Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Rania Dan Yuna
Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang hangat menyelimuti halaman depan Restoran Narira, tempat Rania bekerja. Langit tampak bersih tanpa awan, burung-burung berkicau riang di dahan pohon mangga yang rindang di sudut halaman, namun Rania yang sedang berdiri di balik meja pelayan tampak sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan tatapan yang tak tenang.
Pikirannya masih tertinggal pada sosok Dimas dan gadis yang berjalan di sampingnya bayangan yang tak kunjung pudar, tak kunjung hilang, seakan membayangi setiap langkahnya, setiap detak jantungnya, setiap tarikan napas yang ia ambil.
Ia berusaha menyibukkan diri, menyusun serbet, mengelap meja, menyapa pengunjung dengan senyum yang ia paksa tampak tulus, namun di balik senyum itu, hatinya terasa perih dan sesak. Mengapa ia tidak pernah diberitahu? Mengapa Dimas tidak pernah menyebutkan siapa gadis itu? Apakah ia memang tidak cukup penting baginya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar berulang kali di kepalanya, seakan tak ingin memberinya jeda untuk bernapas.
Namun ketika melihat sesosok gadis melangkah masuk melalui pintu kaca restoran itu, wajah Rania seketika berubah. Keraguan dan kegelisahan yang tadi menyelimuti wajahnya perlahan berganti menjadi senyum tulus yang tak bisa ditahan senyum yang murni, yang lahir dari kelegaan karena akhirnya ada seseorang yang datang, seseorang yang sungguh peduli.
Yuna
Sahabatnya itu berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling ruangan dengan senyum ramah yang khas, tas selempang digantung di bahu, rambutnya yang panjang terurai indah di bawah cahaya lampu yang hangat. Rania segera melangkah mendekat, melupakan sejenak segala beban di hatinya, segala keraguan yang menghimpit dadanya.
"Yuna..." panggilnya pelan namun penuh kehangatan, senyumnya melebar hingga terlihat lesung pipi di pipinya. "Kau datang..."
Yuna berbalik, melihat Rania, dan seketika itu juga wajahnya bersinar cerah, seakan cahaya matahari pagi tadi berpindah ke wajahnya. Ia melangkah cepat mendekat, langkahnya ringan, penuh kehangatan yang tak bisa disembunyikan, lalu merangkul sahabatnya itu dengan erat pelukan yang hangat dan menenangkan, pelukan yang seakan mengembalikan segala kehangatan yang selama ini hilang, segala rasa aman yang sempat pudar.
"Rania..." suaranya terdengar lembut namun tulus, tepat di samping telinga sahabatnya.
"Aku rindu sekali padamu. Tadi malam kan aku menelponmu? Aku sengaja datang pagi-pagi sekali, tak sabar ingin bertemu, tak sabar melihat wajahmu, memastikan kau baik-baik saja."
Rania membalas pelukan itu, memejamkan matanya sejenak, merasakan ketenangan yang jarang ia rasakan belakangan ini ketenangan yang hanya hadir saat bersama sahabatnya ini. "Aku juga... rindu sekali padamu, Yun. Kau tidak bilang akan datang begitu cepat... aku belum sempat menyiapkan apa pun untuk menyambutmu."
Yuna tertawa pelan, suara tawanya jernih dan menenangkan, lalu melepaskan pelukan itu perlahan namun tangannya tetap menggenggam tangan sahabatnya, seakan tak ingin melepaskan. "Tak perlu persiapan apa-apa, kan? Aku datang untukmu, bukan untuk hal lain. Cukup ada kamu di sini, itu sudah lebih dari cukup."
Suasana di dalam restoran saat itu memang sedang sedikit sepi jam makan siang baru saja berlalu, pengunjung yang tadi memenuhi setiap meja satu per satu telah pulang, menyisakan keheningan yang lembut dan damai, hanya terdengar suara pelayan yang membereskan peralatan di sudut ruangan. Rania melirik sekeliling, memastikan tak ada tamu yang membutuhkan pelayanannya, lalu menatap Yuna kembali dengan tatapan yang lebih tenang.
"Kalau begitu... ayo ke belakang," ajaknya pelan, suaranya penuh keramahan yang tulus.
"Ada tempat yang lebih tenang, di taman belakang restoran. Di sana ada pohon mangga tua yang rindang, anginnya sejuk, dan kita bisa mengobrol lama tanpa terganggu, tanpa harus memikirkan siapa pun yang lewat."
Yuna mengangguk setuju, matanya berbinar antusias. "Tentu saja. Aku ingin mendengar ceritamu banyak-banyak, ingin tahu bagaimana harimu, apa yang kau rasakan, segala hal yang mungkin tak sempat kau sampaikan lewat telepon."
