( proses revisi ) Novel ini menceritakan tentang seorang cewek yang bernama Nindy di taksir seorang cowok dan tak lain adik dari sahabatnya sendiri.
Cowok itu bernama Vano. Meski usia terpaut sangat jauh, mereka tidak peduli. Bahkan ketika keluarga Nindy menentang dengan keberanianya Vano melamar Nindy...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Ahza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Malam itu, Nindy tak bisa memejamkan mata. Ia merasa tidak enak kepada Vano. Nindy masih terbayang raut wajahnya yang sangat merasa bersalah, dan seakan ingin mengatakan kalau ia benar-benar minta maaf, telah merusak acara tadi. Nindy mencoba menghubungi Vano, namun ponselnya tidak aktif. Tak tau kenapa, hatinya sangat gelisah memikirkan kejadian barusan.
Di sebuah cafe, Vano duduk sendirian. Ia tengah duduk menikmati jedag jedugnya musik DJ yang mengalun dan menghibur semua pengunjung cafe malam itu.
"Aarrrrggghhhh...., kenapa sih aku harus muncul di saat yang nggak tepat..? Bagaimana besok aku harus bertemu denganmu mbak Nindy, mau aku taruh di mana mukaku ini...!" gumam Vano yang mengacak rambutnya sendiri. Di tengah kebingunganya, seorang gadis cantik menghampirinya.
"Sendirian..?" tanya gadis itu mengejutkan Vano.
"Iya.., maaf, kamu siapa..?" jawab Vano.
"Kita sama-sama sendiri, bagaimana kalau kita ngobrol dan minum bareng..?"
"Maaf, saya lagi pengen sendiri, sekali lagi maaf.." ucap Vano lalu berdiri dan meninggalkan mejanya beserta gadis itu.
"Sombong amat sih..!!" gerutu gadis itu, karena gagal mengajak Vano untuk ngobrol denganya.
Vano berjalan keluar cafe. Ia masuk ke mobilnya dan menjalankanya pelan. Sambil menyetir mobil, ia menghidupkan ponselnya yang sejak dari rumah Nindy ia matikan.
"Mbak Nindy..? Kenapa ada banyak panggilan darinya, apakah dia akan marah dengan sikapku tadi..?" Pikiran Vano berpetualang sendiri. Berbagai macam fikiran dari yang baik sampai yang terburuk, semua memenuhi benaknya. Vano tak berani menelfon balik Nindy. Ia takut Nindy akan marah dan menjauh darinya.
Akhirnya ia sampai di apartemenya. Dengan gesit Vano memarkirkan mobilnya. Perlahan ia turun, agak ragu ia melangkah menuju apartemenya.
Ndreet ndreet ndreettt
Posel yang ia pegang bergetar karena ada panggilan. Setelah di lihat, ia melihat nama Nindy muncul di layar ponselnya.
"Maaf mbak Nin, aku nggak bisa angkat telfon dari kamu, sekali lagi maaf..." gumam Vano lalu kembali mematikan ponselnya, dan masuk ke dalam apartemenya.
"Kenapa sih nih anak, di telfon nggak diangkat, malah di matikan...! Dasar bocah..!!" gerutu Nindy yang menghempaskan tubuhnya dengan agak kasar ke atas tempat tidurnya.
Vano dan Nindy sama-sama gelisah. Dua hati yang sama-sama merasakan resah, malam itu tak dapat memejamkan mata. Masing-masing saling memikirkan satu sama lain, tanpa bisa menjelaskanya.
Akhirnya, keduanya dapat memejamkan mata, karena kantuk yang melanda mereka dan tak dapat di tahan lagi.
____
Hari ini, hari terakhir mereka menikmati liburan. Matahari bersinar dengan congkaknya. Sinar yang begitu menyilaukan, berusaha masuk melalui celah tirai jendela yang mengusik sang penghuni kamar.
"Hoooaahhhhemmm..."
