Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANTI RUGI
"Ris, kondisikan matamu!" desis Bu Helen menarik lengan Haris agar tak terlihat terpesona oleh Renata. "Dia pasti dapat baju itu dari hasil kotornya. Kamu jangan terperdaya!"
Bu Helen mencubit lengan Haris agar anak lelaki kesayangannya itu sadar akan kedua matanya yang menatap lekat pada sosok Renata yang walau pincang tapi tetap nampak cantik.
"Kamu beli baju baru, Ren? Dari hasil apa? Kotor apa bersih?" tanya Haris menatap wanita yang sudah dekat itu dari atas ke bawah.
Renata tak menjawab. Dia malah melewati kedua orang itu lalu membuka pintu rumah kontrakan. Haris dan Bu Helen mencium bau elegan dari tubuh Renata yang terkena angin dan menerpa hidung mereka. Sial sekali, bau itu sangat wangi.
"Ren, cari uang memang wajib saat bercerai dengan suami, tapi ya ... jangan seperti itu caranya. Kamu mendingan cari uang yang halal, Ren," tegas Bu Helen, berniat memberitahu Renata tentang jalan yang lurus.
Renata berhasil membuka pintu setelah dua orang itu membiarkannya berupaya keras menopang tubuh dan memutar kunci. Dia berbalik menatap tajam ke wanita paruh baya yang mulutnya sangat pedas bak bubuk cabe level seratus itu.
"Bu, Ibu punya mulut sama otak nggak halal, ya? Kerjaannya mikir yang nggak-nggak sambil ngomongin orang aja. Inget dosa, Bu. Lihat tuh banyak orang seumuran Ibu yang memilih giat ke masjid, ngaji. Daripada bingung mikir kerjaan orang!" omel Renata. Tak peduli, wanita itupun sekarang tak perlu dihormati lagi.
"Eh, ini anak. Kamu bicara sama siapa, heh?" tanya Bu Helen meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Siapa? Mertua? Bukan, 'kan?" tantang Renata yang memang sudah memupus pernikahan, bahkan palu belum diketok, dia sudah tak sudi menganggap mereka lagi.
Wajah Bu Helen merah padam. Memang benar kata Renata, dia bukan siapa-siapa Renata lagi jika nanti hakim memutuskan dua orang itu bercerai dan itulah harapannya. Namun, mantan menantunya itu sedikit berubah. Dia nampak lebih keras dari sebelumnya. Bu Helen hanya melengos, tak menanggapi lagi.
"Mau apa kalian ke sini? Bukankah semua barang sampai baskom tempat sarang semut pun kalian bawa?" tanya Renata.
Haris yang sedari tadi memegangi pundak ibunya sekarang berbicara. Renata tak memberi mereka kesempatan untuk masuk ke rumah.
"Ren, apa kami nggak bisa masuk? Kamu jangan di tengah-tengah pintu seperti itu, nggak enak kami di depan dilihat tetangga," ujar Haris celingukan. Namun, tak ada orang yang melihat mereka. Rumah kontrakan itu berjarak hanya satu setengah meteran dari tembok tetangga yang menjulang tanpa ada jendela. Jadi tak mungkin ada yang mengetahui pembicaraan mereka.
"Iya, Haris juga kan yang bayar!" gerutu Bu Helen judes melipat tangannya, menempel di depan dada.
Renata menggeser sedikit tubuhnya agar kedua orang itu bisa masuk. Percuma juga karena tak ada karpet untuk duduk. Semua sudah mereka ambil kemarin. Alhasil semua berdiri juga sambil mengutarakan maksud kedatangan mereka.
"Gini, Ren. Seperti yang Ibu bicarakan tadi, rumah kontrakan ini kan aku yang bayar. Lima juta rupiah. Itupun sekarang kan kamu sendiri yang menempati kalo kita bercerai nanti. Nah, bisa nggak kalo—"
"Udah, Ris. Nggak usah bertele-tele. Bilang langsung ke pokok permasalahan aja!" potong Bu Helen yang kakinya sudah kesemutan karena berdiri lama memakai sepatu hak tinggi yang dibelikan oleh Melia.
"Ck. Iya ini Bu, aku udah mau ngomong ke pokok permasalahan. Ibu tuh jangan menyela, to!" gerutu Haris melirik ke arah ibunya yang menghentak-hentakkan kedua kakinya demi menghilangkan kram.
