NovelToon NovelToon
Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah sejarah / Persahabatan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jindael

Pulau Terlarang adalah tempat yang tidak jauh dari kota Guangzhou dimana ChengMai tinggal. Pulau itu diketahui menyimpan sebuah harta karun dari zaman dinasti Han. Para ilmuwan dan peneliti arkeologi serta perompak sekalipun ingin ikut mencarinya. Cerita ini akan berpusat pada sekelompok anak remaja yang mencoba ikut mencari harta karun di pulau tersebut. Bagaimana kisah selengkapnya? Siapa kelompok anak remaja itu? Dan akankah mereka berhasil melewati rintangan dan menemukan harta karun tersebut? Semua akan tertulis detailnya dalam cerita berikut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gao Ting Menjadi Kaka Cheng Mai

"Sial dimana bocah sialan itu," umpat Bos Yang kesal setelah masuk tak mendapati seorang yang di sekap nya ditempat.

"Haa Gou Ting kabur Bos." Sing yang baru saja masuk terkejut juga.

"Iya aku tahu, ah sudah lah biarkan saja. Kita juga balik aja ke kantor, cape semua badan ku. Sia-sia ke sini tak dapat apa-apa," ujarnya kesal.

"Iya Bos kita pulang saja," kata Sing menurut.

Sebelumnya, Gao Ting benar-benar sangat ingin melepaskan dirinya dan kabur. Dengan bersusah payah akhirnya tali yang mengikat tangan nya bisa terlepas. Ia pun berlari dengan sempoyongan keluar dari gudang hingga sampai ke jalan raya dan hampir saja tertabrak oleh Profesor Zhou. Karena lemas, Gou Ting akhirnya pingsan dan di bawa oleh Cheng Xin dan lainnya kembali ke kota.

...🔅🔸🔅✴️🔅🔸🔅...

Kini dirumah Cheng Mai, seseorang telah terkapar di kasur dengan kondisi yang sangat lemah. Dia adalah Gou Ting, pria yang hampir ditabrak oleh Profesor Zhou tadi disaat perjalanan menuju ke kota. Gou Ting ternyata dibawa oleh Cheng Xin ke rumah nya.

Tak lama sayup-sayup mata pemuda itu mulai terbuka, dirinya terlihat bingung dengan keberadaannya saat ini. Cheng Mai terkejut melihat pria muda itu sudah duduk bersandar sambil menatap langit-langit. Ia yang baru saja dari dapur untuk mengganti air hangat buru-buru menghampirinya.

"Syukurlah Kaka sudah sadar," ucapnya sambil menaruh baskom ke meja samping kasur. Lalu dengan segera ia berteriak memanggil ayahnya ditempat. "Ayah....Ayah Kaka ini sudah bangun, Ay--." Cheng berhenti memanggil karena Gou Ting bertanya.

"Kamu siapa? Dimana aku?" tanyanya sambil menatap dirinya dengan kebingungan.

"Ah aku anak pemilik rumah ini dan sekarang Kaka sedang di rumah ku. Kemarin kaka hampir ditabrak mobil kami lalu kaka tiba-tiba pingsan hingga akhirnya kami membawa Kaka ke sini," jelasnya Cheng Mai padanya.

"Cheng Mai!" panggil seorang yang baru saja masuk.

"Ayah, Kaka ini sudah sadar," tuturnya.

"Syukurlah bagaimana perasaan mu, Nak? Apa kau ingat kenapa dirimu bisa di tengah jalan kemarin? Dan apa kau mengingat nama mu?" Cheng Xin yang terlihat khawatir langsung memberikan pertanyaan bertubi-tubi padanya.

Gao Ting terdiam dan berpikir sejenak, "Aku Gao Ting dan kemarin aku tak ingat betul kenapa aku bisa berada di tengah jalan. Tapi seingat ku, aku....(Gou Ting mulai mengingat nya lagi) disekap oleh dua orang dan aku kabur setelah mereka pergi lama," lanjutnya antusias karena telah berhasil mengingatnya.

"Oh begitu, ya sudah kamu istirahat dulu si sini dengan nyaman ya," perintah Cheng Xin padanya.

"Baiklah Pak--," jawabnya mengangguk. Tampak pria itu berpikir lagi mengenai nama mereka.

"Panggil aku Cheng Xin dan ini Cheng Mai anakku," sambung Cheng Xin langsung.

