NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

BAB 1: JAM DUA PAGI

"Kenapa istriku selalu online jam 2 pagi?"

Hujan deras mengetuk kaca jendela apartemen lantai dua puluh itu dengan ritme yang membosankan, namun bagi Arka Pradana, suara itu terdengar seperti gemuruh kegelisahan yang tak berujung. Ia duduk di meja kerjanya, punggungnya menekan kursi ergonomis mahal yang dibelikan Elena sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Di layar laptop, desain antarmuka aplikasi masih terbuka separuh, namun matanya sudah tidak sanggup lagi fokus pada garis-garis dan warna-warna itu.

Pikirannya tertuju pada satu hal saja: Elena.

Wanita yang dinikahinya dua tahun lalu, wanita yang datang membawa cahaya dan kehangatan ke dalam hidup Arka yang sempat kelam setelah perceraian orang tuanya. Elena Wijaya, wanita keturunan Tionghoa kelahiran Surabaya itu, memiliki pesona yang sulit dijelaskan. Lembut, elegan, berbicara dengan nada rendah yang menenangkan, selalu tahu cara membuat Arka merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.

Namun, tiga bulan terakhir... ada yang berubah.

Arka meraih ponselnya di atas meja. Jempolnya bergerak otomatis membuka aplikasi pesan instan. Nama Elena berada di urutan paling atas. Statusnya tertulis abu-abu samar: Terakhir dilihat: 02:01.

Jantung Arka berdegup kencang, nyeri.

Ia melirik jam dinding. Sekarang pukul 02.15 pagi. Elena sudah masuk kamar tidur sejak jam satu lebih lima belas menit. Ia sendiri yang mengantar Elena sampai ke ambang pintu, melihat istrinya mengenakan baju tidur sutra berwarna biru muda, menguap lebar sambil mengelus lengan Arka manja. "Mas, aku ngantuk banget ya. Tidur dulu ya," katanya waktu itu, lalu menutup pintu kamar pelan-pelan.

Kalau dia tidur... kenapa statusnya baru saja aktif?

Dengan langkah pelan, seolah takut mengganggu kesunyian malam, Arka berjalan menuju pintu kamar tidur mereka. Ia memutar kenop pintu perlahan, celah kecil terbuka. Cahaya remang dari lampu tidur berwarna kuning keemasan menerangi ruangan. Di atas kasur besar yang empuk itu, Elena terbaring miring, punggungnya menghadap ke arah pintu. Napasnya terdengar teratur, naik turun dengan tenang. Benar-benar tidur.

Di atas meja samping tempat tidur, ponsel utama Elena—yang berwarna putih mutiara dan selalu ia genggam ke mana-mana—tergeletak diam, layarnya mati total.

Arka mengunci kembali pintu itu pelan-pelan. Ada rasa dingin yang menjalar dari tulang ekor hingga tengkuknya. Logikanya berteriak bahwa ini tidak masuk akal. Kecuali... Elena punya ponsel lain.

Pikiran itu muncul begitu saja, menusuk tajam.

Ia ingat minggu lalu, saat sedang membereskan lemari pakaian Elena karena pembantu sedang cuti. Di bagian paling bawah koper besar berwarna cokelat tua, terselip benda pipih yang tertutup kain. Saat Arka hendak mengambilnya, Elena datang tiba-tiba. Wajahnya yang biasanya pucat dan tenang, seketika berubah merah padam. Ia bergerak sangat cepat, lebih cepat dari yang pernah Arka lihat, lalu merebut benda itu dan menyembunyikannya di balik punggung.

"Yaelah, Mas, kok suka buka-buka barang pribadi sih?" katanya waktu itu, tertawa canggung, logat Surabayanya sedikit kental karena gugup. "Itu barang lama, udah rusak, mau aku buang lho. Nanti kotor tangan Mas."

Arka saat itu percaya. Atau lebih tepatnya, ia memilih untuk percaya. Ayahnya pernah selingkuh, menghancurkan keluarganya, dan Arka bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi paranoid seperti ibunya dulu. Ia ingin pernikahan yang sehat, penuh kepercayaan. "Nggih, maaf ya Le. Aku cuma mau bantu beres-beres," jawabnya saat itu, pasrah.

Tapi malam ini, status online jam dua pagi itu menghancurkan segala rasa percaya yang ia bangun susah payah.

Arka kembali duduk di kursi kerjanya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Di luar, hujan semakin deras, seolah langit sedang menangis. Pikirannya mulai melayang ke kejadian-kejadian kecil yang dulu ia abaikan.

Seperti kemarin sore, saat Elena pulang terlambat hampir dua jam.

"Macet parah di jalanan Thamrin, Mas," katanya sambil meletakkan tas. Tapi sepatu hak tingginya bersih, tidak ada satu pun percikan lumpur atau air hujan, padahal hujan turun deras sekali sejak sore.

Atau minggu lalu, saat telepon rumah berdering. Elena mengangkatnya, berbicara sebentar dengan nada tegang, lalu menutupnya dengan kasar.

"Siapa, Le?" tanya Arka.

"Oh... cuma orang salah sambung. Cih, ganggu banget sih," jawab Elena, lalu berjalan cepat ke kamar mandi, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Arka sempat mendengar bisikan-bisikan pelan dari balik pintu itu, tapi saat ia mengetuk, suara Elena kembali ceria dan normal seolah tidak terjadi apa-apa.

Atau soal Mira. Sahabat karib Arka dari Padang itu, wanita yang selalu bicara apa adanya, sejak dua bulan lalu sering menatap Elena dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara kasihan, curiga, dan benci.

"Mas Arka," kata Mira kemarin, saat mereka minum kopi berdua tanpa Elena. "Awak cuma mau ngasih tahu. Kalau ada apa-apa, kalau Mas merasa ada yang aneh... jangan ditutupin sendiri. Elena itu... bukan wanita biasa."

"Maksud Mira apa?" tanya Arka waktu itu, keningnya berkerut.

Mira hanya menggeleng, lalu menyeruput kopi hitamnya pelan. "Indak ada. Semoga awak salah. Semoga cuma perasaan awak aja."

Namun sekarang, melihat jam yang terus berputar dan status Elena yang masih abu-abu di layar ponselnya, Arka sadar. Perasaannya bukan khayalan.

Ada sesuatu yang disembunyikan istrinya. Sesuatu yang besar.

Dan malam ini, Arka memutuskan: ia tidak akan lagi menutup mata.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!