Ia menatap Mila yang sedang duduk di dipan sambil memainkan tulang hewan, lalu menatapku. Logika sederhananya berusaha mencerna alasan tersebut, hingga akhirnya ia mengangguk pelan.
"Oh... begitu," jawab Goran, menerima alasan itu sepenuhnya tanpa bantahan.
Ia lalu berlutut di depanku, wajah garangnya memancarkan kebingungan yang tulus.
"Qatilah, kau masih sangat kecil. Mengapa kau tahu banyak hal?"
Awalnya aku bingung mau jawab apa lalu aku membusungkan dada dan.
"A..aku... anak bangsawan!," jawabku terbata-bata dengan nada meyakinkan. "Anak bangsawan... harus jenius. Tahu semua hal."
Goran sama sekali tidak curiga. Di matanya, balita asing yang menyelamatkan putrinya dari kematian ini memang pasti berasal dari kasta yang luar biasa tinggi.
"Hoo. Masuk akal, kalau begitu mulai sekarang... aku akan memanggilmu Anak Bangsawan."
Sejak percakapan itu, Goran menuruti semua instruksiku tanpa banyak tanya. Ia membuang sampah sisa tulang ke bawah jurang air terjun dan merebus kulit-kulit hewan agar steril.
Lebih dari itu, aku mulai mengubah rumah ini menjadi jauh lebih efisien. Di kehidupanku sebelumnya, Abi yang seorang insinyur sering sekali mengajariku dasar-dasar ilmu teknik dan mekanika sederhana.
Siapa sangka, pelajaran dari Abi dulu kini menjadi kunci untuk menaklukkan alam liar ini.
Aku menyuruh Goran membelah batang pohon besar untuk membuat roda kayu. Tentu saja, saat proses itu berlangsung, aku hanya bisa memberi isyarat dan perintah patah-patah.
"Kak Qatilah! Ayah sedang buat apa?" tanya Mila yang sedari tadi mengekoriku layaknya anak bebek. Gadis kecil berambut pirang itu menatap roda kayu dengan mata berbinar.
Mendengar pertanyaan itu, Goran yang sedang memegang kapak ikut menoleh ke arahku dengan wajah sama bingungnya.
"Ya, Anak Bangsawan," timpal Goran menggaruk janggutnya. "Sebenarnya aku ini sedang memotong kayu untuk apa?"
Ya Allah... aku hanya bisa menghela napas panjang melihat raksasa yang bahkan tidak tahu apa yang sedang ia buat itu. Dengan sabar, aku mengarahkan mereka untuk menyusun roda-roda itu menjadi sistem katrol sederhana di tepi tebing. Berkat otot Goran yang luar biasa, katrol itu selesai dengan cepat. Kini, ia bisa menarik air dan kayu bakar dari bawah tanpa harus selalu memanjat membawa beban di punggungnya, aku juga menyuruhnya memperbaiki dan memodifikasi beberapa bagian rumah, tentu saja dengan instruksiku.
Saat memeriksa ruang harta sambil merapikannya, secara mengejutkan aku juga menemukan bibit sayuran dan menyuruh Goran menggali beberapa lubang dan setelahnya kutanam agar nutrisi kami seimbang.
Beberapa hari kemudian rumah inipun akhirnya mencapai standar kebersihan dan efisiensi yang bisa ditoleransi oleh otak modernku.
Malam harinya, setelah rutinitas panjang, kami bertiga duduk bersantai. Mila sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar di pahaku.
Di depan perapian, Goran sedang menajamkan kapaknya dengan batu gosok. Suara gesekan logam yang berirama mengisi keheningan malam.
Pandanganku mengelilingi rumah kayu yang kini bersih dan kokoh ini, lalu beralih menatap tebing curam di luar jendela.
"Goran," panggilku pelan, memecah keheningan. "Bagaimana... Goran bangun rumah ini? Di tebing tinggi... susah."
Goran menghentikan gerakannya. Ia meletakkan kapaknya dan menatap bara api.
"Bukan aku yang membangunnya, Anak Bangsawan," jawab Goran. "Orang tuaku yang membangunnya. Dulu... juga ada jalan setapak dari lereng gunung sana yang terhubung langsung ke batu tebing ini."
Aku memiringkan kepala.
"Orang tua... Goran?"
"Mereka sudah meninggal karena penyakit demam saat aku masih remaja," lanjut Goran tenang.
"Setelah mereka tiada, aku pergi dari sini. Aku bekerja sebagai pengawal, dan terkadang... perampok di jalanan."
Goran terdiam sejenak, mengingat masa lalunya.
"Baru saat aku kembali ke rumah ini dengan Mila yang masih bayi, Tiba - tiba bumi berguncang sangat hebat menghancurkan jalan setapak itu"
Aku mengangguk pelan. Pantas saja. Rumah ini dibangun oleh orang tua Goran yang gigih, lalu terisolasi oleh kehendak alam.
Tanganku tanpa sadar mengusap rambut pirang Mila di pangkuanku. Helaian rambutnya keemasan, sangat berbeda dengan Goran yang berambut gelap, kasar, dan memiliki wajah keras layaknya beruang.
Pikiranku kembali merajut tanda tanya. Goran kehilangan orang tuanya saat remaja, pergi menjadi pengawal dan perampok, lalu kembali ke tebing ini membawa seorang bayi berkulit pucat bermata biru.
"Goran..." panggilku lagi, kali ini suaraku terdengar jauh lebih pelan.
Goran menoleh menatapku.
"Ibu Mila..." aku menelan ludah, menatap wajah raksasa itu lurus-lurus. "Di mana?"
Suara jangkrik malam dan deru air terjun di luar tiba-tiba terasa sangat keras, mengisi keheningan yang seketika membeku di antara kami.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