NovelToon NovelToon
Transmigration : Modern Life Of A Taoist Gril

Transmigration : Modern Life Of A Taoist Gril

Status: tamat
Genre:Gadis nakal / Transmigrasi / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:139.7k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.


---

CATATAN PENULIS

Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chen masih ngambek

Di dalam kamar yang temaram, Xinyao mondar-mandir kecil di depan kasurnya.

Lampu meja hanya menyala redup, memantulkan bayangan tubuhnya ke dinding—terlihat kecil, lelah, dan kusut.

Wajahnya mengernyit.

Alisnya saling bertaut.

“Kenapa sih dia semarah itu…”

gumamnya lirih.

Ia berhenti melangkah, berdiri mematung di tengah kamar.

“Dan kenapa… kenapa Chen jadi sedingin itu ke aku?”

Nada suaranya pelan, nyaris seperti bertanya pada diri sendiri.

Tidak ada jawaban.

Xinyao mengacak rambutnya frustasi, napasnya terdengar berat.

“Ahhh!”

teriaknya tiba-tiba, memecah keheningan kamar.

“Aku pusing!”

Ia menekan pelipis dengan kedua tangan, mata terpejam kuat seolah ingin memaksa pikirannya berhenti berputar.

Saat itulah—

Kabut tipis perlahan menari di udara.

Dingin.

Hening.

Aura itu muncul begitu halus, nyaris tak bersuara.

Xinyao membuka mata setengah malas.

“Liu Meiren,”

tegur Xinyao tanpa menoleh, nadanya penuh penekanan.

“Munculnya nggak bisa yang biasa aja?”

Kabut itu mengental, lalu membentuk sosok wanita bergaun merah.

Begitu wujudnya jelas, Meiren tidak langsung membahas Zhou Wen.

Justru sebaliknya.

Ia memiringkan kepala, menatap Xinyao lama.

“Ada apa?”

tanyanya pelan.

“Wajahmu kusut sekali.”

Pertanyaan itu membuat Xinyao terdiam sejenak.

Huh…

Ia menarik napas panjang, bahunya turun pelan.

“Entahlah.”

Xinyao mengibaskan tangan malas.

“Aku pusing.”

Ia berjalan ke tepi kasur, duduk dengan tubuh sedikit membungkuk.

“Emang ya… pria itu nggak bisa ditebak.”

gerutunya kesal.

Meiren tersenyum tipis—senyum pahit yang sarat luka lama.

“Kalau pria-pria itu bisa ditebak jalan pikirannya,”

ucap Meiren pelan,

“aku nggak akan terjebak.”

Ia melayang mendekat, tatapannya kosong sejenak.

“Dan nggak akan jadi arwah yang menyia-nyiakan hidupku sendiri.”

Hening jatuh di antara mereka.

Huh…

Tanpa sadar, Xinyao dan Meiren menarik napas panjang secara bersamaan.

Xinyao menoleh cepat.

“Eh?”

alisnya terangkat.

“Hantu bisa napas juga ya ternyata?”

Meiren langsung menoleh.

Ia memutar tubuhnya, lalu berbaring melayang di udara, sejajar dengan pandangan Xinyao.

“Hm…”

ujarnya santai.

“Kelihatannya seperti bernapas, kan?”

Xinyao mengangguk cepat, refleks.

“Itu cuma simulasi.”

lanjut Meiren ringan.

“Mana tahu aku bisa jadi manusia lagi.”

Ia menunjuk hidung dan mulutnya sendiri.

“Kalau aku tutup dua ini pun, aku nggak bakal mati.”

senyum miring terbit di bibirnya.

“Emang ada hantu mati dua kali?”

Ucapan itu bukannya menghibur—

justru membuat Xinyao semakin frustasi.

“Terserah.”

Bruk.

Xinyao menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Ia menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya hingga hanya menyisakan gundukan kecil.

Suaranya terdengar teredam dari balik selimut.

“Meiren…”

ucapnya pelan.

“Jaga apartemenku selama aku tidur.”

Hening sejenak.

“Berguna lah sedikit,”

lanjut Xinyao malas.

“kalau masih mau numpang di sini.”

Meiren menatap gundukan selimut itu lama.

Lalu tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Wusssss…

Tubuh Meiren melayang perlahan, menyatu dengan udara apartemen.

Aura dingin namun tenang menyelimuti ruangan.

Di balik selimut, napas Xinyao perlahan menjadi teratur.

Tubuhnya akhirnya menyerah pada lelah.

Malam berlalu dalam penjagaan sunyi

_____

Pagi datang tanpa suara.

Sinar matahari perlahan menelusup masuk melalui celah tirai, jatuh lembut di lantai dan ujung kasur.

Jam dinding di dinding apartemen menunjuk pukul sembilan tepat—jarumnya bergerak pelan, setia pada waktu, tak peduli dunia baru saja melewati malam yang kacau.

