Ketika seorang jenderal militer yang legendaris menghembuskan napas terakhirnya di medan perang, takdir membawanya ke dalam tubuh seorang wanita polos yang dikhianati. Citra sang jenderal, kini menjadi Leticia, seorang gadis yang tenggelam di kolam renang berkat rencana jahat kembarannya. Dengan ingatan yang mulai terkuak dan seorang tunangan setia di sisinya.
Pertempuran sesungguhnya dimulai, bukan dengan senjata, melainkan dengan strategi, intrik, dan perjuangan untuk memperjuangkan keadilan untuk dirinya...
apakah Citra akan berhasil?
selamat datang di karya pertamaku, kalau penasaran ikuti terus ceritanyaa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Dua minggu setelah kabar kehamilan, kehidupan Maximilian Bailey dan Leticia dipenuhi oleh perasaan campur aduk. Ada sukacita yang tak terukur, tetapi juga ada lapisan kewaspadaan yang tebal. Setiap tawa yang mereka bagi terasa manis, namun di balik itu, mereka tahu bahwa mata Clarissa Jhonson sedang mengawasi mereka, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Max telah memperketat keamanan apartemen mereka, memasang kamera tersembunyi, dan bahkan mempekerjakan tim keamanan pribadi secara rahasia untuk memantau setiap gerakan mencurigakan di sekitar gedung.
Pagi itu, suasana di apartemen terasa tegang. Leticia, yang mengenakan piyama sutra, duduk di sofa dengan wajah serius, matanya terpaku pada liontin giok Nenek Sophia. Meskipun Max telah berusaha meyakinkannya untuk beristirahat, Leticia merasa desakan yang kuat untuk memecahkan misteri di balik artefak kuno itu. Ia yakin, di dalam ukiran samar-samar pada liontin itulah terletak kunci untuk mengalahkan Clarissa.
"Max," panggilnya, suaranya dipenuhi keyakinan. "Aku yakin, lambang ini bukan hanya simbol. Itu adalah kode. Kode yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang tahu rahasia Nenek Sophia."
Max, yang sedang membuat teh jahe hangat minuman wajib harian untuk mengatasi mual Leticia segera menghampirinya. "Kode apa, sayang?"
"Di zamanku, Ratu Sophia memiliki sebuah aliansi rahasia yang dikenal sebagai Persekutuan Kupu-kupu Malam," jelas Citra, menunjuk ukiran pada liontin. "Mereka adalah para penjaga rahasia, artefak, dan juga pelindung keluarga kerajaan. Simbol ini adalah salah satu lambang mereka, tapi aku tidak bisa mengingat arti pastinya."
Tiba-tiba, ponsel Max berdering, memecah keheningan. Layarnya menampilkan nama Bram. Max mengangkatnya, wajahnya langsung menegang saat mendengar suara Bram yang bergetar.
"Max! Aku... aku menerima kiriman aneh di kantor" kata Bram, suaranya nyaris seperti bisikan. "Ada sebuah kotak berisi bunga... lily hitam."
Jantung Max terasa berhenti. Ia menoleh ke Leticia, yang wajahnya juga memucat. Mereka tahu, lily hitam adalah simbol dari kematian.
"Dan ada kartu di dalamnya" lanjut Bram, suaranya dipenuhi ketakutan. "Hanya satu kalimat. 'Selamat atas kabar bahagia. Semoga empat nyawa itu menjadi saksi bisu kejatuhanmu.'"
Kemarahan membara di mata Max. Clarissa tidak hanya tahu tentang kehamilan mereka, tetapi ia juga berani menggunakan informasi itu untuk mengancam. "Bram, jangan sentuh apa pun. Aku akan ke sana" perintah Max, suaranya rendah dan dipenuhi amarah.
"Sudah terlambat, Max. Pengirimnya telah mengirim pesan ini ke semua orang di kantor. Mereka semua sudah tahu tentang kehamilan Leticia" kata Bram, suaranya putus asa. "Clarissa tidak main-main. Dia menggunakan kebahagiaanmu untuk menyerangmu."
Setelah Bram menutup telepon, Leticia bangkit, langkahnya mantap. Wajahnya yang tegang kini berubah menjadi wajah seorang jenderal yang siap berperang. "Kita tidak bisa menunggu lagi, Max. Kita harus menemukan aliansi itu, sekarang juga."
Max mengangguk. Ia tidak bisa lagi mengandalkan perlindungan dari luar. Mereka harus bergerak. Max segera mengambil laptopnya, dan mereka berdua mulai mencari informasi di perpustakaan digital dan arsip kuno yang bisa mereka akses. Leticia mencoba mengingat setiap detail yang ia tahu tentang Persekutuan Kupu-kupu Malam, sementara Max mencari kata kunci yang relevan.