Renata memutar kedua bola matanya lalu kembali menatap ke luar. Dia masih berdiri bersandar di gawang pintu sambil bertopang ke tongkat, dengan pandangan ke luar. Lebih segar dan menarik meski hanya tembok dan lumut daripada melihat dua gedebog pisang yang punya jantung tapi tak punya hati itu.
"Opo sih, ra mutu," desis Renata melihat keduanya.
Desisan itu tentu saja tak terdengar oleh telinga Haris dan ibunya yang sibuk menghilangkan kram kaki lalu memilih duduk di atas lantai kotor tanpa alas dan meluruskan kedua kakinya.
"Duh, Ris. Sakit!" keluh Bu Helen menarik ujung jari kakinya agar tak kram.
"Lagian, Ibu itu jarang pake sepati hak tinggi, malah sekarang pake! Ya jadinya kram. Ngerepoti!" omel Haris yang berjongkok membantu ibunya melepas kram.
"Lha wong ya dibelikan sama mantu kesayangan kok ya, nggak dipake ya sayang, to! Kamu ini gimana sih, Haris!" oceh Bu Helen sambil melirik tajam ke arah Renata menekankan kata 'dibelikan mantu kesayangan'.
Namun, Renata malah menyunggingkan sedikit senyum mengejek. Sekilas mereka melihat sandal Renata yang sederhana tapi bermerk mahal.
"Alah, palingan KW!" tuduh Bu Helen berdesis. Rasa sakit di kakinya mulai berangsur menghilang.
"Wes, aku mulai lagi ngomong sama Renata."
Haris menarik napas sambil memijat kaki ibunya.
"Ren, aku ke sini mau minta separo saja uang kontrakan. Kamu bisa, kan? Dua juta lima ratus ribu. Kalo kamu nggak sanggup bayar sekarang, bisa dicicil kok!" ujar Haris.
Sebelah hidung kiri Renata bergerak naik. Mendengkus. Halah, ke sini hanya mau minta ganti rugi?
"Jadi, cuma mau itu kalian ke sini?" tanya Renata.
"Iya! Kamu nggak mampu? Buat apa kamu jual diri kalo nggak mampu?" sela Bu Helen. Masih saja mulutnya nyinyir, padahal sudah diberi sakit kram di kaki.
"Ibu jangan suka ngomong sembarangan ya, Bu. Walau bagaimanapun keadaanku, aku tak akan pernah menjual diri!" bela Renata untuk dirinya sendiri.
"Heleh, sok jual mahal."
Renata hampir saja melemparkan tongkat penopangnya jika dia tak mampu menguasai diri. Sudahlah, biarkan mereka berbicara seenaknya. Buat apa mereka punya mulut kalau tak digunakan untuk berbicara. Toh nggak bayar juga kan untuk berbicara apapun? Itu saja pikiran Renata. Yang penting dia yang waras, mengalah.
"Jual mahal nggak apa-apa. Yang penting hargaku nggak seharga sepatu murah yang bikin kram," sahut Renata lirih, terdengar oleh Bu Helen.
"Denger tuh, Ris. Kurang ajar banget!" omel Bu Helen.
"Eh, Mas. Aku hanya punya uang satu juta dulu. Sisanya aku kasihkan bulan depan."
Renata tak menggubris Bu Helen. Dia tak juga protes dengan permintaan kedua orang itu daripada memperpanjang masalah. Dia merogoh sepuluh lembar uang merah dari kantongnya. Dia melemparkan uang itu ke arah Haris dan ibunya yang duduk di bawah.
"Maaf, jangan marah. Aku nggak bisa jongkok. Kakiku sakit," tutur Renata melihat uang yang dia lempar bertebaran di lantai.
Sudahlah. Bar-bar sekalian, toh bukan siapa-siapanya lagi.
"Ris, ambili uangnya!" titah Bu Helen melihat lembaran-lembaran merah, lupa akan kram.
Haris segera mengambili uang itu.
"Ren, kamu kok punya uang banyak?" tanya Haris memungut uang terakhir.
"Gimana sih, nggak punya uang diejek, punya dicurigai. Maunya gimana?" Renata balik bertanya.
Haris hanya meringis mendengar pertanyaan Renata. Dia memasukkan lembaran uang itu di kantong.
"Ingat, Ren. Utangmu masih satu juta lima ratus ribu. Masih mending kamu bisa dapet kontrakan bayar segitu. Daripada kamu kutendang pergi?" tukas Bu Helen congkak.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano