Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — BUKU Kutukan
Sosok di kursi kayu itu menatap lurus ke arah mereka.
Atau lebih tepatnya…
Lubang kosong tempat matanya seharusnya berada.
Naresha langsung mundur sampai punggungnya membentur dinding.
Napasnya memburu.
“Astaga…”
Makhluk itu perlahan berdiri.
Tubuhnya tinggi kurus dengan gerakan patah-patah seperti boneka rusak.
Jahitan hitam memenuhi wajahnya.
Beberapa bahkan tampak robek hingga memperlihatkan daging pucat di bawahnya.
Dan saat mulutnya bergerak…
Terdengar suara banyak orang bercampur menjadi satu.
“Kenapa kalian masuk…”
Suara itu membuat telinga Naresha berdenging.
Arven berdiri di depan Naresha sambil menggenggam senter erat.
“Kita pergi sekarang.”
“PINTUNYA KEKUNCI!”
Makhluk itu mulai berjalan mendekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Langkahnya lambat.
Namun hawa dingin yang keluar dari tubuhnya membuat ruangan terasa membeku.
Naresha panik melihat sekitar mencari sesuatu untuk dipakai melawan.
Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada buku tebal di atas kursi.
Buku tua berkulit hitam.
Simbol merah yang sama dengan pintu tadi terukir di sampulnya.
Entah kenapa…
Ia merasa buku itu penting.
“Ven!”
“Hm?!”
“Bukunya!”
Arven langsung menoleh.
Dan saat cowok itu melihat buku tersebut, ekspresinya berubah.
“Jangan sentuh dulu!”
Namun terlambat.
Karena makhluk tanpa mata itu tiba-tiba menoleh cepat ke arah buku.
Gerakannya mendadak tidak normal.
Kepalanya patah miring.
Dan tubuhnya meluncur cepat menuju Naresha.
“DIA MAU AMBIL BUKUNYA!” teriak Naresha.
Arven langsung menarik Naresha menjauh sementara makhluk itu menghantam kursi kayu.
Brakkk!
Kursi terbalik.
Buku hitam jatuh ke lantai.
Dan saat buku itu terbuka sendiri—
Semua lampu menyala terang.
Ctak!
Ruangan langsung dipenuhi suara bisikan keras.
“Akhirnya…”
“Terbuka…”
“Dia datang…”
Naresha memegang kepalanya kesakitan.
Suara-suara itu terlalu banyak.
Terlalu keras.
Makhluk tanpa mata tadi mendadak berhenti bergerak.
Tubuhnya gemetar.
Seolah takut pada sesuatu.
Dan perlahan…
Bayangan hitam mulai keluar dari halaman buku.
“Astaga…”
Arven langsung pucat.
“Jangan lihat!”
Namun Naresha terlanjur melihat.
Di halaman buku itu terdapat foto-foto siswa.
Dan salah satunya…
Foto Evelyn.
Di bawahnya tertulis:
PENGIKAT KE-27
Deg.
Naresha langsung menatap Arven.
“Apa ini?!”
Ekspresi Arven berubah buruk.
“Sial…”
“VEN JELASIN!”
Cowok itu menggertakkan rahang.
“Ini bukan sekadar pembunuhan.”
Sunyi.
Naresha merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
“Dulu…” suara Arven mengecil, “ada ritual di sekolah ini.”
Deg.
“Apa?”
“Beberapa guru dan pengurus lama percaya kalau arwah bisa dipakai buat ‘menjaga’ sekolah.”
Tubuh Naresha langsung dingin.
“Itu gila.”
“Mereka nyebutnya pengikat.”
Tatapan Arven mengarah ke foto Evelyn di buku.
“Dan Evelyn salah satunya.”
Naresha langsung menatap buku itu lagi.
Tangannya gemetar.
“Lo bilang… ke-27?”
Arven mengangguk pelan.
“Berarti sebelum Evelyn… udah ada korban lain.”
Suasana ruangan mendadak terasa makin sesak.
Makhluk tanpa mata tadi kini berlutut di lantai sambil mengeluarkan suara aneh seperti menangis.
Sementara bayangan hitam dari buku terus bergerak pelan di lantai.
“Kenapa sekolah ini masih berdiri sih…” bisik Naresha pelan.
Namun sebelum Arven menjawab—
Halaman buku tiba-tiba terbuka sendiri cepat.
Blassshh!
Kertas-kertasnya bergerak liar seperti tertiup angin besar.
Dan sebuah nama muncul perlahan di halaman terakhir.
DAMAR WIJAYA
Deg.
Naresha langsung membeku.
“Itu…”
Arven menatap halaman itu dengan wajah pucat.
Pak Damar.
Tiba-tiba—
“Hehehe…”
Suara tawa perempuan terdengar tepat di belakang mereka.
Naresha langsung menoleh cepat.
Dan tubuhnya seketika membeku.
Evelyn berdiri di depan pintu.
Namun kali ini…
Wajahnya dipenuhi darah.
Dan matanya hitam seluruhnya.
“Dia datang…” bisiknya lirih.
Brakkk!
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka sendiri.
Angin dingin masuk dengan keras.
Dan dari lorong gelap luar ruangan…
Terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat perlahan.
Tok.
Tok.
Tok.
Arven langsung menegang.
Sementara Evelyn perlahan mundur sambil gemetar ketakutan.
Untuk pertama kalinya…
Hantu itu terlihat takut pada manusia.