Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.
Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.
Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.
Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.
Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cha 33 - Ritual 1
Untuk beberapa saat, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Chi Wei dan Lung Huo. Mereka seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Chi Wei sibuk memikirkan sosok gadis misterius yang akan membantunya untuk mengembalikan kesadarannya kelak. Dan menurut keyakinan Lung Huo gadis tersebut adalah sosok Lin Ling seorang gadis cantik yang kelak menjadi pendamping hidup Chi Wei.
sementara Lung Huo terus memperhatikan tubuh pria berjubah hitam yang kini terbujur kaku tak bernyawa.
"kapan kita melakukannya guru?" tanya Chi Wei setelah merasa yakin atas keputusannya.
"jika kau merasa sudah siap, kita bisa melakukannya saat ini juga. Lagi pula tidak baik membiarkan tubuh kakek peyot ini terlalu lama." jawab Lung Huo sambil memindahkan jasad pria berjubah hitam ke sudut yang agak jauh dari Chi Meilin.
"Lalu bagaimana dengan Lin'er?" Chi Wei sedikit mencemaskan adiknya tersebut.
"kau tidak perlu mencemaskannya, saat ini dia sedang konsentrasi memulihkan kembali kekuatannya. Tubuhnya sangat lemah, dia terlalu banyak kehilangan kekuatan. Sehingga proses meditasinya akan berlangsung cukup lama. Sementara, ritual yang akan kita lakukan sekarang hanya akan berlangsung selama sehari semalam saja." jawab Lung Huo.
"baiklah, tapi sebelum kita memulainya, sekali lagi aku mohon pada guru untuk menjelaskan semuanya kepada Lin'er. Karena cuma dia yang nanti akan membantu guru untuk menjelaskan semua yang terjadi kepada ibuku dan seluruh para anggota sekte."
"kau tidak perlu khawatir akan hal itu, sudah pasti adikmu akan mengetahuinya." ucap Lung Huo sambil tersenyum lembut.
"sebaiknya kita mulai saja ritualnya, apa yang harus aku lakukan sekarang guru?"
"hmmm...sekarang kau duduklah di sebelah kanan jasad pria ini" Lung Huo pun menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Chi Wei selama melakukan ritual tersebut.
"apa kau sudah paham Wei'er?"
"aku mengerti guru."
"baiklah, kita bisa memulainya sekarang. Tapi, sekali lagi aku ingatkan, jika nanti selama kau menyalurkan seluruh kekuatan tenaga dalam, jangan sampai kau kehilangan konsentrasi sedetikpun atau kita akan gagal melakukannya dan kau akan kehilangan seluruh kekuatanmu. Dan apa bila nanti kau kedatangan sesosok mahluk dalam wujud apa pun, biarkan saja. Itu hanya sebuah ilusi. Jangan pernah menghiraukannya dan jangan melakukan gerakkan apa pun sekalipun mahluk tersebut hendak menyerangmu. Kau hanya perlu konsentrasi menyalurkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang kau miliki, maka mahluk apa pun yang hendak menyerangmu itu akan hancur dengan sendirinya."
"baik guru."
"mari kita mulai ritual ini. Sekarang keluarkan pedang berlian biru lalu belah dada pria ini!"
Chi Wei pun langsung melakukan apa yang diperintahkan Lung Huo.
"tancapkan pedang itu tepat dijantungnya."
Chi Wei sempat merasa kaget melihat jantung pria berjubah hitam itu berwarna hitam pekat dan diselimuti asap tebal yang berwarna sama.
"lalu apa lagi guru?" tanya Chi Wei setelah berhasil menancapkan pedang berlian di jantung pria berjubah hitam itu.
"kita tunggu sampai warna jantungnya berubah menjadi seperti jantung manusia normal pada umumnya."
whusss.....
Pedang Berlian Biru mengeluarkan cahaya berwarna biru keemasan. Pedang tersebut seakan menyerap warna hitam pada jantung pria itu.
Secara perlahan warna hitam yang terdapat di jantung pria berjubah hitam itu mulai memudar dan menghilang sepenuhnya.
Jantung pria itu kini telah berubah warna menjadi seperti jantung manusia normal pada umumnya.
"sekarang saatnya. Wei'er, aku akan masuk kedalam jasad pria ini. Ingat, jika nanti luka di dada pria ini telah tertutup, segera kau tempelkan telapak tanganmu tepat di pusarnya lalu kau salurkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang kau miliki. Sementara itu biarkan pedangmu tetap menancap hingga ritual ini selesai."
