Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.
Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.
Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.
Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Cinta Lucian
Maaf banget. Akhirnya kemarin Author tumbang, flu dan batuk, jadi gak bisa fokus nulis.
Ini masih kurang sehat, tapi demi kalian 🫶
SEMOGA SUKA.
HAPPY READING....
...****************...
Lucian segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Bibirnya nampak pucat. Tubuhnya kurus, dengan rambut acak-acakan. Dokter menyarankan agar Lucian dapat beristirahat terlebih dahulu di rumah.
"Kau sudah mengurus jadwal istirahatku pada sutradara?" tanya Lucian, dengan suara pelan. Ia baru saja siuman.
"Sudah, Tuan. Sutradara mengerti, dan akan memberikan waktu lima hari untuk Anda memulihkan diri," jelas Juan, menatap Lucian dengan heran. Sebab, sejak tadi lelaki itu hanya berkata tanpa menatapnya sedikitpun.
Seolah sedang mengalihkan perhatiannya. Juan yang penasaran, mencoba mengintip wajah Lucian.
Deg!
'Di-dia menangis? Seorang Lucian?' batin Juan tak percaya. Selama lebih dari 13 Tahun ia mengikuti Lucian. Tak pernah sekalipun ia melihat lelaki itu menangis. Karena pribadinya yang keras dan ego tinggi.
"Selama lima hari, aku ingin kembali ke Ibukota," jelas Lucian singkat.
"Baiklah, Tuan..."
Hening...
Setelah kepergian Juan. Lucian terdiam menatap ke luar jendela. Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh akan bayang-bayang Anna. Gadis yang dulunya ia sia-siakan. Penyesalan hanya tinggal penyesalan.
Namun, hatinya terus ingin percaya pada egonya, bahwa perempuan itu masih memiliki cinta itu di hatinya.
Pedih, terasa menikam jantungnya.
"Apakah sudah terlambat jika aku ingin kembali padamu?"
"Apakah semua keegoisan dan kebodohanku dulu bisa kau maafkan, Anna..."
"Aku bingung... Aku tidak pernah merasakan perasaan ini. Tak pernah ada yang mengajarkanku tentang cinta... Apa yang harus kulakukan agar bisa mendapatkanmu kembali?"
Lucian tertidur, dengan mata sembab. Dengan semua pertanyaan di benaknya.
...****************...
Sesampainya di Ibukota. Anna dan Cedric telah mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, karena Raven. Sebuah rumah minimalis yang murah dan terjangkau.
Selama ini, Anna dan Cedric telah mengumpulkan banyak uang dari hasil penjualan. Mereka hidup hemat, dan bersenang-senang jika memang di perlukan. Karena tujuan mereka, adalah membeli sebuah rumah di Ibukota. Setelah Anna siap dengan hatinya.
Anna termenung. Ia bingung, harus melakukan apa setelah tiba disini. Tokonya sudah ia tutup sementara, tanpa berniat menjualnya. Karena mungkin, suatu hari ia akan kembali lagi ke Kota itu, dan mereka memiliki tempat tinggal walaupun bekas Toko.
'Membuka Toko Kue disini? Apakah mungkin... Apakah aku bisa bersaing dengan para koki lainnya, yang lebih handal dan memiliki sertifikat?' batin Anna, bimbang.
"Ceddy!"
Anna menelusuri lorong rumah barunya, mencari keberadaan Putranya. Senyumnya merekah saat mendapati Cedric tengah bermain dengan laptopnya.
Deg!
Anna tertegun. Dengan perasaan bersalah. Matanya menatap lekat layar laptop Cedric. Yang berisi pencarian tentang kabar Lucian.
'Ya Allah... Apakah pada akhirnya aku membuat Putraku terluka? Aku terus memintanya pergi denganku. Membuatnya terus menahan diri dari rasa rindunya pada Ayahnya, karena tak ingin menyakiti perasaanku...' Anna menahan tangisnya, melangkah mundur dengan cepat, meninggalkan Cedric yang asik berkutat dengan laptopnya, hingga tak menyadari keberadaannya.
'Aku benar-benar bukanlah seorang Ibu yang baik. Aku terus-menerus memikirkan perasaanku tanpa pernah benar-benar menanyakan perasaan Putraku yang sesungguhnya...'
Sepanjang jalan menuju kamarnya. Anna terus merutuki keegoisannya. Ia menyadari itu, hanya saja ia terus menyangkalnya. Hingga ia melihat sendiri bagaimana Putranya itu mengkhawatirkan Lucian.
CEKLEK!
Anna meraih ponselnya dan mengetik sesuatu disana. Walau tangannya gemetar, karena rasa enggan di hatinya. Ia hanya tak ingin lagi bersikap egois. Bagaimanapun seorang Anak akan tetap membutuhkan kasih sayang seorang Ayah. Anaknya berhak karena Lucian masih hidup di dunia.
"Raven... Bisakah kita bertemu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Jika kau tidak sibuk..." Anna mengirim pesan pada Raven. Raven adalah satu-satunya orang yang terpikirkan olehnya. Karena Raven mengenal Lucian. Ia ingin Raven membantunya, jika suatu saat Lucian ingin merebut Cedric darinya.
"Baiklah. Besok kita bertemu di Kafe Kenangan."
