NovelToon NovelToon
Tetangga : Cinta Orang Kantoran Part 2

Tetangga : Cinta Orang Kantoran Part 2

Status: tamat
Genre:CEO / Single Mom / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:479.2k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.

Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dominic VS Joline

Dominic menuruni lift pribadi dari Penthousenya sambil menelepon Hector. “Lo akhirnya memtuskan standby di hotel hari ini?”

“Ya terpaksa Boss, gue khawatir akan terjadi... kesenjangan sosial. Wakakakaka!” terdengar Hector terbahak dari seberang sana. Mereka berdua begitu khawatir terhadap keselamatan Andra, sepupu tersayang mereka. Sejak dulu Andra ‘dibuang’ oleh Bude Nimas, Hector dan Dominic selalu berada di sisi Andra. Pun saat Dominic mengalami masalah atau Hector dirundung duka, Andra selalu ada.

“Gue lihat daftar tamunya lumayan keren sih. Ada David Yudha, ada Pak Galuh, ada Pak Indra, dan yang paling diwaspadai... Pak Kevin.”

“Kevin Cakra... hati-hati, pertanyaannya suka menjebak.”

“Dia wakil dari Amethys.” Kata Dominic, “Sampai Amethys pun tunduk ke Asmara... hebat juga perempuan ini. Kalau Andra nggak mau-“

“Gue lah!! Giliran gue yang maju!” seru Hector memotong ucapan Dominic. “Gue nggak rela kalau Asmara lo banding-bandingin sama Joline. Setiap ada cewek baru pasti mirip-mirip Joline! Lo ngasih kado juga yang kira-kira Joline suka padahal itu buat cewek lain! Sana ke Beaufort, lo pandangin itu si Joline Six sepuas lo!”

“Dia bilang mau lempar granat kalau gue sampai nginjak kesetnya gedung Beaufort.”

“Lo sekarang tetangganya, Bro!”

“Kan dia nggak tahu, hehehehe.” Kekeh Dominic.

“Dia bakal tahu. Gue telpon Idris buat siapin ambulance standby kalo lo tiba-tiba dilempar dari jendela, gue sudah langsung tahu siapa tersangkanya.”

“Siapa? Joline?”

“Lo. Antara lo bundir karena ditolak keseratus kalinya, atau si Joline membela diri dari lo. Dahlah gue mau tugas negara. Bay!” Hector menutup sambungan teleponnya.

Dominic masih terkekeh sampai ia mematikan ponselnya dan liftnya terbuka.

Tapi... ia menghentikan niatannya keluar dari lift.

Karena Joline...

Sudah menghadangnya di depan lift.

Dengan AK-47 di bahu wanita itu dan ujung moncongnya mengarah ke hidung Dominic.

“Selamat pagi Pak Dominic.” Gumam Joline muram.

“Mmm... Pagi...” Dominic mundur selangkah. “Memang senjata boleh masuk ke sini?”

“Jangan khawatir, nggak ada yang tahu kok. Sama hal nya saya yang tidak tahu kapan Pak Dominic mulai bertempat tinggal di gedung ini.”

“Ada CCTV, Joline sayang...”

“Saya sudah tinggal di gedung ini seumur hidup saya,” bisik Joline dengan senyuman licik, “Mereka akan memaklumi tindakan saya.”

“Siapa sih yang bilang-bilang saya tinggal di sini?”

“Ada pertanyaan yang lebih penting nggak Pak?”

“Kamu makin cantik, saya nggak tahan kalau jauh-jauh dari kamu.”

Terdengar Joline menghela nafas, lalu...

BUAGG!!

Gagang senjata ia hantamkan ke wajah Dominic.

“Ini bukan senjata beneran, hanya dummy, tapi ya beratnya sama dengan yang asli. Masih bisa buat mukul rampok...” desis Joline

BRAKKK!!

Benda berat itu ia layangkan ke kepala Dominic, tapi dengan sigap Dominic menghindar dan berhasil menyerobot tubuh Joline hingga dia keluar dari lift. Ujung senjata membuat penyok dinding lift.

Dominic mencengkeram leher belakang Joline berusaha untuk menekan Joline ke dinding, namun wanita itu menyikut rahang Dominic sehingga pegangannya mengendur, dan dengan licin Joline berbalik arah lalu kembali melayangkan senjatanya ke arah Dominic.