Setelah berjam-jam pencarian, Max akhirnya menemukan sebuah artikel sejarah kuno yang membahas tentang sebuah klan yang dikenal sebagai Klan Giok Hitam, sebuah klan yang bertugas melindungi rahasia dan artefak kuno. Lambang klan itu sangat mirip dengan simbol di liontin Leticia.
"Ini dia, Cia sayang" kata Max, suaranya bergetar karena kegembiraan. "Klan Giok Hitam. Mereka adalah keturunan dari keluarga yang sama yang melindungi Ratu Sophia di zamanmu"
Dengan cepat, Max berhasil melacak sebuah bangunan tua yang pernah menjadi markas Klan Giok Hitam. Bangunan itu adalah sebuah museum kuno yang sudah lama terbengkalai, jauh dari keramaian kota.
"Kita harus ke sana" kata Leticia, tatapannya dipenuhi tekad.
"Tidak, Cia! Itu terlalu berbahaya! Kita tidak tahu siapa mereka" teriak Max.
"Max, kita tidak punya pilihan. Clarissa sudah mengancam anak-anak kita. Dia akan menyerang kita, dan kita membutuhkan bantuan. Aliansi ini adalah satu-satunya harapan kita" jawab Leticia.
Max mengangguk, menyerah pada argumennya yang logis. Mereka segera mengenakan pakaian yang serba gelap, memastikan pistol Max tersembunyi dengan baik, dan bergegas keluar. Di tengah perjalanan, Leticia menyadari ada mobil hitam yang mengikuti mereka. Jantungnya berdebar kencang, namun ia tetap tenang. Ia tahu, Clarissa sudah mengantisipasi langkah mereka.
"Max, ada mobil yang mengikuti kita," bisiknya.
Max menatap spionnya. "Aku tahu. Jangan khawatir, Cia. Kita tidak akan biarkan mereka menyentuh kita."
Mereka berhasil mencapai museum tua itu, meninggalkan mobil yang mengikuti mereka di belakang. Bangunan itu terlihat menyeramkan, gelap, dan sepi. Mereka berdua keluar dari mobil, dengan pistol di tangan. Mereka masuk ke dalam museum, hati mereka berdebar kencang. Di dalam, museum itu penuh dengan artefak kuno, patung-patung, dan lukisan-lukisan.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki dari belakang mereka. Mereka berbalik, dan melihat seorang pria tua dengan jubah hitam berdiri di hadapan mereka, tersenyum. Wajahnya terlihat tenang dan bijaksana, namun matanya memancarkan kekuatan yang luar biasa.
"Aku sudah menunggu kalian," kata pria itu. "Aku adalah Tuan Chen, pemimpin dari Klan Giok Hitam. Aku adalah keturunan dari keluarga yang sama yang melindungi Ratu Sophia di zaman dulu"
Max dan Leticia saling memandang, terkejut. Mereka tidak menyangka akan menemukan sekutu mereka dengan mudah.
"Kau adalah Jenderal Citra, dan kau adalah Maximilian Bailey, suaminya" kata Tuan Chen, menatap mereka berdua. "Nenek Sophia sudah memberitahuku tentang kehadiranmu. Kami sudah menunggu selama berabad-abad, menunggu jenderal dari masa lalu untuk kembali."
Tuan Chen kemudian menoleh ke Citra. "Kami sudah tahu tentang Clarissa. Kami tahu tentang dendamnya yang diwariskan dari ibunya, Olivia. Kami juga tahu tentang kehadiran anak-anakmu. Mereka adalah keturunan dari garis Ratu Sophia yang harus kami lindungi."
Leticia merasa lega. Ia akhirnya menemukan orang-orang yang bisa ia percaya.
"Kami akan membantumu, Jenderal Citra" kata Tuan Chen. "Tapi pertempuran ini tidak akan mudah. Clarissa telah membangun kerajaan kejahatan yang kuat. Kami membutuhkanmu dan suamimu untuk menghancurkannya. Kami akan memberikanmu semua informasi dan bantuan yang kau butuhkan. Tapi kau harus siap untuk menghadapi bahaya yang lebih besar dari yang pernah kau bayangkan."
Max dan Leticia mengangguk. Mereka tahu, mereka berada di jalan yang benar. Dengan bantuan Klan Giok Hitam, mereka akan memiliki kesempatan untuk mengalahkan Clarissa dan melindungi keluarga mereka.
selamat max dan cia atas kelahiran keempat anaknya