Cinta Indira terpaksa harus menjadi pengantin pengganti untuk calon suami sepupunya yang menghilang dihari pernikahan. Keputusannya menyetujui untuk menggantikan pernikahan itu, membawanya dalam penderitaan yang tiada habisnya.
Rafa, pria yang menikahinya ternyata sangat kejam dan kasar. Berada di sisi Rafa membuat Cinta tidak bisa berhenti merasakan kesedihan. Namun, dibalik kasarnya Rafa, ada kelembutan yang kadang dia perlihatkan pada Cinta. Hal itu membuat Cinta jatuh hati pada Rafa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sore ini Febi sudah tiba dirumah Rafa. Dia melangkah masuk tanpa perasaan malu. Dia merasa itu adalah rumahnya.
"Nyonya sudah kembali?" Sambut Mila.
"Tentu. Aku hanya berlibur sebentar." Melangkah menuju kamarnya.
"Cinta mana?" Sambungnya bertanya pada Mila.
"Ada di dapur, lagi membuat kue katanya." Jawab Mila.
Febi menghentikan langkahnya. Dia mengurungkan niatnya untuk ke kamar. Langkahnya berbalik menuju dapur.
"Wah wah wah, Nyonya besar sedang memasak kue?" Bertepuk tangan mengejek Cinta.
"Febi? Kamu sudah kembali?" Tanya Cinta tanpa menoleh pada Febi.
"Tentu sepupuku sayang. Aku datang untuk mengusirmu. Ah tidak, aku datang untuk mengungkapkan suatu rahasia besar." Ucapnya bangga.
Cinta tidak perduli, dia terus melanjutkan membuat adonan kue bersama Imah.
"Dasar P.E.M.B.U.N.U.H." Bisik Febi ditelinga Cinta.
Sontak saja Cinta menatap tajam mata Febi yang menatap sinis padanya.
"Apa kamu lupa kejadian itu, sayang?" Menyentuh wajah Cinta yang berlapis cadarnya.
Srettt...
Febi melepas cadar Cinta tiba tiba.
"Apa yang kamu lakukan, Febi?" Teriaknya kesal mencoba mengambil cadarnya dari tangan Febi.
"Jangan bersembunyi dibalik cadarmu lagi. Ungkapkan siapa dirimu kepada dunia." Menginjak cadar Cinta.
"Apa yang kamu lakukan, Febi?" Teriak Rafa yang baru saja tiba di rumah.
"Ups, penyelamat datang. Kabur ah, takut..." Melewati Rafa dengan senyum mengejek.
"Aku akan membatu Cinta mengembalikan ingatannya." Berbisik ditelinga Rafa, lalu dia kembali ke kamarnya.
Sementara itu, Cinta menutup wajahnya dengan tangan. Rafa melangkah mendekatinya. Dipegangnya lembut tangan Cinta, lalu dijauhkannya dari wajahnya.
"Jangan takut. Mulai saat ini, kamu boleh melepas cadarmu saat dirumah." Bisiknya.
"Mas sudah pulang?" Mengalihkan pembicaraan.
Cinta kembali melanjutkan pekerjaannya. Memasukkan adonan kue kedalam loyang, untuk segera dipanggang.
"Membuat kue apa?" Memeluk Cinta dari belakang.
Wajah Cinta memerah. Dia malu dipeluk seperti itu dihadapan bik Imah.
"Boleh mas mencicipinya?" Meletakkan dagunya dipundak Cinta. Lalu, Rafa memberi kode agar Imah meninggalkan dapur.
"Belum matang, Mas." Protesnya mencoba lepas dari pelukan Rafa.
"Kamu merasa risih saat aku peluk?" Mengeratkan pelukannya.
"Bukan, hanya saja tidak enak dilihat bik Imah."
"Tidak ada yang melihat sayang. Bik Imah sudah pergi." Jelasnya.
Lalu, Cinta melirik sekeliling dapur yang memang hanya tersisa dirinya dan Rafa saja.
"Tangan kamu kotor." Mengelap kedua telapak tangan Cinta dengan sapu tangan.
Saat Rafa mengelap telapak tangannya, Cinta teringat kejadian yang sama pernah dialaminya. Tiba tiba Cinta berkeringat dingin. Tangannya berair dan sejuk.
"Kamu kenapa sayang?" Membalik tubuh Cinta agar menghadap padanya.
"Tidak, aku tidak apa apa." Mencoba melupakan ingatan yang tiba tiba melintas dalam pikirannya.
"Mas, aku mau kekamar mandi." Berlari menuju kamar mandi.
Rafa hanya memperhatikan gerak gerik Cinta yang terlihat panik tiba tiba. Lalu, Rafa menggenggam erat sapu tangan yang digunakannya untuk mengelap tangan Cinta.
"Apa kamu mengingatnya, sayang?" Bicara sendiri.
Dan saat ini Cinta menatap wajahnya dicermin besar kamar mandi. Keringat dingin terlihat dikeningnya. Tangannya terasa sejuk. Perlahan Cinta memejamkan matanya. Pada saat itu dia melihat gadis kecil mencabut pisau dari perut seorang bocah laki laki.
Saat pisau itu berhasil dicabut, tiba tiba saja tubuhnya didorong menjauh oleh seorang bocah lainnya. Bocah itu mengambil alih pisau dari tangannya. Kemudian bocah itu menghapus noda darah dari kedua telapak tangannya.
"Jika kamu mencoba menyelamatkan mengapa kamu pergi saat itu, setelah mengambil alih pisau dari gadis itu. Kenapa kamu meninggalkan gadis kecil itu sendirian?" Ucapnya lirih.
"Astaghfirullah. Apa yang aku lihat sebenarnya." Sambungnya, lalu segera membuka matanya.
"Apakah gadis kecil itu aku?" Menatap cermin sekali lagi.
"Jika itu adalah aku, berarti Febi benar. Aku seorang pembunuh..." Meneteskan air mata.
Bibirnya gemetar hebat seiring air mata yang mengalir. Keringat dingin semakin membanjir di keningnya. Tangannya pun ikut gemetar.
knp seorg mafia bisa kalah sm joy ya
kshan rafa.
skrg rafa berusaha melindungi cinta n membuat cinta menjadi wanita tangguh tdk cengeng dg cara menikahinya
yang aq pahami dr awal baca smpe bab ini
ini analisa aq dr awal baca smpe bab ini..
maaf kak author...😁🫶
jadi gemes aq
pngn tak pites aja mamanya rafa n febi 😀