"Oh baiklah Pak Cheng Xin dan Cheng Mai, terima kasih," ucapnya lagi sambil tersenyum dan mengangguk.

"Sama-sama. Jika kamu butuh sesuatu, panggil lah kami berdua," ujar Cheng Xin lalu beranjak dari duduknya.

Gou Ting mengangguk dan tersenyum ramah pada mereka lagi. Cheng Xin dan Cheng Mai lalu keluar dari kamar membiarkan pemuda itu istrirahat.

Di kamar, Gou Ting tidak benar-benar istrirahat, ia teringat dengan gadis yang disekap nya di gubuk tua kemarin. "Apa kabar dengan gadis itu? Sial sekali aku diculik dan tak bisa membebaskan gadis itu. Semoga dia baik-baik saja."

Sementara di sebuah rumah sakit, Bu Lin, Pak Kepala Sekolah dan dua teman Vivian sedang menunggu Vivian di periksa di dalam. Mereka terlihat sangat cemas dan khawatir, takut terjadi apa-apa padanya.

"Pak, apa sudah ada kabar lagi mengenai orang tua Vivian?" tanya Bu Lin lagi pada Pak Kepala.

"Sebentar akan ku coba telpon kembali," jawabnya agar Bu Lin tenang.

"Baik Pak, kasian dia," ucapnya. Pak Dong lalu melipir sebentar untuk menelpon orang tua Vivian kembali.

Tiba-tiba dokter yang memeriksa Vivian keluar dari kamar pasien. Bu Lin dengan sigap langsung bertanya mengenai kondisi muridnya itu. "Bagaimana Dok, keadaan murid saya?"

"Syukurlah dia hanya shock dan sekarang dia sudah siuman hanya butuh istirahat yang cukup saja," jawabnya.

"Baiklah Dok, terima kasih," ucap Bu Lin padanya. Dokter mengangguk dan pergi.

Bu Lin dan semuanya langsung masuk untuk menengok Vivian. Pak Kepala yang tadinya sedang menelpon orang tua Vivian juga segera ikut masuk ke dalam.

Vivian tampak duduk menyenderkan tubuhnya ke ranjang disaat Bu Lin dan lainnya masuk. Bu Lin langsung menanyakan kondisi muridnya itu. "Vivian bagaimana perasaan mu?"

"Sudah mendingan Bu, terima kasih," jawabnya lemas.

"Iya Nak. Oh iya ibu mau tanya orang tua mu kenapa susah kali dihubungi ya?" tanyanya ingin tahu.

"Buat apa ibu hubungi mereka, tak akan ada satupun dari mereka yang mengangkat nya. Mau aku mati pun mereka tak peduli, mungkin." Vivian langsung tampak kecewa dan sedih menjawabnya.

"Jangan bicara seperti itu Vivian, tak baik," tegur Bu Lin padanya.

Tak lama seseorang masuk dengan tergesa-gesa untuk melihat kondisi anaknya. Vivian terperanjat dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka ibunya yang paling sibuk ternyata datang mengunjunginya. Catrin Liu nama ibu Vivian, seorang model ternama yang ternyata sedang berada tidak jauh dari kota Guangzhou, China. Dia ternyata sudah tiba di China kemarin malam dan berlanjut jadwal ke kota Guangdong. Namun dirinya saat mau berangkat ke lokasi pemotretan, mendadak mendapat panggilan dari kepala sekolah putrinya. Dengan segera ia menuju bandara lagi dan terbang ke Guangzhou setelah mendapat kabar itu.

"Ibu...," panggilnya terkejut.

"Vivian sayang kamu tak apa-apa?" tanyanya khawatir langsung sambil memeluk putrinya.

"Vivian baik-baik saja Bu, tapi ibu kenapa...?' jawabnya lalu bertanya sambil melepaskan pelukan ibunya.

"Pak Dong tadi menelpon ibu, dan ibu langsung terbang ke Guangzhou setelah mendapat kabar kamu di larikan ke rumah sakit karena di culik, maafkan ibu karena terlalu sibuk," jelasnya.

"Vivian...." Seseorang berpakaian rapi dengan dibalut jas masuk secara tiba-tiba dan membuat semua yang ada disana terkejut..

"Ayah...," panggil Vivian lirih.

Ya ayah Vivian, Hwang Liu juga datang setelah mendapat pesan dari pak kepala sekolah. Ia yang baru saja turun dari bandara setelah menyelesaikan dinas nya di Jepang, tiba-tiba penasaran untuk membuka handphone-nya. Hwang sangat terkejut ketika melihat banyak notifikasi telpon dan WhatsApp di handphone miliknya. Dengan segera ia berlari ke mobil jemputan nya dan langsung menuju ke rumah sakit.

