Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan Jiwa?
Selepas dari rumah sakit tadi Noah langsung pergi menuju markas uncle Marco. Ximen sudah membawa tiga anggota musuh yang semalam ingin menculik Zoe sedangkan sisanya mati di tempat.
Dengan kemarahan tertahan di wajah kelamnya, Noah menatap datar tiga pria malang yang sekarang sudah tak bisa di katakan baik.
Mereka di gantung di ruang bawah tanah dengan kulit sepenuhnya melepuh karena di siram air panas bergejolak oleh bawahan uncle Marco.
"Kalian tak mau bicara?" Desis Carlos yang tengah memeggang alat sentrum bertegangan tinggi.
Sudah di pastikan jika alat itu mengenai mereka, maka jantung akan meledak tak tahan akan sengatannya.
Carlos menggeram. Ia masih bertahan untuk tak menggunakan alat itu karena tuannya Marco mengatakan untuk patuh pada apa yang Noah dan Ximen inginkan.
"Dia tak mau bicara. Untuk apa di pertahankan." Menatap Noah yang masih berdiri tegap di belakangnya.
"Dia punya keluarga?" Tanya Noah dan Carlos menyeringai.
Ximen yang berdiri di dekat Noah hanya diam menyerahkan sepenuhnya urusan ini pada sang kakak.
"Kau sangat pintar. Tapi, sayangnya mereka sudah mati."
"Tidaak!!" Sambar tiga tawanan itu terkejut. Ketakutan besar terpancar dari matanya padahal tadi tak bergeming sama sekali.
"Tidak? Kenapa bisa tidak?" Tanya Carlos dengan intonasi sangat licik.
"K..karena..karena kami.."
"Karena mereka mengatakan akan menjamin keselamatan keluarga kalian. Benar?"
Mereka bertiga terdiam. Nyatanya kasus ini sama seperti tawanan di masa lalu. Saat itu mereka tertangkap dan tak ingin bersuara. Tetapi, nyatanya mereka mengira keluarganya terjamin oleh sang majikan jika tak buka mulut.
"Jadi orang jangan terlalu bodoh. Kalian tak tahu, bagaimana kondisi keluarga kalian setelah di tangkap, bukan?"
Mereka saling pandang ragu. Carlos melirik Noah dan Ximen yang masih diam seperti menunggu tindakannya.
"Mereka sudah di habisi dengan cara tragis."
"Tidak!! Tuan kami tak akan melakukan itu!!" Bantah mereka tak percaya.
Carlos menggeleng na'as bercampur miris. Anggota mereka sudah mencari tahu soal masalah ini dan tahu siapa saja yang terlibat tapi tak sampai pada akarnya.
"Tuan kalian berasal dari keluarga Deyujin. Benar?"
Mereka diam membisu membuat Carlos bertambah semangat. Pria berusia kepala empat dengan kulit hitam dan kepala plontos itu memang sangat suka mengintrogasi para tahanan.
"Apa kalian tahu jika di masa lalu mereka juga pernah terlibat dalam urusan keluarga Ming?"
"K..kami hanya menjalankan perintah."
"Terlambat. Perintah itu sudah tak berlaku lagi karena mereka juga sudah mengkhianati kalian!" Tegas Carlos membuat dunia mereka langsung runtuh seketika.
Satu bawahan yang tadi ada di luar penjara bawah tanah, masuk memberikan foto-foto mayat yang hangus terpanggang.
"Lihat sisa pesta semalam!"
Menunjukan lembaran foto-foto itu hingga mata mereka membelalak lebar. Ketiganya mulai histeris melihat foto anak dan istrinya tewas dengan luka bakar parah hampir tak mengenali wajahnya sama sekali.
"T..tidak!! Tidak mungkin!!"
"Ibu, istri dan anak-anak kalian sudah tewas. Masih belum mau bersuara?" Desis Carlos melempar foto-foto itu ke lantai hingga mereka bisa melihatnya kembali.
Ximen dan Noah hanya diam. Ntah apa yang mereka pikiran siapapun tak akan bisa menebaknya.
"T..tidak mungkin! I..ini tidak mungkin."
"Katakan sekarang! Setidaknya aku bisa membalaskan dendam kalian pada majikan busuk seperti itu," Sarkas Carlos memainkan alat sentrum di tangannya ke wajah salah satu dari mereka.
"Kami..kami di perintahkan untuk menculik nona Zoe tadi malam dan kami memang suruhan dari keluarga Deyujin."
Rahang Noah mengeras dengan mata diselubungi kabut emosi yang tak bisa di tahan sama sekali.
"Tetapi, kami hanya punya satu tuan yang sering mengarahkan kami untuk mengusik nona Zoe."
"Siapa dia?" Carlos menunggu.
"Kami tak tahu, tuan! Yang jelas, dia tak pernah menunjukan rupanya. Setiap memerintah, dia hanya akan menghubungi lewat panggilan telephone. Selebihnya kami di atur oleh ketua kami yang sudah meninggal saat penembakan tadi malam," Jelas salah satu diantaranya mewakili.
