Tentang Jena, wanita malang yang lahir dari hasil perselingkuhan. Dulu, ayahnya berselingkuh dengan seorang pelayan dan lahirlah Jena.
Setelah ibunya meninggal, ayahnya membawanya ke rumah istri sah ayahnya dan dari situlah penderitaan Jena di mulai karena dia di benci oleh istri ayahnya dan juga Kaka tirinya.
selama ini, Jena selalu merasa sendiri. Tapi, ketika dia kuliah dia bertemu dengan Gueen, dan mereka pun bersahabat dan lagi-lagi petaka baru di mulai, di mana tanpa sengaja dia tidur dengan Kaka Joseph yang tak lain kakanya. Hingga pada akhirnya Jena mengandung.
Dan ketika dia mengandung, Josep tidak mau bertanggung jawab karena dia akan menikah dengan wanita lain. Dan kemalangan menimpa Jena lagi di mana dokter mengatakan bahwa bayi yang di kandungnya mengandung down sydrome.
Dan ketika mengetahui Jena hamil, Joseph menyuruh Jena untuk mengugurkan anak mereka, tapi Jena menolak dan lebih memilih pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Ada apa?" helmia kembali bertanya karena Gueen tidak kunjung menjwab hingga tak lama Zico masuk ke dalam rumah.
''Mommy, mommy tanya saja pada Daddy,” ucap Gueen yang lebih memilih jalan aman. Hingga tak lama, dan ketika melihat Zico, Helmia yakin Zico melakukan kesalahan yang besar, sebab sekarang raut wajah ZIco tanpak ketakutan.
Helmia tersadar ketika Haura menarik tangannya. “Kita bahas nanti," ucap Helmia hingga dengan cepat, dia pun langsung membawa cucunya ke kamar dan meninggalkan Gueen dan suaminya.
“Gueen, kau mau kemana?" Tanya Zico.
“Hadapi Saja Mommy sendiri," jawab Gueen lagi, membuat Zico mengusap wajah kasar.
***
Jena terseyum ketika merasakan angin pantai yang begitu menyegarkan, dia pun langsung berjalan untuk menulusuri bibir pantai. Setelah cukup lama berjalan, Jena memutuskan untuk mendudukkan diri di sisi, dia terseyum senang ketika melihat hamparan ombak.
Saat ini, Jena sedang berada di luar kota menemani Soraya terapi, dan dia akan berada di sini sekitar satu minggu dan dia merasa senang ketika bisa mempunya waktu untuk dirinya sendiri.
Jangan di tanyakan betapa bersyukurnya Jena saat ini, yang pasti dia benar-benar bersyukur, dia tidak akan menyangka ada di titik ini, titik dia merasa bahagia karena mempunyai keluarga yang dia inginkan.
Awalnya Jenna berpikir, keluarga Helmia tidak mau menerima keadaan Haura sama seperti Joseph yang tidak mau mengakui putrinya. Tapi, ternyata Jenna salah, keluarga Helmia malah sangat menyayangi haura.
Selama tiga bulan ini, hidup Jena sangat bahagia, Zico dan Helmia benar-benar sangat baik, dan selama 3 bulan ini, jena juga melihat bahwa mood Haura tidak pernah buruk. Tentu saja karena perhatian yang di berikan oleh keluarga Helmia.
Setelah cukup lama terdiam, Jenna memutuskan untuk bangkit dari duduknya, dan kembali ke rumah sakit untuk menghampiri Soraya yang ada di rumah sakit, karena kebetulan rumah sakit yang sedang mereka datangi berada di dekat laut, dan karena sebentar lagi terapi Soraya selesai, Jena memilih untuk meninggalkan pantai.
****
Waktu menunjukan pukul 9 malam, Jena berjalan arah Villa dengan menenteng belanjaan. Rupanya barusan dia pergi ke supermarket untuk membeli makanan. Sebab dia dan Soraya berencana untuk menonton drama Korea.
Saat berada di lorong yang sepi, Jena menghentikan langkahnya ketika merasa ada yang mengikutinya, sehingga wanita cantik itu langsung menoleh ke belakang. Namun ternyata saat dia menoleh, tidak ada siapapun.
“Ah mungkin hanya perasaanku saja." Jena membatin, dia pun melanjutkan kembali langkahnya.
“Aaaaa!" tiba-tiba Jena terpekik Ketika seseorang menarik tangannya.
“ Siapa Kalian!" teriak Jena. Baru saja dia akan berteriak untuk meminta tolong, tiba-tiba tubuh Jena terkulai, ketika orang itu menempelkan sapu tangan ke hidung Jena, tentu saja sapu tangan itu sudah diolesi oleh obat bius, hingga sekarang dia sudah tidak sadarkan diri.
Beberapa saat berlalu.
Jena mengerjap, dia membuka matanya, ketika dia membuka mata, rasa pusing langsung menghantam, Jena dan dia juga sedikit merasa mual.
Otak Jena terasa kosong, dia tidak mengingat apapun yang terjadi. Namun sedetik kemudian jena merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, hingga wanita cantik itu pun langsung menoleh ke arah bawah.
Mata Jena membulat, ketika melihat dia diikat di kursi dan dia melihat sekelilingnya, ternyata dia ada di sebuah Villa yang tidak jauh dari villanya bersama Soraya.
Dan tak lama terdengar suara derap langkah, membuat Jena menoleh, dan lagi lagi mata jena terbelalak ketika melihat siapa yang datang dan ternyata yang datang adalah Catherine.