"Vivian kamu tak apa, Nak? Maaf ayah baru datang sekarang," tanyanya sambil meminta maaf dan memeluknya juga.

"Iya Yah, Vivian sudah sedikit baikan, terima kasih karena sudah datang untuk ku," ucap Vivian sedikit terharu.

Bu Lin yang berdiri di belakang mereka seketika berbisik pada pak kepala sekolah yang ada di sebelahnya.

"Pak Kepala berhasil ternyata," senggol Bu Lin padanya.

"Iya Bu, ku pikir mereka tak datang," ucapnya.

Kedua teman Vivian sangat senang melihat temannya tersenyum kembali setelah mendapat perlakuan hangat dari kedua orang tuanya. Tak mau mengganggu momen keluarga yang baru saja terkumpul kembali itu, Bu Lin mengajak yang lainnya pergi keluar. Namun sebelum itu, Bu Lin tak lupa untuk berpamitan dahulu kepada orang tua Vivian

"Permisi Bu Catrin, pak Hwang, kami permisi dulu silahkan ibu dan bapak jaga Vivian dengan baik ya," pamit Bu Lin mewakili yang lainnya.

"Iya Bu kami pasti akan menjaga Vivian dengan baik mulai sekarang, kami sadar kalau kami terlalu sibuk," jawab Catrin berjanji.

"Mulai hari ini juga, aku akan membatalkan semua janji ku pada klien," putus Hwang Liu seketika.

Eh. Vivian terkejut dengan keputusan ayahnya.

"Ibu juga akan membatalkan semua jadwal ibu dan akan memilih lebih fokus pada mu sayang," putus Catrin juga.

"Eh tapi apa tak apa?" tanya Vivian tak percaya.

"Tidak apa sayang, ibu dan ayah rela meninggalkan pekerjaan demi menebus kesalahan kami padamu, Nak," jawabnya sambil mengelus rambut anaknya lalu melirik ke suaminya. Hwang Liu mengangguk untuk menyakinkan putrinya.

"Terima kasih ayah, ibu," ucap Vivian senang.

"Syukurlah kalau begitu saya senang mendengarnya," sela Bu Lin merasa lega.

"Vivian, ibu dan Pak Kepala pamit dulu ya, jangan lupa istrirahat yang cukup," pamit Bu Lin lagi padanya sambil berpesan.

Vivian mengangguk menimpali. "Kita juga pamit ya om Tante, Vivian cepet sembuh biar kita bisa bersama lagi," pamit kedua temannya juga.

"Iya Kei, Fu Jie terima kasih," jawab Vivian mengangguk.

Selepas dari kejadian yang mengenai Vivian, kedua orang tuanya kini memilih untuk lebih fokus kepadanya dan secara segan-segan mereka membatalkan semua janjinya kepada para koleganya. Hwang dan Catrin tak menyesalinya karena itu untuk kepentingan anak mereka. Mereka berdua sudah meminta izin untuk mengambil cuti selama beberapa hari untuk mengurus anaknya, bermain dah menemaninya sebelum mereka kembali sibuk nanti.

...✳️❇️✳️❇️✳️❇️✳️...

Keesokan harinya, seseorang gadis dengan berpenampilan yang sangat cantik sudah berdiri di pintu rumah Cheng Mai sambil memencet bel rumah mereka.

Ting tong. Bel berbunyi tanda ada seseorang yang datang mengunjungi rumahnya. Cheng Mai yang sedang dikamar nya langsung membuka pintu rumah nya.

"Ka Fan Fan. Cheng Mai terkejut dan heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Ada apa pagi-pagi datang ke sini?" tanyanya.

Emm.... bukannya menjawab, Fan Fan malah celingukan melihat ke dalam. Cheng Mai yang melihatnya jadi heran dan bertanya-tanya tentang apa yang dicari olehnya sebenarnya

"Ka Fan kenapa? Mencari Ayah?" tebaknya bingung.

"Cheng Mai siapa yang datang?" Cheng Mai menengok kebelakang. Ternyata Gou Ting yang memanggilnya sambil mengelap rambutnya yang basah. Ia baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.

"Ah itu dia." Fan Fan tanpa permisi langsung menerobos pintu dan melewati Cheng Mai yang ada didepannya.

