Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Di Rumah Ibu
🌹Selamat Membaca🌹
Pagi hari itu terasa begitu segar, Udara sejuk langsung menyeruak saat membuka pintu dan jendela rumah sederhana yang ia tempati bersama ibu dan adiknya sedari kecil. Walaupun rumah itu hampir satu tahun ia tinggalkan pergi ke kota, tapi adik ibunya yang begitu baik hati mau merawatnya hingga rumah itu tetap bersih dan layak untuk dihuni.
Sebagai rasa terima kasihnya, ia selalu mentransfer uang untuk biaya pendidikan kedua anak dari bibinya agar tetap bisa bersekolah dengan baik.
Farhan menatap ke arah sawah yang tak lama lagi akan panen raya, tak jauh dari rumah yang ia diami saat ini. Ia jadi teringat beberapa tahun yang lalu, saat ia masih berpacaran dengan Sofi, bersama mereka berdua ikut terjun ke sawah untuk memanen padi.
Dengan semangat ia dan Sofi ikut membawa sabit, dengan mengenakan caping bundar masuk ke dalam lumpur. Bermaksud untuk memotong pohon padi.
Sayangnya, masih tiga langkah Sofi melangkah di kedalaman lumpur setinggi di bawah lutut, ia sudah tak bisa meneruskan langkahnya lagi. Ia tak bisa menyeimbangkan badan saat akan mengangkat kakinya, alhasil tubuhnya oleng masuk lumpur, hingga badannya kotor semua.
Bukannya kasihan lalu menolong, Farhan malah menambahkan lumpur ke kedua pipi Sofi sambil tertawa terbahak bahak.
Farhan tersenyum mengingat semua itu yang kini tinggal kenangan.
Ehemmm!
Sebuah deheman mengagetkan Farhan.
" Hmm, sepertinya kamu sedang bahagia sekali Han? "sambil menepuk pundak Farhan hingga dirinya tersentak, tak menyangka paman memperhatikannya dari tadi yang memandangi hamparan sawah yang menguning. Sepertinya sebentar lagi akan panen raya.
Farhan :" Iya paman, sudah lama saya tak merasakan udara seperti ini. Di kota, udara panas dan bising, hampir tak ada warna hijau pepohonan. Yang ada hamparan rumah rumah penduduk dan gedung gedung tinggi yang hampir tidak ada celahnya."
Paman terkekeh, "Ya wajar kalau begitu, Orang orang dari desa dan kota kecil seperti disini pun akan berlomba lomba mencari pekerjaan di kota yang lebih menjanjikan uang yang lebih banyak, seperti kamu juga kan? Sekarang ini sangat jarang bahkan sangat sulit menemukan anak muda yang mau bercocok tanam di sawah dan di kebun, mereka lebih memilih menjadi manusia urban. Mengadu nasib dikota, bekerja di kantor berkutat didepan laptop dan komputer masing masing. Menjadi orang kantoran lebih bergaya, lebih keren sepertinya."
Farhan, " Saya sependapat dengan Paman. Bahkan saya juga yakin kalau Irfan dan Zarima sudah menyelesaikan pendidikannya, mereka akan mengikuti jejak saya pergi ke kota, Paman. Hahahah," Farhan terkekeh, sang paman pun ikut tertawa bersama dan mereka tampak akrab.
" Hhh, Ya ya, apa boleh buat. Paman juga gak bisa mencegah mereka mengembangkan diri, akan sangat egois kalau Paman menahan mereka."
Oiya, Han. Sampai kapan kamu disini?"
Farhan :" Saya dapat proyek tak jauh dari sini Paman, jadi daripada saya menginap di hotel lebih baik saya pulang kesini, sambil nostalgia, mengenang masa lalu, walaupun pahit. Buat jadikan muhasabah diri, agar saya tak sampai terlena oleh capaian yang saya raih."
"Biar saya selalu ingat, bahwasanya saya pernah hidup sengsara. Agar saya tak sampai lupa diri."
"Tapi mungkin, dua hari lagi saya balik ke kota." jawab Farhan mantap.
" Sekarang kau sudah sukses Han, tapi kamu jangan hanya tenggelam dalam kesibukan kerja saja. Kau sudah dewasa, harus mulai memikirkan masa depan."
