" KARENA MANUSIA SELALU MENGINGINKAN YANG TERBAIK TAPI LUPA MENJADI BAIK DAN BERBUAT BAIK"
Mengisahkan Perjalanan hijrah seorang gadis bernama Gendis.
Masa lalu yang penuh dosa pun membuat Gendis mengalami trauma.
Iqbal seorang pria yang baik namun salah pergaulan menjadikan Iqbal sebagai pribadi yang keras, playboy dan liar.
Mereka dipertemukan pada saat mereka sama sama tidak baik dan bertobat untuk berhijrah.
Perjuangan menuju Jannah yang selalu diimpikan pun harus dilalui dengan kisah yang Tragis, Miris dan Derai Air Mata.
Berhijrah itu mudah tapi untuk Istiqomah itu sulit.
GENDIS.... IQBAL .... JADIKAN SEMUA KISAHMU MENJADI PELAJARAN YANG BERHARGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGISAN KETIGA ANAKKU
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
"Sayang hari ini adalah buka puasa yang paling nikmat, ada kamu, ada masakanmu, lihat anak anak pun antusias menghabiskan makanannya." ucap Iqbal memuji Gendis.
"Mas Iqbal, terus aja kayak ABG, aku ini udah anak tiga, gak usah digodain terus. Malu ada bunda." ucap Gendis pelan.
"Bunda ngerti kok sayang, jadi gak perlu malu." ucap Iqbal merayu.
"Ibu bantu aku mengerjakan PR, ibu mau?" ucap Nadia merengek sedikit manja.
"Oke boleh, yang sudah selesai makan, ayok belajar, nanti ibu bantu mengerjakan PR nya, ibu mau membersihkan meja makan dulu ya." ucap Gendis lembut kepada ketiga anaknya.
"Gendis, biar bunda saja sayang, dari siang kamu mengurus rumah, nanti kamu kelelahan sayang." ucap bunda pelan.
"Tinggal sedikit lagi bunda. Bunda itu dikulkas, Gendis sudah buat puding dan kue bolu. Takut anak anak kepengen dipotong potong aja bunda." ucap Gendis.
"Gendis menantu bunda, cepat pulang dan cepat kembali ke rumah ini, kita berkumpul bersama seperti dulu lagi. Lihat itu anak anak semangat bila ada kamu, lihat Iqbal, wajahnya sudah tidak pucat lagi, gairah hidupnya seakan bangkit lagi. Kamu itu seperti chargeran, yang dekat denganmu seperti terisi penuh semangat dan gairah." ucap bunda meyakinkan Gendis, bahwa kedatangannya membawa kebahagiaannya sendiri.
"Bunda sudah, jangan buat Gendis sedih, sebentar lagi Gendis kembali ke Ponpes, jangan buat Gendis kepikiran yang enggak-enggak. Tolong ya bunda." ucap Gendis sedih.
Mata bunda sudah berkaca-kaca sejak tadi. Bunda yakin kepergian Gendis akan banyak air mata. Kehadirannya begitu dinantikan dan kepergiannya pasti akan ditangisi.
"Gendis ke kamar dulu ya bunda, mau siap siap." ucap Gendis pelan.
Hatinya pun berat harus meninggalkan rumah ini lagi dalam waktu yang cukup lama. Entah berapa lama lagi, hingga Gendis benar benar pulih. Melihat celoteh anak anak seperti ini membuatnya rindu. Gendis pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Disana sudah ada Iqbal yang sedang mengambil sarungnya.
"Sayang, kenapa? kok mukanya cemberut gitu." ucap Iqbal pelan sambil mengusap usap pipi Gendis.
"Gak papa mas, cuma berat ninggalin anak anak mas." ucap Gendis pelan.
"Tapi gak berat ninggalin suami? cuma berat ninggalin anak?" ucap Iqbal menggoda Gendis.
"Kenapa kamu harus cemburu sama anak, semuanya prioritas aku mas, kamu, bunda dan anak anak." ucap Gendis.
"Kamu gak rindu sama aku, Gendis? padahal aku sangat merindukanmu." ucap Iqbal sambil memeluk Gendis dengan erat. Wajahnya dibenamkan di leher Gendis mencari kenyamanan tersendiri bagi Iqbal.
Ada rasa nyaman disana. Semakin erat semakin sulit untuk melepaskan. Semakin sulit untuk berpisah dan meninggalkan. Semakin erat semakin ingin dekat dan menyatu. Seakan meluapkan rasa saling membutuhkan, rasa saling ketergantungan, rasa untuk saling menguatkan dan rasa cinta yang tak akan pernah tergantikan.
"Mas, jangan seperti ini, nanti membuatku semakin sulit meninggalkan kalian. Aku pergi kan sementara mas." ucap Gendis lirih, hembusan nafas Gendis membuat Iqbal merasakan getaran yang sudah lama tidak ia rasakan. Gejolak asmaranya pun mulai membuat seluruh tubuhnya merinding luar biasa.
