NovelToon NovelToon
Pengantin Dadakan Tuan Ceo

Pengantin Dadakan Tuan Ceo

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:338.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Aruna gadis sederhana dari keluarga biasa mendadak harus menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal.
Karena kesalahan informasi dari temannya ia harus bertemu dengan Raka yang akan melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih tetapi karena kekasih Raka yang ditunggu tak kunjung datang keluarga Raka mendesak Aruna untuk menjadi pengganti pengantin wanitanya. Aruna tak bisa untuk menolak dan kabur dari tempat tersebut karena kedua orang tuanya pun merestui pernikahan mereka berdua. Aruna tak menyangka ia bisa menjadi istri seorang Raka yang ternyata seorang Ceo sebuah perusahaan besar dan ternama.
Bagaimana kehidupan mereka berdua setelah menjalani pernikahan mendadak ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Aruna spontan menoleh ke arah lain, mencoba menutupi wajahnya yang mulai terasa panas. Dengan kikuk, ia mengambil minuman dingin di sebelahnya, meneguknya pelan-pelan sambil pura-pura tenang, padahal jantungnya masih berdebar tak karuan.

"Udah malam. Kita mending pulang aja." Kata Aruna tanpa menoleh ke arah Raka.

Aruna baru saja berdiri dari duduknya, namun langkahnya terhenti saat merasakan jemari Raka menggenggam tangannya. Sentuhan hangat itu membuatnya mendadak terpaku, seolah waktu ikut berhenti bersamaan dengan debar di dadanya.

Aruna menoleh perlahan, matanya bertemu dengan tatapan Raka yang dalam. Jemarinya sempat ingin melepaskan diri, tapi hatinya justru bergetar dan membuatnya terdiam, seakan genggaman itu berkata lebih banyak daripada ribuan kata.

"Apa setidak nyaman itukah kamu saat bersama denganku ?"

Aruna menggeleng tanpa berucap. Dengan lembut namun tegas, Raka menarik tangan Aruna dan membawanya kembali duduk. Jemarinya tetap erat menggenggam, seakan tak ingin memberi ruang untuk Aruna menjauh. Tatapannya hangat, membuat Aruna hanya bisa terdiam dengan pipi yang merona.

"Aruna, dulu saat Mama masih ada. Mama sering mengajak saya kesini saat malam minggu, walaupun hanya sekedar duduk bermain dan membeli jajanan sekitar sini. Waktu itu kita lebih sering jalan berdua, karena Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya." ucap Raka sesaat melepas genggaman tangannya.

Raka menyandarkan tubuhnya pada bangku taman, matanya menatap langit malam yang bertabur bintang, seolah mencari jawaban di antara kerlip cahaya itu.

Aruna hanya bisa menatap sendu, seolah ikut merasakan luka yang tersimpan di balik cerita Raka tentang mamanya—ada rindu yang tak terucap, ada sedih yang sulit disembunyikan.

"Kamu lihat disana Aruna." Aruna mengikuti arah jari telunjuk Raka yang menunjuk langit

"Setiap saya rindu dengan Mama, saya akan menatap bintang di atas sana. Di saat dunia terasa gelap dan sepi, ia hadir layaknya bintang yang bersinar paling terang, mengingatkan bahwa Saya tidak pernah benar-benar sendiri."

"Mungkin saja, kalau saat itu saya tidak bandel dan bermain dengan hati-hati Mama tidak sampai tertabrak mobil dan meninggal." lanjutnya menundukkan kepala merasakan sesak dihatinya saat mengingat kejadian yang sampai merenggut nyawa sang ibu.

Aruna mendekat, mengusap punggung Raka dengan hati-hati, seolah ingin menyalurkan ketenangan melalui sentuhannya.

"Jangan menyalahkan takdir. Mungkin ini sudah menjadi takdir Mama, dan kamu tidak bersalah akan hal itu. Aku yakin, Mama pasti sudah tenang disana. Mama juga bangga melihatmu sekarang yang sudah menjadi orang sukses sekarang." ucapnya lirih

Aruna masih menatap Raka yang masih menunduk. Ternyata di balik Raka yang dingin dan cuek, ia menyimpan luka atas kepergian ibunya.

* *

Di rumah, Pak Agung yang tengah membaca artikel di surat kabar menoleh ketika melihat Oma Sita pulang.

