Disarankan untuk membaca "Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda" dan "Remember Me, Baby" lebih dulu agar bisa memahami alur ceritanya. Terima kasih.
Raymond Dawson: "Jangan menangis lagi ... aku yang salah ... tolong maafkan aku. Kali ini, izinkan aku untuk mencintai dan menjagamu dengan benar."
Lorie: "Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Ingin mencintai pria yang sederhana, yang bisa membantuku mencuci piring dan mengurus anak."
Setelah melewati masalah yang rumit, akhirnya Raymond dan Lorie berkencan. Akankah hubungan itu mulus hingga ke jenjang pernikahan?
Lalu, bagaimana dengan Daniel Hill yang menginginkan cinta Dokter Ana? Apakah dia akan berhasil mematahkan teori cinta wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Dilihat dari luka lepuh itu, sepertinya Raymond tidak langsung mengobatinya. Permukaan kulitnya sudah berwarna kecokelatan dan sedikit menggembung.
Lorie melepaskan diri dan menuntun Raymond duduk di kursi tanpa mengucapkan apa pun. Sikapnya yang tiba-tiba berubah itu membuat Raymond keheranan.
“Ada apa?” tanya pria itu sambil menatap kekasihnya yang mendadak menjadi pendiam.
“Tunggu di sini sebentar.”
Lorie keluar dari dapur, lalu kembali tak lama kemudian sambil membawa kotak obat. Ia duduk di samping Raymond, membuka kotak obat dan mengeluarkan kapas dan cairan anti bakteri, juga salep untuk luka bakar. Setelah membasahi kapas dengan cairan anti bakteri, Lorie mengusapkannya dengan hati-hati di sekitar luka lepuh di lengan Raymond. Ia menunggu hingga permukaan kulit itu kering, lalu mengolesinya dengan salep untuk luka bakar.
Sepanjang proses itu, Raymond tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia hanya menunduk dan memperhatikan semua gerakan Lorie dengan tatapan yang intens. Mengapa serangkaian perhatian kecil ini mampu membuat jantungnya berdegup tak beraturan? Udara seolah memadat dan ia hampir kehabisan napas.
“Kamu ini dokter, bagaimana bisa bersikap ceroboh seperti ini? Seharusnya kamu obati sebelum melepuh seperti ini,” gumam Lorie setelah menutup luka itu dengan plester steril yang khusus diberikan oleh Dokter Ana untuk dirinya.
Sudut bibir Raymond berkedut mendengar omelan yang dibalut dengan perhatian dari kekasihnya itu. Mendadak lengannya tidak terasa sakit lagi. Ia tersenyum seperti orang bodoh dan tidak melepaskan tatapannya dari wajah Lorie.
“Kenapa tersenyum seperti itu? Lenganmu yang terbakar tapi otakmu yang melepuh?” tanya Lorie dengan kesal ketika menyadari Raymond tidak merespon ucapannya dan malah bersikap konyol.
“Aku suka kamu memarahiku seperti ini.” Raymond bergumam bergumam sambil merengkuh Lorie hingga kekasihnya itu terduduk di pangkuannya. "Luka ini bukan masalah, aku hanya bercanda denganmu tadi ... ini tidak sakit sama sekali.”
“Ray ....”
Lorie menggeliat untuk melepaskan diri, tapi Raymond merangkul pinggangnya makin erat. Dengan jarak sedekat itu, mereka bisa mencium aroma tubuh satu sama lain, juga hawa panas yang menguap entah dari mana, membawa gelenyar aneh yang membuat mereka sama-sama menelan ludah dengan susah payah.
“Biarkan aku memelukmu sebentar, ya,” pinta Raymond seraya menempelkan kepalanya ke lengan Lorie.
Lorie mengerjap pelan, menatap puncak kepala yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya itu dengan sorot yang tak terbaca.
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana gambaran seperti ini datang dalam mimpinya di malam hari, dalam khayalnya dari pagi hingga petang ... hanya Tuhan yang tahu ....
