tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Suara dering ponsel Smith terdengar, Smith langsung mengangkat ponselnya
"tuan besok anda ke persidangan untuk membahas masalah keluarga jovanto,dan untuk membongkar semua kejahatan mereka" ucap sang sekretaris Smith
"hm"
"besok kamu ikut saya ke persidangan" ucap smith
"kenapa saya harus ikut?" dengan raut wajah bingung
"ikut saja" tian mengangguk
Esoknya, Smith dan tian datang ke persidangan, keluarga Tian sangat terkejut saat melihat tian datang bersama dengan Smith pria yang di takuti setelah Anton.
Ruang persidangan itu mendadak hening. Ayah, ibu, dan saudara-saudara Tian duduk dengan wajah pucat pasi. Di ujung meja, Smith berdiri dengan setelan jas hitamnya yang elegan, sementara Tian duduk di sebelahnya dengan tatapan mata yang dingin sangat berbeda dari Tian yang dulu mereka tindas.
"Semua aset, saham, dan sertifikat tanah atas nama kakek Tian telah resmi dialihkan kembali ke pemilik sahnya," suara Smith menggema dingin di dalam ruangan. "Mulai hari ini, kalian tidak memiliki hak sepeser pun di perusahaan ini. Silakan angkat kaki."
"Tian! Kamu tidak bisa melakukan ini pada orang tuamu sendiri!" jerit ibunya histeris, air matanya mulai bercucuran.
Tian hanya tersenyum sinis. Rasa sakit saat mereka memaksanya menikah dengan Robby, rasa sakit saat perutnya ditendang hingga ia kehilangan bayinya, seketika melintas di ingatannya. Rasa iba di hatinya sudah mati.
Di tempat lain, kehancuran yang sama menimpa Robby. Berkat jaringan bisnis dan kekuasaan Smith, seluruh perusahaan keluarga Robby diboikot. Investor menarik diri massal, dan bank menyita seluruh asetnya karena utang yang menumpuk. Robby yang dulu angkuh kini menjadi gelandangan miskin yang terjerat hukum akibat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan penipuan yang bukti-buktinya dikumpulkan oleh Smith. Robby benar-benar bangkrut dan membusuk di penjara.
Satu bulan kemudian, keluarga Tian yang sudah jatuh miskin dan terusir dari rumah mewah, mereka nekat menghadiri sebuah acara formal demi menemui Tian. Mereka berlutut di lantai, memohon di hadapan banyak orang.
"Tian, maafkan kami... Kami salah, Nak. Kami tahu kami tamak," tangis ayahnya sambil memegangi ujung sepatu Tian.
"Tolong maafkan Ibu, Tian. Kembalilah pada kami. Kami merindukanmu," tambah ibunya dengan wajah memelas, berharap belas kasihan.
Tian menatap mereka dari atas ke bawah. Tidak ada air mata, tidak ada keraguan. Ia perlahan menarik kakinya agar tidak disentuh oleh ayahnya.
"Maaf?" ucap Tian, suaranya terdengar begitu tenang namun menusuk. "Di mana kata maaf itu saat aku menangis memohon agar tidak dinikahkan dengan Robby? Di mana kalian saat aku menelepon dengan bersimbah darah, menangis karena kehilangan bayiku akibat siksaan Robby?"
Keluarga Tian tertegun, wajah mereka dipenuhi penyesalan yang terlambat.
"Kalian melarang ku cerai hanya karena takut kehilangan harta Robby. Bagiku, kalian semua sudah mati sejak hari aku kabur dari rumah itu. Sakit hatiku tidak akan pernah bisa dibayar dengan air mata palsu kalian."
Tian berbalik, tidak sudi lagi melihat wajah mereka. Smith yang sejak tadi berjaga di sampingnya langsung merangkul pundak Tian dengan posesif, memberikan kehangatan dan perlindungan yang selama ini tidak pernah Tian dapatkan dari keluarganya.
"Ayo kita pergi, Tian. Tempat ini terlalu kotor untukmu," bisik Smith lembut.
Tian mengangguk. Mereka berjalan pergi meninggalkan tangisan histeris keluarga Tian yang terus memohon ampunan yang tidak akan pernah mereka dapatkan.
