Tidak disangka, aku masuk ke dalam tubuh seorang figuran yang tak lama lagi akan mati tertabrak saat menyelamatkan pemeran utama. Bisakah aku mengubah takdir ini?
cerita tidak terlalu berat, karna kalo berat dilan yang nanggung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayaa aull., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah empat bulan sejak Ara berada di dunia novel. Kedekatan antara Ara dan Kairi semakin terjalin, dan mereka selalu bersama. Seperti hari ini, Kairi sedang menunggu Ara di depan rumahnya untuk pergi bersama ke sekolah.
Kairi melihat ke arah pintu rumah Ara. Ara datang bersama daddynya. Sebenarnya, daddy Ara merasa cemburu karena anaknya mulai dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hal ini membuatnya sangat cemburu karena waktu bersama Ara semakin sedikit. Namun, Farah, maminya Ara, berusaha memberi pengertian bahwa Ara sudah dewasa. Daddy Ara terus menganggap Ara masih terlalu kecil untuk didekati laki-laki.
"Daddy, aku berangkat dulu," ucap Ara kepada sang daddy yang berdiri di sampingnya.
"Iya, Ara. Hati-hati, tapi tunggu dulu. Jangan masuk dulu, daddy mau bicara dulu dengan dia," ucap sang daddy sambil menunjuk Kairi yang berdiri di samping mobil mewahnya.
"Jaga putriku baik-baik. Awas saja kalau dia menangis atau lecet sedikit pun, walau bukan karena kamu. Aku akan tetap menjauhkannya darimu, dan akan kupastikan ayahmu tak akan bisa membantumu," ucap daddy berbisik kepada Kairi.
"Iya, Om," ucap Kairi yang sudah biasa diperlakukan seperti itu karena hampir setiap hari Amaar selalu mengancamnya begitu.
"Hemm," ucap Amaar dingin, lalu berbalik ke arah Ara dan tersenyum.
Melihat perbedaan sikap Amaar kepada dirinya dan kepada Ara membuat Kairi hanya bisa tersenyum. Amaar sangat menjaga dan menyayangi Ara.
"Bye, Dad," ucap Ara melambaikan tangan. Setelah berpamitan kepada Amaar, mobil Kairi pun melaju meninggalkan rumah Ara.
Sebenarnya, Amaar dan ayahnya Kairi adalah teman baik. Mereka dulu sahabat, makanya Amaar tidak segan-segan kepada Kairi. Dia menganggap Kairi sama menyebalkannya seperti sahabatnya yang bernama Yafi Arshaka Evans.
"Ah, memikirkan akan seheboh apa sahabatnya bila tahu anaknya bersama anaknya saja sudah sangat kesal," pikir Amaar.
Sementara itu, di dalam mobil, terlihat Kairi sesekali melihat ke arah Ara yang sedang memperhatikan sekitar. Kairi bingung ingin mengajak bicara Ara bagaimana. Mereka sampai di sekolah tanpa membicarakan apapun, dan itu membuat suasana di antara mereka terasa canggung.
"Aku duluan," ucap Ara kepada Kairi. Mereka sudah sampai, dan Ara ingin cepat-cepat sampai ke kelasnya karena suasana di antara mereka yang terasa canggung.
"Ayo, bareng," ucap Kairi. Ia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Ara.
Sementara itu, siswa-siswi yang melihat sudah mulai terbiasa melihat Kairi dan Ara yang selalu bersama. Pada awalnya, saat pertama kali mereka berangkat bersama, terjadi kehebohan karena pria terdingin dan tercuek di sekolah mereka membawa Ara yang sangat cantik turun dari mobilnya.
Flashback
Saat akan pulang sekolah, tiba-tiba Ara dicegat oleh Kairi dan dua temannya. Ara pun menatap bingung ke arah Kairi karena merasa tidak melakukan apapun yang bisa mengganggu Kairi.
“Ada apa?” tanya Ara, mendongak melihat Kairi yang berdiri menjulang di depannya.
“Besok berangkat bersamaku,” ucap Kairi to the point.
