NovelToon NovelToon
Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda

Status: tamat
Genre:Romantis / Diam-Diam Cinta / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dokter / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Syafitri wulandari

Fathan Samudra (40 tahun) adalah seorang duda dengan anak satu, bertemu dengan Tri Hanum Pratiwi (30 tahun) dengan tidak di sengaja di parkiran supermarket karena ingin menolong Tri dan pria paruh baya yang babak belur karena ingin menolong majikan mereka yang di culik. Tak di sangka pertemuan mereka membawa Fathan merasakan cinta kembali setelah menduda 5 tahun lamanya. Cika Lestari, anak dari Fathan sangat menyukai Tri hingga membuat Fathan berkesempatan untuk bertemu Tri setiap hari. Fathan juga meminta Tri untuk mengasuh anaknya di saat ia sedang bekerja sebagai dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta. Tri yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Mahendra hanya bisa menjaga Cika beberapa jam karena sebenarnya Tri sangat menyukai anak kecil, terlebih sudah tiga kali Tri gagal menikah padahal ia sudah sangat ingin mempunyai anak di usianya yang sudah berkepala tiga. Akankah Fathan bisa mengejar cinta Tri? Akankah Tri terjerat pesona sang dokter duda atau Tri malah menghindar karena status sosial mereka yang berbeda?

ikuti kisah mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 (Teka-Teki)

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....

...Happy reading...

*****

Tri menatap suaminya yang sudah tertidur lelap sehabis mereka bercinta dengan sangat panas. Tri tersenyum membayangkan bagaimana Fathan selalu mengajarkan hal-hal yang baru dalam bercinta seperti malam ini, walaupun ada drama karena kedatangan Zayden akhirnya Fathan bisa bermanja dengan sang istri setelah Zayden di jemput oleh Zidan.

Fathan membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum melihat sang istri yang belum tertidur padahal adegan mereka tadi membuat mereka kelelahan. Fathan memeluk Tri dengan erat dan mencium kening Tri dengan sayang. "Kenapa belum tidur hmm?" tanya Fathan dengan suara seraknya.

Kepala Tri bersandar di dada bidang Fathan. Tri masih tidak percaya jika Fathan adalah suaminya sekarang maka dari itu ia masih menatap Fathan dengan takjub karena Fathan tertidur disebelahnya.

"Mau di peluk!" ucap Tri dengan manja membuat Fathan terkekeh dan memeluk Tri dengan erat.

"Besok bisa ikut ke rumah sakit?" tanya Fathan dengan mengelus punggung polos Tri dengan lembut.

Tri mendongak menatap wajah Fathan dengan serius. "Mau ngapain Mas? Nanti Cika siapa yang jemput kalau aku ikut Mas ke rumah sakit?" tanya Tri dengan lembut.

"Mas mau punya anak dari kamu. Kita program hamil ya," ujar Fathan dengan sorot mata yang penuh harap.

Tri terdiam beberapa saat lalu ia tersenyum dan mengangguk yang membuat Fathan merasa bahagia.

"Besok Mas yang langsung menangani kamu, Hanum. Mas sudah tidak sabar ingin memiliki anak dari kamu," ujar Fathan dengan bahagia.

"Aku juga, Mas!" jawab Tri dengan haru karena ternyata Fathan sangat menginginkan anak darinya.

Wajah yang tadinya bahagia karena melihat ketulusan dan keinginan suaminya berubah menjadi sendu ketika mengingat pernikahan mereka masih dirahasiakan. Lalu bagaimana jika Tri hamil? Bukankah mama Fathan akan semakin membencinya dan menganggap dirinya wanita murahan? Mengingat itu Tri menelan ludahnya dengan kasar.

"Tapi kalau aku hamil bagaimana dengan mama dan papa kamu, Mas? Mereka pasti semakin membenciku nantinya," gumam Tri dengan lirih.

"Masalah itu kita pikirkan belakangan, Sayang. Mas akan berusaha membuat mereka mau menerimamu nantinya, mungkin dengan kehadiran cucu mereka akan berubah," ucap Fathan dengan tegas.

Hati yang gundah sedikit tenang karena Fathan selalu bisa membuat dirinya merasa nyaman dan menjadi wanita yang sangat beruntung karena Fathan sangat menyayangi dsn peduli kepadanya. "Sekarang tidur ya ini sudah sangat malam. Atau mau tambah satu ronde lagi? Mas gak masalah jika untuk itu," ujar Fathan dengan terkekeh.

"Mau tidur saja, Mas. Aku sudah sangat lelah!" ujar Tri semakin masuk ke dalam pelukan Fathan yang sangat hangat.