Kali ini ia berhasil menghantam pelipis Dominic.

Pria itu jatuh di lantai dengan darah menetes dari robekan dahinya.

Joline tahu, Dominic tidak akan menuntutnya. Sudah pasti Joline salah dan akan masuk penjara. Tapi masuk penjara malah merupakan kebebasan untuk wanita ini karena Dominic tak akan bisa mengganggunya di sana. Dan Dominic tahu itu. Karena itu yang bisa pria itu lakukan hanya...

“Oke... aku minta maaf.” Ia mengangkat tangannya dan perlahan berdiri. Lukanya sebenarnya parah dan kepalanya mulai pusing.

Tapi memang kekuatan tubuhnya sangat prima jadi hal yang seperti ini tidak akan mengganggunya.

Karena itu Joline menggunakan benda berat untuk membantunya melumpuhkan Dominic.

“Felix dan Idris melarangku mendekati Gedung Beaufort. Mereka benar-benar melindungimu. Tapi aku kangen banget dan sejak setahun lalu gedung ini bukan kantor lagi,. Siapa pun bisa tinggal di sini. Jadi... di sinilah aku. Tolonglah aku sangat merindukanmu!”

“Kau bilang begitu? Tapi kau tadi malam bersama wanita lain! Dua orang pula!!”

“Kok kamu tahu? Sampai segitunya kamu memperhatikanku ternyata? Wah wah... aku terharu loh!”

“Aku bertemu mereka dilift, setelah kau usir mereka. Brengsek!”

“Aku perlu penyaluran hasrat.”

“Dominic!!” seru Joline tak sabar. “Kau sudah mengejarku sejak aku 17 tahun!! Sudah cukup malam pertamaku untukmu! Dan itu adalah mimpi buruk yang masih menghantuiku sampai sekarang ya!! Pergi sana!!”

“Itulah yang nggak ada di cewek lain... menyerahkan keperawanan padaku dan kalau kamu melawan kamu malah makin seksi ...” Dominic secara mendadak maju dan menendang pinggang Jolie dari samping sampai wanita itu terjatuh ke lantai karena shock. Senjatanya terlepas, dan Dominic mencengkeram rambutnya, menundukkan kepala Joline ke lantai dan menahan kedua tangan wanita itu dengan salah satu tangannya.

“Kena kamu, sayang. Harusnya kamu tetap kabur atau menyerah saja. Tidak usah nekat menghadapiku.” Bisik Dominic.

BUGG!!

Sebuah pukulan menghantam belakang leher Dominic.

Pria itu seketika merasa matanya berkunang-kunang, lalu kesadarannya melemah.

Yang baru saja dialaminya adalah Pukulan Kelinci. Biasa digunakan untuk melemahkan kelinci tanpa membunuhnya sehingga tidak merusak daging atau kulit.

Dalam olahraga tarung , Pukulan Kelinci adalah pukulan tajam ke bagian belakang kepala atau leher. Hal ini dapat menyebabkan cedera shock yang ekstrim, mematahkan tulang leher , memutus atau merusak sumsum tulang belakang , dan menyebabkan kematian atau kelumpuhan seketika. Jika pukulannya mendarat agak tinggi, mengenai dasar tengkorak, maka dapat memutuskan batang otak, sehingga menyebabkan kematian.

Maka, Dominic pun pingsan dan terkapar di lantai.

Sebuah tangan laki-laki diulurkan ke dekat Joline. Joline meraih tangan itu dan perlahan mencoba berdiri. Sekujur tubuhnya langsung pegal-pegal.

“Masih pagi ini Mbak Six...” sindir Jay sambil terkekeh sinis.

“Makasih Kak.” Joline membungkuk sambil mengatur nafasnya. “Dia beneran gila!” tudingnya ke arah tubuh Dominic yang tak berdaya.

“Kalian sama-sama gila. Teknik kamu perlu diperbaiki lagi. Tadi kurang cekatan.”

“Aku kurang tidur.”

“Hm,” Jay menatap layar ponselnya untuk melihat waktu. “Yuk berangkat, sudah jam 8 ini...”

“Aku nebeng motor kamu ya kak, badanku sakit semua rasanya...” Joline meraih senjata mainannya dan menyampirkannya di bahu.”

