"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"
Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.
"Menikahlah denganku, Ash!"
Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.
Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Asha menoleh pada Abiyan yang tidak tampak seperti biasa. Pria itu lebih banyak diam sejak menjemputnya. Makan siang bersama pun hanya dilalui sekadarnya.
Asha sudah kesal sejak pagi. Abiyan mengabaikannya, kejadian tak terduga dengan Zaky, sarapan yang penuh kewaspadaan dan tanpa Abiyan, makan siang yang lebih seperti keharusan dan terpaksa lalu kali ini, perjalanan ke klinik yang mencekam benar-benar membuat Asha frustasi.
Asha melirik pada Abiyan yang hanya fokus pada kemudi. Pria itu bahkan tampak tak peduli padanya sedikit pun. Menilik kejadian kemarin, Asha ingat ia tidak melakukan kesalahan. Apa yang salah? Dan sejak kapan mood Abiyan berubah seperti itu? Apakah karena kabar kehamilan yang bahkan tidak terjadi itu?
Uh, menyebalkan.
Asha bersedekap dada, mendengus lalu menatap kaca jendela mobil. Melihat mobil berlalu-lalang lebih baik dari pada diabaikan.
Abiyan melirik sekilas. Namun, hanya sebatas itu. Ia kembali fokus pada kemudi, melajukan mobilnya menuju klinik kandungan yang ibunya rekomendasikan.
Asha keluar mobil lalu membanting pintu. Rasa kesalnya tidak lagi bisa terbendung. Meninggalkan Abiyan menuju meja resepsionis. Asha menunjukkan pesan berisi reservasi online yang Katerine kirimkan pada staf resepsionis, wanita dengan seragam merah muda itu mengarahkan Asha untuk menuju loket pendaftaran untuk mengonfirmasi kedatangannya.
"Anda datang sendiri, Nyonya?" staf pendaftaran yang melayani Asha bertanya dengan ramah.
"Dia bersamaku, aku suaminya," sahut Abiyan dari belakang kursi yang Asha pakai.
Asha menoleh, menatap Abiyan yang menunjukkan senyuman ramah pada staf tersebut. Asha kembali merasakan gejolak rasa kesal dalam dadanya. Asha menekuk wajahnya, lalu berdiri dan meninggalkan Abiyan begitu saja padahal proses konfirmasinya belum benar-benar selesai. Abiyan pandangi punggung Asha yang berlalu.
"Harap bersabar, Tuan! Biasanya ibu hamil memang jadi lebih sensitif," ucap staf pendaftaran itu sembari menyerahkan ponsel Asha. Abiyan hanya tersenyum canggung lalu menyusul Asha.
Begitu Abiyan sampai di depan Asha, ia menyodorkan ponsel Asha. "Ponselmu."
Asha menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Ia memilih untuk mengabaikan Abiyan yang mematung di depannya.
Terdengar suara helaan napas Abiyan, lalu ia menghempaskan bobot tubuhnya di kursi tunggu di samping Asha. Beberapa saat hening dan Abiyan akhirnya membuka percakapan.
"Mengapa kamu terlihat kesal?"
Asha mengedikkan bahu, ia masih enggan untuk berbicara.
"Yang seharusnya merasa kesal itu aku, Ash. Bukan kamu."
"Kamu pikir yang bisa kesal hanya kamu seorang?" sahut Asha ketus.
"Aku memiliki alasan untuk merasa kesal. Tapi kamu...." Belum selesai Abiyan dengan kalimatnya, nama Asha di panggil dari dalam ruang periksa. Hal itu menghentikan perdebatan yang mulai memanas itu.
Asha masuk diikuti Abiyan di belakangnya. Duduk berhadapan dengan dokter spesialis kandungan yang menyapa keduanya dengan ramah.
"Saya hanya mendengar sedikit, perihal mual dan muntah yang diperkirakan sebagai morning sickness oleh Nyonya Andara. Untuk lebih jelasnya kita akan melakukan tes dan wawancara singkat untuk memulai prosedur pemeriksaan. Apakah Anda berdua siap?"
Asha dan Abiyan mengangguk tanpa dikomando.
"Kapan terakhir kali siklus haid Anda?"
"Dua Minggu lalu," jawab Asha mantab.
Dokter itu tersenyum lalu ia kembali bertanya, "Kapan terakhir kali Anda berdua berhubungan suami istri?"
Lagi-lagi tanpa dikomando Asha dan Abiyan menggeleng dan menjawab dengan lantang. "Belum pernah."
Dokter tersebut mengernyitkan dahi, sedikit kebingungan dengan jawaban keduanya. Lalu ia menatap Asha dengan pandangan yang sedikit berbeda.