Rania tersenyum, lalu menggandeng tangan sahabatnya itu, berjalan menuju lorong kecil di samping dapur yang menuju ke halaman belakang. Udara di sana terasa lebih segar, dipenuhi pepohonan hijau dan bunga-bunga bermekaran dalam berbagai warna merah, kuning, ungu yang mengeluarkan aroma lembut yang menenangkan. Di sudut yang paling teduh, terdapat sebuah bangku kayu panjang yang diletakkan di bawah pohon besar yang rimbun, tempat yang seakan diciptakan khusus untuk percakapan yang jujur dan tulus, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar.
Mereka duduk berdampingan, punggung bersandar pada batang pohon yang kokoh, menatap hamparan tanaman hijau di hadapan mereka yang bergoyang pelan ditiup angin. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, menyentuh wajah mereka, menggerakkan dedaunan hingga menciptakan suara gemerisik halus yang seperti irama penenang bagi hati yang lelah. Rania menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, merasakan seakan beban berat yang memikul pundaknya perlahan terangkat, sedikit demi sedikit.
"Jadi... bagaimana kabarmu sebenarnya?" tanya Yuna lembut, menatap sahabatnya itu lekat-lekat, matanya menyiratkan perhatian yang tulus, tak sekadar basa-basi.
"Sudah lama sekali kita tidak duduk bersama seperti ini, dan aku merasa... ada sesuatu yang berbeda dari dirimu, Ran. Kau terlihat lebih pendiam, lebih sering melamun, seakan ada beban yang kau pikul sendirian."
Rania menunduk sejenak, memutar ujung jarinya di tepi pakaiannya, lalu mendongak kembali dengan senyum yang berusaha tegar, meski matanya belum mampu menyembunyikan segala kelelahan batinnya. "Aku baik-baik saja... seperti biasa. Bekerja, pulang, istirahat. Tak ada yang istimewa, tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Yuna menatapnya sejenak, menatap tajam namun penuh kasih sayang, seakan bisa melihat melampaui senyum yang dipaksakan itu. Namun ia tak langsung menegur, tak langsung menuntut pengakuan.
Ia tahu Rania ia butuh waktu untuk terbuka, untuk merasa aman, untuk berani mengungkapkan apa yang sesungguhnya ia rasakan. Maka Yuna hanya tersenyum tipis, mengusap punggung tangan sahabatnya yang tergeletak di pangkuan, lalu mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih ringan, lebih menyenangkan.
"Kau tahu, kemarin di kampus ada acara pameran karya mahasiswa..." mulainya, bercerita dengan antusias, menceritakan hal-hal kecil yang terjadi selama mereka berpisah teman yang tertukar tas, dosen yang lucu, buku yang menarik perhatiannya. Rania menyimak dengan senyum, sesekali tertawa pelan, dan perlahan-lahan tatapannya menjadi lebih tenang, lebih rileks, lebih seperti dirinya yang dulu gadis yang ceria, yang penuh harapan, yang percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan baik pada akhirnya.
Setelah beberapa saat mengobrol, suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan dan kicauan burung yang bersarang di dahan pohon. Yuna menatap ke arah pepohonan, seakan baru teringat sesuatu yang terlewat, lalu menoleh kembali ke arah Rania dengan ekspresi yang sedikit lebih serius namun tetap santai, seakan hal itu memang baru saja terlintas di benaknya.
"Ngomong-ngomong..." mulainya pelan, suaranya tenang dan wajar, "tadi pagi saat aku berjalan melewati papan pengumuman di depan gedung fakultas, mataku tak sengaja tertuju pada sebuah pengumuman yang terpasang di sana. Aku berhenti sebentar untuk membacanya, dan setelah selesai membaca, namamu langsung muncul di kepalaku."
Rania mengerutkan kening samar, rasa penasaran mulai tumbuh di hatinya, menggantikan sejenak kegelisahan yang tadi menyelimuti. "Apa itu?"
Yuna tersenyum, berusaha menjaga nada suaranya tetap biasa, seakan hal itu bukan sesuatu yang sudah direncanakan dengan matang. "Ada pengumuman beasiswa penuh dari sebuah yayasan pendidikan yang tidak aku kenal sebelumnya. Mereka mencari penerima untuk program studi sarjana, semua biaya ditanggung sepenuhnya, mulai dari uang kuliah, biaya pendaftaran, hingga biaya hidup bulanan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kelihatannya mereka memang khusus mencari orang-orang yang berprestasi namun terkendala biaya, yang punya keinginan kuat untuk maju namun belum memiliki kesempatan untuk melakukannya."
