Rumput liar itulah julukanku
Cacian, hinaan dan makian menjadi makanan sehari–hari Raisa
Memiliki otak yang cerdas dan wajah cantik justru membuatku menjadi sasaran bullying bagi semua orang hanya karena kondisi keluarganya yang miskin
Setelah kembali dari kematian tragisnya Raisapun bertekad untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakitinya dimasa lalu, terutama mencari dalang dibalik kematianku yang mengenaskan
Mata dibalas dengan mata, siapapun yang menyakiti dirinya dan keluarganya akan Raisa balas berkali - kali lipat
Dengan bantuan kekuatan kalung liontin biru yang dia temukan sebelum kematian menjemputnya dan kini telah menyatu dalam tubuhnya, Raisa pun mulai membalaskan dendamnya satu persatu
Dalam perjalanannya membalas dendam,Raisa banyak menemukan fakta yang mengejutkan salah satunya adalah fakta jika dia dan sang kakak adalah pewaris asli keluarga Wu yang sedari awal berusaha untuk disingkirkan.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SYOK
Laura yang hari ini ijin tidak masuk sekolah karena kelelahan setelah menservis Alfonso pulang kerumah sore hari agar tak menimbukan kecurigaan dalam keluarganya.
Laura yang bersikap biasa dan melangkah masuk menggunakan seragam sekolahnya dengan santai seolah dia baru saja pulang dari sekolah seperti biasa.
"PLAKKK, sudah hebat ya kamu sekarang !!!", satu tamparan keras dari sang mama menyambut kedatangannya sore ini hingga membuat telinganya berdengung saking kerasnya tamparan yang diberikan oleh sang mama kepadanya.
“Kenapa mama menamparku ?”, teriak Laura marah.
“Dasar anak tak tau diuntung !!!"
"PLAKKK, tak tahu diri !!!"
"PLAKKK, menyesal aku telah melahirkan dan membesarkanmu !!!”, Debora kembali menampar anak perempuannya itu beberapa kali sambil berteriak lantang dengan penuh emosi.
“Hentikan ma, sakit !!!”, teriak Laura sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Debora.
Setelah berhasil lolos dari sang mama, Laura yang rambutnya acak–acakan dengan pakaian berantakan akibat serangan sang mama yang tiba-tiba dilayangkan kepadanya menatap tajam wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh emosi.
Laura menatap mamanya dengan nyalang dan meminta penjelasan kenapa wanita yang biasanya bersikap lemah lembut itu sekarang menjadi beringas seperti ini.
“Baca itu !!!”, ucap Debora sambil melemparkan kertas panggilan dari pihak kepolisian tepat diwajah Laura.
Laura membaca surat panggilan dari pihak kepolisian untuknya dengan wajah malas.
“Ck, dasar tak berguna”, gumannya sambil meremas kertas yang ada ditangannya tersebut dengan geram.
Melihat mamanya sudah sedikit tenang sambil duduk dan minum teh diatas sofa, Laura pun berusaha untuk mendekati dan membujuk Debora.
“Ini hanya surat panggilan ma, bukan surat penangkapan”
“Pengacara kita bisa mengurusnya seperti biasa”, ucap Laura enteng.
Ini memang bukan pertama kalinya Laura mendapat panggilan dari pihak kepolisian karena kasus perusakan, namun semuanya bisa dibereskan langsung oleh pengacaranya dengan mudah karena ada uang yang mendampinginya.
“Bukan hanya masalah perusakan tapi juga percobaan pembunuhan”, ucap Debora ketus.
“Baru percobaan ma, belum ada pembunuhan”, jawab Laura mengelak.
Debora hanya bisa menatap anak sulungnya itu dengan wajah gelap karena Laura selalu saja membuatnya pusing tujuh keliling dengan tingkah polanya yang terus saja membuat masalah.
“Lalu, bagaimana dengan ini ?”, ucap Debora sambil menyodorkan ponselnya tepat dimuka sang anak.
Laura membulatkan kedua matanya terkejut melihat video panas dirinya dan Alfonso ada diponsel sang mama.
“I-itu editan ma”
“Siapa yang mengirimi mama video palsu itu ?”, ucap Laura gugup.
“Mama sudah menyuruh pihak IT menyelidiki. Jika sampai ini asli maka siap–siap terima hukumanmu”, ucap Debora tajam.
“Kurung Laura dalam kamar dan jangan ijinkan keluar tanpa ada perintah dariku”, perintah Debora tegas.
Dua pelayan segera membawa Laura kedalam kamarnya dan menguncinya dari luar seperti perintah sang nyonya.
“Archhh !!!”
“Alfonso sialan !!!”
“Berani sekali bandot tua itu menjebakku !!!”, teriaknya penuh amarah.
Laura mengira yang mengirimkan video tersebut adalah Alfonso karena sepengetahuan gadis itu hanya lelaki tua itulah yang memilikinya.
Dan masalah gagalnya penyerangan dirumah makan milik ibunya Raisa, Laura juga menyalahkan Alfonso karena tak becus mencari orang.
“Untung saja aku tak membayar biaya operasi anak preman itu, jika tidak maka rugi besar aku karena ternyata mengerjakan hal sekecil itu saja mereka tak becus”, ucapnya penuh emosi.