Tanpa sadar satu tangannya terulur naik dan mengusap rambut yang bergelombang itu dengan penuh rasa sayang. Wajahnya yang jarang menampilkan ekspresi kini melembut. Ada semburat merah muda di pipinya. juga senyum tipis yang mengambang di bawah cahaya keemasan lampu dapur.
“Kamu tidak perlu menjadi seperti Tuan Alex, kamu tahu?” ucap Lorie tanpa menghentikan gerakannya mengusap kepala Raymond. “Aku menyukaimu karena dirimu. Jangan berusaha untuk menjadi orang lain ....”
“Kamu tidak keberatan kalau aku tidak piawai memasak?” tanya Raymond seraya mendongak, menatap Lorie dengan sedikit ragu.
Lorie menggeleng mantap sambil berkata, “Tidak.”
“Aku tidak memiliki kekayaan dan kehebatan seperti Alex Smith atau Daniel Hill.”
“Aku tidak mempermasalahkannya.”
“Aku ... aku bahkan tidak bisa menjagamu dengan baik. Lorie, kadang aku merasa aku tidak sepadan denganmu. Tapi seperti yang sudah aku katakan kepadamu sebelumnya, aku akan berusaha menjadi pasangan yang layak untukmu, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk—”
“Hey ... sssht ....”
Lorie menghentikan ucapan Raymond. Ia menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya, lalu menunduk dan menciumnya dengan sepenuh hati, berharap agar Raymond bisa merasakan cinta tulus yang ia miliki untuk pria itu.
“Raymond Dawson, kamu tidak perlu menjadi seperti siapa pun untuk bersamaku. Aku mencintaimu dan kepribadianmu, bukan karena harta atau kekuasaanmu,” ucap Lorie setelah berhasil meredakan deru napasnya yang berantakan.
Raymond yang masih terkejut kini menatap kekasihnya dengan linglung. Apa-apaan itu barusan? Lorie baru saja berinisiatif untuk menciumnya?
Raymond belum selesai menata hati dan keterkejutannya, Lorie sudah kembali berkata, “Menikahi pria kuat dan berkuasa itu terlalu melelahkan, akan ada terlalu banyak saingan cinta, sedangkan aku sangat egois. Aku tidak ingin kekasihku menarik perhatian wanita lain. Aku tidak ingin berbagi dengan siapa pun.”
Raymond megap-megap seperti seekor ikan yang terdampar di daratan. Setelah ciuman, lalu semua kata-kata rayuan yang memabukkan ini. Ia merasa terhipnotis dan jantungnya seolah akan meledak kapan saja.
“Aku menginginkanmu, Ray ... pria biasa yang istimewa untukku. Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Aku ingin mencintai pria yang sederhana, yang membantuku mencuci piring dan mengurus anak. Apakah itu cukup untuk membuatmu merasa layak menjadi pasanganku?”
Pria yang sedang terbengong itu akhirnya berkedip dan menemukan kembali kesadarannya. Ia bangun tiba-tiba hingga membuat Lorie terkejut dan refleks memeluk lehernya. Sebelum wanita itu sempat melawan, Raymond sudah menggendong dan menekannya ke atas meja, tidak peduli jika beberapa barang terpelanting dan berjatuhan ke lantai.
Lorie yang tidak menyangka ucapannya akan menimbulkan reaksi sebesar itu hanya bisa pasrah ketika bibir Raymond melahapnya dengan sangat rakus. Saat ini, ia merasa sedang menjadi santapan makan malam untuk seseorang.
**
ayolaaaaah..akhiri ini semua😭😭😭
dengan Keiko. ingat cerita tentang Kinara Lee
dari judul cerita yg sebelum-sebelumnya sama ...sangat menarik.
dah berapa tahun yaa...? aku cari di sebelah gak ada. sampai akhirnya kangen kembali ke sini langsung cari lagi judul ini. eh..ketemu.