NovelToon NovelToon
The Strongest Swordsman Mage

The Strongest Swordsman Mage

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Fantasi / Barat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vivi Aulina

Suatu hari, dunia berubah. Gerbang-gerbang misterius mulai terbuka, melepaskan monster-monster yang mengancam untuk memusnahkan umat manusia. Kini, satu-satunya cara bertahan hidup adalah memburu dan membasmi mereka sebelum semuanya terlambat.

Di tengah kekacauan itu, ada seorang pria yang dikenal dengan julukan "Swordsman Mage Terlemah", Zeha. Tak disangka, ia memperoleh kekuatan dari sebuah kristal aneh, membawanya pada misi untuk mengumpulkan sepuluh Fragments of Eternal Power demi menjadi yang terkuat.

Salah satu kekuatan itu, High-Demonic Eyes-warisan dari Immortal Demon yang tersegel di dalam Demon Crystal, secara tak sengaja terbangun dan menyatu dengannya. Sejak saat itu, Zeha berjalan di antara cahaya dan kegelapan, memegang kekuatan para dewa sekaligus iblis.

Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia bersumpah akan menjadi penyihir terkuat, melindungi manusia, dan mengakhiri bencana yang melanda dunia.

+

+

Karya Fantasi-Aksi pertama!

Ayo buruan bacaaa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Aulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. PERBURUAN LIZARD

Klaus mempersilahkan Zeha untuk duduk di sofa begitu mereka masuk ke dalam ruangannya. Mereka duduk saling berseberangan, Klaus memberikan tatapan tajam, sementara Zeha menunduk karena gugup.

"Zeha, kau mengenal Grandmaster Valeria, kan?"

Zeha terkejut, lantas mendongak. "Hah? Siapa...?"

"Gurumu."

Kedua mata Zeha membulat sempurna. "Guru...?! Maksudmu nenek?!"

Klaus mengangguk. "Wanita tua yang mengajarimu itu adalah Augusta Valeria, seorang Grandmaster dari sworsdman mage terkuat.

"T-tunggu...bagaimana kau tahu kalau aku adalah murid nenek...?!"

Klaus tersenyum. "Xavier yang memberitahukannya kepadaku."

"Putra Mahkota...?" Kening Zeha mengernyit bingung, kemudian, sorot matanya berubah sendu. "Kalau begitu, kau pasti sudah tahu soal kematian nenek."

Terkejut, Klaus memberikan senyuman pahit. "Yah, aku sudah tahu. Seluruh petinggi akademi dan Menara Sihir sangat terpukul mendengar beritanya. Untuk saat ini, informasi mengenai dirimu yang merupakan murid terakhir beliau masih dirahasiakan. Karena kematian beliau, banyak Master dari Menara Sihir yang mengincarmu."

Zeha sukses terkejut. "Apa yang terjadi...?"

"Grandmaster adalah sosok yang begitu penting bagi Akademi dan Menara Sihir. Beliau sudah banyak memberikan bantuan pada akademi dan menara sihir, baik dari segi kekuatan maupun koneksi."

Zeha tertegun, ia tak menyangka kalau sang nenek begitu penting bagi mereka. Pasalnya sang nenek juga tidak pernah menceritakan semua tentang kehidupannya padanya.

"Karena anda sudah mengetahui soal nenek..." Zeha mengeluarkan sebuah pedang dari dalam tas kecil. Tas kecil itu merupakan penyimpanan magis yang memiliki kapasitas sangat besar. Zeha membelinya dari Black Market, tentunya dengan harga yang sangat tinggi.

Zeha meletakkan pedang itu ke atas meja.

Detik itu juga, Klaus membeku, matanya membola karena terkejut. "White Sword?! Kenapa artefak ini...?!"

Atensi Klaus beralih pada Zeha, menatapnya tidak percaya. "Zeha...bagaimana kau bisa...?!"

