Andreas, sosok mafia berdarah dingin yang bergelar duda tampan dan kaya raya. Dia sudah bercerai sebanyak tiga kali karena ulah putra semata wayangnya. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan seorang penari striptis di sebuah club malam. Andreas pun memutuskan untuk menikahinya secara kontrak.
Di satu sisi, Sophia juga sosok single mom yang pekerja keras. Sophia bekerja sebagai penari striptis di sebuah club malam. Pertemuannya dengan Andreas mendatangkan masalah baginya, hingga Sophia memilih menerima segala skenario yang dijalankan oleh Andreas dengan menjadi istri kontraknya.
Lantas apa yang membuat Andreas ingin menikah kontrak dengan Sophia, sosok penari striptis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Andreas tampak melamun di dalam mobilnya, untungnya dia sempat menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan jarak lima meter dari gerbang sekolah.
"Tidak mungkin, sepertinya aku hanya salah lihat, itu bukan Margaretha, ya... bukan dia, sepertinya aku hanya berhalusinasi. Mana mungkin orang yang sudah meninggal kembali hidup." ucap Andreas sambil mengusap rambutnya ke belakang dan merasa pikirannya sedang kacau.
Hingga Andreas melirik ponselnya yang berbunyi dan itu sebuah tanda alarm pengingat waktu yang tidak ingin di lupakan nya.
"Jadi hari ini adalah hari ulang tahun Margaretha sekaligus menjadi hari kematiannya." ucap Andreas sambil menggenggam ponselnya dan kembali teringat hari kelahiran sekaligus hari kematian mendiang istrinya.
Jujur Andreas hampir lupa hari penting tersebut, untungnya dia menyetel alarm pengingatnya sampai detik ini.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu Margaretha, kau selalu ada di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tapi, aku tidak bisa memastikan apakah aku akan kembali jatuh cinta." ucap Andreas sambil memandangi foto mendiang istrinya di ponselnya.
Puas memandangi foto tersebut, Andreas memutuskan untuk mengunjungi makam mendiang istrinya. Dia akan mampir sebentar ke toko bunga untuk membeli bunga mawar putih kesukaan mendiang sang istri.
Saat tiba di pemakaman khusus keluarga Paxton, dari kejauhan Andreas dapat melihat orang-orang yang sangat dikenalinya juga sedang berziarah di makam mendiang sang istri.
"Sophia? kenapa dia kemari? Jangan-jangan dia sedang mengantar Kenzo untuk berziarah. Aku harus menemui mereka." ucap Andreas dengan pikirannya lalu melangkah tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Kenapa tidak mengabari Daddy kalau kalian akan ziarah ke makam...." Andreas tidak melanjutkan ucapannya karena putranya langsung memotong ucapannya.
"Kenzo pikir Daddy sibuk, makanya sehabis dari rumah sakit, Kenzo minta tolong sama mommy Sophia dan Noah untuk menemani Kenzo ke makam mommy." ucap Kenzo memberitahu ayahnya.
"Lain kali kabari Daddy terlebih dahulu, soalnya Daddy kadang lupa kalau sudah bergelut dengan pekerjaan, padahal hari ini hari terpenting mendiang mommy kamu." ucap Andreas sambil berjongkok di hadapan putranya.
"Baik Daddy. Lain kali Kenzo akan telpon Daddy terlebih dahulu sebelum ke makam mommy." ucap Kenzo dengan antusiasnya.
Lalu ayah dan anak itu sama-sama berziarah, bahkan keduanya sama-sama membawa bunga mawar putih yang menjadi bunga favorit mendiang sang istri.
Sementara Sophia dan putranya hanya diam memperhatikan keduanya, bahkan mereka ikut berziarah.
Sayang, lihatlah, Kenzo sangat bahagia memiliki seorang ibu seperti Sophia, dia bahkan begitu menyayangi ibu sambungnya. Jangan cemburu ya sayang, karena sampai kapanpun posisi mu tidak akan pernah tergantikan di hati Kenzo maupun di hatiku. Satu lagi, aku minta izin kepadamu untuk menerimanya sebagai pendamping ku dan aku tidak janji akankah perasaan ini akan berlabuh di hatinya. Batin Andreas yang mulai menerima kehadiran Sophia.
Sementara di tempat lain.....
Prangggg.....
Serpihan kaca mulai berhamburan di atas lantai keramik. Sosok pria tinggi terlihat murka menghancurkan segala benda dalam ruangannya.
"Kenzooo!!. Anak itu selalu saja menggagalkan rencanaku. Kita lihat saja seberapa pandai dia bisa melindungi dirinya dan juga anak penyakitan itu!." ucap pria itu yang tidak lain adalah Lucas. Bahkan Lucas begitu geram menghancurkan seluruh benda dalam kamarnya.
"Tenang Lucas, Kau masih punya berbagai cara untuk menghabisinya." ucapnya dengan seringai licik diwajahnya.
"Sebaiknya aku klub malam menemui Mr X." gumam Lucas lalu mengambil satu bungkus rokok dalam laci mejanya.
Lucas dengan kesal menyalakan rokoknya lalu menghisapnya dalam-dalam rokoknya kemudian mengepulkan asap rokoknya di udara.
"Shitt!.. bersiaplah menerima kehancuranmu tuan Paxton!" gumam Lucas dengan seringai licik diwajahnya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di perusahaan Paxton group....
Seorang wanita cantik baru saja turun dari mobil yang terparkir di halaman perusahaan Paxton Group. Setelah melihat situasi di sekelilingnya. Tidak lupa wanita itu merapikan penampilannya lewat kaca spion mobilnya sembari bergumam.
