yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 3 Takdir buku
Di pagi hari, Yovada terbangun karena alarm ponselnya yang berbunyi. Ia mengenakan kacamatanya dan melihat jam di alarmnya. Ia sedikit terkejut dengan jam yang menunjukkan pukul 8.00 pagi dan langsung turun dari ranjangnya namun sayangnya ia langsung terjatuh karena kakinya mati rasa. Ia berusaha merasakan kakinya namun rasanya seperti ia tidak bisa mengendalikannya. Ia merangkak ke depan kamar mandi dan ia harus meraih kloset dan kemudian duduk di sana. Ia merenung sebentar dan mengingat apa yang terjadi. Ia berusaha kembali sadar dan kemudian mencoba kembali bangkit dan kemudian mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia kemudian bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku di sana. Ia tidak lupa untuk sarapan yang mana ia membuatnya sendiri. Ia makan sebuah roti palis dengan isi daging dan sayuran. Ia menggunakan baju kemeja rapi dengan celana kain yang rapi dan formal. ia ingin menggunakan motornya namun di saat ia sedang ingin memasukkan kunci motornya, kepala ia tiba-tiba sakit kepala. Ia sadar bahwa ini dikarenakan tadi malam Yovada tidak tidur dengan nyenyak.
Ia mengurungkan niatnya untuk menunggangi motornya dan memilih untuk pergi ke perpustakaan dengan menggunakan Taksi Online yang ada di ponselnya. Ia memesannya dan seketika mobil itu datang, Yovada langsung masuk dan mengatakan untuk pergi ke toko minuman kopi yang berada tidak jauh sebelum perpustakaan. Pengemudi pun mematuhi apa yang di katakan oleh Yovada dan langsung menjalankan mobilnya menuju perpustakaan.
Selama di perjalanan, Yovada menahan mengantuknya dan berusaha membuatnya tetap terjaga namun usaha malam membuatnya semakin mengantuk. Dirinya berusaha melihat ke depan namun kelopak maranya tetap saja begitu berat. Seketika ia tidak sengaja memejamkan matanya dan ia tertidur di dalam mobil itu. Ia berusaha sadar dan di saat ia membuka mata, mobil itu berhenti di depan toko minuman kopi yang ia langsung memesan segelas kopi untuk ia minum sebelum masuk ke dalam perpustakaan. Ia berusaha tetap terjaga namun masih saja agak sedikit susah untuk tetap terjaga.
Di saat ia sampai, ia langsung keluar dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam untuk melihat buku apa yang bisa ia baca. Di sana suasananya sangat damai dan tenang. Di saat itu, ia berjalan santai ke lantai ke 2 dan memasuki koleksi umum. Koleksi umum hanya ada seperti buku-buku biasa namun kadang bukunya selalu berganti-ganti setiap 5 tahun sekali dan kadang ia juga meminjam beberapa buku dan juga menyumbangkan beberapa buku yang ia miliki. Para penjaga perpustakaan mengenalnya sebagai pengunjung tetap karena kesetiaannya yang sering mengunjungi dan memberikan saran dan kritik yang membangun.
Di sana ia langsung menunu rak buku yang berisi dengan penemuan-penemuan zaman dahulu yang melegenda. Di saat ia mengambil buku itu, ia terkejut ketika ia melihat sebuah wajah wanita di antara 2 celah buku yang ia buat karena mengambil buku itu. Wanita itu adalah orang yang menolongnya di perpustakaan sekolah kemarin. Ia sedikit terkejut namun ia berusaha menahan ekspresinya. Wanita itu menaikkan alisnya dengan sedikit terkejut namun kembali lagi karena mengetahui bahwa orang di hadapannya adalah orang yang ia tolong kemarin. Mereka berbalik dan berpisah di sana.
Di saat ia mencari meja yang biasanya ia tempati, ia melihat ada buku di sebelah mejanya. Ia melihat ke meja itu dan melihat bahwa di atas buku itu ada kartu pengunjung perpustakaan seseorang yang memiliki nama Kesya Nafsah yang mana sebelum Yovada bisa mengenali wajah pemilik kartu itu, seseorang langsung menegurnya di belakang.
