Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi hari di SMA Nusa Bangsa kembali berdenyut dengan ritme aktivitas siswa-siswi yang berlalu-lalang di sepanjang koridor. Udara pagi yang sejuk membawa serta aroma basah dari sisa hujan semalam. Di dalam kelas XII IPA 1, meja-meja tersusun rapi, namun ketenangan ruangan itu seketika terusik oleh obrolan hangat yang sengaja diciptakan oleh seorang Lexa yang kini dihuni jiwa Maya.Maya duduk dengan anggun di bangkunya, dikelilingi oleh Hani, Lana, dan Aurel yang setia menempel bak prangko sejak perubahan drastis sang ketua geng. Maya sengaja mengeraskan sedikit volume suaranya, memastikan setiap kata yang ia ucapkan meluncur jelas menembus keheningan kelas dan tertangkap oleh indra pendengaran seseorang di sudut belakang.
"Eh, kalian tahu nggak?" ucap Maya dengan nada riang yang dibuat-buat manis, menatap ketiga temannya dengan mata berbinar. "Bulan depan, setelah ujian sekolah selesai, Papa dan Mama janji mau ajak aku liburan mewah ke Australia! Kami bakal jalan-jalan ke Sydney, keliling pantai, dan menikmati fasilitas penerbangan kelas bisnis."
Mendengar kata "Australia" dan "liburan mewah", mata Hani, Lana, dan Aurel langsung berbinar-binar penuh kekaguman."Wah, seriusan, Lex?! Asik banget!" seru Aurel histeris dengan nada iri yang menyenangkan. "Australia, tuh! Dijamin foto-foto feed Instagram lu bakal estetik banget! Sumpah, iri banget gue!"
"Iya dong, makanya jadi anak kesayangan itu enak," timpal Hani sambil tertawa kecil, menyenggol lengan Maya. "Udah cantik, kaya, disayang orang tua, bentar lagi jalan-jalan ke luar negeri pula. Paket komplit hidup lu, Lex!"
Maya hanya tersenyum simpul menanggapi pujian-pujian itu. Namun, di balik senyuman manis di wajah cantiknya, ia sengaja melirik melalui sudut matanya ke arah bangku paling belakang di barisan pojok kelas.
Di sana, di meja usang dekat tempat sampah, duduklah raga Maya yang kini dijiwai oleh Lexa.
Mendengar kalimat liburan ke Australia itu terlontar jelas dari bibir raga aslinya sendiri, dada Lexa bergemuruh hebat. Kakinya gemetar di bawah meja, dan jemarinya mencengkeram erat tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Hati Lexa terasa dicabik-cabik oleh rasa cemburu, amarah, dan kepedihan yang teramat sangat.
"Itu harusnya liburan gue! Itu tiket pesawat gue! Itu fasilitas keluarga gue!" teriak Lexa histeris di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Bayangan tentang kamar hotel bintang lima di Sydney, pusat perbelanjaan mewah di luar negeri, dan kartu kredit unlimited yang dulu selalu ia pegang kini melayang begitu saja. Semua kemewahan darah dagingnya itu justru dinikmati oleh musuh bebuyutannya, sementara ia sendiri harus duduk di kursi kayu reyot, mengenakan seragam kusam berbau sabun murah, dan membawa buku-buku tulis daur ulang yang sudah lecek.
Rasa campur aduk menggelayuti batin Lexa. Di satu sisi, kebenciannya terhadap Maya sudah mencapai ubun-ubun. Ia ingin menerjang maju, menjambak rambut raga aslinya, dan merampas kembali hak miliknya dengan paksa. Namun, di sisi lain, kenyataan pahit menamparnya telak ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia tidak punya kekuatan. Ia tidak punya pendukung. Jika ia berani membuat keributan atau membentak Maya di kelas saat ini, bukan simpati yang ia dapatkan, melainkan ejekan dari seluruh isi kelas yang akan menganggap "si anak penjual sayur sudah gila".
Perlahan-lahan, benteng keangkuhan yang selama ini melindungi jiwa Lexa mulai runtuh berkeping-keping. Di bawah tatapan sinis dan acuh tak acuh dari teman-teman sekelasnya, Lexa menundukkan kepalanya dalam-dalam."ternyata gini ya rasa,lu kuat banget Maya menghadapi ini semua". Batin Lexa.Air mata panas menetes perlahan, membasahi halaman buku tulis murah di hadapannya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Lexa merasakan secara langsung apa yang selama ini dirasakan oleh Maya.
Ia merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh lingkungan sosial. Ia merasakan kepedihan saat disingkirkan, dipandang sebelah mata, dan direndahkan oleh orang-orang yang dulunya berada di bawah lingkaran pertemanannya. Ia merasakan sesaknya dada ketika melihat orang lain menikmati kebahagiaan di atas penderitaan dan keterbatasannya sendiri.
Maya yang melihat raga aslinya mulai tertunduk lemas dalam tangisan bisu menyunggingkan senyum tipis di balik buku catatannya. Kejahilan kecil itu bukan sekadar pamer, melainkan sebuah pelajaran keras yang disengaja. Maya ingin jiwa Lexa memahami betapa kejamnya rasa sakit akibat pengabaian dan kesenjangan sosial yang dulu sering ia timpakan pada orang lain tanpa rasa bersalah.
"Udah ya, kalian jangan berisik dulu, sebentar lagi guru masuk," ucap Maya lembut kepada Hani dan teman-temannya, lalu kembali fokus membaca buku pelajarannya dengan tenang.
Sementara di bangku belakang, Lexa menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia mendekap kedua bahunya yang gemetar, menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh siapa pun. Di dalam raga Maya yang kusam itu, sang mantan ratu sekolah akhirnya belajar mengecap rasa pahit dari takdir yang ia ukir sendiri sebuah perjalanan karma yang perlahan-lahan mengikis habis kesombongannya dan menuntutnya untuk bertobat di atas reruntuhan keangkuhannya yang telah binasa.