“Ke kantor bawa itu?” Jay mengernyit.

“Buat jaga diri...”

“Hehe.”

***

Sambil bersiul-siul Rani menumpuk bantex di meja Asmara dan membalik-balik halamannya. “Bawa ini, bawa ini, dan ini ya!”

Asmara diam saja sambil mengetik presentasinya.

“Bawa juga tas yang pink itu.” Sahut Rani sambil memoles lipgloss ke bibirnya. “Kalo beginian memang marketing harus ikut lah, sekretaris bisa apa, coba? Walau pun nanti dicatat atas nama Pak Andra, tapi kan yang ngerjain juga kita-kita, yang maintenance juga kita. Sekretaris mah cuma teknis doang. Kalau ada masalah yang digangguin marketing...”

Ponsel Asmara yang berada di meja berbunyi. Tulisannya Susan Tanudisastro besar-besar.

Rani sampai membeku melihat nama itu.

Dan yang lebih parah, itu video call... bukan sekedar telepon.

Asmara memperbaiki rambutnya sebentar lalu mengangkatnya sambil mengarahkan kamera ke wajahnya.

“Assalamu’alaikum, Tante!” sapa Asmara ceria.

Terlihat wajah Bu Susan yang cantik jelita dibalut kerudung warna gold. Rani sampai mundur selangkah melihat wajah di ponsel Asmara. Pun rekan-rekan di belakangnya langsung pada melongo.

“Wa’alaikumsalam! Walah! Cantik banget sih kamu pagi-pagi. Aku jadi kangen suasana kantor loh!” sahut Bu Susan.

“Tante, aku mirip ayah atau ibu?”

“Kamu duplikat ibumu. Aku jadi pingin nangis ini...”

“Alhamdulillah, jadi aku percaya ucapan tante barusan, kalau aku cantik hehe. Soalnya ibu memang cantik.” kekeh Asmara. Ia bisa melihat cibiran Rani dari sudut matanya. “Bisa saya bantu Tante?”

“Ah! Ini loh! Pit!! Dapit!! Sini kamu Dapit!!” Tampak Bu Susan melambaikan tangannya. Layar pun mengarah ke arah main entrance yang dindingnya dari marmer dan furniturenya serba gold. Seorang pria yang wajahnya tampak bersahaja dan sangat tampan. Walau pun tampak sudah berumur tapi malah semakin mengeluarkan aura kemaskulinannya.

“Apa sayang?” tanya pria itu.

“Ini loh anaknya Pak Dipta, ini Asmara! Mirip banget sama Santi kan ya?!”

“Eeeeh?” desis Asmara merasa tak enak. Di depannya sekarang yang dipanggil ’Dapit’ oleh Bu Susan, jelas adalah suaminya sendiri, David Yudha. Triliuner berpengaruh di negeri ini yang sebenarnya kurang suka ditangkap oleh kamera.

“Ah iya saya ingat! Kamu dulu masih seeeee... SD kali ya waktu kita ketemu. Si Abbas masih 2 tahun kan ya waktu itu?” Pak David bertanya ke istrinya.

“Saya bahkan kurang ingat berapa usia saya waktu itu Om, eh Pak.” Kata Asmara.

“Kita baru ngeh tadi malam, kalau suami kamu kan yang direkomendasikan oleh bapak kamu buat kerja di kantor saya kan ya? Adit Sapta? Katanya kalian sudah bercerai?” tanya David Yudha.

Tepat saat itu Andra keluar dari ruangan dan melihat adegan Video Call Asmara dengan David Yudha.

“Anuuu iya Pak. Benar.” Desis Asmara sambil tersenyum getir.

“Waduh, salah bawa orang aku Yang...” desis Pak David ke Bu Susan.

“Tapi Pak, kami pasti profesional kok.” Sahut Asmara cepat-cepat.

“Berdasarkan pengalaman saya sih tidak.” David Yudha menyeringai.

“Makanya!” Bu Susan merebut ponselnya, “Aku langsung video call kamu pagi-pagi Mara. Kamu maunya bagaimana biar nyaman saja meetingnya nanti.”

“Aku belum selesai ngomongnya sayang...” Pak David kembali mengambil ponsel Bu Susan. “Dan saya baru dengar kabar juga, pagi ini kalau mantan suami kamu ada konflik pribadi dengan Boss kamu. Diandra Rangga ya? Apa kita batalkan dulu saja pertemuan kali ini? Saya sangat yakin sudah bakalan awkward nanti pas meeting. Sudah konflik kepentingan jatuhnya.”