“Kamu sedang apa di mejaku?” Tanya wanita itu yang membuat Yovada terkejut. Yovada melihat ke belakang dan mengenali bahwa orang tersebut adalah orang yang sama.
“tidak... hanya penasaran saja...” Ucap Yovada dengan nada dingin dan suara pelan. Ia menaruh buku di meja sebelahnya dan kemudian ia membaca bukunya dengan tenang. Wanita itu menempati tempat duduknya kemudian ia membaca bukunya.
Mereka membaca bukunya dengan tenang. Yovada dan Kesya sedang membaca bukunya masing-masing dan mereka tidak terkalihkan dengan hal apa pun. Pengunjung silih berganti dan mereka tetap di tempat yang sama. Terkadang Yovada sendiri pergi ke rak buku lain untuk melihat buku yang membuatnya tertarik. Namun di saat yang sama, Kesya melihat ke meja Yovada dan melihat kartu pengunjung yang bertuliskan nama Yovada Aksobus. Yovada yang melihat hanya membunyikan tenggorokannya yang membuat Kesya berpaling dengan tatapan dingin dan kembali ke tempatnya.
Mereka kini saling diam, di satu sisi Yovada memang tidak miliki rasa suka pada Kesya dan begitu pula sebaliknya. Namun mereka saling penasaran satu sama lain. Dari buku apa saja yang ia baca hingga ke bagian rak mana ia sering masuki. Mereka saling memperhatikan kebiasaan masing-masing hingga ke setiap cara mereka melangkah dan perilaku mereka.
Mereka tetap di sana bahkan hingga jam 4 sore di saat para pengunjung sudah pulang dan para staf sudah selesai membereskan buku-buku yang di pinjam. Yovada dan Kesya masih berada di tempat yang sama. Penjaga perpustakaan menegur mereka agar segera membereskan barang bawaan mereka karena perpustakaan mau di tutup. Yovada yang mendengar itu langsung menutup bukunya dan membereskan barang bawaan seperti karu dan juga ponselnya. Namun berbeda dengan Kesya, ia terlihat kurang bersemangat meninggalkan perpustakaan. Wajahnya kelihatan kurang begitu bersemangat, kakinya lemas dan bahkan ketika ia mau berdiri tangannya harus bertumpu pada meja. Yovada yang melihat itu hanya diam dan berusaha mengabaikannya.
Bagi Yovada jika ia mengikut campuri urusan orang maka ia akan semakin kekurangan waktu untuk dirinya belajar dan mencoba hal baru. Ia berdiri dan meninggalkan Kesya sendirian. Di saat ia pergi untuk menuruni tangga. Beberapa petugas menolong Kesya untuk bangkit dan berjalan, namun Kesya menolaknya dan memaksakan dirinya untuk berjalan sendiri. Namun ketika ingin menuruni tangga, kaki Kesya malah salah memijak anak tangga yang membuat kakinya terkilir dan terjatuh menuruni anak tangga. Yovada yang ada di depannya malah terkejut dan langsung terdorong oleh Kesya yang ada di belakangnya. Mereka terjatuh merosot menuruni anak tangga hingga ke bawah.
Para petugas yang melihat itu langsung panik dan bergegas untuk melihat keadaan mereka. Para petugas yang ada di bawah sudah langsung mengerumuni mereka. Terlihat Yovada yang memeluk tubuh Kesya yang mana kepalanya berada aman di dada Yovada. Sedangkan Yovada sendiri harus menjadi pelindung Kesya yang mana ia mengorbankan tubuhnya untuk menahan setiap benturan anak tangga di punggungnya. Mereka mencoba membantu Yovada bangkit berdiri dan memeriksa ke adaan mereka berdua.
