Pernikahan yang tak dilandasi oleh cinta. Dan rasa ingin mempertahankan sebuah pernikahan membuat Zahra harus berusaha sangat keras untuk meluluhkan hati suaminya. Meski ribuan luka yang menusuk hati, Zahra tetap harus mempertahankannya karna dia adalah imam baginya.
SELALU AKU YANG TERSAKITI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Pagi hari, Azka sudah berpakaian rapi dengan setelan kemeja yang senada dengan dasinya, dia bersiap untuk pergi ke kantor. Berkat usaha Zahra yang merawatnya, dia sudah merasa lebih baikkan. Maka sebab itu, Azka putuskan untuk bekerja hari ini. Seperti biasanya Zahra sudah mempersiapkan sarapan pagi diatas meja makan. Mereka berdua sarapan bersama, dengan senyuman yang terlihat jelas diwajah mereka. Sepertinya benih-benih cinta sudah mulai hadir ditengah-tengah mereka berdua. Hanya mungkin, bagi Azka yang masih belum untuk menyadarinya. Seusai sarapan, Azka mengantar Zahra pergi kekampusnya. Sampai di depan kampus tampak Zahra yang tengah keluar dari mobil, dia tak lupa untuk mencium tangan suaminya sebelum pergi memasuki kampus. Sekejap kemudian mobil Azka sudah mulai melaju kembali meninggalkan kampusnya. Zahra berjalan menuju kelasnya dengan pandangan mata yang terus mencari-cari keberadaan sahabatnya, Sisi. Didalam kelas, bangku sebelum deretan belakang, dia menangkap sosok Sisi yang tengah merenung dengan salah satu tangan yang menyangga kepaanya. Zahra menghampirinya dengan perlahan. Dan sepertinya dia tak menyadari kehadirian Zahra yang ada disampinya. Zahra pun iseng untuk mengejutkan Sisi.
"Sisi..." Panggil Zahra dengan nada keras, sambil menyentuh pundaknya.
"Haaah...iya ada apa?" Sisi yang terkejut dengan spontan menjawab.
"Ah... Kamu Zahra, membutku terkejut saja. Kenapa kamu baru masuk, kemari-kemarin kemana aja?" Tanya Sisi yang menatap
ke arah Zahra.
"Maaf deh, aku gak sempet ngasih tahu kamu, kalau kemari-kemarin aku pulang kampung. Soalnya aku juga dapet kabar yang mendadak kalau Ibuku sedang sakit. Maaf ya..." Jelas Zahra dengan menyatukan telapak tangannya ke depan dadanya.
"Ha... Ibumu sakit, sakit apa? Trus gimana keadanya sekarang?" Sisi yang balik bertanya dengan wajah yang sedikit cemas.
"Alhamdulilah, sekarang udah baik-baik saja. Makanya aku sudah balik lagi kesini." Balas Zahra.
"Syukur deh.... Oh ya, hari ini kamu ada acara gak?" Tanya Sisi.
"Em.....sepertinya kosong deh. Memangnya kenapa?" Jawab Zahra.
"Temenin aku ya..?" Ajak Sisi.
"Temenin kemana?" Zahra mengerutkan kedua alisnya.
"Jadi gini ceritanya, Mama nyuruh aku untuk bertemu dengan anak temennya. Dia bilang cuma sekedar nemenin makan siang. Ya... Bisa dibilang ini cuma modus Mama buat ngadain kencan buta untukku lah. Tapi aku agak sedikit gak nyaman kalau cuma makan berduaan sama dia, makanya aku ajak kamu. Mau ya...?" Jelas Sisi dengan memasang wajah memelas.
"Kalau gitu critanya, aku jadi obat nyamuk donk. Gak mau ah..." Tolak Zahra membuang muka.
"Please... Ra, kamukan sahabat terbaikku, masa kamu tega sama aku yang lagi melow gini." Sisi merengek kepada Zahra dengan menglayuti tangannya.
"Ya udah deh, aku mau. Tapi.....ada syaratnya." Balas Zahra.
"Yah, masak pakai syarat segala sama sahabat sendiri." Ucap Sisi.
"Ya udah kalau kamu gak mau."
"Iya deh, apaan syaratnya?" Sisi yang tengah pasrah.
"Nanti saja baru aku kasih tau." Zahra mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Kenapa aku jadi curiga ya, sama kamu. Ya udah deh terserah, yang penting kamu mau nemenin aku nanti." Ujar Sisi.
"Okey, beres kalau gitu." Balas Zahra dengan membuat tanda okey dengan tangannya.
***
Disebuah restoran dengan bergaya eropa, Sisi dan Zahra duduk disalah satu tempat yang sudah dipesan sebelumnya.
Mereka berdua menunggu kedatangan pria yang menjadi tumbal rencana sang Mama. Sambil mengobrol dan bercanda mereka menghilangkan kebosaanan.
Selang beberapa menit kemudian, seorang pria menggunakan kemeja biru yang dipadukan dengan setelan jas hitam, datang menghampiri mereka berdua.
"Sisi Pricilia..?" Ucap si pria yang berhenti pas didepan mereka berdua.
"Ya..." Jawab Sisi yang namanya diucapkan si pria
"Maafkan saya, atas terlambat saya. Saya Reka Raharja" Ujar si pria.
Zahra menatap si pria dengan teliti. Dia merasa tak asing dengan wajah pria yang ada didepannya saat ini.
Si pria pun menyadari keberadaan Zahra yang sedang menatapnya. Mendengar si pria menyebutkan namanya, sontak Zahra terperanjat dan langsung berdiri.
"Kak Reka.." Panggil Zahra yang sepertinya sudah begitu akrab dengan pemilik nama tesebut.
"Em...ya...??" Reka yang masih belum mengenali Zahra.
"Ini saya Kak, Zahra. Si cengeng." Ucap Zahra tanpa keraguan.
"Zahra Asfiya, si tukang cengeng. Kenapa kamu bisa ada disini?" Reka yang bertanya balik.
"Kebetulan sekali, Sisi ini sahabat aku. Dan aku disini buat nemenin dia. Jadi Kak Reka yang mau ketemuan sama Sisi." Balas Zahra.
"Iya, aku kesini untuk bertemu Sisi. Dan gak nyangka aku bisa bertemu denganmu disini." Jawab Reka.
"Kamu kenal sama dia Zahra?" Tanya Sisi yang telah melihat situasi mereka saat ini.
"Tentu saja, Kak Reka ini tetangga aku waktu didesa. Dia sudah seperti Kakakku sendiri." Terang Zahra.
"Kamu gak berubah Zahra. Masih sama seperti dulu." Sahut Reka.
"Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan sambil duduk aja deh, gimana?" Ajak Sisi yang merasa diperhatikan oleh orang disekitar mereka.
"Oh ya, tentu saja." Balas Reka sambil mengambil duduk didepan kedua wanita didekatnya saat ini.