“Haom…”

Xinyao menggeliat malas.

Matanya setengah terbuka, setengah terpejam.

Rambutnya mengembang ke segala arah, acak seperti singa bangun tidur.

Ia mengangkat kepala sedikit, menyipitkan mata ke arah jam dinding.

“Jam berapa ini…”

gumamnya pelan, suara masih berat oleh kantuk.

Bruk.

Tubuhnya kembali menjatuhkan diri ke kasur, kali ini dengan posisi terlentang.

Kasur berdecit pelan menahan berat tubuhnya.

“Hari ini nggak ada kerjaan kan…”

monolognya sendiri.

“Aku mau tidur satu harian.”

Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh, seolah dunia bisa berhenti kalau ia mau.

Kelopak matanya kembali merapat.

Namun—

Bzzzt… Bzzzt…

Suara ponsel memecah keheningan kamar.

Alis Xinyao berkerut.

“Siapa sih…”

gerutunya kesal.

“Ganggu aja lah.”

Dengan gerakan malas, ia meraih ponsel di samping bantal.

Layarnya menyala.

Nama “Fengyun” terpampang jelas.

Xinyao menatapnya dua detik penuh.

“…Aneh.”

Namun tetap ia angkat.

📞 “Hallo.”

📞 “Baru bangun?”

suara Fengyun terdengar dari seberang.

‘Glek’—terdengar jelas ia menelan ludahnya, gugup tanpa alasan.

📞 “Hem.”

jawab Xinyao pendek.

“Ada apa?”

📞 “Nggak ada…”

hening sejenak.

“Bisa… kita ketemu?”

Xinyao menguap lebar.

📞 “Kapan…”

“Eghh… hoam.”

📞 ‘Glek’

📞 “Na—nanti aku kabarin lagi.”

📞 Tut… Tut… Tut…

Sambungan terputus begitu saja.

Xinyao menatap layar ponselnya lama.

“…Dasar aneh.”

Ia melemparkan ponsel itu sembarang ke kasur.

Lalu bangkit.

“Akhhhh—”

Ia meregangkan tubuh.

Bunyi kretak… kretak… terdengar dari persendian, seperti keluhan kecil setelah kerja berat semalam.

“Mending mandi.”

gumamnya.

“Habis itu keluar cari makanan.”

Nada suaranya mulai sedikit bersemangat.

Setelah mandi dan merapikan diri, Xinyao keluar dari apartemennya.

Rambutnya sudah rapi, wajahnya segar, namun pikirannya masih sedikit kosong.

Di dalam lift—

Pintu tertutup perlahan.

Dan di sanalah ia bertemu Chen.

Tatapan Chen masih sama.

Dingin.

Jarak.

Tidak bersahabat.

Xinyao melirik sekilas.

“Aneh…”

gumamnya pelan.

Awalnya ia ingin menyapa.

Namun saat melihat ekspresi Chen—

ia mengurungkan niat itu.

Hening menyelimuti lift.

Hanya suara mesin yang bergerak turun.

Ting.

Lantai satu.

Xinyao melangkah keluar lebih dulu, tanpa menoleh.

Langkahnya ringan, seolah tidak ada beban.

Di dalam lift, Chen sedikit membuka mulut—

ingin memanggil.

Namun urung.

Pintu lift menutup.

‘Sebenarnya dia itu nggak peka…’

batin Chen kesal,

‘atau pura-pura nggak peka?’

Huh…

Chen menarik napas panjang.

Rasa kesal makin mengendap di dadanya.

Sementara itu—

Di luar gedung, Xinyao melangkah riang menuju stand makanan,

tanpa tahu…

bahwa pagi ini,

emosi seseorang sudah lebih dulu berantakan.

_____

Xinyao berhenti di sebuah stand kecil di pinggir jalan. Uap hangat dari kukusan bakpao mengepul perlahan, bercampur dengan aroma daging yang menggoda perutnya.

“Paman, bakpao dagingnya tiga,” ucapnya santai.

Ia duduk di bangku kayu panjang yang sudah agak kusam, kedua kakinya bergoyang ringan sambil menunggu. Begitu bakpao diserahkan, Xinyao langsung menggigitnya tanpa ragu. Uap panas menyeruak, membuatnya menyipitkan mata sebentar.

“Hem… enak,” gumamnya pelan, wajahnya tampak damai, seolah dunia tak punya masalah apa pun pagi itu.

Namun, di saat Xinyao menikmati sarapannya dengan tenang—

Di rumah besar keluarga Zhang, suasana jauh dari kata hangat.

Ruang keluarga yang luas itu sunyi, hanya diisi suara jam dinding yang berdetak pelan namun terasa menekan. Semua duduk rapi, wajah-wajah tenang yang menyimpan niat masing-masing.

“Mama serius mau bawa Yao Yao kembali?”

