Selama belasan tahun Alesha Kamil sendirian membesarkan keponakannya, Azzam. Ia berharap seluruh cinta yang ia berikan dapat menggantikan figur ayah yang tak pernah dikenal anak itu.
Namun tiba-tiba, suatu hari Keenandra Malik Gunawan mendatangi Alesha di rumahnya. Musisi yang terkenal playboy itu sebetulnya ayah kandung Azzam, dia datang karena surat-surat kaleng yang berisi pemberitahuan jika dia memiliki seorang anak.
Akankah Keenan mengambil Azzam dari Alesha yang sudah mengurus dan membesarkannya? atau Keenan justru menginginkan yang lain?
Yuk baca selengkapnya di Dia juga Anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Keesokan paginya, ketika Alesha masuk ke dapur untuk membuat kopi, ia terkejut melihat dapurnya sudah rapi dan bersih. Ruang makannya juga sudah dibersihkan dari sisa-sisa pesta ulang tahun, walaupun bunganya masih ada di atas meja.
Tampaknya Andra dan Azzam yang sudah membersihkan segalanya sebelum mereka pergi.
Alesha menghirup kopinya, lalu berpikir bagaimana ia bisa menjual mobil yang baru saja dibelinya. Mungkin si penjual mobil mau mengambilnya kembali dan mengembalikan uangnya.
Sementara ia merenungkan hal yang tampaknya tak mungkin itu, handphonenya berdering.
“Selamat pagi, dengan Nona Alesha?”
“Ya?”
Si penelepon memperkenalkan diri sebagai salah satu dokter rumah sakit jiwa. “Ibu Anda terkena serangan jantung yang cukup serius beberapa menit yang lalu. Beliau sedang dibawa dengan ambulans dan dalam perjalanan ke rumah sakit umum.”
***
Hari sudah senja ketika Alesha berbelok menuju kediaman Andra. Ia memarkir mobilnya di depan rumah itu dan untuk sesaat hanya duduk di balik kemudinya, ia terlalu letih dan sedih untuk bergerak.
Akhirnya Alesha mengumpulkan cukup energi untuk membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu depan. Ia mendengar denting bel pintu dan meongan Chiki sebelum Andra membuka pintu.
Pria itu hanya mengenakan celana renang yang basah, ia tampak terkejut melihat kedatangan Alesha.
“Hai, Azzam ada?” sapa Alesha.
“Tidak ada.” Andra menggelengkan kepalanya
“Oh.” Satu-satunya yang ia pikirkan tadi hanyalah datang ke rumah ini dan bertemu dengan Azzam, tapi sayangnya anak itu sedang tidak di rumah bapaknya.
“Masuklah.”
Energi yang dibutuhkan untuk melakukan apa yang diminta pria itu lebih sedikit daripada energi yang dibutuhkan untuk memikirkan alternatif lainnya, sehingga Alesha melangkah masuk dan pria itu menutup pintunya.
Chiki memandang Alesha lekat-lekat, lalu bergerak maju untuk menyurukkan kepala ke kaki Alesha. Gadis itu langsung membungkuk dan menepuk-nepuk kepala Chiki rengan lembut.
“Aku tidak habis pikir,” ucap Andra sembari mengusap rambutnya yang basah. “Kucing secantik ini seharusnya bersikap jinak, tapi Chiki nyaris menyantap hidup-hidup setiap wanita yang datang ke rumah ini selain dirimu.”
“Dia tahu aku bukan ancaman baginya.” Lalu tanpa tedeng aling-aling, Alesha berkata, “Ibuku meninggal tadi pagi.”
Senyum Andra langsung lenyap, ia menurunkan tangannya. Alesha melihatnya berusaha menelan ludah. Pria itu mengalihkan pandangannya lalu kembali menatapnya. “Apa yang terjadi, Al?”
“Ummi mengalami serangan jantung pagi tadi. Kondisinya sudah sangat parah ketika aku sampai di rumah sakit, aku hanya bisa menemaninya beberapa menit sebelum kepergiannya.”
“Sendirian? Kenapa kau tidak menelepon kami?”
“Ummi melarangku menghubungi Azzam.”
“Kenapa? Kau tidak seharusnya melewati ini seorang diri.”
Alesha menggelengkan kepalanya “Ummi tidak ingin melihat cucu kesayangannya menangis di pemakamannya, beliau ingin meninggal dan di kubur dengan tenang. Walaupun...” ujarnya, merasa semakin sulit untuk berkata-kata, “Ummi meninggal sebagai wanita yang tidak bahagia.”
“Alesha...” Andra meraih tangan Alesha dan menggenggamnya erat, ingin sekali rasanya ia memeluk gadis itu untuk menguatkannya, namun ia tahu Alesha bukan wanita yang bisa di peluk oleh sembarang pria.
"Andra bolehkah aku meminjam bahumu, sebentar saja?" pintanya dengan air mata menggenangi pelupuk matanya. "Hanya sekali ini saja."
