Pondasi sbuah hubungan adalah kepercayaan, jika kepercayaan telah retak bahkan pecah hubungan itu akan hancur. Kejujuran, keterbukaan dan juga saling mengisi satu sama lain itu juga pnting dalam sebuah hubungan. Ikuti kisahnya dan jangan lupa like, komen dan subscirbenya gais.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
" Loh bunda sama kaka mau kemana? " tanya alika yang melihat kaka dan bundnya sudah rapih dan bersiap untuk pergi.
" Bunda mau ambil obat, kaka katanya ada perlu gak tau tuh apa. " Kekeh karin.
" Adek mau ikut atau mau dirumah aja, kaka ada misi penting. Ohya apa yang adek bicarakan sama orang itu? " tanya damar.
Karina tercengang melihat bagaimana damar menyebut ayahnya dengan sebutan orang itu.
" Udah ka,adek udah selesai. Em adek mau ikutan ya, adek juga gak mau sendirian. Sebentar adek siap-siap dulu. " alika lantas pergi kekamarnya.
Karin menggelengkan kepalanya karna dia semakin tak mengerti sejak kapan anak-anaknya menjadi sedewasa itu.
Sementara ditempat lain dimas tengah berjalan dengan langkah gontai. Bahkan dimas meringis kesakitan karna telapak kakinya sedikit mengelupas.
" Dimas, kamu kenapa nak? Kenapa sepatumu, itu kaki kamu kenapa sayang? "Anik terlihat panik melihat kondisi cucunya.
Apa lagi saat melihat wajah dimas yang memerah karna terlalu lama berada dibawah terik matahari. Keringatnya bercucuran membasahi pakaian sekolahnya.
" Mbah, sepatu dimas rusak. Nih kaki dimas luka, mana dimas jalan jauh banget. Hiks hiks, kapan penderitaan ini selesai mbah. Mana mama tiap hari makin gak jelas. " Keluh dimas,sembari menunjukan sepatunya yang memang rusak parah. Sepatu dimas terlepas bagian bawahnya, hingga saat dibawa jalan kaki dimas bersentuhan lngsung dengan aspal.
Ditambah cuaca sangat terik menyebabkan kaki dimas mengelupas dan memerah.
" Sabar ya nak, nanti mbah bilang sama papah kamu biar kasbon dulu sama juragan danang buat beli sepatu kamu. " anik menitikan airmatanya melihat betapa malangnya nasib Cucunya.
Diusianya seharusnya dimas asik bermain bersama teman-temannya. Namun karana pertengkaran dan kondisi orangtuanya menyebabkan dimas lebih suka mengurung diri didalam kamar.
Bahkan dimas menjadi pribadi yang pemarah dan mudah tersinggung.
Melihat orangtuanya bertengkar setiap hari sangat berpengaruh pada kondisi mental dan karakternya.
" Bu, aku mau pergi aku ada janji sama temen aku. Nanti kalau mas lujeng pulang, bilang sama dia jamnya aku jual buat ongkos nongkrong sama temen. " Ucap wulan tanpa melihat kearah anaknya yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
" Astaga wulan, kamu liat anak kamu! Kakinya terluka karna sepatunya rusak,dari pada buat nongkrong mending buat keperluan sekolah dimas! " Sentak anik yang merasa semakin geram dengan tingkah wulan.
" Ibu apa-apaan si bu, sejak kapan ibu suka ikut campur sama urusan aku bu. Mending ibu diem bu diem! Ibu gak tau kan bagaimana perasaanku, keadaanku. Ibu gak tau bagaimana stresnya aku dengan keadaan ini buk. hiks, aku pergi buat cari hiburan bu ,aku bisa gila kalau terus-terusan dirumah! " berang wulan.
Tingkahnya semakin menjadi saja, stiap hari hanya menghabiskan waktu dikamar bermain tok tok, bersolek dan pergi nongkrong. Wulan bahkan selalu menjual barang apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk dia bawa ketongkrongan bersama teman-teman barunya.
" Tapi setidaknya fikirkan anak kamu lan, dia sangat butuh kamu wulan! Jangan korbankan anak kamu karna keadaan ini wulan,ingat dia anak kandung kamu! Lihat karin dia lebih memilih mengutamakan anak-anaknya dibanding dirinya sendiri. Dia itu punya dua anak, tapi dia bisa bangkit dan berdiri sendiri. Anak kamu satu lan satu! " Anik begitu marah melihat wulan yang semakin tak perduli dengan anaknya.
Apa yang ia simpan dihatinya selama ini diluapkan didepan wulan, rasa kecewanya terhadap sikap wulan seakan sudah sangat dalam hingga anik tak bis membendungnya lagi.