Raut wajah mereka begitu pasrah dan tak lagi sekeras tadi.
"Kami bersumpah. Kami tak tahu apapun soal motif dan masalah penyerangan ini karena kami hanya anak buah."
Kepalan tangan Noah menguat. Keluarga Deyujin memang punya organisasi tersembunyi yang membuat banyak orang tersesat di dalamnya.
Contohnya seperti Alice dan ayah kandungnya yang sudah tiada.
"Tapi, keluarga Deyujin tak pernah mau mengusik keluarga Ming. Kami yakin karena nona dan tuan muda di sana sangat baik."
Carlos menoleh pada Noah dan Ximen untuk meminta keputusan.
"Mereka tak berbohong. Laporan anggota Bos Marco sama seperti yang mereka katakan. Apa keputusanmu?"
"Bawa mereka bergabung dengan bawahanku!" Tegas Noah lalu pergi.
"Ck! Padahal aku sangat ingin membunuh sekarang," Decah Carlos sungguh jengkel dengan Noah.
Tatapan penuh harapnya beralih pada Ximen.
"Boy! Kau pasti punya jawaban berbeda."
"Lakukan perintahnya!" Ujar Ximen dan ikut menyusul Noah.
Seketika Carlos mendengus. Ia mengisyaratkan bawahannya untuk melepas ikatan tiga pria yang sudah seperti kambing di kuliti itu.
"Sayangnya kalian tak mencari masalah dengan bosku Marco. Coba saja semalam kalian mengusik kesayangannya Ochi. Nasib kalian tak akan sebaik ini," Gumam Carlos membuat tiga tawanan itu semakin putus asa.
"Bunuh saja kami. Untuk apa hidup tanpa anak dan istriku!"
Carlos tergelak mendengar penurutan mereka. Ia benar-benar puas telah membodohi orang seperti ini.
"Sudah-ku katakan sebelumnya, bukan?! Beruntung kau jujur dan bertemu Noah. Dia tak akan mengusik orang yang tak mengusiknya."
"A..apa maksudmu?" Mereka kian kebingungan.
Ekspresi Carlos berubah serius. Tak lagi ada raut santai dari wajah hitam legam namun gagah itu.
"Keluarga kalian sudah di amankan. Selagi kalian tak ikut campur lebih jauh maka, kalian aman. Tapi, aku tak menjamin jika kalian berani berulah setelah ini."
Carlos melempar alat sentrum itu ke lantai lalu ia pergi dengan bosan. Foto-foto itu hanyalah editan. Noah tak akan setuju jika orang yang tak bersalah di libatkan dalam masalah ini.
Dan lagi pula, tiga tawanan itu juga tak sepenuhnya salah. Mereka hanyalah alat yang di kendalikan oleh majikannya. Menolak-pun nyawa mereka akan kena imbasnya.
.....
Mereka sudah berkumpul di sini. Meja bilyar membentang lebar diantara mereka sementara kursi mengeliling dengan wajah-wajah tampan serius yang tengah membahas soal keluarga Deyujin.
"Setahuku mereka memang tak pernah mencari masalah dengan keluarga Ming. Zhen selalu memantaunya sejak kejadian di masa lalu selesai!" Jelas uncle Marco dengan asap rokok berhembus ke udara.
Di sini ada Noah, Ximen dan asisten Jio yang datang karena memang ada perlu dengan uncle Marco. Tetapi, saat tahu jika ada masalah menimpa Zoe, ia pun ikut bergabung.
"Tetapi, mereka adalah suruhan keluarga Deyujin. Bagaimana bisa mereka tak ikut campur?" Sambar Ximen tampak berpikir keras.
Ia belum tahu soal masa lalu yang melibatkan Noah kecil saat itu.
Ximen juga tampak heran dengan ekspresi Noah seperti tak terkejut mendengar penjelasan uncle Marco.
"Apa yang sudah terjadi sebenarnya?"
"Keluarga Deyujin adalah keluarga besar sama seperti keluarga Ming. Di dalam sana juga ada orang baik dan orang yang haus akan duniawi," Jelas asisten Jio yang tampak tenang dengan wajah penuh silsilah.
"Jadi, maksud uncle mereka tak sepenuhnya memusuhi keluarga Ming. Hanya ada beberapa yang tak suka dan bertindak atas nama keluarga Deyujin?"
"Hm. Kekuatan organisasi mereka tidaklah terkontrol semenjak tuan besar keluarga itu sakit. Dari luar mereka memang terlihat baik-baik saja tetapi di dalam, tak jauh beda dengan keluarga Ming," Sambung uncle Marco bersuara tegas.
Noah hanya diam. Ayah kandungnya dulu juga berasal dari organisasi gelap keluarga Deyujin. Ia tahu betul bagaimana liciknya mereka bertindak memanfaatkan nama keluarga besar itu.
"Ada perebutan kekuasaan dan peperangan saudara. Kau harus lebih berhati-hati terutama Zoe!"
"Kenapa mereka mengincar kak Zoe?" Tanya Ximen membuat semuanya membisu termasuk Noah.