Tanpa menjawab, Andra meraih kepala Alesha dan membawanya ke bahunya. "Menangislah sepuasnya, jika itu bisa meringankan bebanmu," bisik Andra. Satu tangan masih menggenggam tangan Alesha sementara tangan lainnya mengusap-usap kepala Alesha dengan lembut memberikan penghiburan untuk gadis malang itu.
“Aku minta maaf, Andra. Maafkan aku.”
“Maaf?” Andra membiarkan Alesha terisak-isak selama beberapa menit, lalu berbisik, “Ceritakan padaku, Al.”
Alesha terisak keras, hingga membuat bahu dan tangan Andra basah semua, tapi Andra tidak peduli, hatinya merasakan kesedihan yang Alesha rasakan. Ia ingin berbuat lebih untuk meringankan rasa sakit yang di rasakan Alesha.
Alesha menegakan kepalanya dan menatap Andra. “Beberapa waktu lalu, aku sempat bertanya kepada Ummi, mengapa Ummi mengirim surat-surat itu?”
“Apakah ibumu berusaha menyangkal?”
“Tidak. Seperti yang sudah kau duga, Ummi memang ingin diketahui. Itu sebabnya beliau mencantumkan alamat rumah di amplop itu. Ummi bilang dia yakin kau akan menemukan kami.”
“Dari mana Ibumu tahu akulah Ayah Azzam?”
“Seperti dugaanku, Ummi sudah lama merasa curiga setiap kali melihatmu di TV atau surat kabar, atau produk-produk yang kau bintangi. Kau begitu mirip dengan Azzam, dan kau selalu bilang di infotainment, jika setiap liburan kau selalu pulang ke Indonesia, jadi secara matematis hubunganmu dengan Annisa pas dengan tanggal kelahiran Azzam.”
Alesha menghela napas beratnya. “Andra, Ummi melakukan karena dendam padamu. Kau menjalani hidup bahagia sementara keluarga kami tercerai-berai karenamu.”
Alesha menundukkan kepalanya “Hanya sebatas itu obrolanku dengan Ummi karena beliau sudah tidak bisa lagi di ajak berbicara dan dokter sudah memperingatkanku tentang tekanan darah tinggi Ummi.”
“Asal kau tahu, hidupku lebih bahagia sejak kehadiran Azzam. Aku justru berterima kasih pada ibumu atas surat-surat itu.” Andra mengelus tangan Alesha dengan lembut. “Apa kau memberitahu ibumu bahwa Azzam sedang tinggal bersamaku?”
“Ya, dan Ummi tertawa dengan dengki. Ummi yakin jika Azzam membuatmu susah. Menjadi beban.” Alesha menengadahkan kepalanya. “Aku minta maaf jika surat-surat itu mengganggumu, Andra.”
“Aku terganggu hanya sesaat saja kok. Kau tidak usah mengkhawatirkannya lagi, Alesha. Semuanya sudah selesai.”
Rasanya begitu nyaman Andra menggenggam erat tangannya, tapi Alesha tidak ingin membiarkannya terlalu lama, sehingga perlahan ia melepaskan genggaman Andra. “Azzam pergi ke mana? Apakah dia akan segera kembali? Aku harus memberitahu Azzam tentang eyangnya.”
“Dia pergi ke rumah temannya. Kau jangan khawatir,” ujarnya melihat kecemasan Alesha. "Aku sudah menelepon orang tua Farel, sebelum mengizinkan Azzam pergi.”
“Oh, Farel. Dia dan Azzam sudah berteman baik sejak sekolah dasar. Keluarga juga sangat baik.”
“Aku juga melihatnya seperti itu, makanya aku mengizinkannya pergi.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan menjemputnya. Sampai nanti, Andra. Terima kasih karena sudah mengizinkanku menangis di…” Enggan mengatakan bahumu, Alesha menyelesaikan kalimatnya dengan tersenyum lemah dan berbalik menuju pintu.
“Hei, hei.” Andra meraih lengan Alesha dan membalikkan tubuhnya. “Boleh usul?” Alesha memiringkan kepalanya dengan bingung. “Bagaimana kalau kau membiarkan Azzam menginap di sana? Lagi pula malam ini tidak ada pengajian kan?”
“Tidak. Tahlilannya mulai besok malam.”
“Kalau begitu besok pagi sudah cukup cepat bagi Azzam untuk menerima kabar duka ini. Malam ini biarkan dia main bersama temannya karena sebentar lagi dia akan ujian nasional dan berpisah dengan temannya, Farel akan kuliah di luar kota.”
Alesha mengangguk. “Kurasa kau benar. Telepon aku begitu dia sampai di rumah dan aku akan datang lagi ke sini.” Ia meraih pegangan pintu tapi Andra menahan pintu dengan tangannya dan menghalangi Alesha.
“Boleh aku mengajukan usul lain?” Sekali lagi Alesha menatapnya dengan bingung. “Menginaplah di sini malam ini.”
Mulut Alesha menganga lebar. “Apa?”