Fathan tersenyum dan memeluk Tri semakin erat, ia kembali memejamkan matanya kala tak lama mendengar suara hembiusan napas Tri yang mengenai dadanya. Fathan dengan mati-matian menahan hasrat dan gairahnya saat hembusan napas Tri sangat membuatnya merinding.

"Kamu akan tetap menjadi istri Mas satu-satunya, Hanum. Tidak ada Tiara atau pun wanita lain. Kamu dan Tika adalah istri yang menempati tahta tertinggi di hati Mas. Jika mereka menolak kehadiran kamu maka Mas akan memperjuangkan kamu sampai titik darah penghabisan."

****

Brak...

Zidan masuk ke ruangan Fathan tanpa permisi yang membuat Fathan mendengus sebal. Untung saja dirinya sudah selesai memeriksa istrinya dan ada sedikit adegan panas di dalam ruangan ini. Zidan menatap istri Fathan dengan tersenyum tipis, walaupun usianya sudah berkepala tiga, Tri terlihat seperti wanita usia 22 tahun dan Zidan akui itu.

"Jangan menatap istri gue seperti itu! Lo sudah punya Tiara!" dengus Fathan tidak suka saat ada yang menatap istrinya seperti itu padahal pakaian Tri hanya sederhana saja.

"Benerin dulu tuh resleting celana baru bisa marah ke gue!" ujar Zidan tak mau kalah.

Shittt. Sialan Zidan! Kenapa juga resleting celananya masih terbuka?

Jangan ditanya lagi bagaimana wajah Tri saat ini tentu saja malu. Pasalnya setelah Fathan memeriksanya, lelaki itu mengajaknya bercinta di ranjang pasien. Fathan terlihat seperti dokter c*bul bukan? Tetapi untung saja Fathan melakukannya dengan sang istri jadi mau dimana pun tempatnya yang terpenting mereka sudah halal.

Zidan terkekeh. "Gak tau tempat lo!" sindir Zidan yang membuat Fathan semakin mendengus sebal.

"Tidak usah mendengarkan ucapan calon duda ini, Hanum. Dia begitu karena sudah lama tidak merasakan kehangatan," ujar Fathan dengan santai dan kali ini Zidan yang mendengus dan menatap Fathan dengan sebal.

"Aku malu, Mas! Lelaki ini tidak tahu jika aku istri Mas!" bisik Tri dengan takut.

"Tidak perlu takut. Ini Zidan, dia sudah tahu tentang pernikahan kita," ujar Fathan yang membuat Tri merasa sedikit lega.

"Kamu istirahat di sana saja dulu, Hanum. Mas mau berbicara dengan Zidan setelah selesai kita akan menjemput Cika bersama," ucap Fathan dengan lembut.

"Iya, Mas!" Tri menurut ia duduk di sofa yang memang berada di ruangan Fathan yang cukup luas sambil menunggu suaminya itu selesai berbicara dengan Zidan.

Setelah melihat jika Tri sudah duduk nyaman, Fathan menatap sahabatnya dengan serius. "Kenapa?" tanya Fathan.

Zidan menghela napasnya dengan perlahan lalu mengeluarkan benda pipih yang ia temukan di kamar Tiara kemarin malam. "Gue nemuin ini di kamar Tiara," gumam Zidan memperlihatkan taspack kepada Fathan.

Fathan mengambilnya, ia meneliti testpack tersebut. "Taspack ini terlihat sudah usang," gumam Fathan.

"Jangan bilang ke gue kalau lo dan Tiara pernah melakukan itu?!" ujar Fathan dengan tatapan penuh selidik.

Zidan mengangguk dengan pasrah tidak ada yang ia tutupi dari Fathan. "Sebelum gue pergi ke Singapura!" jawab Zidan dengan lirih.

"Tiara hamil anak lo?" tanya Fathan dengan syok.

"Kemungkinan besar iya karena gue yang pertama kali memgambil kesuciannya. G-gue sangat merasa bersalah jika benar Tiara hamil dan gue tinggalin dia begitu saja, ini berat banget untuk Tiara," ujar Zidan dengan lirih.

"Kemana anak kalian? Karena selama lima tahun ini gue gak pernah lihat Tiara bawa anak! Memang dia ada di Paris tetapi ini masalah besar dan gak mungkin Tiara pendam sendiri," ujar Fathan dengan serius. Ia menjadi kasihan dengan Tiara yang menanggung beban begitu berat.

"Tiara tidak gampang terbuka dengan orang lain! Hanya dengan gue di bisa tebih terbuka seperti itu, Fathan. Seluruh hidupnya dia sudah bergantung dengan gue. Sekolah, makan, tidur, semuanya gue yang handle dan ketika gue pergi dia menjadi bingung dan tidak harus berbuat apa. Ini salah gue, seharusnya waktu itu gue bawa Tiara ke Singapura," ujar Zidan dengan sendu.