Sungguh, Ximen tahu jika masalah ini pasti sangat rumit tapi ada satu titik dimana inti konfliknya.
"Kenapa mereka mengincar kak Zoe? Kau tak menanyakan itu pada tawanan tadi seakan kau tahu alasannya," Imbuh Ximen menatap dingin Noah.
"Ximen! Tenanglah!"
"Bagaimana bisa tenang? Zoe itu juga kakakku dan dia saudariku. Aku tak bisa diam saja seperti orang buta dengan masalah ini," Sentak Ximen pada asisten Jio yang akhirnya diam.
"Kalian merahasiakan sesuatu dariku. Aku.."
"Tanyakan pada mommy dan daddy!" Sela Noah tegas bangkit dari duduknya.
Sorot mata serius itu memindai netra dingin Ximen yang terlihat menahan emosi.
"Mereka lebih pantas menjelaskan itu padamu!"
Ximen diam mengepalkan tangannya erat. Begitu banyak rahasia yang tak ia tahu dan di sembunyikan oleh kedua orang tuanya.
"Uncle! Aku pergi!" Pamit Noah pada asisten Jio dan Uncle Marco yang mengangguk.
Noah meninggalkan tempat itu. Ia harus segers ke rumah sakit karena ini sudah larut malam. Belum ada kabar dari Vivian soal kondisi Zoe saat ini.
.......
Sejak pergi pagi tadi, Noah tak lagi datang ke ruang rawatnya. Sejak saat itu juga Zoe diam meluapkan tangisnya sampai kedua mata bengkak dan wajahnya sembab.
Dokter Hyun tampak duduk di dekat Zoe menjaga gadis itu. Tetapi, Zoe tak pernah bicara bahkan ia hanya diam menatap lurus kedepan seraya bersandar di kepala ranjang.
"Nona. Ayo makan! Nona tak akan sembuh jika seperti ini terus."
Zoe tak menyahut. Ia sangat kacau dan tak bisa memikirkan apapun selain Noah, Noah dan Noah isi kepalanya.
Bagaimana jika Noah tak peduli lagi padanya?
Bagaimana jika Noah tak mau bertemu dengannya lagi?
Noah tak akan memanjakannya lagi. Pria itu akan menjahuinya. Noah akan meninggalkannya.
Dugaan seperti itu berkeliaran di benak Zoe sampai ia terlihat sangat tertekan. Kukunya mencengkram lengan sendiri di bawah selimut tanpa sepengetahuan dokter Hyun.
"Nona!"
Bibir Zoe menyunggingkan senyum aneh. Dokter Hyun sontak berdiri karena merinding melihat senyum seperti psikopat itu.
"N..Nona.."
"Jika aku mati, apa dia akan datang?" Tanya Zoe kembali seperti dirinya saat menyiksa Bei La waktu itu.
Dokter Hyun mulai merasa tak nyaman. Ekspresi Zoe benar-benar terlihat menakutkan dengan air mata turun di pipi putihnya yang pucat.
"Dia ingin meninggalkanku. Dia sudah membenciku."
"Nona! Apa maksud anda?"
Zoe tergelak keras seperti orang tak waras lalu mencabut selang infusnya kasar dengan raut wajah berubah dingin.
Dokter Hyun terkejut melihat lengan Zoe di penuhi luka cakarannya sendiri dan belum lagi darah dari punggung tangannya keluar dari bekas jarum yang di cabut paksa.
"Kau tak bisa meninggalkanku! TIDAK BISA!!" Geram Zoe melempar tiang penyangga infus di dekatnya ke lantai hingga dokter Hyun gemetar.
"N..Nona.."
"DIAAM!!!" Bentak Zoe menatap tajam dokter Hyun yang seketika memucat.
Ia bukan dokter spesialis kejiwaan seseorang jadi, jika seperti ini Zoe akan menyakiti dirinya sendiri dan orang lain.
"D..Dia membenciku. Dia tak ingin bertemu denganku. Dia..dia meninggalkanmu Zoe, dia sudah pergi. Kau..kau sendirian sekarang," Racau Zoe lalu tertawa miris dan menangis beriringan.
Rambutnya ia tarik kuat karena rasa tak terima, sakit dan emosi itu kian menjadi-jadi memenuhi kepalanya.
"BRENGSEEK!! KAU MEMBUATNYA PERGI!! KAU MEMBUATNYA MEMBENCIKU!! KAU SIALAN!!"
Dokter Hyun berlari keluar kala Zoe memporak-porandakan ruangan itu. Vivian yang baru datang setelah keluar dari toilet tadi terkejut melihat wajah pucat dokter Hyun dan suara amukan Zoe di dalam ruangan.
"Ada apa?"
"Tuan. Nona Zoe mengamuk. Dia menyakiti dirinya sendiri dan melempar apapun yang ada di dekatnya," Panik dokter Hyun sangat cemas.
Vivian segera menghubungi tuannya. Ia tak menyangka jika Zoe akan seperti ini bahkan sudah seperti orang kelainan jiwa.
...
Vote and Like Sayang