Sebuah kecelakaan yang hampir menewaskan Aditya dan Lastri membuat keduanya semakin dekat dan terikat satu sama lain. Pernikahan pun terjadi antara keduanya akibat desakan kedua orang tua Aditya.
Kecelakaan yang membuat Aditya kehilangan ingatannya mampu mencintai Lastri yang selalu ada untuknya. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika Aditya mengingat semuanya dan sebuah peristiwa dimasa lalu yang disembunyikan kedua orang tuanya membuat Lastri kecewa dengan keluarga yang menyayanginya karena sebuah alasan dimasa lalu, peristiwa dimana kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan di depan matanya hingga meninggal trauma yang amat dalam untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 (Curiga)
...🍁 Jangan lupa tinggalkan jejak di part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Arvas menatap wajah Miranda dengan serius, ia yakin sekali Miranda sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tetapi Miranda terlihat biasa saja.
"Memangnya apa yang aku sembunyikan? Bukannya Mas tahu setiap aktivitas yang aku lakukan dari anak buah Mas ya?" sahut Miranda dengan santai yang membuat Arvas menghela napas perlahan.
Benar juga kata sang istri, ia mengetahui apapun aktivitas istrinya. Mana mungkin Miranda menyembunyikan sesuatu terhadap dirinya sebab semuanya ia ketahui.
"Ayo kita mandi bersama kalau begitu. Sudah lama kita tidak mandi bersama," ajak Arvas dengan tersenyum genit yang membuat Miranda tersipu malu karena ia tahu apa yang dimaksud Arvas saat ini.
Tanpa kata lagi Arvas menarik Miranda ke dalam kamar mandi dan akhirnya mereka mandi bersama dengan melakukan aktivitas lain yang memakan waktu yang sangat lama. Keduanya benar-benar menikmati waktu bersama karena sudah sejak lama mereka tidak se-intim ini karena kesibukan Arvas.
***
Miranda tersenyum malu-malu saat Arvas mengeringkan rambutnya, sudah lama mereka tidak seperti ini dan perlakuan Arvas kali ini membuat hati Miranda menghangat, dan niatan untuk berpisah dari Arvas hilang begitu saja.
"Sudah selesai. Ayo kita ke rumah sakit, anak buah Mas mengabarkan jika kondisi Lastri membaik," ucap Arvas yang membuat Miranda tersenyum tipis.
"Alhamdulillah. Kondisi anak kita bagaimana, Mas?" tanya Miranda dengan penuh harap.
Miranda berharap kondisi Aditya juga membaik sama seperti keadaan Lastri saat ini.
"Jangan sedih ya keadaan Aditya belum ada perkembangan sama sekali. Kita harus yakin ya Aditya juga akan baik-baik saja sama seperti Lastri, Kalau Aditya dan Lastri sembuh Mas janji akan menikahkan mereka berdua seperti keinginan mereka waktu kecil," ujar Arvas dengan tersenyum mengingat masa kecil Aditya dan juga Lastri.
"Beneran, Mas? Aku yakin kok Aditya dan Lastri akan sembuh seperti sedia kala. Semoga Aditya berubah menjadi lebih baik setelah ini ya Mas. Aku kangen banget anakku, sudah lama kita gak kumpul bersama," ujar Miranda dengan tersenyum tetapi membuat Arvas langsung terdiam karena merasa bersalah terhadap istri dan anaknya.
Jika diingat kembali, kebersamaan mereka sudah tidak pernah dilakukan lagi. Semua aktivitas mereka lakukan sendiri-sendiri hingga perpecahan anak dan ayah terjadi yang membuat Miranda juga kesepian karena dirinya yang juga gila kerja.
Arvas berjongkok dihadapan istrinya, ia memegang tangan Miranda dengan lembut. "Maaf jika sikap Mas selama ini membuat kamu kecewa, Mas tahu kamu tak mungkin mudah memahami sikap Mas selama ini. Namun, Mas mau mengucapkan terima kasih dari hati Mas yang paling dalam atas pengertian kamu selama ini karena kesibukan Mas, Mir. Meski Mas gak selalu bisa menunjukkan atau mengungkapkan apa yang Mas rasakan dengan baik, kehadiran dan pengertian kamu selama ini begitu berarti bagi Mas, Sayang. Mas menghargai kesabaranmu di saat Mas tidak mampu menjadi yang terbaik. Terima kasih sudah bertahan selama ini dan memahami kesibukan Mas ya, Sayang!" ungkap Arvas dengan sungguh-sungguh yang membuat hati Miranda terenyuh.
