Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRUUK!
Bellinda melongokkan kepalanya keluar pintu kamar mandi dan celingukan menyapu setiap sudut kamar. Gadis itu ingin memastikan dimana posisi Devan saat ini.
Sial sekali Bellinda pagi ini. Gadis itu lupa kalau dirinya ada di kamar Devan sekarang. Dan dengan santainya, Bellinda pergi mandi tanpa membawa baju ganti. Kini hanya ada selembar handuk yang membalut tubuhnya.
Bellinda mengedarkan sekali lagi pandangannya ke setiap sudut kamar.
Tadi saat dirinya masuk ke kamar mandi, Devan masih tidur nyenyak. Tapi sekarang pria itu sudah tidak ada. Kemana perginya?
Semoga Devan sedang di dapur dan tidak berada di kamar ini.
Bellinda hanya perlu berlari ke arah lemari, menarik satu baju untuk ia kenakan sebelum memilih baju kerja yang akan ia pakai ke kantor hari ini.
Baiklah! Itu akan mudah.
Bellinda menarik nafas panjang, dan bersiap berlari menuju lemari yang mungkin jaraknya sekitar enam langkah dari pintu kamar mandi.
Satu, dua, tiga!
Bellinda melesat cepat menuju ke arah lemari Devan berada. Namun baru setengah jalan, tubuh tegap itu muncul dari arah yang tak di sangka-sangka.
Bruuk!
Sialan!
Bellinda jatuh terduduk di atas lantai dengan handuk yang nyaris melorot. Devan yang tadi menabrak Bellinda ikut terjatuh, namun pria itu segera bangun dengan cepat dan langsung mendapati tubuh nona direktur itu yang nyaris telanjang.
Sialan!
Tangan Devan refleks menyambar selimut di atas ranjang dan melemparkannya pada Bellinda sebelum handuk yang dikenakan Bellinda benar-benar melorot.
"Tutupi tubuh telanjangmu itu, Nona! Apa kau berniat menggodaku?" Sergah Devan yang langsung memalingkan wajahnya.
"Brengsek! Siapa yang menggodamu? Aku lupa membawa baju ganti," jawab Bellinda galak.
Nona direktur itu membelitkan selimut yang dilempar Devan ke tubuhnya sebelum beranjak berdiri dan membuka lemari Devan.
Baju-baju Bellinda masih berantakan, jadi Bellinda mengambil satu kaus milik Devan dan memakainya dengan cepat.
"Hei itu bajuku!" Protes Devan yang melihat Bellinda memakai bajunya tanpa minta izin.
"Berisik! Aku pinjam sebentar!" Sergah Bellinda masih galak.
Nona direktur itu segera memilih satu stel baju kerja serta baju dalaman, sebelum berlari kembali ke kamar mandi untuk memakainya.
Devan hanya tersenyum simpul menyaksikan tingkah polah Bellinda yang cukup lucu pagi ini. Dan jangan lupakan mata Devan yang sedikit tercoreng karena sudah melihat tubuh molek Bellinda yang hanya tertutupi selembar kain handuk.
Devan menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir pikiran kotor dari kepalanya.
Dasar sialan!
****
"Kau pengangguran sekarang?" Tanya Bellinda pada Clarissa yang sibuk mengotak-atik ponsel di tangannya.
"Kata siapa? Aku bekerja," Clarissa memamerkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah butik online pada Bellinda.
"Hanya saja, jam kerjaku fleksibel dan aku tidak perlu memakai baju rapi sepertimu," imbuh Clarissa lagi yang langsung disambut Bellinda dengan sebuah dengkusan.
Bellinda kembali masuk ke kamar Devan yang sekarang juga menjadi kamarnya.
"Dev! Kau sudah siap?"
"Ya. Kau ingin berangkat bersamaku?" Devan balik bertanya.
Tidak biasanya nona direktur ini mau berangkat bersama Devan.
Bellinda tidak menjawab dan langsung menggamit lengan Devan. Sedikit menyeretnya untuk keluar dari kamar. Bellinda sama sekali tidak menyapa Clarissa dan berlalu begitu saja menuju pintu keluar apartemen.
"Kami pergi dulu, Cla!" Pamit Devan sedikit berteriak.
"Oke! Hati-hati!" Balas Clarissa ikut-ikutan berteriak.
Sampai di luar unit apartenen, Bellinda melepaskan gamitannya pada lengan Devan dengan kasar.
"Totalitas sekali akting nona direktur ini," Devan bergumam dalam hati.
Pasangan suami istri itu segera masuk ke dalam lift dan turun ke lantai basement.
"Apa paman Owen sudah kembali dari luar kota?" Tanya Bellinda memecah keheningan di dalam lift.
"Belum. Rencananya besok baru kembali," jawab Devan tanpa menoleh ke arah Bellinda.
"Sikapmu pada Clarissa," Bellinda menghela nafas.
"Terlalu berlebihan," sambung Bellinda lagi yang sontak membuat Devan menatap tak mengerti pada nona direktur itu.
"Aku tidak mengerti maksudmu," ujar Devan merasa bingung.
Ting!
Lift sudah sampai di basement. Bellinda keluar mendahului Devan yang kini mengekor di belakangnya. Devan berusaha menyamakan langkahnya dengan Bellinda.
"Bell!" Tegur Devan yang masih bertanya-tanya dengan kalimat terakhir Bellinda.
Bellinda sudah sampai di mobilnya dan menatap pada Devan yang sudah menyusulnya. Wanita itu berdiri seraya bersedekap.
"Kau seharusnya sadar diri. Bukankah kau sudah memiliki kekasih bernama Riana?" Ucap Bellinda yang kembali membuat Devan melongo.
Apa hubungannya Riana dengan sikap Devan pada Clarissa?
"Iya, lalu apa masalahnya? Aku menganggap Clarissa sahabatku, sama seperti aku menganggapmu," sahut Devan tanpa rasa bersalah.
"Tidak seperti itu! Kau..." Bellinda memutar-mutar tangannya dengan emosi seolah sedang meluapkan kekesalan dalam dirinya.
"Dari caramu mengobrol dan berhaha hihi dengan Clarissa itu seperti menunjukkan sebuah ketertarikan. Apa kau jatuh cinta pada Clarissa?" Cecar Bellinda yang langsung melontarkan tuduhan pada Devan.
Astaga!
Ada apa denganku?
Kenapa aku harus semarah ini?
Bellinda merutuki sikapnya yang berlebihan.
Devan tergelak setelah mendengar tuduhan Bellinda yang aneh tersebut.
"Apa kau sedang cemburu, Nona Bellinda?" Goda Devan yang masih belum berhenti tertawa.
Rasa panas langsung merambati wajah Bellinda.
Bellinda masih tak berhenti merutuki dirinya sendiri dan sikapnya yang begitu berlebihan. Rasanya Bellinda ingin menghilang saja dari hadapan Devan.
"Tidak! Tidak sama sekali!" Jawab Bellinda dengan nada tegas.
"Kau hanya suami bayaranku, untuk apa aku cemburu pada kedekatanmu dengan Clarissa," imbuh Bellinda lagi seraya memalingkan wajahnya dari Devan.
Devan sudah berhenti tertawa dan memilih untuk masuk ke dalam mobil mendahului Bellinda yang wajahnya masih bersemu merah.
Aneh sekali sikap nona direktur itu pagi ini.
.
.
.
Buahahhaah cemburu bilang, Bell! 😩😩
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