NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Morning kiss

Angin sore berembus pelan di halaman rumah Jenny. Mike masih berdiri di hadapannya, pikirannya penuh perhitungan.

“Jangan gegabah,” tambah Jenny, suaranya kini lebih tenang. “Luciano itu tipe pria yang bisa menghancurkan hidup orang hanya karena tatapan yang dia tidak suka.”

Mike menyeringai tipis. “Aku bukan anak kemarin sore, Jenny.”

“Justru karena itu aku ingatkan,” balas Jenny cepat. “Ini bukan soal keberanian. Ini soal strategi.”

Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku nggak mau main kotor.”

Jenny mengangkat satu alisnya. “Siapa bilang ini kotor? Kamu cuma hadir. Jadi teman. Jadi tempat dia merasa aman.”

Mike terdiam lagi.

“Aku lihat sendiri tadi,” lanjut Jenny. “Luciano datang dengan wajah dingin. Cara dia menggenggam tangan Alana itu bukan protektif… itu menekan.”

Mike mengepalkan rahangnya.

“Aku nggak suka lihat dia seperti itu,” gumamnya.

“Ya sudah. Buktikan kalau kamu bisa jadi pilihan yang lebih baik,” ucap Jenny, kali ini nadanya terdengar seperti dorongan tulus.

Beberapa detik kemudian, Mike mengangguk pelan.

“Aku akan hubungi dia. Pelan-pelan.”

Jenny tersenyum puas, tapi tidak terlalu kentara.

“Bagus.”

Mike lalu berbalik menuju mobilnya. Namun sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

“Dan kamu? Apa keuntunganmu?”

Jenny tertawa kecil. “Aku? Aku cuma nggak suka lihat orang yang terlalu berkuasa merasa bisa memiliki segalanya.”

Mike tidak menanggapi. Ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan halaman itu.

Jenny kembali duduk di bangku taman. Tatapannya berubah.

“Kali ini… aku nggak akan jadi korban lagi,” gumamnya pelan.

***

“Kamu masak?” tanya Alana pelan, berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit berantakan dan wajah khas bangun tidur yang masih polos.

Luciano menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada wajan di depannya. “Iya. Kamu harus makan, kan? Jadi biar aku yang masak.”

“Tapi aku bisa lakukan itu, Luciano. Memasak bukan perkara sulit buat aku,” balas Alana, berjalan mendekat dengan langkah pelan.

Luciano langsung menoleh cepat. “Berhenti di situ.”

Alana mengerjap. “Kenapa?”

“Karena aku nggak mau tangan kamu kena pisau atau tersentuh api kompor, Alana.” Suaranya tegas, tapi bukan marah—lebih seperti khawatir yang terlalu dalam.

Alana mengulum senyum. “Luciano, aku bukan anak kecil.”

“Aku tahu.” Ia mematikan api sebentar, lalu menatapnya penuh arti. “Tapi kamu tetap istriku. Dan aku nggak mau ada satu pun luka di tubuh kamu. Bahkan luka kecil sekalipun.”

Jantung Alana berdebar.

Aroma bawang putih dan mentega memenuhi dapur, bercampur dengan wangi kopi yang masih tersisa di udara pagi. Luciano kembali mengaduk masakannya dengan cekatan. Gerakannya tenang, presisi—seperti saat ia memegang pistol. Fokus, tegas, tanpa ragu.

“Aromanya enak,” puji Alana, mencoba mendekat lagi.

Luciano mengangkat spatula sedikit, menghalangi. “Aku bilang duduk.”

Alana tertawa kecil. “Baiklah, Chef.”

Ia duduk di kursi bar dapur, dagunya bertumpu pada telapak tangan, memandangi punggung pria itu. Kemeja putihnya sedikit tergulung di lengan, memperlihatkan urat tangan yang tegas. Rambutnya masih sedikit basah. Pagi itu, Luciano terlihat terlalu sempurna.

“Selain lihai bermain senjata api, aku juga lihai bermain pisau, Alana,” katanya tanpa menoleh.

“Percaya diri sekali, ya.”

“Aku hanya memastikan kamu menikah dengan pria yang kompeten.”

Alana tersenyum tipis. “Aku menikah dengan pria yang terlalu protektif.”

Luciano mematikan kompor. Ia menyusun makanan di piring dengan rapi, lalu membawanya ke meja. Tapi sebelum Alana sempat menyentuh sendok, Luciano sudah lebih dulu menarik kursinya sedikit mendekat.

“Apa lagi?” tanya Alana lembut.

