NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Harga Sebuah Kebenaran

"P-Pak ...?"

Suara Kemala tercekat. Air mata masih membasahi pipi wanita  itu ketika Kemala menoleh ke arah pintu. Bastian berdiri di sana dan masih mengenakan kemeja yang sama saat berangkat tadi pagi. Wajah pria tegas itu terlalu dingin.

"P-Pak, bukankah Bapak dinas luar kota?"

Bastian tak menjawab. Pria itu melangkah masuk. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya. Tatapan pria itu tak pernah lepas dari Kemala.

"Siapa yang kamu maksud, Kemala?" Bastian mengulang pertanyaannya dengan lebih tegas.

Jantung Kemala langsung berdegup kacau. Wanita desa itu buru-buru mengusap air matanya.

"Bukan si–"

"Jangan bohong," suara Bastian memotong.

Tegas dan datar. Namun justru terdengar lebih menekan. Kemala membeku.

"Kemala." Bastian menatapnya lurus. "Jika seseorang memaksamu melakukan hubungan yang tidak kamu inginkan, itu termasuk pemerkosaan."

Kemala menahan napas.

"Dan orang itu seharusnya mendekam di penjara." Tatapan pria itu menggelap. "Bukan berkeliaran sambil mengancammu."

Bastian yang seumur hidupnya diajarkan bagaimana untuk tetap bertanggung jawab atas tindakannya, sangat membenci tipe pria yang begitu pengecut tak mempertanggungjawabkan tindakannya sendiri.

Kemala tak mampu menjawab. Tangan kurus wanita desa itu bergetar. Bastian sudah mendengar semua itu. Tentang Reza, kehamilan Kemala, tentang Arkana, tentang luka yang selama ini Kemala sembunyikan rapat-rapat.

Malam itu juga, Bastian keluar dari Kediaman Rothmere. Mobil hitamnya melesat membelah jalanan Jakarta. Di kursi belakang, layar tablet menampilkan berbagai data. Nama, nomor telepon, alamat, bahkan riwayat pekerjaan.

[Reza Adiprana]

Seorang ASN di kota kecil tempat Kemala berasal. Bastian membaca semuanya tanpa ekspresi. Namun semakin banyak informasi yang muncul, semakin keras rahangnya mengeras.

"Tuan." Sekretaris pribadi pria itu memanggil Bastian. "Kita sudah menemukan lokasinya."

"Berapa lama?"

"Tiga puluh menit."

"Percepat."

Kurang dari dua jam kemudian. Reza sudah duduk di ruang pemeriksaan polisi. Wajah pria itu pucat. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

"Apa maksud semua ini?" bentak Reza di ruang pemeriksaan. "Saya tidak melakukan apa-apa!"

Penyidik meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja.

"Ancaman. Pemerasan. Intimidasi, dan dugaan tindak pidana seksual."

Wajah Reza langsung berubah. "Apa?"

Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Bastian masuk. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Reza merasakan ketakutan yang sesungguh begitu dalam.

"Itu dia ..." gumam Reza merasa bisa selamat dari tuduhan itu. "Itu bosnya Kemala …."

Bastian duduk di kursi seberang. Hanya duduk diam menatap Reza. Namun tekanan yang muncul dari pria itu membuat ruangan terasa sesak.

"Nama?"

"R-Reza..."

"Kamu mengenal Kemala?"

"Tentu."

"Kamu ayah biologis anaknya?"

Reza langsung gugup.

"Saya ...."

"Kamu memperkosanya?"

"Saya tidak memperkosa siapa pun!" bentak Reza. “Itu dilakukan atas dasar suka sama suka!”

Namun suara pria yang sedang ketakutan itu terdengar jauh dari yakin. Bastian tetap menatapnya. Tatapan yang sangat dingin tanpa berkedip.

"Kalau begitu kenapa kamu mengancamnya?

"Saya hanya butuh uang untuk modal nikah!" teriak Reza. "Saya cuma mau pinjam!"

"Lima puluh juta?"

"T-Toh dia kerja di rumah konglomerat!" Reza mulai panik. "Dia pasti punya uang! Dia berutang padaku!"

"Dia tidak berutang apa pun padamu," suara Bastian akhirnya terdengar pelan. Namun membuat seluruh ruangan membeku.

Reza menelan ludah. Penyidik kembali mengajukan pertanyaan. Tekanan terus datang. Satu per satu sampai akhirnya mental Reza runtuh.

"Aku cuma disuruh!" teriak pria yang sudah sangat ketakutan itu. "Aku cuma disuruh!"

Bastian langsung mengangkat kepala. "Siapa?"

Reza menunduk dengan wajahnya yang pucat. "Nyonya Rothmere ...."

"Raline menyuruhku," lanjut Reza yang sudah hampir kehilangan semua tenaganya.

BRAK!

Kursi yang diduduki Bastian jatuh membentur lantai ruang pemeriksaan. Sudah terlihat Bastian berdiri begitu tegap. Wajah pria bersetelan jas lengkap itu sudah tak bisa dibaca lagi.