"Sudah saatnya kau berumah tangga. Apalagi yang kau kejar? Karir, uang, kendaraan dan rumah. Semua kamu sudah punyai. Kurang apa lagi?"
"Kapan kau nikah?"
"Apa kau masih mengharap mantanmu yang kamu cerita sudah di tinggal mati suaminya itu?" tebak sang Paman. Farhan hanya tersenyum tanpa menjawab. Pamannya sampai menggeleng heran. Apa yang ada pada diri perempuan itu sampai Farhan tak bisa berpaling darinya.
" Han, kalau boleh Paman sarankan! Banyak perempuan lain, yang masih single dan cantik pasti banyak yang suka sama kamu. Kamu punya semuanya, gak sulit buat kamu nyari calon istri seperti yang kau mau. Apa kamu gak bakal nyesal kalau kau tetap pada pendirian nunggu dia?"
Farhan berdecak, terlihat tidak suka dengan pertanyaan yang ditujukan untuknya. Hampir semua orang yang tahu ia menanti kesanggupan Sofi, berkata sama halnya dengan Pamannya itu. Memang siapa yang bisa mengubah perasaan cinta yang terlanjur dalam? Tak peduli biarpun kini ia menjadi janda, perasaannya tak berubah. Malah bertambah sayang, apalagi dengan adanya kedua anaknya yang berlabel 'anak yatim'.
Bukankah dalam ajaran agama, kita diwajibkan mengasihi dan menyantuni anak yatim ataupun piatu?
Farhan :" Sebenarnya, saya sudah berusaha melupakan, saat dia a memutuskan menikah dengan orang lain saya berusaha ikhlas dan saya sudah hampir melupakannya, Paman. Tapi mungkin saya memang ditakdirkan untuk tidak melupakannya, keadaan berkata lain. Saat saya mau melangkah berpaling, dia malah kehilangan suami. Dari situ timbullah lagi rasa sayang saya padanya."
Farhan tersenyum teringat si kembar.
" Apalagi anak anaknya, sangat lucu dan menggemaskan. Saya bertekad untuk bisa memiliki mereka, Paman. Di dalam doa saya meminta jika dia memang jodoh saya, maka kami akan didekatkan oleh Nya, dan saya merasa rasa sayang saya padanya semakin bertambah. Apalagi dengan adanya anak anak membuat saya bertambah nyaman saat dengannya. Bukannya itu sebuah petunjuk jika saya harus memperjuangkannya?" jelas Farhan.
Ia tak suka jika ada orang yang mengusik perasaannya.
Paman :" Jangan tersinggung, Farhan. Paman cuman bertanya. Kalau memang seperti itu adanya, semoga dia memang jodoh kamu. Paman ikut mendoakan kebahagiaan kamu. Orang tuamu pasti sangat bangga jika mereka masih hidup. Dan lagi, paman berharap, kamu bisa menjadi imam yang baik buat keluargamu nantinya."
Paman berusaha menetralkan suasana.
Farhan:" Aamiin. Insha Alloh paman."
"Ehhm, ngobrolnya dilanjutin nanti. Sekarang kita sarapan dulu!"
Obrolan paman dan ponakan itu terhenti saat sang Bibi memanggil mereka untuk sarapan. Mereka sarapan dengan lauk ala desa. Sambal pecel dengan sayur rebus dan tempe goreng. Tak lupa rempeyek kacang tanah hasil olahan bibinya selalu nomer satu. Renyah dan gurih. Dan Farhan sangat suka. Oleh sebab itulah jika Farhan pulang, sang bibi sebisa mungkin memasakkannya untuk keponakan yang sudah banyak membantu perekonomian keluarganya.
"Ayo semua, sarapan dulu. Kalian juga harus berangkat sekolah!" Sang Bibi menegur anak anaknya. Dan mereka pun sarapan bersama tanpa suara.
Selesai sarapan Farhan segera mandi lalu berpamitan pada paman dan bibinya untuk keluar. Ia sudah ada janji dengan klien, tapi sebelumnya ia akan mampir ke suatu tempat.
Paman, bibi, Zarina dan Irfan mengantar kepergian Farhan di halaman rumah.