Ya, Chatrinelah yang barusan menculik Jena, selama 3 bulan ini, rasanya dia begitu panas ketika melihat kehidupan Jena dan Haura yang begitu bahagia bersama keluarga Helmia, dia tidak terima Putri tirinya bahagia begitu saja.
Sayangnya Chatrine tidak bisa menyentuh Haura, karena tentu saja dia tidak berani menyentuh Haura karena Haura berada di tangan helmia dan ketika Jena datang ke luar kota Chatrine sengaja mengikuti Jena.
“Bibi.” Jena menatap tak percaya pada Catherine, dia merasakan takut dan juga was-was, dia takut ibu tirinya akan melakukan yang tidak dia duga, terlebih lagi tangannya sedang terikat, dan jika ada apa-apa, sudah di pastika bahwa dia tidak bisa melawan ataupun kabur.
"Akhirnya, kita bertemu lagi, wahai anak tiriku," ucap Catherine, dia mendudukkan diri di depan Jenna.
“Bibi Apa yang bibi lakukan, Kenapa Bibi melakukan ini padaku?” tanya Jena dengan bibir gemetar, wajahnya lebih dari sekedar memucat. Masih teringat ketika ibu tirinya mencarinya di bandara ketika dia akan pergi ke Hungaria, dan dia yakin ibu tirinya pasti akan melakukan hal gila padanya.
“Tidak usah takut begitu, Bibi hanya akan mengirimmu ke tempat yang indah, agar kau tidak bertemu lagi dengan Putri sialannmu itu!” ucap Chatrine lagi membuat mata Jena membulat.
“Bibi ingin memisahkanku dengan anakku!" Jena berteriak histeris.
“Hmm, kau harus tahu bagaimana rasanya kehilangan anak sama seperti dulu aku kehilangan anakku saat kau datang ke rumahku," jawab Chatrine, hingga tubuh Jena langsung melemas.
“Bibi tolong jangan lakukan ini, aku mohon jangan jauhkan aku dari Haura," jawab Jena, nadanya sudah mulai melemas.
Seketika Chatrine tertawa. “Kau pikir aku peduli," kata Chatrine lagi.
“Bibi aku sudah menebus semuanya, kak Mario bisa hidup Karena aku yang mendonorkan tulang sumsum untuknya," balas Jena dengan panik, berharap kali ini putrinya luluh. Tapi bukannya luluh, Chatrine malah tertawa.
“Kau berharap aku berterima kasih. Ck, jangan mimpi, kau memang harus melakukan itu membalas Budi atas apa yang aku berikan."
Lagi-lagi, Jena membulatkan matanya, ketika mendengar itu, dia pikir ibu tirinya tidak tahu tentang dia mendonorkan tulang sumsum untuk Maria, dan dia berharap ketika mengetahui itu ibu tirinya akan berubah, tapi lihatlah ibu tirinya malah sama sekali tidak terpengaruh.
Chatrine bangkit dari duduknya, kemudian dia mendekat ke arah Jena, Lalu setelah itu dia langsung mencengkram erat pipi Putri sambungnya.
“Aku pernah kehilangan anak dan rasanya sangat sakit, dan karena ibumu tidak ada kau harus menebusnya. Kau harus jauh dari anakmu," ucap Chatrine, setelah mengatakan itu Chatrine pun menegakkan tubuhnya, lalu beberapa anak buah Chatrine datang.
“bawa dia sekarang," ucap Cathrine, baru baru saja anak buahnya akan menarik tubuh Jena. tiba-tiba pintu terbuka, muncul beberapa orang pria berpakaian bodyguard, hingga membuat semuanya terkejut, termasuk Jena.
Belum Catherine dan anak buahnya bertindak, para lelaki itu sudah menghajar anak buah Cahtrine, dan ada salah satu yang menghampiri Jena.
“Anda tidak apa-apa, Nona?” tanya lelaki itu. Jena tidak menjawab. Dia malah terkulai tidak sadarkan diri, dia begitu tegang ketika tadi akan tarik oleh anak buah Chatrine dan ketika ada yang menyelamatkannya Jena dia langsung kehilangan kesadarannya.
Rupanya yang barusan menyelamatkan Jena adalah para anak buah Helmia, karena helmia tahu pasti Alan dan Catherine tidak akan diam.
***
“Jena ...." Soraya terpekik ketika melihat Jena di bopong oleh lelaki yang sangat tampan yang tak lain bodyguard Helmia, tadi setengah keluar dari Vila yang di tempati oleh Catherine. Bodyguard itu langsung membawa Jena ke Vila.
“anda Siapa tanya Soraya?" jantung Soraya berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat bodyguard itu, karena wajah Lelaki itu benar-benar tampan.
“Saya anak buah Nona, Helmia. Semua sudah aman, kalau begitu saya permisi.”
”Tunggu!" baru saja Soraya akan meminta untuk berkenalan dengan lelaki, itu tapi lelaki itu malah sudah pergi begitu saja.
BeBerapa saat berlalu
Jena mengerjap, dia membuka matanya dan ketika dia membuka mata, wanita itu langsung bangun dari berbaringnya, karena dia langsung teringat Haura.
“ Soraya apa yang terjadi?” tanya Jena. Soraya yang baru saja akan terlelap, langsung terbangun.
“Ah, kau sudah sadar."
“Haura, di mana Haura?" Jena bertanya dengan panik..
“Kau sudah aman, tadi ada yang mengantarkan kemari, dan itu anak buah Mommy," jawab Soraya membuat Jena menghela nafas lega.