Binar harus menikah dengan Gian, anak dari sahabat almarhum Ayahnya. Setengah tahun dari pernikahan Binar dan Gian, Ayah Gian meninggal.
Saat menjelang empat puluh hari kematian Ayahnya, Gian menikah secara sirih dengan Sarah, pacarnya semasa kuliah tanpa sepengetahuan Binar.
Binar yang mengetahui itu sangat terpukul, pasalnya dia sangat menghormati Gian sebagai suaminya, namun kali ini Gian menghianatinya.
Akankah Binar mempertahankan rumah tangga wasiat dari Ayahnya atau menyerah atas rasa sakit yang di berikan oleh Gian yang ternyata tidak pernah mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hujan Reda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Besok adalah sidang perceraian ku dengan Mas Gian. Tepat satu minggu dari kejadian itu, aku mempersiapkan segala hal sendiri.
Kini, aku tinggal di sebuah apartemen yang berbeda dari kota sebelumnya. Aku memutuskan untuk meninggalkan kehidupanku yang lalu. Tapi tidak lari dari masalahku. Aku bukan seorang pengecut.
Setelah malam saat Vio menemui ku di hotel mawar. Aku mengatakan semua rencana baruku padanya. Aku juga berpesan agar tidak memberi tahu kak Fatur soal ini.
Aku sudah mengganti nomorku. Kak Fatur maupun Mas Gian sudah tidak bisa mengabari ku lagi. Ya, ini lebih baik.
Aku juga tidak menginjakkan kakiku di rumah Mas Gian, biarlah barang-barang ku yang ada di sana. Aku tidak peduli.
"Halo Pak Anwar. Besok saya gak ikut gak akan jadi masalah kan ya pak?" tanyaku pada Pak Anwar lewat telepon.
Pak Anwar adalah pengacara keluarga Vio. Vio yang mengenalkannya padaku. Dia sangat cepat dalam bekerja, juga tidak banyak tanya tapi semuanya selesai.
"Gak masalah Bu, soalnya tanpa Ibu datang pun kalian akan resmi bercerai."
"Baik. Saya percayakan semua ke Bapak ya. Mari Pak Anwar."
"Mari Bu Binar."
Aku menutup teleponnya. Ku minum matcha yang ku pesan. Sekarang aku berada di cafe dekat apartemen ku. Terasa sangat sepi karena hanya ada aku dan diriku.
Meski sebenarnya masih ada yang mengganjal dari kak Fatur, tapi aku sudah menutup rasa penasaran tentangnya. Aku sudah tidak boleh memikirkannya. Apalagi memikirkan apa yang sedang dia lakukan.
Aku mencoba tidak peduli pada apapun tentangnya. Meskipun, aku masih mempertanyakan sedang apa dia di daerah itu.
Ah tapi, apapun yang sedang dia lakukan. Seharusnya aku tidak peduli.
Ponselku menyala, di barengi dengan dering yang terus berbunyi. Memecah keheningan sore ini.
"Halo Vi, ada apa?" tanyaku pada Vio begitu ku angkat telfonnya.
"Lo lagi apa Bin? Gua kangen deh."
"Di cafe nih, lagi duduk aja. Abis skripsi lo beres, main aja ke sini."
"Ah apaan. Gak kelar-kelar. Tau nih, dosennya kayanya naksir deh sama gua. Makannya di lamain biar gua bimbingan terus ke dia," ucapnya di akhiri kekehan pelan.
Aku tertawa pelan mendengar keluhnya. "Yeu ... gak boleh gitu lah. Jalanin biar cepet lulus. Udah tua lu, waktunya nyari laki."
"Ish ... by the way, hubungan lo sama kakak gua gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya gimana, udah membaik belum? Kemarin dia nanyain lo. Minta nomer lo juga tapi gak gua kasih."
"Kayanya gak bakal membaik deh Vi. Gua udah bilang kan, kalo mau ngejauh dari kakak lo. Gua takut aja malah ngerusak hubungan kita nantinya."
"Ya engga juga Vi. Oh iya, gua udah tau siapa Tia."
Aku membenarkan posisi dudukku. Apa yang baru saja Vio katakan membuatku sangat penasaran. Ah, seharusnya aku sudah tidak peduli. Kenapa malah ingin tahu?
Terserah. Ini yang terakhir.
"Tia? Siapa dia Vi?"
"Tia emang temen kakak gua. Cuma pas SMP. Gua gak tahu dia bohong atau engga. Cuma kak Fatur bilang gitu."
"Temen SMP? Itu doang?"
"Ya ... iya. Gua cuma di kasih tau itu doang. Kak Fatur nanyain lo mulu, lo gak pengen ngobrol dulu sama dia buat lurusin ini?"
Mengobrol dengan kak Fatur? Huh itu hanya akan memperburuk keadaan. Bagaimana kalau aku sampai tidak bisa melupakannya?
Alasan aku pindah kota adalah supaya tidak bertemu dengannya lagi.
"Enggak deh Vi. Gua gak pengen bahas apapun. Lagian, udah jelas ko semuanya."