Rania terdiam sejenak, menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang bercampur antara tak percaya dan berharap harapan yang selama ini ia kunci rapat-rapat, takut akan kecewa, takut akan dilarang. "Beasiswa... penuh?" suaranya bergetar pelan, hampir tak terdengar, matanya membelalak tak percaya.
"Benarkah itu, Yun? Semua biaya benar-benar ditanggung?"
"Benar sekali," jawab Yuna mantap, mengangguk tegas agar sahabatnya yakin.
"Aku sendiri berdiri cukup lama di depan papan itu, membaca berulang kali setiap barisnya agar tidak salah paham. Syaratnya tidak terlalu rumit mereka tidak hanya melihat nilai akademis, tapi juga semangat belajar, ketekunan, dan keinginan untuk berkontribusi. Dan saat membacanya, aku langsung teringat padamu. Tidak ada orang lain yang lebih pantas selain dirimu, Ran."
Rania menunduk, kedua tangannya saling meremas erat di pangkuan, jemarinya saling bertautan seakan menahan diri agar tidak berharap terlalu tinggi. Hatinya berdebar kencang, seakan ada sesuatu yang besar sedang mengetuk pintu hatinya yang selama ini tertutup rapat.
Selama ini mimpi itu tersimpan begitu dalam, tersembunyi di balik kenyataan yang tak seindah harapan dan kini tiba-tiba mimpi itu terlihat begitu dekat, begitu nyata, seakan bisa ia jangkau hanya dengan mengulurkan tangan.
"Tapi... apakah aku pantas?" tanyanya pelan, keraguan kembali menyelinap di antara rasa bahagia yang mulai tumbuh.
"Banyak orang yang lebih pintar, lebih beruntung, lebih memiliki dukungan dibandingkan aku. Aku takut... aku takut hanya akan mengecewakan mereka jika aku diterima."
Yuna menyentuh lengan sahabatnya itu lembut, menatapnya lekat-lekat, matanya memancarkan keyakinan yang tak bisa digoyahkan. "Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri, Ran. Kamu cerdas, kamu rajin, kamu tidak pernah menyerah sekalipun keadaan sulit. Itulah yang paling berharga, bukan sekadar angka di atas kertas. Aku sudah membaca persyaratannya dengan saksama mereka mencari seseorang yang punya tekad kuat untuk belajar, yang tahu betul apa tujuannya, dan yang akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Dan aku tahu betul siapa orang itu."
"Apa aku benar-benar bisa mencobanya?" tanyanya akhirnya, matanya berkaca-kaca menatap Yuna, mencari kepastian yang tak bisa ia temukan dalam dirinya sendiri.
Yuna tersenyum tulus, mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Aku yakin sepenuhnya. Itulah sebabnya aku langsung mencarimu begitu melihat pengumuman itu. Batas pengirimannya masih ada lima hari lagi, jadi kita masih punya waktu cukup untuk menyelesaikan segalanya. Aku bahkan sudah mengambilkan formulirnya kebetulan ada salinan cadangan yang bisa dibawa pulang. Kita bisa mengisinya bersama-sama, sekarang juga, di sini."
Ia mengeluarkan selembar berkas rapi dari tasnya, kertas yang bersih dan tertata rapi, lalu menyodorkannya perlahan kepada Rania. Jari-jemari Rania gemetar saat menerima berkas itu, seakan memegang harta paling berharga yang pernah ia sentuh seumur hidupnya. Ia membacanya perlahan, baris demi baris, matanya semakin terang seiring ia menyadari bahwa semua yang dikatakan Yuna itu nyata bukan mimpi, bukan khayalan, melainkan kesempatan sungguhan yang terbentang di hadapannya.
"Biaya kuliah, tempat tinggal, bahkan uang saku bulanan..." gumamnya tak percaya, membaca ulang baris yang sama untuk kedua kalinya. "Semuanya ditanggung sepenuhnya?"
"Benar sekali," Yuna mengangguk lembut.
"Mereka ingin memastikan penerimanya bisa belajar dengan tenang, tanpa memikirkan biaya hidup sehari-hari, tanpa harus membagi waktu antara bekerja dan belajar. Fokusmu hanya pada satu hal menyelesaikan pendidikanmu dengan sebaik-baiknya."
