Gadis cantik dan hebat itu bernama Laras,hidupnya harus jungkir balik.
Dari serba ada menjadi tidak punya apa-apa,
Diumurnya yang masih sangat muda,
duduk di bangku SMA,ia terpaksa harus bisa hidup mandiri.
ia pribadi yang tangguh,cerdas dan berbakat.
Unsur action,petualangannya dalam meraih apa yang diinginkannya dan kisah percintaannya menjadi bumbu menarik dalam kisah ini.
Siapakah Jodohku???
apakah ia yang selama ini selalu bersamaku ataukah orang lain?
Banyak pria yang mencintai Laras,
siapakah yang pada akhirnya akan selalu bersamanya,menerima segala kekurangannya mengingat kini dia bukan lagi berasal dari keluarga yang kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni istiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasrah Kepada Tuhan Yang Maha Esa
WARNING!!!
Pastikan anda sudah makan jika akan membaca episode ini.
Karena di episode banyak mengandung tekanan batin dan emosi!!
setelah membaca ini pasti anda akan merasa lapar kembali.
😁😁😂😂😂
**Sueeeeeekkk lu Thor ah...
Bodo amatlah
amat aja ga bodo kog
😋😋😋
😁😁😂😂😂🤪🤪🤪**
......................
Seluruh dunia dan seisinya adalah milik Tuhan.
Semua yang tercipta didunia ini akan kembali lagi kepada-NYA.
Begitu juga hidup kita,semua adalah milik-NYA.
......................
Ceklek!!!
Pintu terbuka dari arah luar.
Jasson terkejut karena dibalik pintu itu Laras tergeletak di lantai,begitu lemas.
"Pelayan!!
segera siapkan makanan dan vitamin untuk istriku.
Segera!!!."
"Ba..baik tuan."
Dengan gerakan secepat kilat,
para pelayan berusaha secepat mungkin menyiapkan apa yang diminta oleh tuannya itu.
Sayup-sayup mendengar kata istriku,
sesungguhnya Laras ingin protes.
Karena ia tau,pemilik suara itu bukanlah suaminya.
Tapi apa daya,Laras merasa tubuhnya sudah begitu lemas.
Jangankan untuk protes. Hanya sekadar untuk berbicara saja rasanya sudah tidak sanggup.
"Sabar ya,sebentar lagi pelayan akan datang membawa makanan yang ku minta."Ucap Jasson sambil meraih tubuh Laras,
lalu membopongnya kearah kasur yang besar dan luas itu.
Tak butuh waktu lama,
kini para pelayan telah tiba dikamar.
Mendorong gueridon yang berisi banyak makanan didalamnya.
"Ayo makan dulu."Ucap Jasson sambil akan menyuapkan sendok yang berisi bubur hangat itu ke mulut Laras.
Laras ingin menolaknya.
Ia ingin makan sendiri,tapi lagi-lagi ia merasa tubuhnya begitu lemah.
"Sudah menurut saja makan,
apa kau ingin membunuh bayi didalam perutmu ini dengan tidak makan?."
Benar apa yang diucapkan Jasson.
Saat ini sudah bukan waktunya lagi untuk egois.
Ada satu nyawa lagi yang berada di perutnya kini yang harus ia pikirkan juga.
Laras menurut dan makan dengan lahap setiap suapan yang masuk ke mulutnya.
Tubuhnya mulai merespon dengan baik setiap gerakan,
sudah ada tanda ia memiliki tenaga lagi.
"Sekarang gue dimana?
gue mau pulang ketemu suami gue?
kalo dia tau gue disini dia akan marah besar Jasson."
Mulut Laras langsung membombardir jasson.
"Udah ada tenaga ya?
udah ga lemes lagi?
langsung nyerocos aja kaya burung kalo udah kenyang."Balas Jasson tak mau kalah set.
"Gue serius Jasson,suami gue dan keluarga gue pasti bingung mencari gue sekarang."
Jasson memberi aba-aba kepada pelayannya untuk mengambil berkas perjanjian yang sudah ia siapkan.
"Sepertinya mau tidak mau aku harus memberi tahu kamu.
Dan setelah ku jelaskan kamu wajib tanda tangan disini."