"Mas kangen sama Gendis, sebentar saja seperti ini, biar kangen mas hilang." ucap Iqbal sangat lembut, dan masih mencari kenyamanannya sendiri dengan mengusel usel leher Gendis, mencium aroma melati kesukaannya.
"Mas... Udah ya, takut Pak Bekti sudah datang." ucap Gendis.
"Kalau sudah datang bunda pasti ketuk pintu sayang, mas beneran kangen Gendis." ucap Iqbal sungguh merindu.
"Gendis, Pak Bekti sudah datang Nak" ucap Bunda dari luar kamar Iqbal.
"Iya bunda sebentar lagi aku ke depan." ucap Gendis dengan sopan.
"Gendis, aku takut kamu tinggalkan lagi." ucap Iqbal dengan mata berkaca-kaca.
Kadang merasa lelah, ingin melepaskan semua beban ini secara paksa. Tapi menjalani hidup dituntut ekstra kesabaran. Tapi bila tidak ada tempat bersandar yang saling menguatkan, terkadang ingin menyudahi semuanya.
"Hei sayang, kamu itu suami, pria gagah kenapa jadi cengeng begini. Aku masih disini mas Iqbal." ucap Gendis.
"Mas anter ya Gendis?" ucap Iqbal masih belum ikhlas melepaskan.
"Mas ini sudah malam, kamu juga belum sembuh betul. Tolong jaga kondisi kamu ya. Aku berangkat dulu ya mas, titip anak anak ya mas. Sayangi mereka mas, turuti keinginannya, jangan buat mereka bersedih apalagi menangis. Jadi ayah yang kuat dan tegar. Aku akan selalu merindukanmu, aku selalu mencintaimu mas Iqbal." ucap Gendis sudah dengan derai air mata, sambil mencium punggung tangan Iqbal.
Iqbal pun mencium kening Gendis begitu lama, kemudian kedua pipinya dan terakhir mengecup bibirnya yang sudah lama ia rindukan.
"Bunda, Gendis titip mas Iqbal, titip anak anak, maaf kalau anak anak sering merepotkan bunda. Gendis sayang bunda, maafkan Gendis belum bisa bahagian bunda. Doain Gendis bunda biar cepat sembuh dan kita berkumpul lagi disini." ucap Gendis dengan isakan yang tertahan.
"Anak anak kalian belajar yang rajin ya, ibu harus berangkat dulu untuk berobat lagi ya sayang. Nadia kamu yang paling besar sayang, harus bisa mencontohkan yang baik buat adik adikmu, belajar untuk saling memberi dan menghargai. Nissa sayang, kemari Nak, ibu pergi dulu, jangan berantem sama kakak, sebagai adik juga mengalah dan tidak boleh mau menang sendiri. Al...sini sayang, Al jangan bikin susah nenek dan ayah, Ibu pamit dulu, doain ibu ya sayang supaya Ibu cepat sembuh. Salam sayang ibu untuk kalian semua anak anak ibu." ucap Ibu sambil memeluk ketiga anaknya.
Semua menangis, merasakan kesedihan yang begitu dalam, kedatangan yang singkat mampu membius ketenangan dan kenyamanan hingga tidak rela ada kata perpisahan.
"Mbak Gendis ayok, keburu malam." ucap Pak Bekti yang ikut larut dalam kesedihan melihat perpisahan keluarga Iqbal.
"Ibu..... " Nadia menjerit mulai tersadar ibunya akan pergi. Nadia berlari memeluk ibunya yang masih berdiri di dekat motor Pak Bekti.
"Ibu...... Ibu....." Al pun mulai memeluk ibunya dan mencium pipi ibunya dan merayu ibunya untuk tidak pergi.
"Ibu......" Nissa pun berlari melihat ibunya sudah basah air mata.
"Gendis berangkatlah sayang, aku meridhoimu, hati hati sayang. Anak anak disini masih ada ayah, kemari sayang sama ayah. Nadia, Nissa, Al kemari sayang, biarkan ibumu pergi sayang. Ibu tidak akan lama." ucap Iqbal dengan suara yang serak, sambil menarik tangan anak anaknya agar melepaskan dari pelukan ibunya.
Gendis pun bangkit berdiri menciumi pucuk kepala.anaknya satu per satu. Dan mulai tega menaiki motor bersama Pak Bekti. Iqbal memegang tangan anak anaknya agar tidak mengejar motor yang mulai berjalan.
Nadia menarik tangannya dengan paksa dari genggaman ayahnya dan berlari mengejar motor itu.
"Ibuuuuuuuuuu Ibuuuuu jangan tinggalkan Nadia ibuuu ibuuuu kembali ibuuui..." ucap Nadia histeris, langkah nya terhenti kelelahan mengejar motor yang semakin menjauh.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuu........" teriaknya dengan histeris.
-------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
subhanalloh.....
wanita surga " Sayyidah Fatima Az-Zahra "
❤️❤️❤️
NEXT
bisa mampir lagi
apa kabar ?
alhamdulillah baru sempat mampir lagi 😊😊🤗🤗
mohon dukungan
My lovely Gea
Istriku dokter Cintaku