Ivy Zhang, seorang pengacara cerdas, akhirnya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Leo Fung setelah kehilangan bayi mereka.
Namun Leo, suami yang masih mencintainya, menolak melepaskan Ivy.
Di saat yang sama, Calvin Duan, pria berkuasa sekaligus rival Leo, tiba-tiba menjadikan Ivy sebagai pengacara pribadinya. Dengan tujuan yang sulit ditebak, Calvin menyeret Ivy ke dalam perseteruan dengan suaminya sendiri.
Di antara suami yang berkuasa dan klien yang tak kalah berkuasa, siapa yang harus dibela Ivy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Tuan, saya akan mencari tahu beberapa pengacara terkenal."
"Berapa pun bayarannya tidak masalah. Aku ingin kasus ini diselesaikan dengan cepat," jawab Calvin dingin.
"Baik, Tuan!"
Beberapa hari kemudian.
Ivy datang langsung ke pusat servis resmi Rolls-Royce.
Setelah memastikan kendaraan Calvin sudah selesai diperbaiki, seorang staf menyerahkan tagihan kepadanya.
“Nona Ivy, total biaya perbaikannya adalah 480.000 yuan.”
“Baik.”
Ivy mengeluarkan kartu black yang dulu diberikan Leo kepadanya.
Ia menyerahkan kartu tersebut kepada kasir dan melakukan pembayaran.
Beberapa saat kemudian, transaksi berhasil.
480.000 yuan telah dibayarkan.
Ivy menerima kembali kartunya.
Ia menatap mobil Rolls-Royce milik Calvin yang sudah kembali seperti semula.
“Sudah selesai.”
Namun, Ivy belum langsung pergi.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor yang sebelumnya diberikan pihak servis kepadanya.
Nomor milik Calvin Duan.
Ivy menatap nomor tersebut beberapa detik.
Kemudian, ia menekan tombol panggil.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
Suara dingin seorang pria terdengar dari seberang.
“Siapa?”
Ivy tersenyum tipis.
“Calvin Duan?”
“Siapa di sana?"
“Saya Ivy Zhang, saya yang menabrak mobil Anda dua hari lalu. Mobil Anda sudah selesai diperbaiki,” kata Ivy melalui telepon.
“Berikan alamatnya. Aku akan datang mengambilnya,” jawab Calvin singkat.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Calvin langsung memutuskan panggilan.
Ivy menatap layar ponselnya dengan sedikit bingung.
“Sepertinya Calvin Duan ini memang sulit diajak bicara. Kenapa dingin sekali?” gumamnya.
Ia kemudian mengirimkan lokasi pusat servis tersebut kepada Calvin.
Ivy memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu melirik kartu black milik Leo yang baru saja digunakannya.
“480.000 yuan...”
Ia tersenyum tipis.
“Leo Fung, anggap saja ini sebagai pembayaran atas kesalahanmu.”
Selama ini, ia tidak pernah menyentuh uang yang diberikan Leo kepadanya.
“Tapi kali ini aku akan menggunakannya sepuasnya.”
Ivy memasukkan kartu itu kembali ke dalam dompet.
“Daripada uangmu hanya digunakan untuk wanita lain... sebagai istrimu, bukankah aku juga berhak menggunakannya?”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Tidak lama kemudian—
Suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.
Sebuah mobil sport berwarna hitam perlahan memasuki area pusat servis.
Begitu mobil itu berhenti, suasana di sekitar tempat tersebut seketika berubah.
Para staf dan pengunjung langsung menoleh.
“Bukankah itu... Bugatti Centodieci?”
“Tidak mungkin!”
“Bukankah mobil itu hanya diproduksi sepuluh unit di seluruh dunia?”
“Setahuku, mobil itu dibuat oleh Bugatti di Prancis. Harga satu unitnya sekitar delapan juta euro!”
Orang-orang langsung terpukau.
Bahkan beberapa staf yang sejak tadi sibuk bekerja tanpa sadar keluar untuk melihat mobil langka tersebut.
Pintu mobil terbuka.
Tristan turun lebih dulu, lalu berjalan ke sisi belakang dan membukakan pintu.
Calvin Duan keluar dengan tenang.