Ucap Jasson sambil menunjuk tempat paraf di kanan bawah surat.
"Su..surat apa ini?."
Tanya Laras terbata.
"Kamu berhak tahu jika suamimu Raka itu sudah meninggal.
Dan dia berpesan agar aku menjadi suamimu untuk menggantikan dia.
Selama kamu belum melahirkan,aku berjanji tidak akan menyetubuhimu.
Kamu harus berjanji mematuhi segala perintah dan keinginanku.
Apabila kamu melanggar perjanjian ini.
Apalagi kamu berusaha kabur dariku,sebagai gantinya aku akan membunuh semua keluargamu.
Ayahmu?Ibumu?atau adikmu gio?
Mana dulu yang akan ku pilih untuk ku bunuh?."
Senyum tipis keluar dari bibir manis Jasson.
Bibir yang manis tapi sangat tajam untuk membelah hati seorang Laras.
JEDER!!!
Seperti tersambar petir yang bergemuruh dan saling berkejaran.
Bagaikan terkena sengatan listrik 16.000volt.
Mengiris hatinya.
Meremas jantungnya.
Menghentikan aliran darahnya keseluruh tubuhnya.
Kenyataan apalagi yang harus ia hadapi Tuhan?
Sesaat kau buat hidupku begitu bahagia,
tapi sesaat juga kau buat hidupku hancur kembali Tuhan!!
"Tidak!!!
Kau pasti berbohong Jasson!!!
kau pasti sedang bersandiwara saat ini!!
tidak mungkin suamiku telah tiada!!
tidak mungkin!!
gue mau pulang!
gue mau pulang Jasson!!!
antar aku pulang sekarang!!
kamu jahat Jasson!!
kamu orang paling ku benci didunia ini!!
aku benci penjahat seperti kamu!!
gue mau pulang!!!
Haaaaah!!!."
Teriak Laras begitu kalut dengan beruraian air mata.
Ia berusaha bangkit dan berlari untuk kabur.
Tapi tentu saja belum kakinya melangkah, Jasson sudah lebih dulu menahan tubuhnya.
"Ingat dengan perjanjian ini Laras!!."
Diambilnya ibu jari tangan kanan Laras,ditempelkan pada tinta hitam lalu bak stempel,
sidik jari Laras sudah tertempel disana.
"Jika sampai kau melarikan diri atau bunuh diri!!.
Semua keluargamu juga akan mati!.
Jangan pernah berharap akan ada yang menolongmu dan keluargamu!!
ingat itu baik-baik."
Begitu sakit rasanya,
begitu sesak didada.
Air mata itu jatuh tanpa suara.
Tak ada lagi yang mampu terucap,
tak ada setitikpun harapan.
Doa tulus ia tujukan untuk suaminya yang baru ia ketahui telah tiada.
Tak ada pilihan apapun saat ini, kecuali menjalani kenyataan hidup walau sepahit ini.
Jika ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
belum tentu ia akan langsung bertemu dengan suaminya dialam sana,
tapi kenyataannya malah dia juga membunuh 4 orang sekaligus.
Ayah,ibu,gio dan anak yang dikandungnya akan ikut menjadi korban yang tak bersalah karena kesalahannya.
Tuhan ku pasrahkan hidupku padamu,
darimu aku diciptakan,
dan pada dirimu aku akan pulang.
Laras terus saja menangis,menangis dan menangis hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis.
Kring..Kring...Kring
"Hallo selamat malam."
"Panggilkan tuanmu Jasson."
"Baik tuan."
"Tuan!! ada telfon untuk tuan di line 1."
Ucap pelayan itu kepada Jasson.
"Hallo.."
"Jasson!! ini ayah,
segera pulang sekarang sepertinya polisi mulai mencurigaimu.
Allex sepertinya sudah memberi keterangan jika Laras diculik!
Segera terbang secepatnya,ayah sudah telfon pilot untuk bersiap 15menit lalu."
"baik ayah,aku segera pulang."
"Pelayan,segera tuliskan pesanku di secarik kertas!!
berikan langsung pada Laras jika dia sudah bangun.
Saya akan tulis isi pesannya,nanti saya kirim via email dan segera kau salin.
mengerti!!."
