Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32. Insecure tahap 2
Diary of Jane 32
"Jon..." rintih Jane sambil melihat kedua tangannya yang masih gemetaran, dia ketakutan.
"Lo kenapa?"
"Gue... kenapa gue selalu merasa gue itu cuma dipermainkan Jon, gue gak bisa beruntung ya, walaupun sekali? Disaat gue udah merasa seneng, baper, terbang, kenapa gue endingnya selalu di hempaskan lagi ke tanah?" Jane menutup wajahnya untuk menutupi kesedihannya, sesenggukan ia meratapi nasibnya.
"Siapa yang lakuin itu ke elo?! Jawab gue!"
"Siapa lagi kalau bukan makhluk kesayangan Tuhan,"
"..." jangan bilang itu Arka dan orang-orang yang pernah berdiri di depan lo, cuma diam liat lo celaka.
"Gue ada, gue bisa lindungi lo, lo gak perlu para pangeran yang gak punya hati itu, gue selalu ada buat lo, karena gue sayang sama lo Jane."
"Huwaaaa." Tangis Jane pecah, seketika ia memeluk Johan erat, "lo emang sahabat, temen, dan adek paling baik gueeee... Huhu."
"Ya elah, lebay lo."
Jane mencebik, "Tuh kan, adek gue aja sering nerbangin gue, abis itu hempasin gue ke tanah." Umpat Jane.
"By the way, gue gak liat lo megang buku 'diary' lo, kemana perginya?"
"Di ambil Devano, buat jaminan, gue harus bantuin dia," Jane memalingkan wajahnya ke jendela kamar.
"..."
Johan langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar Jane, sementara Jane kebingungan kenapa adiknya itu tiba-tiba keluar, apa jangan-jangan?
Jane mengusap matanya kemudian menyusul Johan keluar, disaat Jane sampai di tangga si ganteng adiknya itu baru saja keluar dari rumah.
*
*
Jane merasakan sentuhan lembut di bibirnya kemudian ia melotot selebar-lebarnya ke arah cowok yang menampakkan kerutan di wajahnya.
"Lo gak apa-apa kan?" cowok itu menurunkan tangannya yang sebelumnya ia gunakan untuk mengusap bibir Jane.
"Gak." Jane menghindari kontak mata dengan cowok di hadapannya itu. Arka.
"Gue minta maaf." Arka meremas tangan kiri Jane sambil menunduk, "gara-gara gue lo jadi jatuh dan bibir lo berdarah gitu."
"Cuma luka kecil kok," dengan sungkan Jane menarik tangannya kembali karena melihat tatapan seorang gadis yang mengarah padanya.
Jeara.
"Jane, lo gak apa-apa kan?"
"Iya, cuma luka kecil."
"Gue tinggal ya..." Jane bangkit dari tampat duduknya kemudian meninggalkan kedua tokoh utama itu. Berdua tanpa ada pengganggu.
📝📝📝
Gue terbang,
Iya,
Bener banget,
Gue terbang terlalu tinggi dan lupa kalau sayap gue itu rapuh.
Akhirnya gue ngerti waktu gue merasa sayap yang gue pakai itu mulai kesakitan dan lemah.
Gue melemah jatuh.
Terhempas ke tanah.
Gue emang di buat terbang sama Arka.
Gue merasa senang.
Seneng banget malah.
Gue merasa seakan gue jadi tokoh utama dalam cerita kehidupan ini.
Tapi gue disadarkan sama seseorang.
Dia yang lebih pantas jadi cewek pendamping Arka.
—Jeara Anindya
Ok.
Gue pergi.
Dan gue gak akan kembali.
Demi apapun.
📝📝📝
Akhirnya Jane mendapatkan kembali diary nya berkat Johan yang menekan Devano, gak tau sih kayak apa adiknya itu mengambil kembali bukunya, tapi sekarang Jane seneng banget dia udah bisa nulis dan mengeluarkan segala unek-unek di hatinya yang beberapa hari ia tahan karena tidak adanya buku diary itu.
Urusan yang bukan urusan Jane gak perlu dia urus lagi, sekarang dia lebih memilih mengasingkan diri dari masalah per-coganan. Jane juga mengundurkan diri dari pangkat anggota pengisi mading SMA.
Biarkanlah kata-kata bijak yang terlontar dari pikirannya hanya dia yang bisa menikmati.
Kata-kata dari dirinya, hanya untuk dirinya.
Just for my self.
"Gue putus."
Jane menoleh horor, "Lagi?"
"Yoi, lagi."