Haoran membuka pembicaraan. Tatapannya tajam, menyapu wajah ibunya seakan ingin membaca pikiran di balik ekspresi tenang itu.

“Gege,” Meilin menyela dengan suara lembut, hampir terdengar penuh kepedulian. “Bagaimanapun juga, Yao Yao itu keluarga kita. Nggak baik kalau dia terus tinggal di luar sendirian.”

Papa Fusheng mengangguk pelan, kedua tangannya saling bertaut di atas lutut.

“Adikmu benar. Mau bagaimana pun, Yao Yao tetap putri keluarga Zhang.”

“Ma…” Haoran menatap Lian semakin curiga, alisnya sedikit berkerut.

Lian tersenyum tipis, senyum yang tampak tenang di permukaan.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mama cuma nggak mau anak itu salah pergaulan,” ujarnya ringan. “Bagaimanapun juga, dia anak kandung mama.”

" Mama benar " Ia menunduk sejenak sebelum kembali mengangkat wajahnya.

“Bagaimana kalau jiejie sampai—”

Kalimat itu menggantung di udara.

Tak perlu dilanjutkan. Semua orang paham ke mana arah pembicaraan itu.

Wajah Fusheng mengeras. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

“Ya, kamu benar,” ucapnya akhirnya. “Cari anak itu. Kalau anak itu sudah—”

Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan suara rendah namun tegas,

“—hapus dia dari silsilah keluarga Zhang.”

Tak ada yang terkejut.

Tak ada yang membantah.

Semua mengangguk pelan, seolah keputusan itu adalah hal paling wajar di dunia.

Rapat keluarga pun berakhir.

Meilin pergi ke kampus dengan wajah lembut yang sama seperti biasa.

Haoran dan Fusheng berangkat ke perusahaan, menyimpan kegelisahan dan kepentingan masing-masing.

Lian tetap tinggal di rumah besar itu, duduk sendirian di ruang keluarga yang kini kembali sunyi.

“Anak itu harus kembali,” gumam Lian pelan, pandangannya kosong menatap lantai marmer yang dingin. “Setidaknya bisa mengurangi pengeluaran untuk membayar pembantu.”

Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya.

Pada akhirnya, alasan Xinyao ingin dibawa pulang bukanlah karena cinta atau pengakuan.

Melainkan karena mereka kehilangan sesuatu yang lebih berharga bagi mereka—

Pengurus rumah gratis yang bisa mengerjakan segalanya tanpa pernah menuntut apa pun.

Bersambung 🥂

1
yrputri
oooh ke sini rupanya ya/Hey/
yrputri
Xinyao mau kemana ya... hmmm
yrputri
semangat🤭
>AY<
ming xuelin, lin yuyu, li yiyu ini siapa? ko aku lupa
Xlyzy: Yao yao asli adalah seorang reinkarnator dia akan terus bereinkarnasi jika kehidupan nya berakhir buruk dan ming xuelin, Lin Yuyu, Li yiyu adalah Yao Yao asli yang terus bereinkarnasi hingga akhirnya berakhir menjadi cangli

( Yao Yao terus terlahir kembali dengan metode kembali menjadi bayi baru kali ini Yao Yao reinkarnasi ke tubuh orang lain dengan ingatan masa lalu yang utuh)

siklus ini akan terus berlanjut hingga Yao Yao bisa hidup bahagia hingga tua tanpa penderitaan
total 1 replies
>AY<
apaan tuh
>AY<
🤣🤣🤣
>AY<
ya ampun, ngakak sekali akutuh🤣
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Sri rahayu
selama masih ada Yao Yao kejahatan apapun dapat di berantas sampe tuntas walaupun itu penjahat keluarga sendiri .tunggu kehancuranmu keluarga zang ,zangkrik
Sri rahayu
yao yao udah di anggap menantu cuy jadi jangan coba" mempengaruhi mertuanya ga mempan 😁😁😁
Miu.Nuha
berhasil sembuh sang nenek,
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
Miu.Nuha
apa nenek kena guna2 🤔
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
Miu.Nuha
kalo udah dikasih tahu begini kan akhirnya tahu dn jdi termotivasi. terima kasih dewa langit ❤
Miu.Nuha
yaa semoga xinyao berhasil supaya penderitaan changli berakhir dn bisa hidup damai. gkpapa kan ya kalo xinyao kembali ke negeri dewa 😌🤭
Miu.Nuha
padahal udah berapa kali reinkarnasi ya? kasihaann kalo harus malang terus nasibny 🤧
Miu.Nuha
aamiinn 😌😌
Miu.Nuha
waduh diramal nih...
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
Miu.Nuha
sama2 punya adik yg deket sama xinyao ya, tpi tetep menang fengyun lah 😅
Miu.Nuha
dikutuk lu kek malin kundang 😅
selamany aja deh kek gitu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!