"Mas..."
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dari Mas ya, Mir. Mas sedang mengusahakan agar waktu kita semakin banyak. Mas tahu kamu kesepian selama ini, tapi Mas tidak cukup mengerti kamu hingga kamu sering kali meminta kita untuk berpisah. Jangan yang Sayang. Mas tahu kamu dan Mas masih saling mencintai bahkan cinta kita masih besar, Mir. Bahkan semakin bertambah setiap harinya walaupun kita jarang bertemu. Bertahan sekali lagi bersama pria yang tidak sempurna ini ya, Mir. Di luar sana tidak ada wanita yang seperti kamu jika kamu pergi meninggalkan Mas, Sayang!" ucap Arvas dengan menenggelamkan wajahnya di tangan Miranda.
Miranda merasakan tangannya basah. Apakah Arvas menangis sekarang? Miranda juga sudah menangis karena ucapan Arvas yang terdengar sangat tulus terhadap dirinya. Ia tidak bisa jika harus berpisah dengan Arvas. Bersama dengan Arvas memang sakit, tetapi jika tidak dengan Arvas, ia jauh lebih sakit.
"Sudah, Mas! Ayo bangun jangan seperti ini!" ucap Miranda dengan lirih.
"Sekali lagi maaf, Sayang!" gumam Arvas dengan tergugu.
"Iya, Mas. Aku memaafkan semua kesalahan kamu. Maafkan aku juga ya yang gak bisa menjadi istri yang baik selama ini. Aku banyak kurangnya," gumam Miranda dengan lirih.
"Kamu sempurna, Sayang!" sahut Arvas mengecup kedua tangan Miranda hingga wanita itu tersenyum lembut.
"Aku mau ke rumah sakit, Mas!" rengek Miranda yat membuat Arvas terkekeh dan mengangguk setuju.
"Ya sudah ayo, Sayang!" ajak Arvas menggenggam tangan Miranda dengan erat.
Keduanya saling menatap dengan dalam dan tersenyum tulus. Badai mungkin datang di rumah tangga mereka. Namun, bertahan sampai saat ini membuktikan jika cinta mereka benar-benar besar satu sama lain walaupun mungkin kata lelah selalu terbenak di hati salah satu dari mereka.
****
"Bagaimana keadaan kedua anak saya, Dok?" tanya Arvas dalam berbahasa Inggris.
"Pasien yang bernama Lastri kita tunggu dalam seminggu ini bisa jadi lebih cepat dia akan sadar. Tetapi pasien yang bernama Aditya tidak bisa kita ketahui kapan, karena benturan di kepalanya cukup keras dan akibat kakinya yang kejepit kemungkinan besar Aditya akan lumpuh," jelas dokter yang membuat Arvas dan Miranda merasakan sesak di hatinya.
"Lumpuh? Anak saya tidak bisa berjalan lagi?" tanya Miranda dengan menangis.
"Ibu berdo'a saja semoga lumpuhnya tidak permanen ya. Ibu dan Bapak sudah bisa melihat keduanya didalam. Jika begitu saya permisi. Kalau ada yang ingin dipertanyakan bisa langsung ke ruangan saya. Permisi!" ucap dokter dengan ramah.
"Iya, Dok. Terima kasih!" sahut Arvas dengan tegas.
Setelah kepergian dokter, Arvas dan Miranda masuk kedalam ruangan Lastri dan juga Aditya yang memang didalam satu ruangan yang sama.
Miranda tampak berusaha untuk tegar melihat keadaan Aditya dan juga Lastri. Ia berjanji sampai ia menghembuskan napas terakhirnya dirinya akan memastikan kebahagiaan Lastri dan juga Aditya.
"Mama akan menunggu dan merawat kalian sampai sembuh. Jangan lama-lama ya tidurnya," ucap Miranda mengajak Aditya dan Lastri berbicara.
lanjut lg dunk up nya