"Baik tuan,saya mengerti."
"Satu hal lagi yang perlu kalian ingat!!
jaga istriku selama aku tidak disini!!
jangan sampai ia kabur!
jika sampai dia kabur,nyawa kalian menjadi taruhannya PAHAM!!!."
"Baik tuan."
***
Keesokan harinya Allex dan justin,
telah selesai memenuhi panggilan kepolisian.
Dengan memberi informasi semua yang ia ketahui sebagai saksi dan sekaligus korban.
Begitu juga dengan Jasson yang dengan senang hati memenuhi panggilan kepolisian untuk memberikan keterangan yang membuat ia tak disangkut pautkan dengan kasus ini.
"Bahkan untuk menjaga Laras adikmu sendiri sebentar saja kamu tidak sanggup.
Cih!!! kakak macam apa sebenarnya kamu itu." Justin berkata dengan muka merah padam.
"Siapa yang kamu maksud?
GUE?." Allex bertanya untuk memastikan.
"Dasar orang Bodoh!!!."
BUGH!!!
Pukulan Justin mendarat di wajah Allex.
Allex tak melawan sedikitpun.
"Maksud lu Laras itu adek gue??
Maksud lu apaan??."
Kini Allex berbalik memicingkan kerah baju Justin.
"Dasar manusia bodoh!!
Laras tu memang adek lu bodoh!!
kamu memang manusia bodoh yang sama sekali tidak peka!!."
Kali ini Justin akan kembali mendaratkan pukulannya yang kedua.
"Hey stop!!! stop!!!."Teriak sebagian polisi yang tengah bertugas disana.
"Apa-apaan ini jangan buat keributan disini!!
kalau mau adu jotos ayo saya antar ke ring tinju sekarang!!."
Ayah Martin dan Adinata berlarian jua, memisahkan Allex dan Justin.
"Ayo kita pulang sekarang!!
kita bicarakan ini dirumah!!."
Bak kerbau dicocok hidungnya mereka pun mengikuti perintah Martin.
"Apa yang sebenarnya kalian ributkan!!
Sungguh memalukan!!
Mau di taruh dimana muka Ayah,
jika sampai kelakuan kalian sampai ke telinga para wartawan yang tengah memantau kasus ini!."
Ayah Martin mulai kalut menghadapi kenyataan ini.
"Justin tadi berkata,jika Laras itu adikku.
apa itu benar ayah?."
Allex menatap tajam pak Adinata.
Sekejap ruangan itu menjadi hening.
"Kalaupun itu benar apa gunanya??
toh juga sekarang Laras sudah hilang bagai ditelan bumi!!
dasar kakak tidak berguna!
beruntung gue tidak punya kakak macam lu!!
kakak gue yang sudah bertanggung jawab kepada adiknya saja masih diambil oleh Tuhan!!
kenapa tidak kakak macam kamu saja yang diambil oleh Tuhan!."Justin menggebu-gebu.
Seolah kekesalan dan kekecewaannya pada kehidupan ia limpahkan kepada Allex.
"Cukup Justin!!
kita semua tengah berduka.
Jangan kau tambah luka dengan mengungkit-ungkit hidup kakakmu lagi!!."
Martin kini tak kalah emosinya.
"Kakak menitipkan Laras dan bayi yang dikandungnya kepadaku sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya ayah!!
Lalu apa yang bisa ku perbuat dengan janjiku kepadanya ayah!!
sekarang istri dan anaknya itu hilang tanpa jejak.
Aku telah gagal memenuhi janjiku padanya Ayah!!
aku adik yang tidak berguna!!
Arrghh!!!!."
Dipukulnya meja ruang tamu itu oleh Justin.
Darah segar mengalir dari sela-sela ruas jarinya.
Martin langsung menggiring anaknya itu masuk ke kamar,agar keadaan tidak bertambah kacau.
Kesedihan dan kekecewaan begitu terpancar dari dalam diri Justin.
"Sebelumnya ayah minta maaf kepadamu Allex.
kamu sudah dewasa sekarang.
Mungkin sudah waktunya kamu mengetahui semuanya."
Adinata baru mulai membuka suara.