Beberapa kali Vano menguap dan menggeliatkan badanya. Agak malas pagi itu baginya untuk segera bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih bergumul dengan selimut yang menutupi tubuhnya yang hanya memakai celana pendek tanpa memakai kaus.
Iseng-iseng ia pun membuka ponselnya yang sejak tadi malam ia matikan. Setelah menyala, beberapa detik kemudian terdengar banyak notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
"Van, tar malem kumpul yuk, makan di cafe sama teman-teman, aku yang tarktir deh, please.., lu ajak si Nindy, suruh dia ajak Ellen dan juga Lily.."
Bunyi pesan dari Dodi yang rupanya ngebet ngajak makan bareng. Dengan malas ia lalu membalasnya.
"Baiklah."
Jawaban Vano singkat. Tak berapa lama setelah Vano membalas, Dodi mengirim balasan balik.
"Ah lu, lama amat sih balasnya, padahal dari tadi malem gua ngirimnya."
"Bawel lu, yang penting nanti gua ajak mereka."
"Ya harus lah! Ok gua tunggu."
Setelah Dodi memberitahu alamat cafenya, Vano segera memberitahu Ellen dan Lily. Kini tinggal ia memberitahu Nindy. Agak ragu, namun akhirnya ia menghubungi Nindy juga. Namun kali ini Vano langsung menelfonya.
Tuuuuttttt tuuuuuttttt
Nindy yang masih tidur, meraih ponsel dari balik selimutnya. Dengan suara yang masih agak parau, ia segera menjawab tanpa melihat nama si penelfon, dan langsung saja pencet tombol hijau.
"Ya, hemm, halloooo..." jawab Nindy dengan mata masih terpejam.
"Mbak..." Suara Vano membuat Nindy membelalakan mata.
"Vano..?" ucap Nindy kaget.
"Iya, mbak.."
"Cuma mau bilang, mbak nggak marah kan sama Vano..?"
"Marah kenapa? Memangnya kamu melakukan kesalahan apa..?" Nindy pura-pura.
"Soal tadi malam, karena Vano telah merusak acara mbak Nin, dan ngaku kalau aku pacarnya mbak.."
"Itu? Mbak sama sekali nggak marah, mbak malah seneng, akhirnya ayah dan ibu mbak tau, dan mbak nggak harus membohongi mereka terus.."
"Jadi mbak Nindy beneran nggak marah kan..?"
"Beneran Vano..."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan diluar siang ini..?"
"Boleh, di mana..?"
"Em, pokonya deh, Vano jemput ya..?"
"Kita langsung ketemu di sana saja, kamu nggak marah kan..?"
"Owh.., baiklah kalau begitu mbak, Vano ngikut saja.." Vano segera mengirim alamat restoran yang ia maksud, lalu menutup telfonya. Saking senengnya, ia joget-joget sendiri, sampai dahinya kejedot tembok kamar. Vano pun segera mandi untuk segera bersiap bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
Tak kalah dengan Vano, hati Nindy juga berdebar-debar. Tak tau mengapa, kini hatinya mulai merasakan perasaan yang berbeda kepada Vano. Nindy bersiap akan berangkat, dan ia juga bilang sama Ari kalau mau keluar sebentar.
Dengan wajah berseri-seri, ia menyetop sebuah taksi untuk mengantarkanya di mana Vano akan menunggunya.
Tak berapa lama, setelah Vano sampai, sepuluh menit kemudian Nindy juga sampai. Vano telah menunggunya dan duduk di meja yang telah ia pesan.
"Mbak Nin..?" Panggil Vano sambil melambaikan tanganya. Nindy menghampiri Vano setelah ia melihatnya.
"Udah lama Van..?"
"Baru aja kok mbak, nggak macet kan jalanya..?"
"Enggak kok.."
"Mbak mau pesan apa..?" tanya Vano yang sudah di hampiri seorang pelayan.
"Apa aja deh, sama kaya kamu.."
"Baiklah.." Vano segera memesan beef steak dan orange juice.
Tak lama setealah mereka menunggu beberapa saat, pesanan pun datang.