“Kenapa?” tanya Ara bingung. Kenapa dia harus berangkat bersamanya?
“Tidak ada alasan, aku hanya ingin berangkat bersama kamu,” ucap Kairi lembut.
“Tidak ada penolakan. Aku akan menjemputmu di rumahmu, jadi tunggu aku,” tambah Kairi sebelum Ara sempat menolaknya. Ia mengelus puncak kepala Ara lalu pergi meninggalkan Ara yang mematung melihat Kairi.
Benar saja, pada pagi harinya, Kairi sudah berdiri di depan rumah Ara dengan niat meminta izin untuk mengajak Ara pergi bersamanya.
“Mau bertemu siapa ya?” ucap pelayan di rumah Ara setelah mendengar bel rumah berbunyi dan melihat seorang pemuda berdiri di hadapannya dengan seragam yang sama seperti yang dikenakan nona-nya.
“Ara,” ucap Kairi pendek.
“Ah, nona Ara. Pasti Anda temannya, kan? Silakan masuk, nona Ara sedang sarapan bersama orangtuanya,” ucap bibi.
Kairi pun masuk dengan dituntun oleh bibi menuju meja makan di mana keluarga Ara berkumpul.
“Nona, ini ada temannya datang,” ucap bibi setelah sampai di meja makan. Itu membuat ketiga orang yang berada di meja makan menoleh secara bersamaan ke arah Kairi.
“Siapa?” tanya Daddy yang memulai pembicaraan, melihat seorang laki-laki yang datang sebagai teman putrinya.
“Saya Kairi, Om,” kata Kairi.
“Nama panjangmu,” ucap Daddy dingin.
“Kairi Jett Evans,” ucap Kairi.
“Ah, kau putra si Yafi ternyata,” ucap Daddy, dan itu membuat Daddy Amaar semakin kesal karena putra dari sahabatnya berani mendekati putrinya.
Sementara itu, Ara dan maminya hanya diam menonton karena tidak bisa melakukan apapun. Ini semua kehendak Amaar.
“Mau apa ke sini?” tanya Amaar.
“Mau menjemput Ara,” ucap Kairi tegas dan yakin, tanpa rasa takut terhadap Amaar yang menatapnya dingin.
“Apa barusan yang kau katakan? Aku tak mendengarnya,” ucap Amaar berusaha memastikan bahwa yang baru saja didengarnya tidak benar.
“Menjemput Ara, Om,” jawab Kairi pasti.
“Kau berani?” ucap Amaar bertambah dingin kepada Kairi.
“Berani, Om,” ucap Kairi tegas tanpa menunduk, menatap mata Amaar.
Itu semakin membuat Amaar kesal karena sikap sahabatnya yang menyebalkan itu tampak pada putranya secara nyata.
“Sudah, Dad. Kasihan, biarkan Kairi duduk,” ucap sang mami yang merasa kasihan karena sedari tadi Kairi berdiri.
“Kau duduk,” ucap Daddy menunjuk Kairi.
Saat Kairi akan duduk di samping Ara, tiba-tiba Amaar bersuara kembali. “Jauh-jauh kau dari putriku, kau duduk di sana,” ucap Amaar yang melihat Kairi akan duduk di samping Ara dan menunjuk kursi paling ujung dan jauh dari putrinya.
“Ara, kamu akan berangkat bersamanya?” tanya sang Daddy kepada Ara yang duduk di sampingnya.
“Iya, Dad,” ucap Ara, dan itu membuat Amaar tidak senang dengan jawaban sang putri.
“Daddy bisa antar kamu, tidak perlu bersama dia,” kata Amaar tak rela putrinya pergi bersama Kairi.
“Tapi Kairi sudah datang ke sini, masa aku malah pergi sama Daddy sih?” kata Ara.
“Ya tidak apa-apa, biarkan saja dia,” ucap Amaar sebal karena sang putri malah membela Kairi yang terlihat tersenyum di ujung sana, merasa senang karena Ara memilihnya.
Bujuk rayu itu terus terjadi sampai Ara akan berangkat. Sang Daddy masih berusaha mencegahnya berangkat bersama Kairi.