Setelan hitam yang dikenakannya terlihat sederhana, tetapi setiap detailnya memancarkan kemewahan.
Suasana kembali hening.
Tidak ada seorang pun yang berani berbicara terlalu keras.
“Siapa sebenarnya pria itu?”
“Dia pemilik Bugatti itu?”
“Bukan hanya Bugatti. Rolls-Royce yang sedang diperbaiki di sini juga miliknya.”
Bisikan semakin ramai.
“Siapa dia?”
“Tampan sekali...”
“Auranya agak menakutkan.”
Beberapa wanita yang berada di sekitar tempat itu mulai berbisik
Untuk sesaat, Ivy terdiam.
Tatapannya bertemu dengan Calvin.
Tidak tahu mengapa, pria itu memberikan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pria itu memiliki aura yang begitu kuat hingga membuat seluruh tempat seolah menjadi sunyi.
Calvin sendiri tidak memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Ia hanya berjalan menuju Rolls-Royce miliknya.
Tristan mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Calvin menghentikan langkahnya.
Matanya tertuju pada Ivy.
Wanita yang berdiri di hadapannya terlihat jauh berbeda dari kebanyakan wanita yang biasa ia temui.
Ivy segera tersadar dan berjalan menghampirinya.
“Tuan Duan, Anda sudah datang. Silakan periksa mobilnya. Kalau ada bagian yang masih bermasalah, pihak servis bisa segera melakukan pemeriksaan ulang.”
Calvin berjalan mendekati mobilnya dan hanya memeriksanya sekilas.
Setelah memastikan tidak ada masalah, ia kembali menatap Ivy.
“Sangat bertanggung jawab.”
Ivy tersenyum tipis.
“Ini memang kesalahanku. Sekali lagi, saya minta maaf.”
Calvin menatapnya beberapa detik.
“Tuan, semuanya sudah selesai,” kata Tristan setelah memeriksa kondisi Rolls-Royce tersebut.
Calvin mengangguk. Tatapannya kemudian beralih kepada Ivy.
“Nona Zhang, Anda seorang pengacara?”
Ivy mengerutkan kening.
“Bagaimana Anda tahu?”
Calvin menatapnya tenang.
“Karena aku harus tahu siapa orang yang menabrak mobilku.”
Ia berhenti sejenak.
“Lagi pula, mencari informasi tentang seseorang bukan hal yang sulit bagiku.”
Ivy terdiam.
Pria ini ternyata sudah menyelidiki dirinya.
Calvin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Kebetulan, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Ivy menatapnya penuh tanda tanya. “Sesuatu tentang kecelakaan itu?”
“Bukan.”
Calvin menggeleng pelan.
“Ini tentang masalah hukum.”
Ekspresi Ivy langsung berubah serius. “Masalah hukum?”
Calvin mengangguk.
“Aku membutuhkan seorang pengacara.”
Tatapan Ivy dan Calvin kembali bertemu.
“Kasus apa?” tanya Ivy.
Tatapan Calvin berubah serius.
“Kasus perebutan sebuah proyek.”
Ivy mengerutkan kening.
“Perebutan proyek?"
“Pihak lawan mendapatkannya dengan cara licik dan melanggar hukum. Kami memiliki bukti, tetapi masalahnya...” Calvin berhenti sejenak. “Pihak yang kami hadapi bukan orang biasa.”
Ivy menatapnya tanpa gentar.
“Seberapa besar pengaruhnya?”
“Cukup besar untuk membuat beberapa pengacara memilih mundur sebelum persidangan dimulai.”
Ivy terdiam.
Calvin menatapnya lurus.
“Aku tidak membutuhkan pengacara yang hanya pandai membaca hukum. Aku membutuhkan seseorang yang berani berdiri di ruang sidang ketika pihak lawan menggunakan kekuasaan mereka untuk menekan.”
Ia melangkah sedikit mendekati Ivy dan berhenti di hadapannya.
“Tapi aku tidak tahu apakah Nona Zhang cukup berani menerima kasus sebesar ini.”
sebagai penyemangat untuk memulai harimu😍😍😍😍😍
tambah lagi dooooong. supaya kita gak nunggu lanjutannya dengan penasaran.🙏🙏🙏🙏🙏