"Silahkan mbak Nin...?"
"Makasih Van..."
Sejenak mereka diam dan sibuk mengunyah makanan masing-masing. Vano melirik ke arah Nindy, wanita di hadapanya itu tengah asyik menikmati makananya.
Apakah ini saat yang tepat untuk mengungkapkan perasanku, tapi bagaimana jika mbak Nindy menolaku, kan malu..
Vano pun memberanikan diri memulai obrolan.
"Emm, mbak Nindy...?"
"Iya, kenap Van..?"
"Apakaahh....." Vano tak meneruskan kata-katanya.
"Iya, teruskan dong perkataan kamu.."
"Eng...enggak jadi mbak, kapan-kapan aja..." ucap Vano yang mendadak raut wajahnya menjadi tegang.
Kenapa juga aku jadi deg-degan gini? Please deh, hello Nindyyyy..apa kamu akan menyukai adik sahabatmu sendiri? Tapi mengapa sekarang kamu terlihat sangat tampan Vano..?
Batin Nindy yang juga sedikit tegang dan berusaha mengatur nafasnya sejak Vano bertanya tadi. Selesai makan, Nindy pamit ke toilet. Ia bermaksud merapikan tambut dan bajunya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang menghalangi jalanya secara tiba-tiba.
"Kia...? Ngapain kamu di sini, tolong bisa minggir..?"
"Selamat siang Nindya putri, wanita yang sudah mengkhianatiku karena lebih memilih berondong dari pada aku, kamu benar-benar playgirl...!!"
Plaakkkkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kia. Kontan saja membuat semua pengunjung restoran kaget dan menoleh ke arah mereka, begitu juga dengan Vano.
"Kamu bilang apa...?" Suara geram Nindy tertahan.
"Benar kan apa yang aku bilang? Bukankah kamu seperti itu..?" ucap Kia sambil menyeringai.
"Kalau dia udah nggak mau, jangan maksa terus man, gentle dikit dong..." ucap Vano yang menggenggam tangan Nindy dari belakang. Nindy kaget dan perasaanya campur aduk.
"Van, sebaiknya kita pergi dari sini, please Van..?" Melihat wajah sedih Nindy, tak tega Vano menolaknya. Ia membawa Nindy keluar dari restoran itu setelah membayar makananya, dan meninggalkan Kia yang terus saja meracau tak karuan, membuat semua mata pengunjung mengarah kepadanya.
Setelah Vano keluar, ia melajukan mobilnya, dan membawa Nindy ke suatu tempat. Tempat ia menumpahkan semua perasaanya saat bersedih.
BERSAMBUNG
vano itu cinta mati sm nindy jd gak bisa selain hati...
SEQUEL 2 NYA DI UP THOR.......🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
MOHON MAAF JIKA KOMEN2 BNYK YG TDK PANTAS.. KRN SMUA FAKTOR TRBAWA SUASANA CERITA THE BEST DARI OTHOR, YG BUAT READER TERBAWA EMOSI MAUPUN BAHAGIA..
SEKALI LGI JGN LUPA, UP THOR SEQUELNYA..
SIAP2 LO VANO KNK MORNING SICKNESS, ALIAS SINDROM COUVEDE, AKU UDH MRASAKN SAAT ISTRI HAMIL ANAK KMBARKU, SEGALA MAKANN YG AKU TK SUKA & TK AKU MAKAN, LGI NGIDAM KU MAKAN, SEPERTI LELE, BELUT, IKAN GABUS ATAU RUAN, AKU MAKAN, PADAHAL AKU GK MKN 3 MAHLUK AIR TRSEBUT, KLO BUAH, SUKA MAKAN ASAM PAYAK, JAMBU BATU, PKE GARAM DOANK.. KLO BAYANGINNYA KMBANG LIUR KU..
SEKRG LO MAU JDI ULAT BULU..
KYK VANYA DLU LO, VANO CINTA BANGET, TPI DISEKINGKUHI..