mira seorang istri dari pandu, mira hanya seorang ibu rumah tangga dulu nya ia bekerja di salah satu perusahaan menjadi staf biasa . tetapi setelah menikah dengan pandu, ia di larang untuk bekerja.
***
pandu dan mira masih tinggal bersama kedua orang tua pandu dan adik nya. ibu nya melarang pandu untuk pergi dari rumah nya, gaji pandu juga kebanyakan ibunya yang ngatur. mira selalu bersabar dengan sikap pandu dan keluarganya. namun saat mira tahu pandu mengkhianatinya dengan tetangga barunya yang berstatus janda. Mira tak lagi memperdulikan pandu, ia juga tidak lagi meminta uang dan mira juga tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isy_yuli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah impian mira
Matahari pagi menyinari jendela kamar kontrakan Mira. Ia duduk di kasur sambil memeriksa laporan penjualan toko online miliknya dan tika. Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika melihat angka yang terus bertambah setiap bulan.
"Mir, lu sudah lihat pesanan semalam?" tanya Tika , ia memang berada di rumah sahabat nya. karena suaminya ada kerja di luar kota, jadinya pagi pagi tika langsung meluncur ke arah kontrakan mira
Mira mengangguk sambil menunjukkan layar laptopnya.
"Seratus delapan puluh tujuh set piyama. Ini rekor baru kita." ucap mira
Tika langsung menepuk kedua tangannya dengan gembira.
"Alhamdulillah! gua sampai gak percaya usaha kita bisa sebesar ini. gara gara usaha ini gua bisa bantu keuangan keluarga gua" ucap tika
"betul, gua juga bersyukur usaha kita berjalan dengan lancar, banyak orang yang puas dengan barang kita" sahut mira tersenyum.
Mira masih ingat saat masih bersama pandu, ia hanya di beri uang belanja 20ribu oleh bu Denok. ia tidak bisa lagi membeli kebutuhannya sendiri, hal tersebut menjadi mira tidak bisa merawat diri. tapi saat mira memulai menulis novel, mira bisa mendapatkan uang sendiri dan membeli apa yang ia mau apalagi ia juga mencoba memulai bisnis bersama tika. Tika lah yang menjadi teman curhat dan teman untuk semangat menjalani hidup.
"Kalau bukan karena lu nyaranin buat nulis novel, mungkin gua masih sibuk meratapi nasib," kata Mira tulus.
"Udahlah kita kan bestie, jadinya saling membantu." ucap tika sambil tertawa kecil
"oiya gua mau langsung balik ya! " pamit tika setelah sarapan
"kok cepet amat, baru lu sampek sini! " heran mira
"nih mertua gua ngechat gua minta anter ke toko kain. sebagai mantu yang baik gua harus nemenin lah" ucap tika
"oalah, yaudah sana gih cepat berangkat. takutnya mertua lu ngomel kalau lu telat" kata mira
"hey sorry ya mertua gua gak kayak mantan mertua lu itu. " bela tika, mira tertawa kecil
Selain usaha piyama yang semakin maju, tulisan tulisan Mira juga mulai dikenal banyak orang. Novel yang ia unggah secara online mendapat ribuan pembaca setia. Banyak yang menunggu setiap bab baru yang ia terbitkan.
Pendapatan dari platform menulis terus bertambah. Beberapa penerbit bahkan mulai menghubunginya untuk menawarkan kerja sama.
Mira tidak pernah menyangka hobinya menulis dapat menghasilkan uang sebanyak itu. Setiap bulan ia menyisihkan sebagian penghasilannya ke tabungan.
Kini jumlah tabungannya yang mira sisihkan sudah cukup besar.
Sore itu, setelah menyelesaikan pekerjaan, Mira membuka buku tabungannya. Ia menghitung kembali seluruh simpanan yang dimiliki.
"Sepertinya ini cukup deh" gumamnya pelan.
Ia mengambil ponsel dan mulai mencari informasi rumah yang dijual di kota tempat tinggalnya. Mira tidak menginginkan rumah mewah bertingkat seperti kebanyakan orang melainkan Mira ingin memiliki rumah yang sederhana. rumah satu lantai yang nyaman dengan halaman luas.
Halaman itu ingin ia jadikan taman kecil penuh bunga. Ia juga ingin menanam pohon mangga, jambu, dan beberapa tanaman sayur.
****
Keesokan harinya, Mira mengajak Tika melihat beberapa rumah yang sedang dijual.
Rumah pertama cukup bagus, tetapi lahannya sempit.
Rumah kedua memiliki bangunan besar, namun hampir tidak memiliki halaman.
Mira menggelengkan kepala.
"Gua kurang suka." desah mira
"Kenapa? padahal menurut gua rumahnya ok ini" tanya Tika.
"gua ingin punya halaman yang luas. gua ingin bisa duduk santai di luar rumah setiap sore sambil nulis novel" jawab mira
Mereka melanjutkan pencarian hingga tiba di sebuah kawasan yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Seorang agen properti menunjukkan rumah berikutnya. Saat gerbang dibuka, mata Mira langsung berbinar.
Rumah itu memang hanya satu lantai. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi terlihat rapi dan nyaman.
Yang paling menarik perhatian Mira adalah halaman depannya yang luas. Di samping rumah bahkan masih ada tanah kosong yang cukup besar.
"wah mir , rumahnya adem. ini kan keinginan lu punya halaman yang luas," bisik Tika.
Mira berjalan perlahan menyusuri halaman tersebut. Angin sore bertiup lembut menerbangkan beberapa daun kering.
Entah mengapa, hatinya terasa tenang berada di sana. Ia membayangkan bunga-bunga bermekaran di sepanjang pagar. Sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang. Serta sudut kecil tempat ia bisa menulis novel dengan tenang.
"Bagaimana, Bu?" tanya agen properti.
"Saya suka rumah ini." jawab mira tersenyum manis
Mereka kemudian melihat bagian dalam rumah. Terdapat dua kamar tidur, ruang tamu yang cukup luas, dapur bersih, serta jendela-jendela besar yang membuat ruangan terasa terang.
Tidak ada kemewahan berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat Mira jatuh hati kepada rumah tersebut.
Setelah berdiskusi mengenai harga dan proses pembayaran, Mira akhirnya deal untuk membeli rumah tersebut. agen properti langsung memproses surat suaratnya untuk di balik namakan atas mira.
Dalam perjalanan pulang, Tika menatap sahabatnya dengan senyum bangga.
"gua seneng lihat lu berhasil kayak gini" ucap tika
Mira menoleh. "semuanya berkat lu juga tik" sahut mira
"gua hanya memberi saran, yang ngejalanin kan lu" ucap tika, mira tersenyum tipis
"gua yakin, kalau pandu atau mantan mertua lu lihat beli rumah gua yakin mereka akan kepanasan" lanjut tika
"udahlah jangan bahas mereka" ucap mira
Meski masih ada sedikit luka dalam hatinya, Mira tidak lagi dipenuhi kebencian. Ia telah belajar menerima masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Bersambung...
...****************...
Hay para kawand kawand jangan lupa di like dan komen ya, biar tambah semangat nulis nya. hehehe. terimakasih sudah membaca