"Kali aja ada sesuatu yang lo gak tahu tentang dia Vi. Ya, bisa aja. Tapi gua gak maksa ko. Kalau gak mau ya udah."
"Nanti nanti aja deh Vi. Gua belum siap aja ketemu sama dia."
"Ya udah kalo gitu. Gua tutup dulu ya. Lo hati-hati di sana."
"Iya ... lo cepet selesain skripsinya. Ha-ha."
"Iya bawel."
Aku menghela nafasku cukup panjang. "Semuanya bakal selesai, gua gak bakal masuk ke lobang yang sama."
Aku kembali membenarkan posisi dudukku. Semula dari keadaan tegang, kini ku rileks kan.
Ku minum kembali matcha ku, sungguh. Minuman ini mampu membuatku tenang seketika.
"I-ibu?"
Aku mengerutkan dahiku kala anak kecil berkisaran delapan tahun mendekatiku. Dia sangat cantik, dengan gaun warna putih yang sangat cocok dengan kulit putihnya itu.
"Ibu? Siapa?" tanyaku heran. Dia menatapku seakan kita pernah bertemu. Perlahan matanya mulai penuh dengan bulir yang hampir jatuh.
"Hey, kenapa nangis?" tanyaku lagi. Aku mendekatinya dengan posisi berlutut mengimbangi tinggi anak ini.
Dia langsung memelukku dengan sangat erat. Aku masih bergeming, tidak paham apa yang sedang terjadi di sini.
"Ibu masih hidup? Bunga kangen sama Ibu. Ibu kenapa engga pulang?"
"Ibu masih hidup? Kenapa enggak pulang? Hah maksudnya apa?" batinku bertanya-tanya.
"Kamu kenapa?" lagi-lagi aku bertanya.
Apalagi sekarang? Kenapa hidupku penuh di kejutkan dengan hal-hal yang di luar nalar ku?
"Ibu, Bunga kangen."
Aku menghela nafasku, lagi. Aku bertaruh kalau Ibu dari anak yang mengaku dirinya Bunga itu sudah meninggal, lalu entah kenapa dia menyangka kalau aku Ibunya. Mungkin ada sesuatu hal yang sama antara aku dan Ibunya?
Ah aku pusing sekali.
Perlahan ku terima pelukannya itu. Ku elus pelan rambut lurusnya itu. Sangat indah. Perlahan ia melepaskan pelukannya.
"Ibu kenapa engga pake kerudung?" tanyanya kala lepas dari pelukanku.
"Kerudung?" aku bertanya balik. Sungguh, aku bingung.
Oh, mungkin Ibunya yang sudah meninggal sering menggunakan jilbab? Gitu?
"Iya, Ibu selalu pake kerudung. Kenapa di lepas? Kerudung Ibu banyak banget di rumah, kenapa enggak di bawa?"
"Ah, gini. Nama kamu Bunga ya?"
"Ko Ibu lupa sama nama aku?"
Aku menggeleng dengan senyuman. Bagaimana caraku memberi penjelasan padanya?
Ku ajak Bunga agar duduk di kursi tepat di sebelahku. Ia menurut. "Bunga, aku bukan Ibu kamu. Mungkin kamu salah orang."
"Bukan Ibu Bunga? Tapi kamu mirip banget sama Ibu aku."
"Bukan. Jadi Ibu Bunga mirip banget sama aku ya?"
Ia mengangguk. Bulir air dari matanya kembali luluh jatuh pada pipi gembul nya itu.
"Bunga jangan nangis ya?"
"Bunga kira, Ibu."
Sorot mata pengunjung di cafe ini perlahan memperhatikan kami karena tangis Bunga yang tidak berhenti.
"Oke ... oke gini. Bunga boleh panggil aku Mama ya?" terpaksa.
Dia melihat ku dengan tatapan yang sangat dalam. Terlihat sangat dalam sampai aku bisa merasakan sedihnya. Aku juga sepertinya saat Ibu dan Ayah meninggal. Apalagi dia masih sangat kecil, mungkin lukanya akan sangat dalam melebihi luka ku.
"Boleh?" dia bertanya dengan nada yang sangat membuatku teriris.
Dia mungkin merindukan sosok Ibunya.
Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya. "Boleh dong, Bunga mulai sekarang udah punya Mama lagi. Yeay ... " sorak ku. Dia tertawa.
Syukurlah. Aku sangat senang melihatnya senang.
"Eh, Bunga sama siapa ke sini? Mau Mama anter ke rumah Bunga buat pulang?"
Ia menggeleng. "Enggak. Bunga abis dari rumah temen Bunga yang lagi ulang tahun. Mama nanti main ya ke rumah Bunga? Bunga mau nunjukin banyak baju-baju Ibu."
Perlahan senyumku mengembang. Aku mengangguk. Menyetujui ajakannya meski aku tidak tahu kita akan bertemu lagi atau tidak nantinya.
Tak apa, yang penting dia senang.
dn mudh lengket..mestinya Binar inijaga jarak dari mna2 lelaki kok mudh ya dpegang tangn nya Adeeeh...terlalu senang dhmpiri
💪💪💪💪💪💪💪
lanjut kak semangat terus up nya... penasaran Banget😁