BIANCA DEALOVA, gadis tengil yang suka sekali dengan tantangan,ia menjadi pusat perhatian di SMA Karya Bakti semua murid cowok pasti mengenalinya.Hingga pada akhirnya, dia ditantang oleh teman-temannya untuk menaklukkan hati seorang siswa baru, EDGAR GRISSHAM pemuda berwajah dingin dan misterius.
"apakah Allexa berhasil menaklukkan hati seorang pemuda dingin itu atau tidak.yuk, Kepoin kisah mereka selanjutnya!!"👋🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31Days Of Chasing Love
"Benaran Edgar menembak Bianca?"
"Yuhu, mereka bakal jadi couple favorite nih!"
"Potek nih ati mungil Abang"
" Yah, gagal dong dekatin Edgar,"
"Kenapa Edgar menembak Bianca sih?"
"Ngak pokoknya gue ngak terima, ngak ridho gue kalo Bianca sama yang lain,"
Di kelas, para murid sedang les olahraga dan mendengar berita tentang Edgar dan Bianca. Mereka semua terlihat penasaran dan heboh.
Saat Bianca memasuki kelas, dia menggandeng tangan Edgar dan tersenyum lebar.
"SELAMAT PAGI!!" teriak Bianca menyapa seorang guru yang sedang menulis materi di papan tulis.
"BIANCA!!"teriak Bu Tumini kaget setengah mati dengan wajah yang kesal.
"Bu, Saya mau ngasih kabar nih, kita berdua udah jadian," pamer Bianca dengan wajah yang bangga, memandang Edgar yang tersenyum senang.
"TETUS KAMU PAMER GITU, UDAH TERLAMBAT JUGA, KEBIASAAN ITU KAMBUH LAGI DI MANA TEMAN-TEMAN MU?!" kesal Bu Tumini dengan wajah yang merah dan mata yang tajam.
"Mana saya tau, saya ngak pamer kok Bu, hanya mau ngasih tau," ujar Bianca dengan wajah yang tidak bersalah, tapi sedikit terlihat malu.
"Kamu Edgar, kenapa bisa terlambat?" tanya Bu Tumini dengan suara yang sedikit dihaluskan, tapi masih terlihat kesal.
"Telat bangun," jawab Edgar dengan wajah yang datar dan tidak terlalu peduli.
"Oh, yah sudah, kamu silakan duduk," ujar Bu Tumini dengan wajah yang masih kesal, tapi sedikit lebih santai.
"Kamu Bianca, kerja yang ada di papan dulu baru kamu bisa duduk," ujar Bu Tumini dengan wajah yang tajam dan mata yang tidak sabar.
"Enak aja, ngak mau Bu," tolak Bianca dengan wajah yang tidak mau menurut, dan sedikit terlihat seperti anak kecil yang tidak mau diatur.
"Kamu melawan sama saya?" tanya Bu Tumini dengan wajah yang semakin kesal dan mata yang tajam, seperti ingin menembus jiwa Bianca.
Bruk!
Satu pemuda tampan, Vellix, memasuki kelas dengan napas ngos-ngosan dan wajah yang tergesa-gesa.
"Eh, Bu, maaf saya terlambat... soalnya bantuin nenek-nenek nyebrang... nyebrang ke masa lalu," ujar Vellix dengan wajah yang serius, tapi sedikit terlihat seperti sedang bercanda.
Bu Tumini mengangkat alisnya dan tersenyum sarkas. "Itu alasan apa drama sinetron ha?" tanya Bu Tumini dengan wajah yang tidak percaya.
Kemudian, Samudra memasuki kelas dengan berjalan pincang dan wajah yang sedikit kesakitan.
"Bu, maaf saya terlambat soalnya tadi baru jatuh dari tangga lantai empat Bu... tangga playlist Spotify karena kebawah suasana," ujar Samudra dengan wajah yang masih kesakitan.
Bu Tumini menghela napas dan menggelengkan kepala. "Bisa ngak sih kasih alasan yang agak logis?" tanya Bu Tumini dengan wajah yang frustrasi.
Tiba-tiba, Kelvin masuk dengan berlari dan menabrak Bianca, membuat gadis itu terhayung ke depan. Untung Edgar cepat menarik tangan Bianca sehingga gadis itu tidak jatuh.