"Hanya ada dua kemungkinan anak kami masih hidup atau sudah meninggal. Teka-teki ini buat gue pusing, belum lagi sifat Tiara yang berubah-ubah. Lo sadar gak sih ekspresi Tiara gampang banget berubah seperti memiliki dua kepribadian di dalam dirinya," ujar Zidan dengan serius.

"Maksud lo Tiara mempunyai dua kepribadian begitu?" tanya Fathan.

"Antara dua, kepribadian ganda atau alter ego. Mengingat kehidupan Tiara yang seperti ini gue merasa Tiara menciptakan karakter lain dalam dirinya untuk menemani rasa kesepiannya selama ini. Kalau sempat dugaan gue benar gue gak akan maafkan diri gue sendiri," ujar Zidan dengan frustasi.

"Kemungkinan Tiara mempunyai alter ego?" tanya Fathan dengan pelan.

Zidan mengangguk. "Lo tahu kan dulu bagaimana istri lo dan Tiara dibanding-bandingkan dengan kedua orang tuanya? Tiara selalu cerita ke gue kalau apa yang dilakukan oleh orang tuanya sangat menyakiti hatinya. Padahal mereka sama-sama anak kandung kenapa harus dibedakan seperti itu, keduanya sama-sama baik, pintar, penyayang. Lalu kenapa masih dibedakan? Gue gak habis pikir dengan kedua orang tua Tiara sampai sekarang. Jika di tanya siapa yang paling berarti di hidup Tiara saat itu jawabannya adalah gue tetapi gue menghancurkan hatinya lebih dalam. Andai waktu bisa diulang gue akan bawa Tiara kemana pun gue pergi. Saat itu gue pikir dengan kepergian gue orang tua Tiara bisa sayang dengan Tiara, tetapi semua itu hanya ekspetasi gue karena orang tua Tiara tetapi tidak menyayangi Tiara! Gue menyesal telah meninggalkan Tiara seorang diri dan sekarang Tiara benci ke gue," ujar Zidan dengan hembusan napasnya yang terdengar sangat berat.

"Gue banyak menemukan sesuatu yang gue belum tahu sebelumnya. Tiara mengkonsumsi pil anti depresan dengan jumlah yang sangat banyak di lacinya, dan obat itu gue sita sekarang. Gue gak mau Tiara tergantung dengan obat itu dan satu benda yang saat ini belum gue buka adalah buku diary-nya. Gue takut kalau gue baca itu gue akan menemukan sesuatu hal yang lebih menyakitkan dari pada ini. Orang yang gue cintai hancur karena kesalahan dan kebodohan gue," ujar Zidan dengan lirih.

Fathan menepuk pundak Zidan memberikan suport untuk sahabatnya. "Gue yakin lo bisa mendapatkan Tiara dan membuat gadis itu seperti dulu. Jika anak lo masih hidup gue doakan kalian segera berkumpul, bahagiakan Tiara karena sejak kecil dia sudah merasa tersisihkan!" ujar Fathan dengan bijak.

"Gue akan menebus semua kesalahan gue ke Tiara tidak peduli saat ini dia membenci gue," ujar Zidan dengan penuh tekad.

"Gue mau jemput anak gue. Lo bisa keluar sekarang!"

"Lo ngusir gue?"

"Bisa dibilang begitu!"

"Sial*n!"

1
⚊28`ʂყʅυʂ★
Luar biasa
Lisa Lie
Biasa
Lisa Lie
Kecewa
Een Sunita
Biasa
Een Sunita
Luar biasa
Een Sunita
biarlah anak ttplah anak...haidar nikah lgi aja.heee
Een Sunita
pergila zevana...makanya jgn suka memaksakan cinta
Een Sunita
Daniel cari wanita yg pantas jgn puka anaknya jesika...yg rela apa saja demi memiliki suami org..pkknya saya plg anti pelakor...
Een Sunita
baguslah naura pergi memang tomy jga jdi korban maknya yg minta di nikahi...tomykan sdh punya keluarga sendiri..ikbal dan claudia..
Een Sunita
biarlah zeva meninggal dan haidar ketemu gadis lain yv bener2 di cintainyai wlwpn ada anak haidar...haaa
Een Sunita
Lumayan
Een Sunita
zeva harus di gituin hbsnya egois bgt jdi org...
Een Sunita
Lumayan
Een Sunita
kenapa keturunan zidan dan tiara gak ada yg beres y...rasain zeva
Een Sunita
Lumayan
Maizuki Bintang
bgs
nurdiani rudi
luar biasa
nurdiani rudi
mewek lagi deh
nurdiani rudi
lagi² goe nangis karna mu thor
nurdiani rudi
aku tidak rela demi apapun aku tidak rela haidar kembali sama zeva thour
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!