Zarima :" Da-dah Bang! Jangan lupa oleh olehnya ya, Bang?" teriak Zarima sambil melambaikan tangan pada sepupunya yang berjalan menuju mobil hitam kepunyaanya.
Farhan menoleh." Memangnya Rima mau oleh oleh apa? Nanti kalau Abang pulang, Abang belikan deh?" Zarima tersenyum penuh arti.
Zarima:" Aku mau oleh olehnya Abang bawa calon kakak ipar Rima kemari, Hehehe" Rima nyengir, karena sang ibu melotot padanya.
Bibi:" Hush! kamu Rima. Anak kecil jangan ngaco ngomongnya." Tegur bibi Farhan pada anaknya.
Farhan :"Oke deh. Do'ain abang ya dek! Biar Abang bisa cepat bawa calon kakak ipar kemari." ucap Farhan tanpa menghiraukan pelototan sang bibi, sambil mengacungkan jempol. Ia segera masuk kedalam mobil setelah itu.
Mobil yang dikendarai Farhan membelah jalanan yang kanan kirinya ditumbuhi pohon yang rindang, jarang sekali berpapasan dengan mobil. Hanya sepeda motor bahkan sepeda onthel yang dikayuh oleh bapak bapak untuk pergi ke sawah.
Hanya butuh waktu 15 menit dia sampai ditempat yang dia tuju. Setelah Farhan memarkirkan mobil di halaman rumah yang cukup luas, yang kanan kirinya ditumbuhi beberapa pohon bunga dan sayuran yang lebih mendominasi. Iapun masuk ke teras rumah dan mengucap salam.
Farhan: "Assalamu'alaikum." ucapnya sambil menengok kanan kiri. Rumah terlihat sepi. Namun tak lama terdengar jawaban dari dalam rumah.
" Waalaikum salam."
Sofi membuka pintu, dan raut wajahnya terlihat heran, tampak dari kerutan alisnya.
"Loh, mas Farhan masih disini. Bukannya mas Farhan harus kerja, ya?" tanya Sofi setelah pintu terkuak lebar. Heran dengan kedatangan Farhan sepagi ini.
Farhan :" Pekerjaanku kan freelance Sof, jadi gak ada yang namanya jam kerja. Aku bisa bekerja diwaktu yang aku mau."
"Sebenernya sih aku ada proyek tak jauh dari sini, mau meeting dengan team pembangunan rumah hunian. Tapi masih dua jam lagi. Nanti saja aku ke sana satu setengah jam lagi." Ia lalu memandang dan tersenyum pada kedua bayi lucu yang bersama mbak Rumi di dalam rumah.
"Hai baby! Om kangen nih!" masuk ke dalam rumah, walau Sofi tak mempersilakannya.
" Kalian kok tambah menggemaskan sih!" menghampiri si kembar lalu menjawil pipi gembul keduanya bergantian. Baby Aam menaikkan kedua kakinya yang terbungkus kaos kaki. Yang satunya lagi dengan girang seakan melompat, menaik naikan badannya sambil mengeluarkan suara.. memandang Farhan.
"Waah, sepertinya, baby Ra pengen di gendong Om, ya?" Farhan segera menangkap tubuh kecil itu mengangkatnya dan mencium gemas.
Uwwaaaaa!
Baby Aam yang melihat saudaranya diangkat menyebik lalu menangis keras. Lalu Sofi pun segera menggendong baby Aam, barulah ia diam.
" Udah pada sarapan apa belum nih....?" tanyanya dengan memainkan tangan mungil itu. Baby yang ada di gendongan Sofi tertawa.
"Sudah Om! " jawab mbak Rumi yang mengulurkan tisu untuk mengusap bibir baby Aam yang basah. Yang kemudian diambil alih oleh Farhan. Mereka lalu duduk berdampingan di kursi panjang dengan Farhan memangku baby Aam, sedang Sofi memangku baby Ra. Sofi meminta mbak Rumi membuatkan teh untuk Farhan.
Lama mereka duduk terdiam, Sofi mengayun ayunkan jarinya yang digenggam baby Ra, hingga sang bayi tertawa tawa.
Farhan :" Kapan kau kembali ke rumah mertuamu, Sof?" Sofi mengalihkan pandangan dari bayinya tersebab pertanyaan itu.