"Ulangi."

Reza gemetar. "N-Nyonya Raline … Dia yang kasih informasi soal Kemala. Dia yang bilang aku bisa menekan Kemala ...."

Belum sempat kalimat itu selesai.

BUGH!

Tinju Bastian menghantam wajah pria itu. Kursi Reza terjungkal. Pria itu jatuh ke lantai. Darah mengalir dari sudut bibir Reza. Seluruh polisi langsung berdiri.

"Tuan Bastian!"

Namun Bastian sudah berbalik. Pria itu keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.

Malam itu, hampir menunjukkan waktu tengah malam. Sebuah acara arisan sosialita masih berlangsung. Tawa para wanita memenuhi ruangan. Perhiasan mahal berkilauan. Gaun-gaun mewah memenuhi pandangan. Raline sedang duduk santai ketika pintu terbuka. Beberapa wanita langsung berseru kagum.

"Itu Pak Bastian!"

"Astaga … tampan sekali!"

"Suami kamu datang menjemput?"

Raline sempat tersenyum. Namun senyum itu langsung membeku. Karena Bastian berjalan lurus ke arahnya. Wajah pria itu dingin. Tak ada kelembutan sedikit pun, tak ada basa-basi, bahkan tak ada sapaan.

Tangan pria tegas itu langsung mencengkeram pergelangan tangan Raline.

"Ikut aku."

Raline terkejut. "Bastian?!"

Namun pria itu sudah segera menarik Raline keluar. Tatapan para sosialita langsung berubah. Kali ini bukan iri melainkan bingung.

Mereka berhenti di area taman belakang gedung. Sepi, tanpa siapa pun. Bastian melepaskan tangan Raline.

"Kamu menyuruh Reza mendekati Kemala?"

Raline membeku sesaat. Lalu tertawa kecil.

"Oh. Jadi soal itu?"

Tatapan Bastian mengeras.

"Jawab."

"Ya." Raline mengangkat dagu. "Aku yang menyuruhnya."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin kamu sadar." Raline tersenyum sinis. "Wanita itu bukan wanita baik-baik."

Bastian diam.

"Aku tidak mau orang seperti dia berada di dekat Nathan." Raline melanjutkan. "Mira bilang air susu membawa banyak hal. Karakter, kebiasaan, watak. Aku tidak mau pewaris Rothmere tumbuh dengan pengaruh pelacur."

Rahang Bastian langsung mengeras. "Dia bukan pelacur."

Raline mendengus. "Lalu apa?"

"Korban." Tatapan Bastian menusuk tajam.

Raline membeku.

"Reza memperkosanya."

Wajah Raline memucat. "Mustahil!"

"Dia mengaku kepada polisi. Dan sekarang dia sedang diperiksa."

Raline kehilangan kata-kata. Wanita itu benar-benar terkejut.

"Kamu … Kamu melibatkan polisi?!"

"Tidak," suara Bastian terdengar dingin. "Kamulah yang melibatkan polisi."

Raline mundur satu langkah.

"Niat memeras, intimidasi, ancaman, dan keterlibatan pihak ketiga."

Setiap kalimat membuat wajah Raline semakin pucat.

"Kamu gila." Raline berbisik kepada Bastian. "Karena wanita itu?"

"Aku membela pihak yang benar."

"Bohong!" teriak Raline. "Kamu membelanya! Karena kamu sudah terlalu dekat dengannya!"

Bastian tak menjawab. Justru itu membuat Raline semakin emosi.

"Aku tidak akan minta maaf. Tidak akan!"

"Kamu akan minta maaf pada Kemala."

"Tidak."

"Kalau begitu aku akan laporkan semuanya."

Raline langsung tertawa. Tawa yang terdengar nyaris histeris.

"Laporkan? Silakan." Wanita itu melangkah mendekat. Tatapan Raline berubah tajam. "Pernah berpikir apa yang akan terjadi kalau media tahu?"

Bastian diam. Raline tersenyum penuh racun.

"Aku akan bilang Presiden Direktur Rothmere berselingkuh dengan ibu susu bayinya sendiri."

Tatapan Bastian membeku.

"Aku akan bilang kamu memeluk wanita itu di belakang istrimu." Raline melanjutkan. "Aku akan bilang kamu lebih peduli pada ibu susu daripada keluargamu sendiri."

Angin sore berembus pelan. Namun suasana terasa semakin dingin.

"Kita lihat saja." Raline tersenyum tipis. "Siapa yang hancur lebih dulu. Kamu atau wanita desa kesayanganmu itu."

Bastian berdiri diam. Ancaman itu bukan hanya mengarah kepada Bastian. Melainkan juga kepada Kemala. Itu membuat sesuatu dalam diri Bastian mengeras jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Raline menatap Bastian lurus. Lalu berbisik pelan. "Aku ingin melihat apakah Kemala masih bisa tinggal di Kediaman Rothmere … setelah seluruh kota percaya bahwa dia merebut suami orang."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!