"Nenek memberikan pedang ini padaku. Aku tahu ini sangat berharga, sampai Putra Mahkota sendiri hampir mengira kalau aku adalah seorang pencuri."

Klaus masih belum bisa mempercayainya. "Grandmaster memiliki 12 murid yang sekarang dikenal sebagai swordman mage terkuat, namun beliau tidak pernah memberikan hadiah apapun pada mereka."

Klaus tertawa. "Dan beliau memberikan artefak langka ini padamu? Sungguh tidak bisa dipercaya..."

(Itu berarti masterku adalah orang yang terpilih.)

"Diam, Litch."

"Aku mengerti ini memang sangat mengejutkan. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu identitas asli nenek," ucap Zeha.

"Aku mengerti." Klaus menghembuskan napas berat dan panjang. Dia memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. "Jadi, Zeha, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Zeha tersentak. "Apa maksudmu...?"

"Sekarang kau sudah bisa menguasai sihir, berkat orb yang kau ceritakan itu."

Zeha terdiam, berpikir sejenak. "Kurasa aku akan terus mencari kekuatan yang lain."

"Maksudmu orb itu?"

"Iya."

"Fenomena ini memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tapi kau bilang kau sudah pernah melakukan penyerapan sihir. Dimana kau menemukan orb yang lain?"

Zeha terdiam lagi sebentar, sedikit ragu untuk mengatakan kebenaran tentang kekuatannya. Cukup lama, ia menghembuskan napas.

"Di dalam dungeon."

Klaus sukses terkejut. "Di dalam dungeon...? Bagaimana bisa...?"

"Singkatnya, aku bisa merasakan sinkronisasi sihir dari orb yang lain yang ada di dalam dungeon. Jadi aku tidak perlu memasuki semua dungeon yang ada di Kekaisaran."

Klaus masih terdiam tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. "Begitu, ya? Ini benar-benar mengejutkan. Entah kenapa aku merasa semuanya terhubung. Gate, monster, dan kekuatanmu."

(Master, pria ini sangat teliti.)

"Kau benar. Dia adalah salah satu swordman mage terkuat. Sudah pasti dia sangat peka."

Klaus menghembuskan napas panjang dan berat, menyandarkan tubuhnya ke badan sofa. "Kau tahu, Zeha? Disatu sisi aku merasa senang karena akhirnya kau bisa menguasai sihir, namun disisi lain, entah kenapa aku merasa cemas."

"Aku mengerti, Sir Klaus." Zeha juga merasakan hal yang sama. Kekuatan yang dia miliki diciptakan untuk menyelamatkan dunia dari bencana, yang berarti 'akan ada bencana besar yang melanda Kekaisaran ini'.

"Baiklah, mari kita pindah pembahasan dulu. Kepalaku hampir pecah karena masalah gate dan monster yang tak ada habisnya."

Zeha terkekeh kecil. "Anda sudah banyak memberikan kontribusi untuk Kekaisaran."

Klaus tersenyum miring. "Kau benar, keuntungan yang aku dapat juga sepadan. Jadi, aku akan memakluminya."

"Apa kau bisa memberitahuku soal kondisi Kekaisaran sekarang?"

Klaus membenarkan posisi duduknya. "Yah, demi kelancaran tim penyerangan, aku membagi tugas untuk setiap wilayah. Di wilayah utara, ada Riana yang bertanggung jawab. Di wilayah Barat, ada Wendy. Di wilayah Timur, ada Kai dan Widya, dan di wilayah selatan ada Putra Mahkota."

Terkejut, dua mata Zeha melebar. "Senior Wendy...dan Widya...?!"

"Yah. Mereka masih tinggal di Kekaisaran setelah kelulusan, karena itu mereka aku ikut sertakan."

Mata Zeha berbinar-binar penuh kekaguman. Melihat hal itu, Klaus sontak terkekeh geli.

"Sepertinya kau begitu menyukai mereka."

"Tentu saja! Senior Wendy, kan termasuk swordman mage terkuat di generasi ke-8!"