"Tidak ayah,ibu mohon tidak."
Tyas menggelengkan kepalanya,berusaha agar adinata tidak memberitahu Allex kebenarannya.
"Tidak Bu,Allex berhak tahu jika kita bukan orang tua yang baik untuknya."
Bulir-bulir air mata mulai jatuh dipipi Tyas.
Dia akan benar-benar di benci oleh anak pertamanya,
dia sudah kehilangan anak keduanya,
hanya gio yang tersisa yang ia punya.
"Lebih baik kebenaran diungkapkan walau itu pahit!!
dari pada manisnya kepalsuan tapi akan bermuara juga di lembah yang gelap."
Allex berusaha meyakinkan dirinya sendiri menerima kenyataan ini.
"Dulu ayah adalah seorang yang gagal nak,
kamu lahir dengan keadaan ekonomi kita yang sangat miskin bahkan minus.
Untuk membayar biaya persalinanmu saja ayah tidak sanggup.
Saat itu Gunawan datang membantu ayah,
tapi ternyata ada perjanjian di balik itu.
Dia sudah menikah cukup lama tapi tak kunjung dikaruniai anak,
sedangkan ayah menikah dengan keadaan belum siap karena ibumu sudah mengandung kamu diperutnya.
Gunawan bersedia membayar semua hutang dan seluruh biaya persalinan dengan syarat kamu menjadi anaknya,dan suatu saat jika kamu mengetahui kebenarannya.
Ayah dan ibu tidak berhak mengambil kamu kembali.
Ayah memang ayah yang bodoh dan tak berguna!!
jangankan untuk membahagiakan ibumu,
menjaga anak-anakku juga aku tidak becus!!."
Air mata tanpa permisi jatuh di pipi Adinata.
"Jika kau akan membenci kami,Ayah sudah pasrah kepada Tuhan.
Mungkin ini balasan dari kelalaian ayah.
Ayah dibenci anak pertama ayah,
lalu ayah kehilangan anak kedua ayah Laras untuk selamanya.
Wajah Adinata dan Tyas kini tertunduk lesu.
"Tidak ayah,Allex tidak akan membenci Ayah dan ibu.
Ini semua sudah Tuhan gariskan dalam takdir hidup Allex.
Allex berjanji akan menghabiskan sisa hidup Allex untuk mencari Laras.
sampai kapanpun,sampai Laras bisa ditemukan.
Untuk menebus kebodohanku selama ini padanya."
Mereka berempat kini berpelukan dalam kesedihan.
***
"Bagaimana Jasson apa ada tanda-tanda polisi mencurigai kita,saat kamu di korek keterangan tadi??."
Tanya Jacob sudah tidak sabar.
"Sejauh ini aman ayah,tapi sementara beberapa bulan ini Jasson harus diindonesia dulu agar tidak membuat mereka curiga."
Jawab Jasson.
"Tenang boy,Ayah sudah punya ide boy.
Beberapa bulan lagi anak buah ayah akan ayah buat mereka tertangkap oleh polisi.
Sehingga gugur sudah kecurigaan mereka terhadapmu.
Setelah itu baru kamu bisa kembali ke Swiss dan hidup bersama Laras lagi."
Jasson mengernyitkan dahinya.
mendengar ide gila ayahnya itu.
"Ayah sudah menjamin seluruh keluarga mereka kedepannya akan hidup terjamin dan kaya walau mereka berada dipenjara.
Mereka sudah menyetujui itu."
Seringai licik itu kembali muncul di wajah Jacob.
"oh God,my father is so smart and cunning."
Ahahahaha...gelak tawa anak dan ayahnya pecah diruangan itu.
****
Laras baru saja terbangun dari tidurnya.
Ia sama sekali tidak berharap akan bangun dari tidurnya,
dia sangat berharap dia bisa tidur selamanya.
"Selamat pagi nyonya."
Sapa pelayan itu kepada Laras.
Laras hanya terdiam tak menjawabnya.
"Nyonya,tuan Jasson tidak berada disini sekarang.
Beliau sudah pulang ke Indonesia dengan tergesa-gesa tadi pagi.
dan meninggalkan surat ini untuk nyonya.
