Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Cucu Mantu
Pak Rama membawaku bertemu keluarga besarnya, dari pihak papa yang ada di Jogja. Saat ada acara syukuran, ulang tahun nenek pak Rama yang ke 81 tahun.
Semua keluarga berkumpul menjadi satu, membuatku tahu kalau ternyata pak Juna satu ibu beda ayah dengan kedua adiknya, yang usianya terpaut sekitar 15 tahun lebih.
Meski bukan anak kandung, pak Juna di perlakuan sama bahkan dalam hal warisan dari ayah sambungnya. Membuat pak Juna memiliki harta berlimpah meski hanya seorang abdi negara, yang di warisi dari ayah dan papanya yang seorang mantan pengacara kondang.
Membuatku tahu, kalau ternyata pak Rama mengikuti jejak kakeknya dan menyembunyikan identitasnya. Menurut kak Naya, pak Rama dulu mau mengikuti jejak papanya, tapi gagal masuk Akmil yang akhirnya menjadi anak hukum.
"Jadi Carol tidak tahu kalau pak Rama adalah anak seorang jendral TNI, dan cucu seorang pengacara kondang?"
"Tidak," jawabnya sambil menikmati rokoknya. "Nama belakangku sama nama papa beda, kalau sama kakek sama sih. Lagian orang lebih mengenalku sebagai Rama, bukan Abirama Notonegoro."
"Lahir dari sendok mas, tapi gak pernah mengumbar jati dirinya." gumamku.
"Kamu sudah tahu siapa keluargaku, ada niat ingin nikah denganku dalam waktu dekat gak?"
"Uhuk uhuk uhuk," aku batuk-batuk karena tersedak air minumku sendiri, karena mendengar ucapan random pak Rama.
Pak Rama tertawa kecil, sambil menikmati rokoknya membuatku spontan menendang kakinya yang menyilang di depanku.
"Bukannya kasihan, malah di tertawakan." kesalku.
"Habis responmu beda, dari orang yang sudah tahu siapa aku ini."
"Emang kalau aku tahu pak Rama keturunan sultan, harus bilang iya gitu."
Pak Rama mengangguk sambil menikmati rokoknya.
"Boleh juga tu sarannya, dengan menikah dengan pak Rama aku tidak perlu memikirkan uang lagi."
"Hahaha pinter kamu, tapi sayangnya tidak sesuai harapanmu." candanya.
"Saat aku masuk dunia kerja, orang tua mulai menyetop uang sakuku. Aku hanya bisa mengandalkan gajiku, tapi aku bebas menggunakan properti milik orang tua seperti mobil, apartemen dan villa. Karena itu aku sering menyewakan villa buat rekan kerjaku, lumayan buat nambah uang rokok."
"Paling tidak, pak Rama tidak memikirkan biaya tempat tinggal, apalagi jika tinggal dengan orang tua tidak perlu memikirkan perut."
"Hahaha, benar kamu. Tapi tinggal dengan orang tua itu tidak bebas, gak bisa pulang malam, kalau pulang dengan bahu alkohol di tubuh langsung di cincang mama, dan di hukum papa berendam di kolam renang semalaman."
"Pak, pak Rama suka minum alkohol juga?"
"Pertanyaan apa itu, Lina. Pak Rama itu pria metroseksual yang tidak hanya penampilan dan gaya hidupnya mencerminkan pria moderen, tapi pergaulannya juga tentunya." gumamku.
"Tidak suka, tapi pernah sesekali minum. Saya bukan orang baik atau suci, saya berlumpur dosa tapi saya masih perjaka."
"Uhuk uhuk uhuk....!" lagi lagi ucapan pak Rama membuatku tersedak, tapi kali ini lebih parah sampai meninggalkan rasa tidak nyaman di hidung dan tenggorokan ku.
"Hahaha santai aja, saya jujur sama kamu, karena saya takut kamu ilfil dan menganggap saya lelaki metroseksual yang memiliki pergaulan bebas."
"Lagian apa pengaruhnya buat bapak kalau saya berpikir demikian," ujarku dengan menahan rasa tak nyaman di tenggorokan.