Dari pandangan itu Asha tahu jika dirinya sedang disalahpahami.
"Baiklah kita akan melakukan beberapa tes untuk mengonfirmasi kehamilannya."
"Bagaimana mungkin bisa hamil, jika berhubungan badan saja belum pernah," keluh Asha lirih namun masih bisa terdengar.
Dokter itu sempat terperanjat namun ia segera bertindak profesional. Lagipula apa yang ia dengar belum tentu kebenarannya. Jadi solusi terbaik untuk mengonfirmasi hal ini adalah dengan melakukan tes.
Asha mengikuti serangkaian pemeriksaan yang di arahkan oleh dokter kandungan tersebut tanpa protes, meskipun rasa kesal terukir jelas di wajah cantiknya.
Begitu tes urine dan USG diketahui hasilnya dokter membacakan diagnosanya pada pasangan suami istri yang sejak tadi hanya saling diam itu.
"Sesuai dengan hasil pemeriksaan, kami mohon maaf jika harus menyampaikan kabar yang tidak di harapkan." Dokter kandungan itu menatap Abiyan dan Asha secara bergantian.
Setelah menghirup napas dalam ia kembali melanjutkan kalimatnya, "Anda negatif hamil."
Asha bersedekap dada dan mendecih pelan, Asha tahu betul jika hasilnya akan negatif.
Abiyan terperanjat lalu ekspresinya berangsur-angsur lega. Abiyan menatap Asha, gurat bersalahnya tergambar jelas namun Asha tak peduli.
"Sudah aku bilang, aku tidak hamil. Aku bahkan tidak melakukan hubungan badan dengan siapa pun. Jika sudah begini kamu sadar, bukan? Jika kita hanya melakukan hal yang sia-sia."
Asha beranjak dari duduknya lalu menyalami dokter kandungan yang tampak kebingungan. "Terima kasih dokter, sudah meluangkan waktu hari ini." Asha meninggalkan ruang pemeriksaan dengan percaya diri.
Abiyan termangu beberapa saat lalu kembali tersadar ketika mendengar pintu ruangan yang tertutup. Ia berdiri lalu menjabat tangan dokter itu sama seperti yang Asha lakukan.
"Terima kasih dokter. Dan um ... bisakah Anda merahasiakan apa yang istriku ucapkan dari ibuku? Aku tahu hubungan kalian dekat."
"Tentu saja. Membocorkan hasil pemeriksaan pasien melanggar kode etik kedokteran. Anda bisa tenang, Tuan."
Abiyan mengangguk lalu tersenyum ramah dan meninggalkan ruangan itu. Ia menyusul Asha yang sudah pergi beberapa saat lalu.
Abiyan melihat Asha berdiri di samping mobilnya. Wanita itu bersedekap dada dengan wajah yang masih terlihat kesal.
"Kamu mau pulang atau kembali ke kantor?" tanya Abiyan begitu keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Antarkan aku ke restoran milik Ace. Aku sudah membuat janji, lagipula aku sudah cuti setengah hari," sahut Asha sembari memasang seat belt.
Abiyan mengangguk pelan. "Aku akan berbicara dengan Ibu dan yang lain perihal hasil pemeriksaan," ucapnya hati-hati.
"Tentu saja kamu harus. Aku tidak ingin disalahpahami lagi. Apalagi oleh Zaky."
"Zaky?" Abiyan mengernyit dahi.
Asha mengangguk lalu memilih menatap ke luar jendela tanpa menghiraukan Abiyan yang penasaran.
Asha tahu jika Abiyan menyesal telah salah paham dengannya namun rasa kesalnya belum reda terlebih pria itu belum meminta maaf secara langsung.
Perjalanan dari klinik kandungan menuju restoran Ace terasa mencekik bagi Abiyan. Rasa bersalahnya menumpuk di dada terlebih ia tahu Asha kecewa padanya karena ia sempat tidak memercayainya. Juga perihal kalimat terakhir Asha yang menyebutkan tidak ingin disalahpahami oleh Zaky terngiang-ngiang dalam benaknya.
Apakah kamu masih memiliki perasaan padanya?
Abiyan menoleh ke arah Asha, namun wanita itu sama sekali tidak peduli. Asha menatap ke luar jendela seolah sesuatu di luar sana lebih menarik perhatiannya.
Abiyan menghentikan laju mobilnya begitu sampai di depan restoran yang Asha inginkan. "Aku akan menunggumu."
"Tidak perlu, aku akan butuh waktu lama. Pulanglah!" Asha membuka pintu mobil.
"Aku akan menjemputmu nanti. Kamu pulang jam berapa?" Abiyan mencoba pengertian.
Asha mengedikkan bahu lalu turun dan meninggalkan Abiyan tanpa menoleh.