"baik guru." jawab Chi Wei sambil menganggukkan kepalanya.
whung.....
Lung Huo berubah menjadi cahaya berwarna hijau dan langsung masuk ke dalam tubuh pria berjubah hitam tersebut.
Secara perlahan luka sayatan di dada pria tersebut mulai tertutup. Tidak menunggu waktu lama, Chi Wei langsung menempelkan telapak tangan kanannya tepat di pusar pria itu dan kemudian menyalurkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Whung.....
Sekujur tubuh Chi Wei bergetar dan mengeluarkan cahaya berwarna biru keemasan bersamaan dengan mengalirnya tenaga dalam dari tubuhnya.
Cling.....
Tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap gulita. Hanya tubuh pria berjubah hitam itu saja yang nampak dalam pandangan Chi Wei. Namun hal itu tidak sampai membuat Chi Wei kehilangan konsentrasinya.
Dia terus fokus pada apa yang tengah ia kerjakan saat ini. Sampai beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul sesosok mahluk yang berwujud seperti seekor buaya raksasa namun berkepala naga.
"wow... manusia ini sangat gagah dan tubuhnya sangat bersih, sepertinya dagingnya pun sangat lezat. Ahhh... sudah lama aku tidak menikmati daging manusia." Mahluk tersebut berkata sambil beberapa kali menjulurkan lidahnya, dan dari mulutnya meneteskan air liur yang menggambarkan kalau mahluk raksasa tersebut sangat ingin memangsa Chi Wei.
Perlahan-lahan mahluk raksasa itu mendekati Chi Wei sambil membuka mulutnya lebar-lebar, seolah-olah ingin menelan tubuh pemuda gagah itu bulat-bulat.
Hal itu sempat membuat konsentrasi Chi Wei menurun, hingga aliran tenaga dalamnya pun sedikit melemah. Namun, segera ia teringat pesan-pesan yang disampaikan oleh Lung Huo.
Dalam beberapa saat Chi Wei pun kembali mendapatkan konsentrasinya secara penuh, hingga aliran tenaga dalamnya pun kembali normal.
Saat mahluk raksasa itu mendekat dan hendak menelan Chi Wei, tiba-tiba tubuhnya meledak.
Boom.....
Tubuh raksasa itu berubah jadi butiran-butiran debu yang berkilauan, perlahan-lahan butiran debu itu memudar dan menghilang sepenuhnya.
Namun, gangguan semacam itu tidak berhenti sampai di situ. Selang beberapa saat muncul sosok mahluk yang lain dengan wujud yang tidak kalah seram dari yang sebelumnya.
Mereka datang silih berganti dengan wujud yang berbeda-beda, ada yang berwujud cacing berkepala singa, laba-laba raksasa berkaki seribu, capung bertubuh kerbau, dan mahluk-mahluk menyeramkan lainnya.
Mahluk-mahluk raksasa itu semuanya datang hendak menyerang dan memangsa Chi Wei. Namun semua mahluk raksasa tersebut mengalami nasib yang sama, meledak hancur dan kemudian menghilang.
Gangguan-gangguan tersebut datang silih berganti untuk menguji dan mengganggu konsentrasi Chi Wei. Hingga beberapa saat menjelang ritual tersebut selesai, tiba-tiba muncul dua sosok perempuan yang sangat cantik.
Selain cantik, dua perempuan tersebut memiliki bentuk tubuh yang sangat menggoda. Dan yang membuat Chi Wei mulai kehilangan konsentrasinya adalah, dua wanita tersebut mengenakan pakaian berwarana putih transparan yang sangat minim. Hingga beberapa bagian tubuh wanita tersebut terpampang jelas di mata Chi Wei.
Tubuh putih mulus kedua wanita tersebut berhasil menggoyahkan konsentrasi pendekar muda tersebut, ditambah lagi pakaian yang dikenakan kedua wanita itu berwarna putih transparan membuat bagian-bagian intim yang seharusnya tertutup dan terlindungi dari pandangan orang lain, samar-samar menampakan wujudnya.
Hal itu semakin membuat Chi Wei gelisah. Dia yang belum pernah melihat pemandangan seperti yang dilihatnya saat ini semakin tak berdaya melawan gejolak hasrat yang perlahan-lahan mulai berontak.
Sebagai laki-laki normal, Chi Wei seakan tidak mampu bahkan merasa enggan untuk memalingkan pandangannya meski hanya untuk beberapa saat saja.