Yuna menggenggam tangan sahabatnya itu erat, menatapnya dengan tegas namun lembut. "Kita tidak perlu memberi tahu siapa pun sebelum semuanya pasti, Ran. Isi dulu berkasnya, kirimkan, lalu tunggu hasilnya. Jika diterima, barulah kita bicarakan dengan tante. Saat itu datang, tante akan melihat ini bukan sekadar keinginanmu, tapi kesempatan yang datang sendiri. Ia tidak akan bisa menolak begitu saja, apalagi ini menyangkut masa depanmu."
Kata-kata itu menenangkan sekaligus menguatkan. Rania menatap sahabatnya, melihat ketulusan yang memancar dari mata Yuna, dan perlahan keraguan yang selama ini menahan langkahnya mulai luruh. Tangan yang tadi gemetar kini mulai teguh memegang pulpen yang disodorkan Yuna, siap untuk menuliskan namanya, menuliskan harapannya, menuliskan masa depan yang selama ini ia impikan dalam diam.
"Baiklah..." ucapnya pelan namun tegas, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena harapan yang mulai menyala.
"Aku coba. Demi mimpiku sendiri, demi diriku yang selama ini hanya menunggu."
Yuna tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia seakan itulah kabar paling indah yang ia dengar sepanjang hari. "Itu sahabatku! Ayo, kita mulai sekarang juga, jangan buang waktu lagi."
Di bawah naungan pohon yang rindang itu, mereka duduk berdekatan, menunduk bersama mengisi lembar demi lembar berkas itu. Yuna membantunya menyusun jawaban yang jujur dan tulus, menanyakan hal-hal yang perlu ditulis, menyarankan cara menyampaikan cita-citanya dengan sederhana namun bermakna seakan ia hanya menolong sahabatnya menyusun kata-kata yang sudah lama ada di hati Rania sendiri. Tidak ada yang dibuat-buat, tidak ada yang dilebih-lebihkan, tidak ada yang disembunyikan semuanya lahir dari keinginan tulus Rania yang selama ini tersimpan rapi, menunggu waktu yang tepat untuk diungkapkan.
Saat menyelesaikan baris terakhir, Rania meletakkan pulpennya perlahan di atas kertas. Ia menatap hasil tulisannya sendiri dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan campuran antara bangga, takut, dan harapan yang tumbuh semakin kuat. Seberkas cahaya lembut menyentuh wajahnya, seakan langit pun ikut tersenyum melihat langkah kecil namun berani yang baru saja ia ambil.
"Terima kasih, Yun..." ucapnya tulus, matanya berkaca-kaca menatap sahabatnya. "Kau tidak tahu betapa berartinya ini bagiku. Seakan selama ini aku berjalan dalam kegelapan, dan tiba-tiba ada cahaya yang menunjukkan jalan pulang."
Yuna tersenyum hangat, merangkul bahu sahabatnya itu dengan lembut. "Sama-sama, Ran. Kau pantas mendapatkannya, kau pantas bermimpi besar. Ingatlah itu selalu kesempatan ini bukan pemberian siapa pun, melainkan hal yang memang sudah seharusnya menjadi milikmu."
Mereka berdiri perlahan, berkas itu kini terlipat rapi di tangan Rania bukan sekadar kertas, melainkan harapan yang mulai hidup, janji pada diri sendiri untuk tidak lagi menyerah pada mimpi.
Namun di balik senyum bahagia itu, bayangan lain tak sepenuhnya hilang. Wajah gadis yang berjalan bersama Dimas kembali terlintas sejenak, namun kali ini Rania tidak membiarkannya mendominasi pikirannya. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusirnya. Sekarang bukan waktunya memikirkan itu. Sekarang waktunya memikirkan dirinya sendiri, masa depannya sendiri, hal-hal yang bisa membawanya melangkah ke depan, bukan terjebak di tempat yang sama.
Rania melangkah kembali ke dalam restoran dengan perasaan yang berbeda lebih ringan, lebih berani, lebih siap menghadapi apa pun yang datang. Ia belum tahu apa yang menanti, belum tahu betapa besar kasih sayang yang tersembunyi di balik semua ini, belum tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil kini telah didoakan dan disiapkan oleh seseorang yang menyayanginya dalam diam. Namun ia tahu satu hal ia tidak lagi sendirian berjuang untuk mimpinya.
Sementara itu, Yuna berjalan pulang dengan perasaan lega sekaligus penuh doa dalam hatinya. Ia memegang erat tasnya, tempat tersimpan harapan baru sahabatnya, dan berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga rahasia ini sebaik mungkin, persis seperti yang diminta Rina membiarkan Rania merasa ini semua adalah keberuntungannya sendiri, sampai waktu yang tepat tiba untuk mengungkapkan segala kebenaran yang penuh kasih sayang ini.
Bersambung… ✨