Luciano mengambil sendok, meniup perlahan, lalu menyuapkan ke arahnya. “Aku yang suapi.”

Wajah Alana memerah. “Luciano…”

“Makan,” perintahnya pelan.

Alana menurut. Rasa hangat memenuhi mulutnya, tapi yang lebih menghangatkan adalah tatapan Luciano yang tak lepas darinya.

“Enak?” tanyanya.

Alana mengangguk. “Enak banget.”

Luciano tersenyum tipis—senyum langka yang hanya muncul untuknya.

Tiba-tiba ia meraih tangan Alana, membalik telapak tangannya perlahan, memperhatikan jemari halus itu.

“Apa lagi sekarang?” Alana berbisik.

“Tidak ada luka,” gumam Luciano pelan, seperti memastikan sesuatu yang sangat penting. Lalu ia mencium punggung tangan Alana dengan lembut.

“Aku serius, Alana. Dunia di luar sana sudah cukup berbahaya buatku. Aku nggak mau dunia di dalam rumah ini ikut melukai kamu.”

Suasana hening sesaat. Hanya detak jam dinding dan napas mereka yang terdengar.

Alana bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu memeluk Luciano dari samping. Wajahnya bersandar di dada pria itu.

“Aku nggak selemah itu,” bisiknya.

“Aku tahu,” jawab Luciano, memeluknya balik, lebih erat. “Tapi kamu tetap milikku. Dan aku menjaga milikku.”

Nada posesif itu biasanya terdengar menakutkan. Tapi kali ini justru membuat Alana merasa aman.

Luciano menunduk, mengecup puncak kepala Alana dengan lembut.

“Selama aku masih bisa berdiri dan bernapas,” bisiknya rendah di dekat telinganya, “kamu nggak perlu pegang pisau atau kompor lagi. Tugas kamu cuma satu.”

“Apa?” Alana mendongak.

“Bangun pagi, tersenyum, dan tetap di sisiku.”

Mendengar jawaban Luciano membuat kedua pipi Alana memerah. Dadanya terasa hangat hanya karena satu kalimat sederhana yang diucapkan pria itu dengan nada serius dan penuh makna.

Cup.

Alana mengecup cepat bibir Luciano, singkat dan ringan.

“Morning kiss buat kamu,” ucapnya ceria, mengulum senyum manis.

Luciano terdiam sepersekian detik. Tatapannya berubah—lebih dalam, lebih gelap, lebih menguasai.

“Morning kiss bukan seperti itu, Alana,” gumamnya rendah.

Alana mengernyit polos. “Lalu seperti apa?”

Luciano tidak menjawab dengan kata-kata.

Tangannya yang besar tiba-tiba melingkar di pinggang Alana, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Nafas mereka bertabrakan. Jantung Alana langsung berdetak lebih cepat.

“Tapi seperti ini,” bisiknya pelan.

Dan kali ini, Luciano yang lebih dulu menunduk.

Bibirnya menyentuh bibir Alana dengan perlahan—tidak terburu-buru, tapi penuh intensi. Hangat. Dalam. Seolah ia ingin membuat waktu berhenti hanya untuk momen itu.

Alana terkejut sesaat, namun tangannya refleks mencengkeram kerah kemeja Luciano. Ciuman itu bukan sekadar sapaan pagi—ada rasa rindu, ada rasa memiliki, ada hasrat yang tertahan namun terkendali.

Luciano memperdalam ciumannya, satu tangannya naik ke tengkuk Alana, menahan lembut namun tegas. Ia tidak kasar—tidak pernah pada Alana—tapi jelas menunjukkan dominasi yang membuat lutut Alana terasa lemas.

Napas Alana tercekat saat Luciano sedikit memiringkan wajahnya, memberi ruang untuk ciuman yang lebih dalam. Dunia seolah mengecil hanya menjadi mereka berdua.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Saat Luciano akhirnya menjauh, bibirnya masih sangat dekat dengan milik Alana. Hidung mereka hampir bersentuhan.

“Itu,” bisiknya serak, “baru morning kiss.”

Wajah Alana sudah semerah tomat. “Luciano…”

“Apa?” tanyanya, ibu jarinya mengusap pelan bibir Alana yang sedikit membengkak karena ciuman tadi.

“Kamu berlebihan.”

Luciano tersenyum tipis, tatapannya masih membara namun lembut. “Aku menahan diri.”

Jantung Alana seperti mau meledak.

Luciano menyandarkan dahinya ke dahi Alana. Tangannya tetap melingkar protektif di pinggang wanita itu.

“Jangan kasih aku ciuman setengah-setengah lagi,” gumamnya rendah. “Karena aku akan selalu membalasnya dua kali lebih dalam.”