"Mama sudah pulang ?" ucap Agung sembari meletakkan surat kabar di atas meja

"Kok sendirian. Bukannya tadi pergi dengan Aruna." lanjutnya, mengedarkan pandangan tetapi tak menemukan sosok menantunya.

"Aruna nanti pulang sama Raka. Udah kamu nggak usah pikirkan. Mama mau ke kamar dulu, capek seharian keluar rumah." ucapnya, lalu pergi melangkah ke kamar meninggalkan Agung.

Pak Agung menggelengkan kepala. Tak heran dengan tingkah ibunya. Ternyata wanita tua ini memang sudah menyukai Aruna, sampai bertindak jauh untuk mendekatkan kedua anak itu.

* *

"Maaf, tadi saya sedikit terbawa emosi." lirih Raka, saat melajukan mobilnya untuk pulang.

Aruna mengangguk, "Iya, aku ngerti kok. Pasti kamu sangat merindukan Mama kan." lirihnya

"Sangat." Raka menoleh sejenak, meraih tangan Aruna "Terima kasih, karena kamu mau mendengarkan semua cerita saya tadi." Aruna mengangguk dan tersenyum.

Aaaaakkh!

Raka mengerem mendadak mobilnya ketika seorang wanita tiba-tiba menyeberang jalan, jantungnya berdegup kencang karena hampir saja menabrak. Begitu pun dengan Aruna.

Wajah wanita itu tertutup oleh kedua tangannya, takut setelah hampir tertabrak. Begitu merasa aman, ia menangkup tangan memohon maaf, lalu dengan langkah tergesa ia menghilang dari pandangan Raka.

Raka terkejut luar biasa, matanya membelalak begitu melihat wajah wanita itu.

"Mesya..." Gumamnya lirih. Ia segera turun dari mobil, berusaha mengejar wanita itu. Namun langkahnya tak mampu mengejar cepatnya wanita itu, dan ia pun tertinggal di belakang.

Melihat Raka tiba-tiba keluar dari mobil dan mengejar wanita itu, Aruna segera mengikuti dari belakang, berlari secepat mungkin untuk menyusulnya.

"Cepat banget larinya tuh cewek." Gumam Aruna saat berdiri di samping Raka.

"Kamu mengenal wanita itu ?" lanjutnya

Raka mengangguk. "Mesya.."

"Apa ? Jadi itu Mesya !" Seru Aruna terkejut.

Raka menoleh saat Aruna berkata sedikit berteriak karena kaget. "Udah, ayo masuk ke mobil."

Aruna menurut, mereka berdua berjalan masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam mobil begitu hening. Raka dan Aruna sama-sama terdiam,Seakan Raka dan Aruna larut dalam permainan pikiran mereka masing-masing, menyisakan hanya suara mesin yang terdengar.

* *

Pagi itu, toko kue dipenuhi aroma roti dan kue yang baru matang dari oven. Sinar matahari masuk melalui jendela kaca besar, memantulkan kilau lembut di etalase berisi kue-kue cantik. Nawa dan Aruna bercanda ringan sambil menata kue, tawa mereka pecah di antara rak-rak, membuat suasana toko terasa begitu hangat dan akrab. Sebagai sahabat, mereka terbiasa saling melempar gurauan kecil, membuat pagi itu tak hanya manis karena kue, tapi juga karena persahabatan yang tulus.

"Sepertinya Oma Pak Raka sayang banget sama lo bestie. Kelihatan banget dari caranya berbicara kemarin." ucap Nawa

"Hm. Gue juga nggak nyangka, ternyata keluarga suami gue benar-benar menganggap gue seperti anak dan cucunya sendiri."

"Cie.. Cie.. Suami gue nggak tuh." ledek Nawa membuat Aruna berdecak.

"Mulai.. Mulai.." Aruna hanya menggeleng tak heran lagi dengan tingkah Nawa.

"Setelah gue dengar ceritanya tadi malam, ternyata di balik sikapnya yang dingin dan cuek itu karena dia mempunyai luka akan Mama nya yang meninggal karena kecelakaan yang terjadi di depan matanya saat usianya masih kecil."

Nawa menggangguk, "Jadi Mama nya Pak Raka meninggal karena kecelakaan ?"

"Hm."

"Eh tunggu, bukannya lo kemarin pergi sama neneknya. Kenapa jadi bareng sama Pak Raka."

Aruna mendengus, "Tadinya iya, tapi tiba-tiba aja Oma ninggalin gue di taman. Saat gue mau pulang, tiba-tiba Raka datang."