Sofi:" Rencananya aku disini seminggu mas, nanti pak Bayu jemput aku kalau Papa Hendra libur dari kantor." jawab Sofi tanpa memperhatikan Farhan disampingnya.
Farhan "Gimana kalau kamu barengan sama aku, aku bakal ngantar kamu sampai rumah."
Sofi:" Gak usah mas. Terima kasih atas tawarannya, tapi aku mau nunggu pak Bayu saja." tolak Sofi.
Farhan :" Tapi Sof...! " Farhan menghentikan bicaranya.
"Ya udah, kalau kamu memang nunggu pak Bayu."
Akhirnya ia tak lagi membahas hal kepulangan Sofi, ia tak mau merusak suasana hati Sofi dan tak mau memaksakan kehendaknya.
Sofi bener bener berubah. Farhan.
Di ulurkannya kue khusus bayi yang ada di sebelahnya yang terus dan die mut oleh baby Aam. Dengan telaten ia membersihkan mulut mungil itu dari bekas kue yang tertinggal dengan tisu basah. Baby Aam terlihat makan dengan lahap kue itu.
Sofi :" Oiya mas, Marwan gak ikut pulang ya? Dari kemarin mas Farhan sendirian saja kesini?"
Farhan :" Dia udah selesai kuliahnya sedang nunggu wisuda, jadi sebelum dia punya kerjaan aku memintanya untuk mengawasi proyek pembangunan rumah seorang klien. Karena dia pengen kayak aku, nyesel katanya kuliah di jurusannya yang sekarang. Kata Marwan jadi arsitek lebih menjanjikan. Hahah"
" Padahal gak juga, mungkin nanti dia bisa jadi asistenku kalau dia mau."
Mereka berbincang cukup lama di rumah Sofi, akhirnya ia mohon diri untuk meninjau proyek yang ditanganinya. Sebelum pergi dia menciumi si kembar dengan gemas.
Farhan :" Oiya, kamu bener gak mau barengan dengan aku pulangnya Sof? "
Sofi :" Iya mas, Maaf. Aku nunggu pak Bayu aja."
Farhan :" Ya udah kalau gitu, sampai ketemu lagi nanti di kota."
"Oiya, kapan kapan, aku mau ngajak kamu makan malam bareng. Kuharap kamu gak menolak! Kalau kamu sempat, kamu bisa call aku." ajak Farhan dengan mimik wajah penuh harap Sofi mau diajaknya, membuat Sofi tersenyum geli mendengar tawaran Farhan.
"Kenapa senyum?"
Sofi :" Lucu kali ya, kalau nanti kita makan malam. Terus sambil bawa dua stroller bayi, Nanti bukannya makan, tapi malah momong!" "
Farhan tertawa. " Ya nggak masalah kan, ke restoran bawa bayi, Sof? Gak ada yang larang. Yang dilarang tuh, kalau makan, tapi gak bayar!"
Sofi :" Ya nggak masalah sih, nanti baru makan satu suap belum juga masuk ke tenggorokan, eh bayinya udah nangis heheheh. " Sofi terkekeh lucu membayangkan.
" Oiya mas, gak nunggu makan siang sekalian biar aku masak dulu?"
Farhan :" Makasih Sof tapi lain kali aja, maaf ya! Tadi klien ngajak makan siang sebelum menuju lokasi proyek. Dan aku udah bilang ok, jadi gak enak kalau aku membatalkannya sepihak."
"Baiklah, hati hati ya! Semoga proyeknya lancar sampai selesai." Sofi memaklumi itu.
"Aamiin. Ya udah, aku pergi dulu, sof!"
Setelah Farhan pergi Sofi mengajak si kembar masuk rumah dan meninggalkan mereka berdua dengan mbak Rumi untuk memasak buat makan siang. Sofi memasak tumis kangkung serta menggoreng tempe dan ayam kecap pedas.
Tak sampai satu jam, selesai sudah acara masak memasak. Sofi meminta mbak Rumi untuk mengantar makan siang untuk Ayah dan Ibunya di mini market tak jauh dari rumah.
"Oiya Mbak Rum. Jangan lupa tolong bawain pempers buat si kembar, kayaknya udah mau habis!" mbak rimi mengangguk patuh sebelum meninggalkan Sofi bersama anak anaknya.
\=\=\=\=\=\=