Hasilnya sendiri Kesya cuman mengalami cedera ringan di kakinya sedangkan Yovada yang mendapat cedera serius di bagian punggungnya dan ada bekas memar di bagian belakang kepala karena benturan tadi. Para petugas pun ingin memanggil ambulans untuk menjemput Yovada namun ia sendiri menolak karena ada beberapa urusan setelah ini. Ia menemui Kesya yang sedang di periksa oleh petugas dan langsung mengambil kartu pengunjung perpustakaan milik Kesya. Ia membaca alamat yang tercantum dalam kartu itu dan mengetahui bahwa rumahnya dan rumah Kesya masih satu jalur dan pada akhirnya Yovada akan mengantarkan Kesya ke rumahnya.
Di depan ia memesan Taksi Online dan mengantar mereka pulang. Di dalam mobil, sang driver berkata pada Yovada dengan penasaran.
“mas, itu cewek di belakang pasti adeknya mas kan?” Ucapnya dengan nada penasaran.
“bukan mas” Jawab Yovada dengan dingin dan pelan.
“lah... bukan ya... kalau di bilang kakak juga tidak cocok, berarti ini pacar mas ya?” Ucapnya dengan suara yang terkejut dan juga senang.
“pacar... tidak pernah aku memesan Taksi Online untuk pacarku. Mustahil aku memiliki pacar” Ucap Yovada dengan suara yang lebih dingin dari biasanya, seakan ada surat penolakan keras pada kalimat itu.
“mohon maaf ini mas, kalau bukan pacar masa cuman teman, lagi pula kalian cocok loh. Para driver yang lain juga bilang kalau kalian adalah orang yang selalu perginya ke perpustakaan. Jadi kalau boleh bilang kalian berdua memang cocok loh.” Ucap pengemudi itu pada Yovada yang terlihat tidak menanggapi pernyataan itu.
Selama di perjalanan, mereka hanya diam tanpa ada suara. Hanya ada bunyi mesin dan juga kipas pendingin yang belum di servis. Namun di kursi belakang Kesya mulai membuka matanya dan suara dengung kecil keluar dari mulutnya. Namun tiada yang sadar dengan hal itu. Ia menatap 2 orang yang ada di depannya dengan tatapan pasrah seperti ia hanya mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya. Suaranya seperti merintih ketakutan seperti khawatir dengan keadaannya sendiri. Ia kembali menutup mata seakan ia masih pingsan agar ia tidak dalam masalah.
Saat mobil itu berhenti di suatu tempat, Kesya langsung panik namun dirinya tetap berusaha diam. Yovada pun keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang yang ada Kesya di belakang. Di saat itu juga Yovada membuka pintu dan menggendong Kesya keluar dari mobil. Kesya yang melihat itu langsung terkejut, ia mengira bahwa dirinya di culik atau sebagainya namun kenyataannya dirinya malah di antar pulang ke rumahnya. Yovada menggunakan satu tangannya untuk mengetok pintu dan menunggu seseorang membuka pintu tersebut. Beberapa saat kemudian, sepasang suami istri membuka pintu tersebut lalu terkejut karena melihat anaknya di gendong oleh seorang pria dengan kaca mata bulat dan kemeja rapi. Mereka mengambil Kesya dan menggendongnya, Yovada di suruh masuk untuk menjelaskan kejadiannya namun Yovada memutuskan untuk menjelaskan di luar rumah saja karena Taksi Online tersebut menunggunya. Ia menjelaskan bahwa Kesya terjatuh dari tangga dan langsung menghantam dirinya dan kini ia membawa Kesya ke rumahnya.
Yovada pun berpamitan dengan orang tua Kesya dan kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Selama di dalam Taksi Online, Yovada hanya memikirkan dirinya beberapa hari ini. Dirinya sadar bahwa ia di pertemukan dengan wanita itu terus di mana pun ia berada. Namun satu sisi lain ia tahu bahwa dirinya bukanlah seseorang mencari cinta namun hanya mencari ketenangan dalam sela kehidupannya. Yovada merenung sedikit hingga dirinya menatap ke samping mengarah ke jendela kaca mobil sabil berkata dalam dirinya.
“simpel... hanya butuh waktu untuk diri sendiri... ”