"Wah, ini sih kebetulan yang di sengaja namanya."

"Lagi pada ngomongin apa sih ?" Tanya Adam saat dirinya baru masuk ke dalam toko, dan mendapati kedua karyawan sekaligus sahabatnya sedang asik bercerita.

"Bang Adam.. Tumben banget ke Toko pagi-pagi." Seru Nawa

"Iya. Ada hal yang harus gue urus pagi ini." Balas Adam lalu melirik ke Aruna.

"Run, lo nggak sibuk kan ?"

Aruna mendongak, "Hm. Nggak sih. Memangnya kenapa ?"

"Lo ikut gue sekarang. Kebetulan gue dapat job untuk sebuah pesta, dan mereka mau memesan kue di toko ini. jadi untuk pembahasan lebih lanjut, mereka ingin ketemu langsung dengan yang membuat."

"Oke. Gue siap-siap dulu."

Mereka akhirnya tiba di sebuah kafe untuk membahas event yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Di sana, mereka juga berencana meminta jasa toko Adam untuk menyiapkan dessert sebagai suguhan dalam acara tersebut.

Usai pertemuan dengan klien, Aruna dan Adam tidak langsung pergi. Mereka masih duduk di kafe itu, menikmati hangatnya kopi yang tersaji, sementara obrolan ringan mengalir di antara mereka.

"Lo masih aja kalau minum kopi belepotan gini." Ucap Adam sembari mengelap sisa buih susu yang menempel di sudut bibir Aruna dengan tangannya. Aruna kaget sejenak, lalu menjauhkan tangan Adam dan mengambil tisu untuk mengelap bibirnya.

Tanpa mereka sadari, diam-diam ada seseorang yang sedang menatap mereka dengan tangan mengepal marah.

* * * *

1
Marina Tarigan
kasihan deh lu Meysia tinggal sebatang kara Robinmu sdh tenang di Neraka dan kamu juga ringsek dgn kebiadapanmu kamu terlampau sadis nikma ti saja ulahmu
Marina Tarigan
semoga Robin dan meysia yertangkap
Marina Tarigan
lanjut
Marina Tarigan
mampus kau Reno sdh curiga tapi tinggalkan juga tak apa kalau Raka meninggal nikah lagi Aruna banyak laki2 ingin kamu
Marina Tarigan
jln tengah malam rasakan akibatnya tabrakan apa ada yg sengaja
Marina Tarigan
kebetulan pemeran ceo w ini semuanya dungu karena menyikapi sesuatu terlampau santai biasanya ceo seperti mereka selalu waspada punya pengawal bayangan di. mana2
Marina Tarigan
bagus Aruna semoga kamu dicincang hidup 2 oleh Maeisy dan Robin karena letololanmu
Marina Tarigan
semoga Aru a disekap dan disiksa atas kebodohannya masa pergi dgn tdk beri tahu suaminya aneh ketepi pantai lagi disuruh
Marina Tarigan
hai mencil jgn kau sakiti Robin yg tulus mencintai kamu monyet
Marina Tarigan
gimana kamu iru Meisyi jalang kamu kejar Raka yg tak pwrnah melecehkanmu kamu kedapatan oleh papa Agung bercocok tanam dgn laki2 pantas kamu diusir oleh papa Agung dan jijik melihatmu kamu selingkuh di belang Arka nikah saja sm Robin itu
Marina Tarigan
hai Aruna ular cobra sdh datang dan di cafe tadi ada yg motret tunggu sebentar lagi sampai ke kamu dan biarkan oma sm papa. Agung yv bertindak dari dulu mereka tdk suka sm wanita abeh itu kamu harus sabar jgn bertindak gegabah sm Arka jarena Arka Ceo yg kurang perhitungan menghadapi ular COBRA yg ingin menghancurkan rmh tggamu
Marina Tarigan
biasa kali itu2 terus wanita gatal tak tahu diri kerjanya hanya menyakiti orang saja Aruna tdk bisa kau anggap lemah mici sayur
Marina Tarigan
biasa tu nama orang selalu ganti 2 apalagi peran utama bikin pusing
Eni Windari
lanjut
Eni Windari
lanjut, lagi
Windi Widia Astuti
waaah othor baru muncul lg setelah sekian purnama....hihihi...semangat kk...aku menunggu terus update nya😍😍😍😍
Eni Windari
kok lama x lanjutan nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Ayla Anindiyafarisa
mau bubarin pernikahan mantan mala dia yg terjebak pernikahan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!