Ini sudah petang nyonya,tidak baik nyonya selalu melewati jadwal makan nyonya."
Lagi-lagi ucapan pelayan itu tidak di gubris oleh Laras.
"Teman-teman bisa kalian tinggalkan kami berdua dikamar ini?
aku berjanji akan bisa membuat nyonya mandi,makan dan minum obatnya seperti perintah tuan."
semua pelayan itu saling pandang seakan tidak percaya kepada pelayan seniornya itu.
"aku akan membuat trik licik agar dia mematuhi perintahku kalian tenang saja,kalian bisa beristirahat sambil menunggu makanan di piring-piring ini habis nantinya."
"Baiklah,kau harus berjanji jika tidak kita semua bisa ditembak mati oleh tuan."
"Siap aku janji."
Setelah dipastikan seluruh temannya itu keluar,pelayan itu kembali mendekati Laras.
"Dek,aku adalah sahabatnya Raka.
Aku adalah Intel polisi yang menyamar sudah 2tahun belakangan ini di keluarga Jasson.
Tolong jangan langsung menoleh,
karena di kamar ini ada cctv."
Laras masih berusaha tetap diposisinya agar tidak dicurigai.
"Sementara ini kita tidak punya pilihan,
kamu harus memastikan bayi yang ada diperutmu itu sehat dan kuat.
Dia adalah penerus Raka.
Jangan sampai terjadi apa-apa padanya,
persetan Jasson begitu membuatmu sakit dan kecewa.
Tapi nasi sudah jadi bubur,
hal yang harus kamu lakukan sekarang adalah menghadapi hidupmu dengan baik.
Anggap aja setan Jasson itu tidak ada.
Temanku juga ada yang bertugas di rumah Jasson yang diindonesia.
Kita berdoa saja kepada Tuhan agar ayah Jasson kembali melakukan transaksi besar-besaran agar kita semua bisa mempunyai bukti untuk menangkap mereka.
Lalu kita semua bisa bebas dari penjara ini."
"Apa gue bisa mempercayaimu?."
jawab Laras lirih namun masih tak menatap pelayan itu.
"Kamu tak perlu percaya padaku,karena aku tak butuh itu.
yang perlu kamu lakukan sekarang adalah melindungi bayi itu agar tetap hidup sehat dan kuat selama dikandunganmu.
kita harus bersabar menunggu waktu yang tepat itu tiba.
Apa kamu mengerti maksudku?."
"Ya gue tau."
"Raka sangat menginginkan anak itu hidup,
mungkin jiwanya akan lahir kembali disana.
ia pernah bercerita jika dia mempunyai istri yang sangat hebat dalam bertarung pencak silat, saat memberi kabar jika ia akan keluar dari kepolisian.
Apa itu hanya kebohongan belaka?."
Kali ini Ada pancaran semangat hidup Dimata Laras setelah mendengar kata-kata itu.
"Baik,kali ini gue berusaha hidup dengan baik demi bayi ini."
"Sebaiknya kamu segera mandi dan makan,lalu minum semua vitamin-vitamin ini.
Sebelum bayi diperutmu itu kekurangan gizi."
"Baik,tapi gue mohon jangan pernah jauh dari gue sekarang."
"Aku berjanji,tapi kamu juga harus berjanji jangan sampai membuat kesalahan sekecilpun.
jika tidak,nyawa kita melayang semua disini."
Penampakan kota Zurich ketika menuju petang.
Buat teman-teman yang sudah mampir ke karya ini,
jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak biar q juga bisa mampir ke karya kalian,
selalu
Like,
Vote,
Favorite,
And Comment di setiap episodenya yah..
karena like dari kalian semua sangat berarti untukku.
and boleh follow juga
IG aku
Nama IG: yistiyanti
Salken ya..
Mampir yuk di novelku
GADIS TIGA KARAKTER
Makasih🙏😍
😁
⚘⚘⚘Pria Idola n Menikahi
pria Urakan⚘⚘⚘⚘
⚘⚘⚘Pria Idola n Menikahi
pria Urakan⚘⚘⚘⚘
nungguin si Ramadhan SM Khansa Up
coba baca yg lain,mksihhh