Asmara tergagap.

Ia melirik Andra.

Andra juga tampak kebingungan.

Akhirnya Asmara menarik nafas panjang dan tersenyum.

“Pak David, kami tidak masalah kalau Bapak mau membawa Adit untuk bernegosiasi. Dalam hal ini hubungan kami sudah profesional. Kami yakin sekali kalau Pak david pasti akan tertarik dengan penawaran kami. Kami tidak bekerja sendirian Pak, kami akan melakukan sindikasi dengan Garnet dan Beaufort agar bisa tetap untung, tapi bisa tetap berbagi profit. Jadi bagi saya Adit hanyalah salah satu instrumen kesuksesan kita Pak.”

“Waaah, kalian juga gabung sama Garnet dan Beaufort toh?”

“Garnet sudah lebih dulu mengirimkan penawaran ke Bu Susan, kami tidak ingin menjadi rival mereka Pak, tapi kami rasa akan lebih menguntungkan kalau kami malah bekerjasama untuk Yudha Mas.”

Tampak David Yudha terbengong sebentar lalu menyeringai.

“Saya suka  kamu. Ayo kita ketemu... bawa semua konsep, nanti kita pikirkan simbiosisnya bareng-bareng, Oke?” sahut Pak David, Pria itu terlihat senang. Lalu ia menggelengkan kepalanya, “Si Dipta sudah membesarkan kamu dengan sangat baik. Saya senang kamu bekerja dengan serius.”

“Dia single parent, sudah pasti mentalnya lebih kuat dari laki-laki.” Terdengar suara Bu Susan.

“Kalau kamu butuh kandidat untuk-“

“Dia sudah punya pacar.” Potong Andra sambil mendekatkan bibirnya ke speaker ponsel.

“Siapa pacar saya?” desis Asmara sambil ternganga karena gemas.

Terdengar tawa terbahak David Yudha dari seberang telepon.

Andra mencibir lalu masuk lagi ke ruangannya, kelihatannya mau lanjut tidur. Yang penting David Yudha tidak melihat wajahnya.

Sekali lagi, jawaban Asmara terhadap David Yudha sudah membuatnya bangga, karena orang lain pasti tidak akan terpikir untuk mengucapkan kalimat bisnis sehandal Asmara.

1
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Aprilinda
mantap cerita nya bagus, keren deh
Risma Wati
kereeeeennn👍👍👍
Sha_riesha
Selalu Bagus ❤️❤️❤️
Nining Chili
👍👍
another Aquarian
gak taulahh, kayaknya jiwa sikopet mulai nular.. kok aku ngerasa itu terlalu ringan untuk hukuman mereka ya. duo sikopet itu maksudnya..
another Aquarian
jadi inget kang Galon 🤣🤣🤣
another Aquarian
bisa multitasking, masak sambil akrobat pasang genting, nyuci sambil nyuapin anak, nyapu sambil dandan, dll.. manusia paling sakti di muka bumi.. 🤣🤣🤣
another Aquarian
aku malah kudu nangis.. pengorbananmu le.. cah bagus.. 😭😭😭😭😭😭
another Aquarian
mulaiiiii
another Aquarian
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
another Aquarian
ini... direkam dan dikirim ke Andra kan? yang didengarkan bareng mara di RS?
another Aquarian
kan masa labil eyang uti......
another Aquarian
sukaaaaa dehhh kalau boneka ucan dibawa-bawa.. keren banget caranya melepaskan suaminya dari istri pertama n kedua, tanpa menimbulkan permusuhan, malah semua dirangkul jadi keluarga besar..
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer
another Aquarian
manisnya mereka..... 🥰
another Aquarian
apakah virus seven menular???? ataukah revan yang terlalu cerdas menyerap tingkah fakboi seven??? 🤣🤣🤣🤣🤣
another Aquarian
menyala uti Nimas 🔥🔥🔥
another Aquarian
dasar Kitty bocil bawel 🤣🤣🤣
another Aquarian
kan.. jadi ikut baper 😭😭😭😭😭😭😭
another Aquarian
wihhh, camer ini mah.. bude Nimas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!