Alana menelan ludah pelan, lalu tersenyum malu.

“Berarti aku harus siap-siap tiap pagi?”

Luciano mengangkat alisnya. “Kamu sudah menikah dengan pria yang posesif dan penuh hasrat, Alana. Tentu saja kamu harus siap.”

Namun setelah itu, ia mengecup kening Alana dengan sangat lembut—kontras dengan ciuman sebelumnya.

“Sekarang makan,” katanya tenang. “Sebelum aku lupa kalau ini masih pagi.”

Dan Alana tahu jika Luciano sudah berbisik dengan nada seperti itu, lebih baik ia benar-benar menuruti.

“Makan yang banyak, Alana. Karena setelah ini, aku akan menguras habis tenagamu,” ucap Luciano santai, seolah kalimat itu hanya candaan biasa.

Alana yang sedang membuka mulut untuk menerima suapan berikutnya langsung tersedak kecil.

“Hah? Luciano! Ini masih pagi. Kita nggak akan bercinta!” protesnya, wajahnya langsung memerah.

Luciano menatapnya tenang, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kau yang memancingku, Alana,” balasnya rendah. “Jangan salahkan aku kalau reaksiku seperti ini.”

“Reaksi apaan sih?” Alana pura-pura polos.

Luciano mendekatkan wajahnya, cukup dekat hingga Alana bisa merasakan hangat napasnya.

“Aku ini laki-laki normal. Istriku menciumku penuh rasa, lalu berharap aku tetap diam? Itu mustahil.”

Alana mendengus pelan, tapi tetap membuka mulut saat Luciano menyuapinya lagi.

“Fokus makan,” katanya tegas namun lembut. “Kalau kamu lemas nanti, jangan salahkan aku.”

Alana memutar mata. “Luciano, kamu ini… benar-benar mafia mesum.”

Luciano terkekeh pelan. “Mafia, iya. Mesum? Hanya pada istriku.”

Kalimat itu membuat dada Alana kembali hangat. Ia tak bisa lagi membalas, memilih menghabiskan makanannya dengan wajah merah yang tak kunjung pudar.

Luciano sabar menyuapinya sampai suapan terakhir.

“Sudah?” tanyanya.

Alana mengangguk kecil. “Sudah, Chef posesif.”

Belum sempat ia berdiri sendiri, Luciano sudah lebih dulu bangkit. Dalam satu gerakan cepat namun hati-hati, ia mengangkat tubuh Alana.

“Luciano!” pekik Alana refleks.

Luciano menggendongnya dengan mudah, satu tangan menopang punggungnya, satu lagi di bawah paha Alana.

Refleks, Alana melingkarkan kedua kakinya di pinggang Luciano. Tangannya juga otomatis melingkar di leher pria itu, persis seperti koala kecil yang enggan turun.

Luciano menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

“Siapa yang tadi bilang nggak mau?” bisiknya.

Alana menelan ludah. “Aku cuma bilang ini masih pagi…”

“Justru itu,” jawabnya rendah.

Langkah Luciano mantap menuju kamar. Setiap langkah membuat jantung Alana semakin tak beraturan.

Sebelum sampai di ambang pintu kamar, Luciano berhenti. Ia memiringkan kepala, lalu tanpa aba-aba kembali mencium Alana.

Kali ini bukan ciuman singkat.

Luciano memimpin sepenuhnya.

Bibirnya menekan lembut namun dalam, penuh kendali. Ia mencium Alana dengan sabar tapi tegas, seolah menuntut balasan yang sama besar. Tangannya yang menopang Alana sedikit mengerat, memastikan wanita itu aman dalam gendongannya.

Alana membalas, jemarinya menyusup ke rambut Luciano, menarik pelan. Nafas mereka mulai memburu, namun Luciano tetap menjaga ritmenya—tidak tergesa, tidak kasar, tapi jelas penuh hasrat yang ia tahan sejak tadi.

Saat Luciano akhirnya menjauh sepersekian detik, ia menyentuhkan dahinya ke dahi Alana.

“Pegang aku yang kuat,” gumamnya serak.

Alana mengangguk kecil, pipinya merah padam. “Aku nggak pernah mau lepas.”

Luciano tersenyum tipis.

“Bagus,” balasnya. “Karena aku juga tidak berniat melepaskanmu.”

Dan tanpa melepas pelukannya, ia membawa Alana masuk ke kamar—pintu tertutup perlahan di belakang mereka, menyisakan hanya bisikan napas dan detak jantung yang saling berlomba.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!