"Hai, kau sangat tampan ternyata," sapanya langsung sambil memandangi tubuh pria didepannya dari atas ke bawah. Ada rasa kagum disaat memandangi sosok pria didepannya itu.

"Ka Gou Ting," panggil Cheng Mai padanya.

"Cheng Mai siapa dia?" tanyanya karena tak tahu.

"Oh ternyata nama mu Gou Ting, hai aku Fan Zhou kamu bisa memanggil ku Fan Fan." Setelah mendengar Cheng Mai memanggil nama pria didepannya, ia tanpa basa-basi langsung memperkenalkan diri padanya.

"Hoo Fan Fan, hai!' ucap Gou Ting malu-malu sambil mengangkat tangan untuk membalasnya.

"Maaf Ka Gou Ting," kata Cheng Mai karena merasa tak enak.

"Ka Fan silahkan duduk, aku buatkan minum dulu," ujar Cheng Mai beralih ke Fan Fan.

"Cheng Mai, Kaka ke kamar dulu untuk ganti baju," pamit Gou Ting padanya lalu pergi.

"Silahkan Ka," jawab Cheng Mai sambil menuangkan air ke gelas.

"Wah pria yang tampan," ucap Fan Fan kagum sambil terus memandangi Gou Ting yang berjalan menuju kamarnya.

"Apa yang kau lihat?" Cheng Xin yang baru saja sampai rumah setelah berbelanja mengagetkannya.

"Pak Cheng kau mengejutkan ku," ucap Fan Fan tersadar.

"Kau kenapa disini, bukan kah dirimu sekarang harusnya sudah di laboratorium?" tanya Cheng Xin padanya.

"Iya tapi aku ingin menjenguk pemuda kemarin, ternyata dia sudah tampak sehat hehe," jawab Fan Fan terkekeh.

"Kau harus pergi ke sana sekarang jika tidak mau profesor menggantung dirimu di museum nanti," usir Cheng Xin dengan halus.

"Ah iya iya aku pergi kesana sekarang," jawab Fan Fan kesal lalu beranjak pergi. Cheng Xin hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah gadis itu.

"Padahal aku belum puas melihatnya, dasar menyebalkan," umpat Fan Fan sambil berjalan keluar meninggalkan rumah Cheng Xin.

"Ka Fan kemana Yah?" tanya Cheng Mai yang baru saja datang sambil membawa segelas jus dengan heran.

"Sudah ayah suruh pergi," jawabnya santai lalu mengambil jus yang ada ditangan putrinya dan meminum nya.

"Kenapa dia kan baru datang?" tanyanya ingin tahu.

"Dia ada sesuatu yang perlu di urusnya kalau tak mau dirinya kena marah ayahnya," jawab Cheng Xin sambil meletakkan gelasnya ke meja.

"Oh begitu," jawab Cheng Mai lalu ikut duduk.

"Ha Ayah haus," tebaknya sedikit terkejut melihat jus yang dibawanya sudah ludes diminum.

"Heem, oh iya mana Kaka mu?' Cheng Xin mengangguk dan bertanya.

"Siapa Kaka ku?" Cheng Mai terlihat bingung dengan pertanyaan ayahnya.

"Gao Ting. Mulai sekarang dia adalah kakamu," jawabnya.

"Maksud Pak Cheng apa?" tanya Gou Ting yang baru saja datang dari kamar. Ia lalu ikut duduk untuk mendengar penjelasannya.

"Kau tak punya rumah kan? Kau juga sudah tak punya siapa-siapa?" tanya Cheng Xin memastikan.

Gou Ting mengangguk, "Terus?"

"Kamu akan ku angkat jadi saudara Cheng Mai dan sekaligus menjadi asisten ku dalam menulis," sambung nya.

"Benar kah?" tanyanya senang.

"Iya," jawab Cheng Xin mengangguk.

"Yee aku punya Kaka tampan hehe," sorak Cheng Mai senang dan tanpa sadar dirinya memuji Kaka barunya itu.

"Cheng Mai...," tatap Cheng Xin langsung padanya.

"Maaf ayah," ucap Cheng Mai menunduk.

"Tak apa," jawab ayahnya sambil mengusap rambut lembut putrinya dengan senyuman.