Klaus tertawa, lalu berdiri, berjalan mendekati jendela. "Kau benar. Dia memang sudah seperti idola."

"Sir Klaus, aku ingin bertanya. Apa ada aturan khusus untuk memasuki dungeon?"

Klaus berbalik, menatapnya bingung. "Tentu saja ada."

"Begitu, ya? Apa aku tidak bisa masuk ke dalam dungeon?"

Kedua alis Klaus meninggi, sedikit terkejut. "Kalau sendiri tentu saja tidak bisa. Namun jika kau ingin berpartisipasi dalam tim penyerangan, maka aku bisa membantumu."

Ekspresi Zeha berubah senang. "Benarkah...?! Kalau begitu, aku mohon bantuannya!"

Klaus tersenyum. "Yah, kau juga butuh pengalaman bertarung. Besok ada jadwal penyerangan untuk gate level rendah di distrik Iron. Kau bisa datang ke sana."

"Baik! Terima kasih, Sir Klaus!"

_

_

_

Esok harinya, Zeha sudah berada di lokasi gate yang Klaus berikan, berada di distrik Iron yang berlokasi agak jauh dari pemukiman warga sehingga tidak banyak orang yang tahu.

Ada tujuh orang yang berpartisipasi untuk melakukan penyerangan kali ini. Melalui kemampuan Litch, ia bisa mengetahui jumlah sihir dari setiap anggota. Jumlahnya tidak begitu besar, berada di kisaran 4000-6000.

(Master, mereka terlalu lemah.)

Zeha tersenyum kecut. "Haha, kau benar-benar, ya..."

Meski begitu Zeha setuju dengan pernyataan Litch. Jumlah keseluruhan kekuatan tim penyerangan kali ini cukup rendah, ia bisa merasakan energi sihir yang dipancarkan dari gate itu lebih besar dari jumlah sihir mereka. Meski begitu, perlengkapan yang mereka pakai sudah cukup untuk mengisi kekurangan mereka.

"Baiklah! Apakah tim kita sudah lengkap?" Sang kapten berteriak.

"Tentu saja sudah!"

Lalu, atensinya tak sengaja menangkap keberadaan Zeha yang berdiri di barisan paling belakang. Keningnya berkerut bingung. "Hei, kau! Apa yang kau lakukan di sini?"

"Hm?" Kedua alis Zeha meninggi, bingung. "Aku juga masuk ke dalam tim penyerangan."

"Apa? Omong kosong macam apa itu?"

"Kepala Akademi sudah memberiku izin."

Kedua alis sang Kapten menyatu, sudah jelas, dia kesal. "Begitu...?"

"Urgh..! Benar-benar mengesalkan. Apa dia bisa seenaknya masuk ke tim orang lain dengan bantuan orang dalam? Cih! Dia pikir dungeon ini tempat apa. Sudahlah, aku malas berurusan dengan orang seperti dia." Dia menggeleng beberapa kali sambil menghela napas.

"Terserahlah! Ayo masuk!"

Kemudian mereka masuk ke dalam gate. Hal yang pertama kali mereka lihat ketika masuk ke dalam adalah hutan, bukan goa seperti dungeon pada umumnya. Sontak hal itu membuat mereka semua terkejut.

"Kapten! Apa yang terjadi?! Bentuk dungeonnya berbeda!" teriak salah satu pria dengan raut wajah cemas.

"A-aku tidak tahu..." jawab si kapten gugup. Kemudian ia melirik ke arah Zeha yang tampak tenang, tak terpengaruh sama sekali oleh perubahan dungeon yang tidak biasa.

"Hei! Kau mau kemana?!" Ia berteriak ketika melihat Zeha hendak pergi meninggalkan mereka.

Zeha menoleh. "Maaf, tapi aku akan berburu sendirian. Kalian lanjutkan saja perburuan kalian."