Sementara itu dikantor kepolisian, pengacara yang dikirim oleh Debora sudah tiba disana dan mengurus semuanya.
Seperti biasa, kali ini pengacara harus menggelontorkan uang yang jumlahnya cukup besar atas kerugian yang diderita oleh sang penggungat mengingat ini kali kedua Laura melakukan perusakan.
Jika sebelumnya kasus tersebut tak dilaporkan namun untuk kedua kalinya mereka melaporkannya karena Laura juga kedapatan melakukan rencana untuk membunuh teman sekelasnya itu.
Raisa memang sengaja tak membuat Laura ditahan dan hanya meminta kompensasi yang lumayan besar karena bom waktu sesungguhnya akan dia lesatkan sebentar lagi.
Dia hanya ingin menunggu momentum yang tepat serta masih ingin memberi satu kali lagi kesempatan kepada gadis itu untuk bertobat.
Setidaknya, Raisa masih memiliki hati yang baik dengan tak langsung menghancurkan musuh yang ingin menyakitinya melainkan masih memberinya kesempatan karena merasa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua seperti apa yang dia alami sekarang.
Tapi, tampaknya kebaikan hati Raisa ini tak disambut baik oleh Laura yang dalam masa perenungannya didalam kamar gadis itu malam sedang merencanakan kejahatan lainnya.
“Jika melalui kakaknya tak bisa maka aku akan membuat gadis itu menangis darah melalui ibunya”, guman Laura tersenyum licik.
Kali ini dia rasa rencananya pasti akan berhasil dengan baik mengingat jika Reliana adalah wanita lemah yang sangat baik untuk dia jadikan sasaran pembalasan dendamnya.
Dilain tempat, Raisa yang terus diteror oleh Marco setelah Alexander sadar pada akhirnya menghubungi lelaki itu setelah dia tiba dirumah dengan geram.
Belum juga Alexander bersuara, lelaki itu sudah disemprot oleh Raisa yang geram akan tindakannya yang kekanak–kanakan sehingga membuat assistennya terus menerornya sejak pagi.
Mendapat amarah dari Raisa bukannya sebal Alexander justru senyam–senyum sendiri membuat Marco yang berada tepat disampingnya hanya bisa menaikkan satu alisnya binggung.
“Kenapa bos begitu bahagia dimarahi oleh nona Raisa seperti itu”, batin Marco binggung.
Karena berada tepat disamping Alexander tentu saja Marco mendengar semua kata yang Raisa ucapkan karena gadis itu berteriak sangat kencang ditelepon.
Alexander hanya mengatakan iya, paham, mengerti sambil tersenyum lebar selebihnya hanya berdehem sambil tersenyum.
Dia merasa semua omelan yang Raisa berikan adalah suatu bentuk perhatian gadis itu kepadanya sehingga membuat hatinya merasa bahagia.
“Sudah marahnya ?”, tanya Alexander lembut.
Saking lembutnya nada suara Alexander membuat kedua mata Marco melotot hingga sampai ingin keluar karena syok mendapati bosnya bisa berkata lembut seperti itu.
“Apa bos kerasukan jin yang ada dirumah sakit ini ?”, batinnya terkejut.
Raisa yang tak melihat ekpresi Alexander saat ini hanya bisa berdehem untuk menjawab pertanyaan lelaki tersebut.
“Buka file yang aku kirim. Meski itu belum lengkap setidaknya bisa memberi petunjuk karena jujur saja sangat sulit mendapatkan data mengenai masa lalu ayahmu jadi aku perlu waktu lebih lama untuk menyelidikinya”, ucap Alexander menjelaskan, masih dengan nada lembut membuat Marco hampir saja muntah darah akibat sangat syok.
Apalagi ekpresi Alexander yang mengatakan hal tersebut dengan sorot mata hangat dan senyum mengembang tulus dibibirnya membuat siapapun yang mengenal lelaki dingin dan kejam itu akan terkena serangan jantung ditempat ketika melihat apa yang Marco saksikan saat ini.
Begitu Raisa membuka file yang Alexander kirim setelah menutup teleponnya diapun segera mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan apa yang terbaca dalam berkas.
Cukup lama Raisa mencari namun masih belum juga bisa menemukan apa yang dia inginkan.
Meski begitu, Raisa sama sekali tak menyerah karena masa lalu sang ayah menjadi titik terang semuanya, termasuk siapa dalang pembunuhan atas dirinya dalam kehidupan sebelumnya.
Setiap usaha pasti membuahkan hasil, itulah yang Raisa dapatkan sekarang. Setelah hampir dua jam dia mengotak–atik laptopnya pada akhirnya hal besar dia dapatkan.
Meski tak mendetail namun apa yang Raisa dapatkan ini membuat gadis itu sangat syok hingga kedua matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka lebar.
“Tidak mungkin !!!”, teriak Raisa syok mengetahui temuan besar yang didapatkannya.
raisa msh 14 thn.. pentilnya aja bru numbuh ya ampunn
klo othor dr aqal jodohin sama alex knp di bkn umurnya sangat tuir.. 34 gilakk.. 25 aja pdhal.