Setelah kepergian tian dan Smith terdengar bisik-bisik dari para tamu yang menghina keluarga tian dengan tidak tau diri orang tua yang jahat dan berbagai macam
2 bulan kemudian tian memutuskan untuk pergi ke penjara untuk menemui Robby untuk mendatangi surat cerai mereka
Langkah kaki Tian bergema di lorong penjara yang dingin dan berbau apak. Di sampingnya, Smith setia menemani, memegangi jemari Tian dengan erat seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.
Di ruang kunjungan yang dibatasi jeruji besi dan kaca tebal, Robby duduk dengan pakaian tahanan yang kumal. Wajahnya yang dulu sombong kini tampak kuyu, kurus, dan dipenuhi memar akibat kehidupan penjara yang keras.
Saat melihat Tian masuk bersama Smith, mata Robby langsung menyala penuh amarah, sekaligus keputusasaan.
"Tian! Kurang ajar kamu! Kamu yang membuat keluargaku bangkrut dan menjebloskanku ke tempat hina ini, kan?!" teriak Robby histeris begitu mereka duduk berhadapan. "Lepaskan aku! Dasar jalang tidak tahu diri!"
Tian sama sekali tidak terkejut atau takut. Ia menatap Robby dengan pandangan kosong—bahkan tidak ada lagi rasa benci, hanya ada rasa jijik yang mendalam.
Smith yang berada di samping Tian menatap Robby dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mematikan, membuat nyali Robby seketika menciut. Smith kemudian menggeser sebuah dokumen dan sebatang pena melalui celah kecil di bawah kaca pembatas.
"Tanda tangani surat cerai ini," ucap Tian, suaranya terdengar begitu datar dan dingin.
Robby melihat dokumen itu, lalu tertawa renyah seperti orang gila. "Cerai? Hahaha! Tidak akan pernah! Sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu! Kalau aku membusuk di penjara ini, maka statusmu akan tetap menjadi istri dari seorang narapidana!"
Tian menarik napas panjang. Ia perlahan memajukan wajahnya mendekati kaca pembatas, menatap lurus ke dalam manik mata Robby.
"Kamu pikir aku datang ke sini untuk memohon?" bisik Tian, nadanya begitu menusuk. "Tanda tangan ini hanya untuk membersihkan namaku di atas kertas. Secara hukum ataupun tidak, kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku. Anak yang kamu bunuh di dalam perutku dulu... sudah membawa seluruh sisa kemanusiaanku untukmu."
Robby tertegun. Kilasan malam saat ia menyiksa Tian hingga keguguran terbayang kembali.
"Jika kamu tidak menandatanganinya sekarang," Smith menyela dengan suara berat yang penuh ancaman, "saya pastikan masa hukumanmu di penjara ini akan berubah menjadi neraka yang jauh lebih menyiksa setiap harinya. Pilihan ada di tanganmu, Robby."
Melihat kekuasaan mutlak yang dimiliki Smith dan tatapan dingin Tian yang tidak lagi bisa ia tundukkan, tangan Robby gemetar. Dengan penuh kemarahan dan air mata keputusasaan yang mulai menetes, Robby menyambar pena tersebut. Ia menorehkan tanda tangannya dengan kasar di atas surat cerai itu.
Setelah selesai, ia melemparkan pena itu ke lantai. "Puas kamu?! Sekarang pergi dari hadapanku!"
Tian mengambil dokumen yang sudah ditandatangani itu dengan tenang, lalu melipatnya rapi. Ia berdiri tanpa mengucapkan satu patah kata pun lagi untuk Robby. Baginya, pria di depannya ini sudah benar-benar mati.
Saat keluar dari gedung penjara, hembusan angin segar menyambut wajah Tian. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa beban berat di dadanya benar-benar terangkat.
Smith merangkul pinggang Tian dengan lembut. "Sekarang kamu sudah benar-benar bebas, Tian."
Tian menatap Smith, lalu tersenyum tulus, senyuman pertama yang akhirnya kembali setelah sekian lama runtuh. "Terima kasih, Smith. Mari kita buka lembaran baru."