"Jika kamu ilfil dan pergi, saya harus cari kandidat baru untuk jadi pasangan saya, supaya tidak di recoki tentang pasangan."
"Wahh...ternyata kalian cuma pura-pura jadi pasangan, to." ujar kak Naya yang baru datang dan langsung duduk di samping ku.
Kedatangan kak Naya yang membuatku was-was, takut berpikir buruk tentangku yang pura-pura menjadi pasangan pak Rama untuk kesekian kalinya. Meski kenyataannya benar ada transaksi kesepakatan antara aku dan pak Rama, yang tidak jauh dari uang.
"Emang kamu tidak, aku tahu kamu dan pasanganmu juga bukan pasangan pura-pura."
"Hahaha semoga tidak ketahuan," santai kak Naya, membuatku tidak percaya dengan kebohongan yang kak Naya ciptakan yang bilang pacarannya sedang satgas dan tidak bisa datang, yang aku kira itu benar adanya.
"Kamu dapat apa dari Rama, jangan mau di kasih uang receh. Minta yang gede, mmmm misalnya... minta di kuliahin."
"Ehh, bukan gitu kak, pak Rama itu orang yang baik dan sudah banyak membantu saya."
"Dia membantumu, itu merupakan salah satu tugasnya sebagai pengacara. Memenangkan kasus, itu menambah satu daftar keberhasilannya menyelesaikan kasus, dan membuat namanya jadi di perhitungan kan."
"Sudah gak usah jadi provokator, aku ini pengacara miskin yang tidak bekerja ya tidak dapat uang. Ingat!" ujar pak Rama melihat kearahku. "Jangan percaya dengan ucapannya," ucap pak Rama sebelum pergi meninggalkan kami berdua.
Aku kira, kak Naya akan membahas masalah aku yang pura-pura menjadi pasangan adiknya, tapi aku salah. Kak Naya malah menceritakan tentang aturan di keluarganya.
Anak laki-laki harus bisa menghidupi anak dan istrinya, karena itu begitu bekerja di stop uang tambahan, tapi anak lelaki akan mewarisi 70 persen kekayaan orang tua. Berbanding dengan anak perempuan yang terus mendapatkan uang, meski telah menikah dan di nafkahi suaminya, tapi hanya mendapat warisan 30 persen. Itu perantauan yang di tetapkan oleh keluarga ayah sambung pak Juna, yang juga di terapkan oleh pak Juna.
***
Jika siang hari diisi bersama anak-anak yatim, dengan doa bersama dan makan siang bersama. Malam harinya, disisi dengan bercengkrama dan barbekyuan.
"Lina, mau gak nikah dengan Rama sekarang." ucap nenek Alya, membuat suasana yang tadinya penuh tawa langsung sunyi tanpa suara satupun.
Semua orang melihat kearahku dan pak Rama yang duduk berjauhan, pak Rama dengan para lelaki dan aku dengan para perempuan.
"Apa sih nenek ini, Lina masih muda, mau kuliah dulu." ujar pak Rama memecah kesunyian.
"Emang, Lina masih di bawah umur?" tanya kak Naya sambil cekikikan, membuatku menunduk malu.
"Aku dulu nikah lulus SMA, baru berumur baru 18 tahun dan umur 20 tahun sudah hamil Juna."
"Bahkan di kira kakakku, kalau ambil rapot." sambung pak Juna.
"Bagus awet muda, bun. Ehh, giliran mas Juna malah ngikutin ayahnya, baru punya anak di usia yang matang." canda mama Laras.
"Makanya suruh nikah anakmu itu, gak Naya atau Rama sama aja, sudah mau 29 tahun masih aja single." gerutu Nenek pak Rama.
"Rama aja dulu, nek. Calon ku kan gak ada di sini, Rama yang sudah ada calonnya." celetuk kak Naya membuatku melotot.
"Mau gak Lin, jadi mantu nenek. Kalau perlu sekarang nenek telpon ayahmu."
"Buat apa nek telpon ayah Lina," ujar kak Naya, sambil cekikikan dan melirik ku.
"Buat ngelamar lah, biar mereka bisa langsung nikah sekarang dan nenek punya cucu mantu."
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in