Gou Ting akhirnya sekarang memiliki keluarga baru. Cheng Xin tak ragu-ragu mengangkat dirinya sebagai anaknya dan sekaligus asisten untuk membantu dirinya dalam menulis. Cheng Xin untuk sementara belum mengetahui bahwa Gou Ting adalah adik Gou Gou, perompak yang pernah membuat dirinya dalam kesulitan ketika di Pulau Terlarang dulu.

...💠🔹💠🔹💠🔹💠...

Hari demi hari, kondisi Gou Ting semakin membaik. Dia bahkan selalu bangun pagi untuk melatih kebugarannya. Setelah selesai olahraga dia lalu bersiap memakai baju milik Cheng Xin yang sudah tak muat lagi olehnya. Siang ini, dirinya ada jadwal bertemu Cheng Xin di sebuah restoran. Cheng Xin akan menunggunya setelah dirinya pulang dari kantor penerbit. Ini ternyata hari ke 50 ia menyetorkan naskahnya ke sana.

Gou Ting sekarang sudah sampai di restoran yang ditujunya. Ia lalu masuk ke sebuah restoran hot pot yang bernama Wuu's Restaurant di Tianhe East Road. Gao Ting langsung menemukan Cheng Xin yang tengah duduk sambil memesan menu untuk mereka berdua.

"Pak Cheng!" Panggil Gou Ting cukup keras agar yang dipanggilnya mendengar. Tak lupa ia juga melambaikan tangannya agar Cheng Xin melihatnya.

"Ai Ting'er!" Cheng Xin yang mendengar nya, mengangkat tangannya dan langsung mengajaknya untuk menuju ke tempatnya segera.

"Apa Bapak sudah menunggu lama?" tanya Gou Ting sambil menyeret kursinya lalu duduk di hadapannya.

"Tidak, aku juga baru sampai," katanya sambil tersenyum.

"Oh syukurlah," ucap Gou Ting lega. Ia takut jika Cheng Xin menunggu nya lama.

Disaat mereka mau mulai mengobrol, tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka berdua dari belakang Gou Ting. "Waw waw siapa ini, waw Gou Ting kau ternyata berhasil lolos dari ku ya," ucapnya sambil bertepuk tangan lirih. Gao Ting tampak sedikit bingung dan mencoba mengingat dua orang yang sedang berjalan menghampiri dirinya. "Ah orang itu," gumamnya lirih.

"Bos Yang, Sing, maksudnya?" Cheng Xin tampak bingung setelah dirinya menengok kebelakang.

"Mereka yang sudah menyekap ku kemarin, Pak," tutur Gou Ting langsung dengan yakin.

"Hee Cheng, selamat kau menang lagi dari kami, jika kau tak datang ke desa itu pasti harta peninggalan pangeran Liu He akan menjadi milikku," ucap Bos Yang sinis padanya.

"Senang melihat mu sehat Cheng," sapa Sing lirih. Ia lalu mengajak bos nya pergi menjauh saja karena tak ingin ada keributan disana.

"Ayo Bos jangan ganggu mereka, kita kesini untuk makan siang," ajaknya mendorong tubuh bosnya pelan. Bos Yang yang belum puas bicara terpaksa menyimpan ucapannya dan menurut untuk pergi.

"Hai kalian disini juga!" sapa seorang gadis dengan pakaian jas putihnya pada Cheng Xin dan Gou Ting. Sementara bos Yang dan Sing sudah pergi menjauh dari tempat mereka.

"Fan Fan?" Cheng Xin terkejut dengan kehadirannya.

"Hai!" Sapa Gou Ting malu-malu padanya.

"Sedang apa kamu disini?" tanya Cheng Xin langsung.

"Aku, aku sedang makan siang juga disini bersama teman ku disana. Tapi ia sedang ke toilet sekarang. Boleh ku duduk sini sebentar?" jawabnya sambil menunjuk ke depan lalu menawarkan dirinya untuk ikut bergabung bersama.

Gou Ting langsung menyeret kursi yang ada disebelahnya untuk Fan Fan.

"Ooh terima kasih," ucap Fan Fan sambil tersenyum senang. Gou Ting membalas dengan senyumannya juga.

"Pak Cheng bagaimana bukunya?" Gou Ting bertanya kepada Cheng Xin karena ingin tahu tentang perihal bukunya.

"Syukurlah sudah berhasil diserahkan," jawab Cheng Xin sambil meminum air putih yang sudah tersedia di sana.