"KELVIN ANJING!!" kesal Bianca dengan wajah yang merah dan mata yang tajam.
"Alasan apa lagi kamu ini?" tanya Bu Tumini dengan wajah yang tidak sabar.
"Maaf Bu, saya agak telat, soalnya badan saya di sini... jiwa saya masih di kasur," jawab Kelvin dengan wajah yang santai dan tidak terlalu peduli.
Bu Tumini menghela napas dan menggelengkan kepala. "Kamu ini wakil OSIS kebanggaan sekolah yah Kelvin, tapi kamu memberikan teladan yang tak baik untuk teman-teman mu," ujar Bu Tumini dengan wajah yang kecewa.
Kelvin hanya tersenyum dan menunjuk ke arah Varsya yang sedang menatapnya dengan senyum lebar. "Yah karena yang terbaik cuman untuk Varsya ku sayang," ujar Kelvin dengan wajah yang romantis.
Varsya tersenyum lebar dan memandang Kelvin dengan mata yang berbinar-binar. Edgar dan Bianca memandang mereka dengan wajah yang kelihatan dramatis
"Ihh, jijik bet," ujar Bianca dengan wajah yang jijik dan mata yang tidak suka.
"Kalian saya berikan hukuman bersihkan toilet," perintah Bu Tumini dengan wajah yang tegas
"Eh... ngak Bu, saya ngak mau, trauma saya sama toilet," tolak Bianca dengan wajah yang ketakutan dan mata yang lebar.
"Jangan lah Bu, toilet itu bau banyak hantu nya," tolak Vellix dengan wajah yang tidak percaya dan mata yang bergurau.
"Jangan banyak omong, kamu Edgar dari tadi saya menyuruh mu untuk duduk karena kamu tak mau duduk, keluar dan bersihkan toilet," ujar Bu Tumini dengan wajah yang kesal dan mata yang tajam.
Tanpa banyak bicara, Edgar dengan wajah datarnya keluar dari kelas dan menarik tangan Bianca agar ikut dengan nya. Bianca terlihat tak mau, tapi akhirnya mengikuti Edgar dengan wajah yang masih jijik.
"Kita harus bersihkan toilet?" tanya Bianca dengan wajah yang tidak suka dan mata yang tidak percaya.
"Ya," jawab Edgar dengan wajah yang datar dan tidak terlalu peduli.
Bianca menghela napas dan mengikuti Edgar ke toilet dengan wajah yang masih jijik dan mata yang tak suka. Vellix dan Kelvin memandang mereka dengan wajah yang bergurau dan mata yang penuh ejekan.
"Baru aja pacaran udah di kasih hadiah," ujar Kelvin dengan wajah yang mengejek dan mata yang bergurau, membuat Bianca merasa tidak nyaman.
"Kerja atau gue...," ancam Edgar dengan wajah yang tegas dan mata yang tajam, membuat Kelvin,Vellix dan samudra langsung tergesa-gesa tersenyum hambar karena takut dengan raut wajah Edgar.
"Ha iya iya," ujar Kelvin dan Vellix dengan wajah yang tidak berani dan mata yang tak berani menatap Edgar.
Dari kejauhan, seorang gadis memotret kejadian di mana Edgar menarik tangan Bianca seakan-akan mengajak gadis itu membolos. Gadis itu tersenyum sinis dan menggelengkan kepala.
"Lihat aja lo," gumam gadis itu dengan wajah yang tidak percaya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
sedang kan gadis yang satunya lagi terlihat kesal Dia memandang Edgar dan Bianca dengan wajah yang tidak suka dan mata yang tidak percaya.
"lo pacaran sama Edgar, berarti Lo serahin hidup Lo " ujar gadis itu dengan wajah yang jijik, kemudian pergi ke arah lain.
Sementara itu, Edgar dan Bianca masih berjalan menuju toilet dengan wajah yang tak terlalu bahagia. Bianca masih terlihat jijik dengan tugas yang diberikan oleh Bu Tumini, sementara Edgar terlihat tak terlalu peduli dengan keadaan sekitar.
"Ayo, kita cepat-cepat selesaikan ini," ujar Edgar dengan wajah yang datar, membuat Bianca menghela napas dan mengikuti Edgar