“Dad, aku berangkat dulu ya,” ucap Ara, mencium pipi dan tangan sang Daddy.
“Hmm,” ucap Amaar yang ngambek karena putrinya menolak berangkat bersamanya.
“Jangan ngambek dong, Dad. Ya sudah deh, besok aku berangkat sama Daddy,” ucap Ara membujuk sang Daddy.
“Janji ya,” kata Amaar yang mulai melunak karena Ara mau diantar olehnya besok.
“Iya, aku janji,” kata Ara.
“Ya sudah, Daddy mau bicara dulu sama dia. Kamu tunggu di sini,” ucap sang Daddy berjalan menuju Kairi yang menunggu di sisi mobilnya.
“Dengarkan ini baik-baik. Jaga putriku baik-baik. Awas saja kalau dia menangis atau lecet sedikit pun, walau bukan karena kamu. Aku akan tetap menjauhkannya darimu. Akan kupastikan ayahmu tak akan bisa membantumu,” ucap Amaar dingin kepada Kairi.
“Baik, Om,” ucap Kairi.
Ara dan Kairi pun berangkat, dan terjadilah antar jemput antara Kairi dan sang Daddy, seperti satu hari Kairi, satu hari sang Daddy, dan itu berlanjut sampai sekarang. Ara hanya bisa menghela napas karena mereka berdua mulai memperlihatkan permusuhan memperebutkan Ara.
Sementara itu, saat sampai di sekolah terjadi kehebohan karena melihat Ara turun dari mobil Kairi dengan sangat cantik. Kairi membukakan pintu mobil untuk Ara, dan murid-murid di sana histeris melihat Ara yang sangat cantik bersanding dengan Kairi yang tampan.
“Ah, lihat siapa yang turun dari mobil Kairi.”
“Lihat kaki yang putih itu. Aku tidak sabar melihat siapa yang turun, pasti sangat cantik,” ucap murid-murid yang penasaran siapa yang berangkat bersama cowok paling tampan dan cuek di sekolah mereka. Mereka penasaran siapa yang telah berhasil meluluhkan hati pria dingin itu.
Saat Ara turun, semakin menambah kehebohan karena seperti melihat bidadari turun. Banyak murid yang belum tahu siapa Ara.
“Siapa itu?”
“Aku belum pernah melihatnya.”
“Ah, dia sangat cantik. Bagaimana aku tidak tahu ada orang secantik itu di sekolah ini?”
“Itu Ara.”
“Ara siapa?”
“Arabella, kelas 11 MIPA 1. Murid terpintar di seluruh sekolah ini dengan segudang prestasi. Kau tidak tahu?”
“Aku tidak tahu. Aku baru pertama kali melihatnya.”
“Ah, wajar saja kau baru melihatnya karena dia sangat jarang keluar dari kelasnya. Dia hanya keluar saat dipanggil ke ruang guru atau saat olahraga saja. Kau pasti tidak tahu kan yang selalu mendapat juara umum setiap tahun namun hanya disebutkan kelasnya saja tanpa namanya? Itu dia. Dia memang agak tertutup orangnya, dan baru-baru ini dia terlihat karena Ruby yang selalu membuat ulah. Justru itu membuat aku senang karena sekarang jadi mudah melihatnya,” ucap seorang siswi semangat menceritakan tentang Ara.
“Dari mana kamu tahu?”
“Aku tahu dari temanku yang sekelas dengannya. Kata temanku, dia sangat baik dan aku sangat ingin berteman dengannya. Huhu.”
“Dia sangat cantik.”
“Hanya tampang doang yang unggul,” ucap seorang siswi yang iri kepada Ara.
“Apa kau bilang? Sini kau, dengarkan aku,” terjadilah perdebatan karena ada yang iri terhadap Ara.
Begitulah yang terjadi saat pertama kali mereka berangkat bersama.
Flashback off
...****************...
Teman teman maaf ya aku jarang update soalnya tanganku lagi sakit huhu jadi cuman bisa nyicil ngetiknya...
Semoga kalian selalu nungguin aku update yaa..
Terimakasihhh...