"Bagus kalau begitu, ah iya aku baru ingat. Kampus ku mengadakan acara mendaki bersama ke Dataran Tinggi Tibet. Kalian ikut ya, Kakek Zhang dah ayahku juga ikut, em ajak sekalian anak mu dan teman-temannya kita kesana rame-rame," sela Fan Fan sambil turut mengundang mereka berdua untuk hadir di acara kampusnya.

"Dataran Tinggi Tibet?" ucap Gou Ting lirih, "benarkah kita boleh ikut kesana?" tanyanya memastikan.

"Heem." Fan Fan mengangguk mengiyakan.

"Nah makanan sudah datang, mari makan," ajak Cheng Xin langsung setelah pelayan restoran datang sambil menaruh pesanan miliknya di meja.

"Ok kalau begitu aku pergi dulu, ingat untuk datang ya," pamit Fan Fan sambil beranjak.

"Kamu tak ikut makan bersama kami?" tanya Gou Ting padanya.

"Aku sudah selesai, bye," jawab nya lalu pergi sambil melambaikan tangan pada mereka.

Cheng Xin dan Gou Ting menatap kepergian Fan Fan dan setelah itu mereka mulai menyantap makanan siangnya. Gou Ting menyantap makan dengan bahagia begitu juga Cheng Xin, ada canda tawa diantara mereka. Bukit Tibet? Sepertinya petualangan baru akan segera di mulai lagi.

Bersambung......⚜️⚜️⚜️

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semangat Cheng Mai,
kamu pasti bisa 💪😁
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ternyata ada jg biksu yg tergoda dgn harta 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lonceng emas palsu, wah jangan" mau dijual nih 🤭
Ida Kitty
syukurlah.. akhirnya semua terungkap.. hmm.. kyaknya othornya pantesnya jadi detektif nih, Krn selalu bisa memecahkan semua masalah.. 👍🤗
Ida Kitty
udah.. ngaku j kalian. gak usah banyak omong lagi..
Ida Kitty
ishh..rasanya pengen banget ku getok pala botakmu tuh biksu sho.. 😠
🟢𝐀⃝🥀🥑⃟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘjinda❀∂я🤎: getok aja ka aku ikhlas kok wkwk
total 1 replies
Ida Kitty
ohh... jadi mereka krj sama.. ishh.. q kok baru ngeh y.. 🤭
Ida Kitty
syukurlah mereka bisa melepaskan tali yg mengikat mereka. ikut lega liatnya..
lagi ngebolang buu
🟡Ney Maniez
asikkk mendakiii bareng tmn2,,, aku suka tantangan👍👍💪💪
Ida Kitty
loh, biksu meng ternyata jahat toh.. 😯
ishh.. jadi penasaran nih lanjutannya. jgn lama2 y k jinda up nya.. penasaran nih...🙏
‎◌ᷟ⑅⃝ͩ●‎𝓐𝔂⃝❥Jin❀∂я❀ ⃟⃟ˢᵏ●⑅⃝ᷟ
Biksu Meng terlihat mencurigakan dari awal, apa iya lonceng itu sengaja diganti olehnya
Ida Kitty
wah, teliti juga y jin Mai...🧐
‎◌ᷟ⑅⃝ͩ●‎𝓐𝔂⃝❥Jin❀∂я❀ ⃟⃟ˢᵏ●⑅⃝ᷟ
Jin Mei meragukan lonceng pengabul ada apa ya?
‎◌ᷟ⑅⃝ͩ●‎𝓐𝔂⃝❥Jin❀∂я❀ ⃟⃟ˢᵏ●⑅⃝ᷟ
kepala biksu sangat baik pada para pengunjung nya walau lagi sibuk, masih nyempetin waktunya untuk menemani mereka
‎◌ᷟ⑅⃝ͩ●‎𝓐𝔂⃝❥Jin❀∂я❀ ⃟⃟ˢᵏ●⑅⃝ᷟ
wih hari yang tepat tidak hanya berdoa tapi bisa sekalian nikmatin festival
‎◌ᷟ⑅⃝ͩ●‎𝓐𝔂⃝❥Jin❀∂я❀ ⃟⃟ˢᵏ●⑅⃝ᷟ
Pada mu ke kuil minta doa banyak-banyak ya sapa tau ada yang terkabulkan hihi
Ida Kitty
pengen sih k jinda.. tapi klu muslim gak boleh lah ya..
Ida Kitty
iy, mintalah banyak2 kalian ya.. 🤭
Ida Kitty
mkn juga penting loh, klu perut lapar.. biasanya apa2 gak khushuk.. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!