Jawaban Raven, membuat Anna merasa lega. Ia cukup khawatir, takut jika lelaki itu tak mau.
...****************...
Tanpa Anna sadari. Lucian juga telah berada di Ibukota. Kini ia di bawa ke rumahnya, karena Lucian tak boleh sendirian. Rianti dan Liana tanpa kaget melihat keadaan Lucian.
'Apa yang terjadi padanya... Setelah sekian lama pergi, dia kembali dengan keadaan seperti ini?' batin Rianti penasaran. Jika itu adalah kelemahan Lucian, ia harus bisa memanfaatkannya.
"Kak... Ada apa denganmu? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Liana, khawatir. Ia masih terus menyayangi Lucian.
"Tuan hanya kelelahan, Nona Muda. Anda tidak perlu, khawatir. Saya membawa Tuan kesini karena Tuan harus mendapatkan perawatan," jelas Juan, dengan sopan. Liana mengangguk paham.
Lucian tak bergeming. Ia hanya diam seraya menutup matanya. Merasakan kembali kenangan-kenangan saat ia bersama Anna di rumah ini. Inilah mengapa ia benci kembali ke rumah ini. Perasaannya terus terombang-ambing.
Dua hari berlalu. Liana dengan setia menemani Kakaknya dan merawatnya. Ia sangat menyayangi Lucian. Hingga tak ingin Kakaknya itu di sakiti oleh siapapun.
'Apa mungkin... Ini semua gara-gara gadis itu lagi?' batin Liana, mencoba menebak. Ia sangat membenci Anna, yang berulang menyakiti Lucian.
Tapi tanpa ia sadari. Rasa bencinya pada Anna, karena terus menerus di hasut oleh Rianti dan Mona.
Lucian bangkit dari tidurnya. Ia menatap tubuhnya di cermin. Ia tersenyum remeh. Tubuhnya yang tak terawat. Kantung matanya. Rambutnya yang acak-acakan. Semua ini disebabkan oleh rasa cintanya pada Anna.
Pertanyaan apa lagi yang perlu ia pikirkan? Pernyataan apa lagi yang ia perlukan untuk itu? Jika melihat tubuhnya saja ia sudah mendapatkan jawaban itu. Ia tak bisa hidup tanpa Anna.
Lucian tersadar, beberapa tahun tanpa kehadiran Anna. Hidupnya yang dulunya suram, semakin berwarna sejak kehadiran Anna di hidupnya. Namun, karena rasa kecewanya yang konyol tanpa kepastian, ia malah membuat hidupnya kembali dalam kehampaan tanpa akhir.
Lucian meraih jaketnya. Ia keluar tanpa sepengetahuan siapapun. Ia butuh sesuatu untuk menghilangkan bayang-bayang Anna. Mobilnya melaju cepat menuju sebuah Bar terpencil di Kota. Tempat yang kedua kalinya ia datangi, dan itu semua karena Anna.
Malam pernikahannya dan sekarang.
Lucian melampiaskan emosinya dengan terus meneguk air jahat itu. Ia tak berpikir panjang. Jika itu adalah sebuah dosa besar yang akan terus mengikutinya.
Deg!
Bayang-bayang Anna kembali terlintas di pikirannya. Membuat Lucian tersadar dari perbuatannya. Ia terus melangkah menjauh dari bar dengan tubuh yang sempoyongan. Tangannya dengan gemetar menekan tombol panggil.
"Jemput... Jemput aku, Juan. Di Bar Evil!"
"Serahkan uangmu!"
Bugh!
"Tu-Tuan?"
15 Menit kemudian. Juan datang tergesa-gesa. Matanya melirik menelusuri setiap sudut mencoba mencari keberadaan Tuannya.
"Tuan!" pekiknya saat melihat Lucian. Pria itu terduduk lemas di pinggir jalan, dengan pakaian yang telah kotor dan wajah yang penuh luka.
"Astaga... Apa yang terjadi?"
"Bawa aku kembali. Jangan ke rumah sakit!" titah Lucian.
Juan terus merasa gelisah. Melihat keadaan Lucian. Bisa-bisanya lelaki itu mabuk untuk kedua kalinya. Gara-gara Anna. Dan, ia masih menyangkal bahwa itu bukanlah rasa cinta? Juan bahkan telah mengetahui itu sejak awal. Mengapa Tuannya itu baru menyadarinya sekarang?
"Lepas! Aku bisa sendiri!" titah Lucian lagi. Ia berjalan dengan sempoyongan.
"Kak! Astaga! Apa yang terjadi Juan!" pekik Liana, melihat luka di sekujur tubuh Lucian.
"Astaga... Bisa-bisanya seorang CEO dan Aktor Terkenal DW ENTERTAINMENT melakukan ini! Kau ini sudah mencoreng nama baik keluarga ini, Lucian!" bentak Rianti, merasa kesal.
Namun Lucian mengabaikan semua orang. Ia bahkan menepis tangan Liana yang berusaha menopangnya.
CEKLEK!
"Anna... "
"Anna... "
Bibirnya terus menggumamkan satu nama. Namun, kakinya terhenti saat hendak mencapai ranjang. Sebesit ingatan melintas di pikirannya.
"Cedric..."
"Cedric Putraku?"
Lucian bergumam dengan nafas tercekat. Ia terduduk di sudut kasur.
Semangat selalu
Cpt sembuh author