"Oke, penampilanku sudah memukau, saatnya menjalankan misi berbahaya ini. Setidaknya aku sedang mencari kawan." gumamnya lalu menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan-lahan. Dimana wanita cantik itu adalah Stevani.
Kemudian Stevani berjalan anggun memasuki perusahaan raksasa tersebut. Beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang tampak terkejut melihat kedatangannya, sebagian lagi hanya sibuk dengan ponsel maupun berkas ditangannya.
Para karyawan senior tampak berbisik-bisik menyebutkan nama mendiang istri pemimpin dari perusahaan Paxton.
"Nona Margaretha" Para karyawan tampak heboh melihatnya.
"Bukannya nona Margaretha sudah lama meninggal" timpal karyawan lainnya.
"Betul, lalu siapa wanita itu" timpal lagi karyawan satunya dan begitu penasaran akan sosok wanita cantik tersebut.
Stevani yang mendengar bisikan mereka hanya mampu tersenyum melihat tingkah dari karyawan Paxton group.
"Selamat siang nona, ada yang bisa..." ucap staff resepsionis sambil menjeda ucapannya.
"Ya, saya datang membawa paket untuk Tuan Paxton, tolong disampaikan kepadanya. Kalau begitu saya permisi." ucap Stevani dengan ramahnya lalu melenggang pergi.
Stevani melangkah pelan mendekat kearah mobilnya. Dia tersenyum penuh kemenangan keluar dari perusahaan raksasa tersebut. Bagaimana tidak, karyawan Paxton group pasti sibuk membicarakan dirinya, bahkan dia yakin seratus persen menjadi bahan gosip dan pastinya menjadi trending topik di perusahaan Paxton group.
Stevani melangkah cepat menghampiri mobilnya lalu bergegas masuk. Saat akan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, dengan malas Stevani mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Tuan Tama!" Stevani membulatkan kedua matanya melihat nama pria yang paling dibencinya di dunia ini kembali menghubunginya. Dia pikir pria itu tidak akan lagi berurusan dengannya setelah dirasa terbebas dari tawanan pria bajingan tersebut.
"Aku tidak mau mengangkat panggilannya, bodoh amat jika dia terus menelpon ku." ucap Stevani tersenyum kecut lalu meletakkan kembali ponselnya di dalam tasnya.
Namun lagi-lagi ponselnya terus berdering sepanjang perjalanan. Padahal dia sedang sibuk berkendara.
"Iiih mengganggu saja nih orang!" ucap Stevani sambil mengerucutkan bibirnya. Dia pun memilih untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Halo...."
"Kau ingin mati hah!, dari tadi aku menghubungi mu bodoh. Jangan coba-coba lari dari ku, karena kemanapun kau pergi aku pasti akan menangkap mu, Stevani!. Ku bebaskan kau berkeliaran di luar agar kau bisa mendekati Andreas bukan malah keluyuran di luar." ucap Tama dengan kesalnya di ujung telepon, membuat Stevani hanya mampu menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar omelan pria bajingan itu.
"Saya sedang berkendara, terus saya juga....."
"Tidak ada alasan, sekarang pulang ke mansion. Aku menunggu kedatangan mu, jika kau tidak datang dalam waktu 10 menit, maka aku akan..." Tama menjeda ucapannya karena Stevani langsung memotong ucapannya.
"Baiklah, aku akan segera kesana!" ucap Stevani cepat sambil mengepalkan tangannya, sedangkan Tama langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.
"Sialan, dasar penjajah. Aku pikir dia tidak akan mencari ku lagi. Sungguh bodoh diriku...secepatnya aku harus bertemu dengan Tuan Andreas lalu meminta perlindungan darinya." ucap Stevani sambil memukul-mukul stir mobilnya tanpa memperhatikan jalan di depannya. Di luar dugaan tampak sosok pria akan menyeberang ke seberang jalan, sontak saja Stevani langsung merem mendadak mobilnya dan hampir saja menabrak pria tersebut.
Sementara pria itu tampak terbengong melihat mobil putih berhenti mendadak di depannya. Stevani tampak kesal melihat pria itu tidak beranjak dari tempatnya, padahal dia sedang buru-buru.
Tak ingin membuang waktu, Stevani membunyikan klakson mobilnya berkali-kali meminta pria itu untuk segera pergi dan benar saja pria itu segera menjauh dari mobilnya.
"Hari ku benar-benar apes, aku bahkan belum menikmati kebebasanku sejak menjadi tawanan pria bajingan itu, sekarang aku diminta pulang ke mansion nya. Sungguh gila." ucap Stevani sambil mengusap wajahnya dengan kasar lalu melajukan mobilnya menuju mansion milik Tama.
Sesampainya di kediaman Tama, sosok mafia kejam yang merupakan musuh bebuyutan Andreas. Stevani tampak heran, karena kedatangannya di sambut oleh kepala pelayan.
Ini kedua kalinya dia mendatangi mansion Tama, semuanya tidak berubah sejak lima tahun lalu saat dirinya pertama kali menginjakkan kaki di mansion itu sebagai pihak asuransi, namun hidupnya langsung berubah sejak bertemu pria itu bahkan menjadikannya sebagai tawanan hanya karena sebuah kesalahpahaman yang berbuntut panjang.
"Akhirnya nona datang, mari ikuti saya!" ucap kepala pelayan dan terlihat panik.
"Kemana?"
"Ke kamar tuan muda!" sahut kepala pelayan membuat Stevani membulatkan kedua matanya.