Sang kapten lantas terkejut. "Apa?!" Ia lalu tertawa remeh. "Hei. Jangan banyak gaya dan tetaplah di belakangku. Tempat ini adalah sarang monster, kau tahu?"

Zeha mengangkat kedua alisnya karena bingung. "Yah, tentu saja aku tahu."

"Karena itu tidak usah bersikap sok berani seperti itu. Berburu sendiri sangatlah berbahaya. Orang seperti dirimu itulah yang akan pertama kali jadi santapan monster. Jadi jangan gegabah dan ikuti saja kami."

Zeha menghela napas.

(Master, pukul saja kepalanya.)

"Diam, Litch."

(...)

"Tidak usah khawatir. Aku bisa mengatasi ini sendiri." Kemudian Zeha berbalik dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.

Sang kapten semakin kesal hingga rahangnya mengeras. "Sialan! Dia benar-benar menjengkelkan!"

Ia menghembuskan napas panjang dan kembali berjalan. "Yah, tidak masalah juga. Orang banyak gaya seperti dirinyalah yang akan terus membawa masalah.  Ayo, kita perlu menyelidiki dungeon ini!"

"Baik, kapten!"

_

_

Zeha sudah berjalan ke dalam hutan sekitar dua ratus meter. Namun dia masih belum menemukan satu ekor monster. Hutannya juga terasa sunyi, seakan-akan monster itu bersembunyi di suatu tempat.

"Aku berharap bisa menggunakan domain penglihatan."

Tepat setelah mengatakan kalimat itu, tiba-tiba tubuhnya bereaksi. Mata kanannya berdenyut dan berubah menjadi warna jingga. Dalam hitungan detik, dia bisa melihat seluruh isi hutan ini dengan detail, di setiap sudutnya tanpa tersembunyi.

"Uukkh...!" Zeha menyentuh arena matanya yang berdenyut. "Apa-apaan itu tadi? Litch, apakah ini bagian dari kekuatanmu?"

(Tidak, master.)

Zeha terkejut. "Lalu apa itu tadi? Jangan-jangan...kekuatan dari orb yang kemarin...?!"

(Sihir dari orb kemarin sangat bertolak belakang dengan sihirku, master.)

"Jadi begitu. Lalu kenapa kau diam saja saat aku menyerap sihir itu?"

(...kesadaranku menghilang saat master mengaktifkan orb itu. Aku juga tidak tahu penyebabnya.)

Zeha menghela napas panjang. "Baiklah. Mari kita pikirkan nanti. Aku harus mencoba teknik yang tadi."

Zeha menutup mata kirinya dengan telapak tangan untuk memfokuskan teknik yang ingin ia pakai. Tak berselang lama, mata kanannya kembali berdenyut dan berubah menjadi warna jingga.

Zeha bisa melihat keseluruhan dari hutan ini dengan detail, namun hanya dalam radius tertentu.

"Hebat... Meskipun dibatasi dalam radius tertentu, namun kemampuan ini sungguh luar biasa."

Dalam jarak beberapa meter, terdapat sekitar empat monster Lizard yang sedang berlari kencang ke arahnya. Zeha menyeringai senang.

"Ketemu."

Zeha mengeluarkan white sword miliknya yang telah diselimuti oleh api. Jantungnya berdegup karena bersemangat.

"Waktunya berburu."

1
Dewo Bumi
cerita na terlalu bertele-tele Thor
Dewo Bumi: gpp 💪💪💪
total 2 replies
Mr. Wilhelm
Apakah ini Reupload?
vamelinaa: iya! makasih sarannya!😄
total 3 replies
Mr. Wilhelm
Emmm keknya aku pernah baca Novel ini deh, kalau tidak salah si nenek ini orang kuat dan bakal jadi guru si MC
Mr. Wilhelm
Emmm jadi, g akan ada bangsawan2 lain yg ada di luar wilayah kota? 🤔
vamelinaa: ada, tapi gak begitu terkenal
total 1 replies
Alfa Doankk
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!