"Mantan lo udah berapa sejak kita masuk SMA maemunah, udah seabrek rekor lo, gue aja gak bisa dapat satu TTM."
Raya mengangkat bahu, "Tiga kali, eh, empat kayaknya." Raya masih mengingat ingat jumlah mantannya, "iya ding, empat doang."
"Doang?"
Enteng banget bilang doang yah, gue aja gak pernah dapat satu, gila sebutek itukah gue sampe gak ada yang demen?
"Yoi, empat, doang." Raya menekankan tiap katanya dan membuat Jane semakin down.
"Ya, lo emang cantik Raya, gue biasa aja, gue cuma remahan popcorn aja, jatuh, di sapu, di buang, gak berarti banget." Jane menelungkup di atas meja.
"Denger gue Jane!" Raya menangkap wajah Jane dan kemudian menatapnya, "besok gue cariin lo pacar deh, yang bagus,"
Jane mengangguk cepat.
"By the way, lo kok bisa nyungsep sih?"
"Kesialan gue balik kali, masaaa, gue kan tadi jalan tuh, nah tiba-tiba kaki gue selip gara-gara kesenggol Arka, trus gue jatuh gitu, pas banget dah gue auto cium ujung meja."
"Sakit gak?"
"Gak!" tepis Jane, "rasanya tuh seperti anda menjadi Ironman, kemudian meluncur bak ikan duyung, lalu ber-ending jadi mermaid in loper koran." Kesel banget, udah tau sakit pake banget, masih aja nanya si Raya.
Tega kau Rhoma.
"Koko keran!" Raya mengalihkan pembicaraan dengan memanggil Riko yang kebetulan lewat.
Jane mendengus kesal, ya alihin aja, gue juga males ingat kejadian tadi.
"Nama gue Riko... Raya oneeeeng!"
"Pokoknya gitu, lo dari mana?"
"Dih, kepo." Riko melihat kedua tangannya di depan dada.
"To the points, no basa basi, no ribet, jawab aja pertanyaan gue, lo dari mana?"
"Penting banget ya, tau gue dari mana, gue abis apa, gue..." Riko berhenti berbicara saat melihat Raya sudah mengepalkan tangannya di depan muka tanda kesal dan hampir meledak.
"Gue abis nemuin ketos."
Ketos? Telinga Jane nyaring mendengar kata ketos.
Di komik manga yang Jane liat itu semua ketos itu ganteng, awalnya emang gak percaya, tapi banyak riset yang menunjukkan kalau kalangan ketos alias ketua osis itu gantengnya gak ketulungan.
Apaan sih gue, tau ah, gue males berurusan dengan cogan.
Jane membuang pemikiran itu jauh-jauh dari pikirannya.
Dia gak boleh jatuh ke lubang yang sama karena hal yang sama.
Jeara: Jane, gue pengen ketemu sama lo di taman baca
Jane: Ok.
Jane memasukkan ponselnya ke saku roknya kemudian pergi menemui Jeara yang belakangan sering banget kontak kontakan sama dia, alasannya Jane gak tau pasti, tapi Jeara selalu bilang kalau dia mau berteman sama Jane.
Berteman sama si butek ya,
Tulus gak sih?
Jane terus bersangka buruk sama Jeara, dia gak suka di kait-kaitkan, apalagi kabarnya Jeara itu suka sama Arka, mereka udah sahabatan sejak kecil.
"Hai Jane." Jeara melambaikan tangannya ke arah Jane, yang dilakukan Jane cuma tersenyum kemudian mengambil tempat di samping Jeara.
Jajak pendapat cewek ronde kedua. Setelah yang pertama ada di ruang osis dan sekarang di taman baca.
Jane jadi insecure tahap dua.
"Gue suka sama Arka, Jane." Jeara tersenyum.
Jane tersentak, "Suka?"
Jeara tersenyum lagi, "Iya, gue awalnya gak percaya gue bisa suka sama dia, gue juga gak tau alasan gue suka sama dia, ini tiba-tiba banget.
Gak mungkin lo gak punya alasan kenapa lo gak suka sama Arka, jelas banget karena Arka itu sempurna. Lo juga.
Gue? Cuma bisa halusinasi doang.
"Lo bisa bantuin gue buat deketin Arka?"
"..."
Gak. Gue gak bisa, "Gue pikir dulu deh," Jane tersenyum pahit kemudian pergi, Jeara hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Gue harap lo bisa Jane, buat bantu gue."
Bersambung...
Like nya dong 😘
thank's...
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