Yezana Quenbiy zalreta pemimpin dari mafia Black Shadow, yang harus merenggang nyawa di tangan musuh bebuyutannya.
dia bertransmigrasi ke tubuh seorang Antagonis dalam novel berjudul "My sweet girlfriend".
antagonis yang memiliki ending tragis dalam novel. apakah dengan masuknya Zana pada tubuh si antagonis akan bisa mencegah kejadian buruk itu?
dan bisa membalas dendam kepada mereka yang sudah bertindak semaunya pada gadis malang ini.
sampai jumpa di chapter 1 🍑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah spesial
Transmigrasi Yezana
Happy reading...
Nina memutar pandangannya ke sekitar, lorong sekolah masih sepi hanya ada beberapa anak yang tengah melaksanakan tugas piket mereka. Berjalan dengan santai seolah tak memiliki rencana besar yang tersimpan di balik topengnya itu.
Nina pergi ke arah loker untuk mengambil beberapa buku paket nya serta meletakan jaket yang dia bawa. Setelah selesai dengan urusannya Nina menengok ke arah kanan dan kiri memastikan jika tak ada yang melihatnya.
Bergerak ke loker yang berada di seberang nya-- Nina dapat dengan tepat langsung menebak apa sandi loker tersebut, "Bodoh banget masa sandi nya cuma Satu tiga kali!" ucapnya meremehkan, tapi dia senang karena waktunya jadi lebih hemat.
Meletakan sebuah kotak kecil berwarna hitam di sama lalu menguncinya kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. "Hadiah dari gue buat adik tersayang." lalu pergi begitu saja dari sana.
Nina duduk di bangkunya dengan tenang tatapannya fokus pada ponsel, seolah ada drama yang menarik perhatiannya hingga enggan untuk menengok kesana kemari.
"Pagi bestyyy," ujar Vela menyapa para sahabatnya yang sudah datang.
Tak ada yang menjawab karena mereka semua fokus dengan kegiatannya masing-masing. "Ishh! Kalian ini, lagi liatin apa si?"
"Shuttt, diem bentar lagi seru nih." kata Gheya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Vela mendudukan tubuhnya di kursi miliknya, Lalu mengeluarkan ponselnya ikut sibuk dengan dunianya sendiri.
"Pftt.. mampus lo!" gumam Nina tanpa suara masih dengan tatapan fokus ke ponselnya.
Tak lama guru masuk dan kegiatan belajar mengajar di langsungkan.
Istirahat pertama keempat gadis antagonis itu pergi ke kantin seperti biasa. Nina melirik ke meja seberang lebih tepatnya ke meja para inti Egalean, terlihat Alula duduk di sana dengan wajah pucat nya serta gelisah.
Flashback saat Alula di loker.
Seperti biasa Alula saat sampai di sekolah akan dengan ramahnya menyapa orang yang dia temui di lorong, sesekali berhenti untuk berbicara sebentar. Senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya.
Kakinya melangkah ke loker untuk mengambil buku seperti biasa, namun kotak hitam yang ada di lokernya mengalihkan perhatian nya. Seingatnya tidak ada yang mengetahui sandi lokernya selain Malvin.
Alula tersenyum cerah saat melihat kotak hitam dengan pita merah ada di lokernya, dia berfikir pasti malvin yang meletakkannya di sana. Pria itu Pasti menyadari jika ternya dia juga mempunyai perasaan terhadap dirinya. Dan kotak ini adalah bentuk permintaan maaf nya atas kejadian di markas Egalean kemarin.
"Pasti ini dari kak Malvin," ujarnya dengan senyum mengembang bak iklan odol sikat gigi.
Dengan perasaan penuh harap Alula membuka kotak itu, namun bukan cincin ataupun liontin yang dia dapat melainkan beberapa potong foto dirinya saat berada di club.
"A-apa ini?" gumamnya dengan tangan bergetar-- kenapa? Siapa yang melakukan ini? Dan bagaikan bisa dia mendapatkan foto-foto ini?
Tubuhnya kini menjadi dingin, takut semua keburukan nya yang selama ini dia sembunyikan akan terkuak. Entah bagaimana pandangan orang-orang yang selama ini memujinya, semua yang dia bangun dengan susah payah akan hancur dalam sekejap mata.
Kepalanya menengok kesana kemari dengan waspada, "N-nggak boleh ada yang tau semua ini." ujarnya panik lalu memasukan kembali semua foto-foto itu kedalaman tas nya.
Jantungnya masih berdetak dengan sangat cepat, hingga tak sadar jika semua tindakannya terekam dan terkoneksi oleh kamera kecil yang ada di sudut ruangan.
Flashback end..
'Sialan! Gue bakal cari siapapun yang taruh kotak itu di loker gue!'
"Alula, Lo kenapa? Bengong dari tadi." perkataan Bagas menyadarkan lamunannya.
Senyumnya kembali meskipun ada sedikit gurat ketakutan di wajahnya, "Ehh-- nggak papa kok, aku cuma lagi mikirin tugas kelompok."
"Ooo, itu pikirin nanti aja. Sekarang fokus makan, tu liat dari tadi Lo gak makan." kata Aiden menunjuk piring gadis itu yang masih utuh.
"Iya kak." balasnya.
Di sampingnya Zidan yang biasanya akan selalu ramai dan cerewet kini hanya diam seribu bahasa entah memikirkan apa. Sifatnya sudah seperti si kembar dan Malvin yang sekarang menjadi semakin jarang bersuara.
Tatapannya melirik pada meja yang ada di pojok kantin, dimana para antagonis sedang berkumpul. Netranya fokus pada gadis dengan rambut yang di kuncir kuda yang tengah tersenyum. Rasa sesak membuncah di hatinya, baru kali ini dia menyesali apa yang telah dia perbuat.
"Maaf.. "
Gadis yang berada di seberang merasa sedang di perhatian oleh seseorang namun dia tetap acuh, karena dia tau siapa yang sedang fokus menatapnya. Biar dia tidak peduli, sudah cukup selama ini dia sabar... Tapi dia selalu di sakiti.
...~To be continued~...
...semoga kalian suka, terimakasih buat yang udah mau baca. ...
Plakk terus apa.